<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Soroti Bentrok Rempang, DPR: Seharusnya Bisa Dicegah Lewat Dialog</title><description>Bentrokan aparat keamanan dengan masyarakat Pulau Rempang, Batam tak terhindarkan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/09/20/337/2886737/soroti-bentrok-rempang-dpr-seharusnya-bisa-dicegah-lewat-dialog</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/09/20/337/2886737/soroti-bentrok-rempang-dpr-seharusnya-bisa-dicegah-lewat-dialog"/><item><title>Soroti Bentrok Rempang, DPR: Seharusnya Bisa Dicegah Lewat Dialog</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/09/20/337/2886737/soroti-bentrok-rempang-dpr-seharusnya-bisa-dicegah-lewat-dialog</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/09/20/337/2886737/soroti-bentrok-rempang-dpr-seharusnya-bisa-dicegah-lewat-dialog</guid><pubDate>Rabu 20 September 2023 20:51 WIB</pubDate><dc:creator>Felldy Utama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/20/337/2886737/soroti-bentrok-rempang-dpr-seharusnya-bisa-dicegah-lewat-dialog-IUwcEltu8m.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bentrok Pulau Rempang di Kantor BP Batam (Foto: Dok BP Batam)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/20/337/2886737/soroti-bentrok-rempang-dpr-seharusnya-bisa-dicegah-lewat-dialog-IUwcEltu8m.jpg</image><title>Bentrok Pulau Rempang di Kantor BP Batam (Foto: Dok BP Batam)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xMi8xLzE3MDQ5My81L3g4bzBlamY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Bentrokan aparat keamanan dengan masyarakat Pulau Rempang, Batam tak terhindarkan buntut penolakan warga terhadap pembangunan Rempang Eco City yang menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Bentrokan ditengarai tenggat waktu untuk relokasi yang mepet dan kurangnya dialog antara warga dengan pemerintah.

&quot;Perubahan status menjadi PSN yang terkesan mendadak juga terasa ganjil. Apakah tidak mungkin lokasi proyek dipindahkan atau digeser sehingga tidak perlu sampai harus mengusir rakyat atau mengosongkan pulau demi investasi ini?&quot; ujar Anggota Komisi VI DPR RI, Luluk Nur Hamidah, Rabu (20/9/2023).

BACA JUGA:
 Komnas HAM Kirim Tim Investigasi ke Pulau Rempang&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Bentrokan warga dengan aparat keamanan di Pulau Rempang berawal dari keputusan yang memasukkan Proyek Rempang Eco-City ke dalam PSN tahun 2023. Keputusan itu diatur dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 7 Tahun 2023 yang ditandatangani pada 28 Agustus 2023.

Pemerintah Kota Batam melalui Badan Pengusahaan (BP) Batam pun hanya punya waktu beberapa bulan untuk melakukan sosialisasi terkait proyek Rempang Eco City tersebut. Ribuan warga dijadwalkan harus sudah meninggalkan rumah mereka di Pulau Rempang per 28 September ini.

BACA JUGA:
Ada Unjuk Rasa Solidaritas Warga Pulau Rempang, 1.000 Personel Dikerahkan&amp;nbsp;


Luluk menilai penolakan warga sekitar terhadap pembangunan proyek Rempang Eco-City dipicu karena minimnya dialog. Selain tenggat waktu pengosongan Pulau Rempang yang terkesan tiba-tiba, sejumlah perilaku represif aparat keamanan saat membubarkan warga yang menolak untuk direlokasi juga dinilai turut berperan menyebabkan bentrokan.

&quot;Seharusnya ini bisa dicegah. Seharusnya kekerasan ini juga bisa dihindari sekiranya proyek ini tidak dipaksakan mendahului proses dialog dengan warga,&quot; ujarnya.

BACA JUGA:
Panglima TNI Minta Maaf soal Kata Piting Warga Rempang, Ketua DPD: Patut Ditiru Pejabat Lain


Luluk menilai bentrokan yang terjadi di Pulau Rempang juga menimbulkan dampak psikis bagi masyarakat yang menjadi korban represif aparat keamanan, terutama bagi anak dan perempuan. Sebab itu, ia berharap ada pendampingan perbaikan mental bagi para korban yang disediakan pemerintah.

&quot;Bahwa situasi di Rempang juga menimbulkan ketakutan pada para ibu-ibu. Konflik semacam ini pasti akan menimbulkan trauma dan ketakutan, dan perempuan serta anak-anak menjadi pihak yang paling menderita,&quot; katanya.

Menyusul bentrokan yang terjadi itu, Luluk mendorong pemerintah untuk menghentikan terlebih dahulu proyek pembangunan Rempang Eco-City sampai ada titik temu yang adil, khususnya bagi masyarakat Rempang. Ia membandingkan bagaimana berbagai negara maju mengedepankan proses sosialisasi yang panjang dan dialog dalam penerapan kebijakan sehingga tidak ada penolakan dari warga.



&quot;Saya menyaksikan langsung pusat bisnis baru di China sedang dibangun besar-besaran, tapi di sana tidak ada cerita warga setempat diusir, justru mereka dijamin dan dilindungi keberadaannya,&quot; ungkap Luluk.

BACA JUGA:
Polri Gelar Bakti Kesehatan Bagi Masyarakat Rempang




Pihaknya mengaku mendukung langkah pemerintah dalam upaya membangun negeri ini. Namun, Luluk mengingatkan agar pembangunan tidak hanya berfokus pada perkembangan infrastruktur, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat.



&amp;ldquo;Pulau Rempang bukan sekadar tempat saja tetapi sebuah wilayah yang kaya akan sejarah, tradisi, dan budaya yang telah melekat pada identitas warga setempat selama ratusan tahun,&amp;rdquo; tuturnya.

BACA JUGA:
Siapa Pemilik Xinyi Glass Holding yang Akan Bangun Rempang ECO City Triliunan Rupiah, Ini Sosoknya




&quot;Ini adalah akar sejarah yang harus dihormati dan dipertahankan dalam setiap langkah pembangunan. Pemerintah seharusnya tidak hanya melihat potensi ekonomi dari proyek-proyek besar, tetapi juga bagaimana proyek-proyek tersebut akan mempengaruhi dan mungkin mengubah identitas budaya dan tradisional suatu daerah,&quot; pungkasnya.

</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xMi8xLzE3MDQ5My81L3g4bzBlamY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Bentrokan aparat keamanan dengan masyarakat Pulau Rempang, Batam tak terhindarkan buntut penolakan warga terhadap pembangunan Rempang Eco City yang menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Bentrokan ditengarai tenggat waktu untuk relokasi yang mepet dan kurangnya dialog antara warga dengan pemerintah.

&quot;Perubahan status menjadi PSN yang terkesan mendadak juga terasa ganjil. Apakah tidak mungkin lokasi proyek dipindahkan atau digeser sehingga tidak perlu sampai harus mengusir rakyat atau mengosongkan pulau demi investasi ini?&quot; ujar Anggota Komisi VI DPR RI, Luluk Nur Hamidah, Rabu (20/9/2023).

BACA JUGA:
 Komnas HAM Kirim Tim Investigasi ke Pulau Rempang&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Bentrokan warga dengan aparat keamanan di Pulau Rempang berawal dari keputusan yang memasukkan Proyek Rempang Eco-City ke dalam PSN tahun 2023. Keputusan itu diatur dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 7 Tahun 2023 yang ditandatangani pada 28 Agustus 2023.

Pemerintah Kota Batam melalui Badan Pengusahaan (BP) Batam pun hanya punya waktu beberapa bulan untuk melakukan sosialisasi terkait proyek Rempang Eco City tersebut. Ribuan warga dijadwalkan harus sudah meninggalkan rumah mereka di Pulau Rempang per 28 September ini.

BACA JUGA:
Ada Unjuk Rasa Solidaritas Warga Pulau Rempang, 1.000 Personel Dikerahkan&amp;nbsp;


Luluk menilai penolakan warga sekitar terhadap pembangunan proyek Rempang Eco-City dipicu karena minimnya dialog. Selain tenggat waktu pengosongan Pulau Rempang yang terkesan tiba-tiba, sejumlah perilaku represif aparat keamanan saat membubarkan warga yang menolak untuk direlokasi juga dinilai turut berperan menyebabkan bentrokan.

&quot;Seharusnya ini bisa dicegah. Seharusnya kekerasan ini juga bisa dihindari sekiranya proyek ini tidak dipaksakan mendahului proses dialog dengan warga,&quot; ujarnya.

BACA JUGA:
Panglima TNI Minta Maaf soal Kata Piting Warga Rempang, Ketua DPD: Patut Ditiru Pejabat Lain


Luluk menilai bentrokan yang terjadi di Pulau Rempang juga menimbulkan dampak psikis bagi masyarakat yang menjadi korban represif aparat keamanan, terutama bagi anak dan perempuan. Sebab itu, ia berharap ada pendampingan perbaikan mental bagi para korban yang disediakan pemerintah.

&quot;Bahwa situasi di Rempang juga menimbulkan ketakutan pada para ibu-ibu. Konflik semacam ini pasti akan menimbulkan trauma dan ketakutan, dan perempuan serta anak-anak menjadi pihak yang paling menderita,&quot; katanya.

Menyusul bentrokan yang terjadi itu, Luluk mendorong pemerintah untuk menghentikan terlebih dahulu proyek pembangunan Rempang Eco-City sampai ada titik temu yang adil, khususnya bagi masyarakat Rempang. Ia membandingkan bagaimana berbagai negara maju mengedepankan proses sosialisasi yang panjang dan dialog dalam penerapan kebijakan sehingga tidak ada penolakan dari warga.



&quot;Saya menyaksikan langsung pusat bisnis baru di China sedang dibangun besar-besaran, tapi di sana tidak ada cerita warga setempat diusir, justru mereka dijamin dan dilindungi keberadaannya,&quot; ungkap Luluk.

BACA JUGA:
Polri Gelar Bakti Kesehatan Bagi Masyarakat Rempang




Pihaknya mengaku mendukung langkah pemerintah dalam upaya membangun negeri ini. Namun, Luluk mengingatkan agar pembangunan tidak hanya berfokus pada perkembangan infrastruktur, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat.



&amp;ldquo;Pulau Rempang bukan sekadar tempat saja tetapi sebuah wilayah yang kaya akan sejarah, tradisi, dan budaya yang telah melekat pada identitas warga setempat selama ratusan tahun,&amp;rdquo; tuturnya.

BACA JUGA:
Siapa Pemilik Xinyi Glass Holding yang Akan Bangun Rempang ECO City Triliunan Rupiah, Ini Sosoknya




&quot;Ini adalah akar sejarah yang harus dihormati dan dipertahankan dalam setiap langkah pembangunan. Pemerintah seharusnya tidak hanya melihat potensi ekonomi dari proyek-proyek besar, tetapi juga bagaimana proyek-proyek tersebut akan mempengaruhi dan mungkin mengubah identitas budaya dan tradisional suatu daerah,&quot; pungkasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
