<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Butuh Waktu Lama Pulihkan Ekosistem di Gunung Bromo Usai Terbakar</title><description>Terpenting dari ekosistem yang ada, terutama flora atau tanaman itu bisa terkena hujan
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/09/13/519/2882078/butuh-waktu-lama-pulihkan-ekosistem-di-gunung-bromo-usai-terbakar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/09/13/519/2882078/butuh-waktu-lama-pulihkan-ekosistem-di-gunung-bromo-usai-terbakar"/><item><title>Butuh Waktu Lama Pulihkan Ekosistem di Gunung Bromo Usai Terbakar</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/09/13/519/2882078/butuh-waktu-lama-pulihkan-ekosistem-di-gunung-bromo-usai-terbakar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/09/13/519/2882078/butuh-waktu-lama-pulihkan-ekosistem-di-gunung-bromo-usai-terbakar</guid><pubDate>Rabu 13 September 2023 10:58 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/13/519/2882078/butuh-waktu-lama-pulihkan-ekosistem-di-gunung-bromo-usai-terbakar-Xlh7isYPMg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Butuh waktu lama pulihkan ekosistem Gunung Bromo yang terbakar/Foto: Avirista</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/13/519/2882078/butuh-waktu-lama-pulihkan-ekosistem-di-gunung-bromo-usai-terbakar-Xlh7isYPMg.jpg</image><title>Butuh waktu lama pulihkan ekosistem Gunung Bromo yang terbakar/Foto: Avirista</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xMy8xLzE3MDU0OS81L3g4bzFkZjA=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
MALANG - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNTBS) selaku pengelola menyebut perlu waktu cukup lama untuk mengembalikan ekosistem lingkungan pasca kebakaran. Terpenting dari ekosistem yang ada, terutama flora atau tanaman itu bisa terkena hujan.

&quot;Kalau untuk pemulihan ekosistem pakai beberapa mekanisme, mungkin kalau rumput alang-alang secara alami, sebulan seteleh hujan kembali,&quot; ungkap Kepala BB-TNTBS Hendro Widjanarko, ditemui Pos Jemplang, Rabu pagi (13/9/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Wisata Gunung Bromo Tutup Imbas Kebakaran, Pedagang Sebut Omzetnya Turun Drastis

Sementara untuk mengembalikan ekosistem lain yang rusak pascakebakaran, pihaknya bakal kembali menanam beberapa tanaman pohon endemik atau yang tidak dijumpai di daerah lain. Beberapa tanaman seperti pohon cemara gunung, kesek, tutuk, hingga tanaman mentigi yang biasanya hidup di antara ketinggian 1.500 - 2.400 Mdpl.

&quot;Kita akan kembalikan ekosistem Bromo ini, kalau ini kita lihat cemara gunung bertahan dari kebakaran. Kemudian beberapa jenis yang asli sini mentigi juga bisa bertahan, bisa dilihat di sana, masih hijau,&quot; tuturnya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pemadaman Api di Gunung Bromo Lewat Udara Dilanjutkan, Angin Mulai Terkendali

Memang menurut Hendro, pemulihan ekosistem lingkungan di kawasan Gunung Bromo tak bisa langsung kembali. Apalagi beberapa kebakaran juga membuat tanaman itu gersang dan ada yang mati.

&quot;Pemulihan ekosistem itu ya kita akan kita tanami jenis-jenis asli, memang membutuhkan upaya untuk pemulihan ekosistem,&quot; pungkasnya.

Sebagai informasi, BB-TNTBS merupakan pengelola di kawasan Gunung Bromo Tengger Semeru di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Instansi ini memiliki wewenang dalam melakukan perawatan dan pengelolaan wisata taman nasional untuk menambah kas negara.



Saat ini imbas kebakaran, empat pintu masuk kawasan Gunung Bromo mulai dari Wonokitri, Kabupaten Pasuruan, Coban Trisula, Desa Ngadas, Kabupaten Malang, Sukapura, Kabupaten Probolinggo, dan Senduro di Kabupaten Lumajang ditutup total.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xMy8xLzE3MDU0OS81L3g4bzFkZjA=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
MALANG - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNTBS) selaku pengelola menyebut perlu waktu cukup lama untuk mengembalikan ekosistem lingkungan pasca kebakaran. Terpenting dari ekosistem yang ada, terutama flora atau tanaman itu bisa terkena hujan.

&quot;Kalau untuk pemulihan ekosistem pakai beberapa mekanisme, mungkin kalau rumput alang-alang secara alami, sebulan seteleh hujan kembali,&quot; ungkap Kepala BB-TNTBS Hendro Widjanarko, ditemui Pos Jemplang, Rabu pagi (13/9/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Wisata Gunung Bromo Tutup Imbas Kebakaran, Pedagang Sebut Omzetnya Turun Drastis

Sementara untuk mengembalikan ekosistem lain yang rusak pascakebakaran, pihaknya bakal kembali menanam beberapa tanaman pohon endemik atau yang tidak dijumpai di daerah lain. Beberapa tanaman seperti pohon cemara gunung, kesek, tutuk, hingga tanaman mentigi yang biasanya hidup di antara ketinggian 1.500 - 2.400 Mdpl.

&quot;Kita akan kembalikan ekosistem Bromo ini, kalau ini kita lihat cemara gunung bertahan dari kebakaran. Kemudian beberapa jenis yang asli sini mentigi juga bisa bertahan, bisa dilihat di sana, masih hijau,&quot; tuturnya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pemadaman Api di Gunung Bromo Lewat Udara Dilanjutkan, Angin Mulai Terkendali

Memang menurut Hendro, pemulihan ekosistem lingkungan di kawasan Gunung Bromo tak bisa langsung kembali. Apalagi beberapa kebakaran juga membuat tanaman itu gersang dan ada yang mati.

&quot;Pemulihan ekosistem itu ya kita akan kita tanami jenis-jenis asli, memang membutuhkan upaya untuk pemulihan ekosistem,&quot; pungkasnya.

Sebagai informasi, BB-TNTBS merupakan pengelola di kawasan Gunung Bromo Tengger Semeru di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Instansi ini memiliki wewenang dalam melakukan perawatan dan pengelolaan wisata taman nasional untuk menambah kas negara.



Saat ini imbas kebakaran, empat pintu masuk kawasan Gunung Bromo mulai dari Wonokitri, Kabupaten Pasuruan, Coban Trisula, Desa Ngadas, Kabupaten Malang, Sukapura, Kabupaten Probolinggo, dan Senduro di Kabupaten Lumajang ditutup total.</content:encoded></item></channel></rss>
