<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ketika Raden Wijaya Disambut di Sumenep Usai Dikejar Pasukan Jayakatwang   </title><description>Raden Wijaya melarikan diri dan meminta perlindungan ke Arya Wiraraja, yang pernah memangku jabatan strategis di istana Tumapel,&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/09/15/337/2883247/ketika-raden-wijaya-disambut-di-sumenep-usai-dikejar-pasukan-jayakatwang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/09/15/337/2883247/ketika-raden-wijaya-disambut-di-sumenep-usai-dikejar-pasukan-jayakatwang"/><item><title>Ketika Raden Wijaya Disambut di Sumenep Usai Dikejar Pasukan Jayakatwang   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/09/15/337/2883247/ketika-raden-wijaya-disambut-di-sumenep-usai-dikejar-pasukan-jayakatwang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/09/15/337/2883247/ketika-raden-wijaya-disambut-di-sumenep-usai-dikejar-pasukan-jayakatwang</guid><pubDate>Jum'at 15 September 2023 06:07 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/15/337/2883247/ketika-raden-wijaya-disambut-di-sumenep-usai-dikejar-pasukan-jayakatwang-qTK8yD3UNf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Raden Wijaya (foto: dok wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/15/337/2883247/ketika-raden-wijaya-disambut-di-sumenep-usai-dikejar-pasukan-jayakatwang-qTK8yD3UNf.jpg</image><title>Raden Wijaya (foto: dok wikipedia)</title></images><description>

RADEN WIJAYA melarikan diri dari ibu kota Singasari atau Tumapel ke utara menuju Sumenep Madura. Ia menghindari serangan tiba-tiba dari Jayakatwang dari Kerajaan Kediri ke Singasari, yang membuat seluruh pejabat istana tewas, termasuk sang raja Kertanagara dan permaisurinya.

Raden Wijaya melarikan diri dan meminta perlindungan ke Arya Wiraraja, yang pernah memangku jabatan strategis di istana Tumapel, sebelum dimutasikan Kertanagara menjadi adipati di Sumenep. Faktor sudah mengenal membuat sang menantu Kertanagara ini tak ragu meminta perlindungan ke Arya Wiraraja, kendati sebenarnya ia memiliki dendam ke Kertanagara.

BACA JUGA:
Kisah Arya Wiraraja, Orang Kepercayaan Raden Wijaya yang Diangkat Jadi Raja Lamajang

Setibanya di Madura, Raden Wijaya dalam kondisi yang lelah luar biasa usai dikejar pasukan Jayakatwang. Ia nyaris tertangkap kalau saja tidak terselamatkan oleh tanah sawah yang ia lempar ke muka salah seorang komandan pasukan lawan.

Prof. Slamet Muljana pada bukunya &quot;Menuju Puncak Kemegahan : Sejarah Kerajaan Majapahit&quot; mengisahkan saat tiba di balai adipati Sumenep membuat para punggawa Adipati Sumenep. Mereka terkejut kedatangan rombongan Raden Wijaya dan pasukannya.

Saat Raden Wijaya tiba, Arya Wiraraja sang adipati tengah keluar, namun tak lama kemudian Arya Wiraraja kembali pulang ke balai dengan mengendarai kuda yang telah terpelana. Kedatangan Raden Wijaya dan pasukan dari Singasari ini tepat ketika ada perayaan Galungan di Sumenep.

BACA JUGA:
Raden Wijaya Kerahkan Puluhan Kuda Sakti untuk Serang Daha Kediri

Hal ini membuat Raden Wijaya diperlakukan sebagai tamu yang spesial oleh Arya Wiraraja. Mereka ditempatkan di Jung Biro, makanan minuman yang enak menyambut kedatangannya. Tak ketinggalan minuman keras (miras) juga menjadi suguhan tamu istimewa dari Tumapel ini.

Tetapi Raden Wijaya hanya menonton saja pesta meriah yang disuguhkan oleh Arya Wiraraja dan pengikutnya di Sumenep. Ia telah berjanji tidak akan makan enak dan minum-minuman keras, sebelum kembali bertemu Tribhuwana dan Gayatri.

Keesokan harinya konon perayaan galungan yang telah dinanti-nantikan. Pesta itu dirayakan dengan perlombaan. Suatu kebetulan bahwa Raden Wijaya dengan pengikutnya datang merayakan pada waktu itu.</description><content:encoded>

RADEN WIJAYA melarikan diri dari ibu kota Singasari atau Tumapel ke utara menuju Sumenep Madura. Ia menghindari serangan tiba-tiba dari Jayakatwang dari Kerajaan Kediri ke Singasari, yang membuat seluruh pejabat istana tewas, termasuk sang raja Kertanagara dan permaisurinya.

Raden Wijaya melarikan diri dan meminta perlindungan ke Arya Wiraraja, yang pernah memangku jabatan strategis di istana Tumapel, sebelum dimutasikan Kertanagara menjadi adipati di Sumenep. Faktor sudah mengenal membuat sang menantu Kertanagara ini tak ragu meminta perlindungan ke Arya Wiraraja, kendati sebenarnya ia memiliki dendam ke Kertanagara.

BACA JUGA:
Kisah Arya Wiraraja, Orang Kepercayaan Raden Wijaya yang Diangkat Jadi Raja Lamajang

Setibanya di Madura, Raden Wijaya dalam kondisi yang lelah luar biasa usai dikejar pasukan Jayakatwang. Ia nyaris tertangkap kalau saja tidak terselamatkan oleh tanah sawah yang ia lempar ke muka salah seorang komandan pasukan lawan.

Prof. Slamet Muljana pada bukunya &quot;Menuju Puncak Kemegahan : Sejarah Kerajaan Majapahit&quot; mengisahkan saat tiba di balai adipati Sumenep membuat para punggawa Adipati Sumenep. Mereka terkejut kedatangan rombongan Raden Wijaya dan pasukannya.

Saat Raden Wijaya tiba, Arya Wiraraja sang adipati tengah keluar, namun tak lama kemudian Arya Wiraraja kembali pulang ke balai dengan mengendarai kuda yang telah terpelana. Kedatangan Raden Wijaya dan pasukan dari Singasari ini tepat ketika ada perayaan Galungan di Sumenep.

BACA JUGA:
Raden Wijaya Kerahkan Puluhan Kuda Sakti untuk Serang Daha Kediri

Hal ini membuat Raden Wijaya diperlakukan sebagai tamu yang spesial oleh Arya Wiraraja. Mereka ditempatkan di Jung Biro, makanan minuman yang enak menyambut kedatangannya. Tak ketinggalan minuman keras (miras) juga menjadi suguhan tamu istimewa dari Tumapel ini.

Tetapi Raden Wijaya hanya menonton saja pesta meriah yang disuguhkan oleh Arya Wiraraja dan pengikutnya di Sumenep. Ia telah berjanji tidak akan makan enak dan minum-minuman keras, sebelum kembali bertemu Tribhuwana dan Gayatri.

Keesokan harinya konon perayaan galungan yang telah dinanti-nantikan. Pesta itu dirayakan dengan perlombaan. Suatu kebetulan bahwa Raden Wijaya dengan pengikutnya datang merayakan pada waktu itu.</content:encoded></item></channel></rss>
