<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Masyarakat Diminta Waspadai Berita Hoaks soal Rempang di Medsos</title><description>Dia meminta masyarakat agar lebih jeli dan cek fakta yang ada.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/09/23/337/2888326/masyarakat-diminta-waspadai-berita-hoaks-soal-rempang-di-medsos</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/09/23/337/2888326/masyarakat-diminta-waspadai-berita-hoaks-soal-rempang-di-medsos"/><item><title>Masyarakat Diminta Waspadai Berita Hoaks soal Rempang di Medsos</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/09/23/337/2888326/masyarakat-diminta-waspadai-berita-hoaks-soal-rempang-di-medsos</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/09/23/337/2888326/masyarakat-diminta-waspadai-berita-hoaks-soal-rempang-di-medsos</guid><pubDate>Sabtu 23 September 2023 13:43 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/23/337/2888326/masyarakat-diminta-waspadai-berita-hoaks-soal-rempang-di-medsos-RQL7mym5fI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Relokasi Warga di Pulau Rempang/Antara</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/23/337/2888326/masyarakat-diminta-waspadai-berita-hoaks-soal-rempang-di-medsos-RQL7mym5fI.jpg</image><title>Relokasi Warga di Pulau Rempang/Antara</title></images><description>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8yMC8xLzE3MDkwMy81L3g4bzcwamY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Penyebaran berita bohong atau hoaks dengan membawa isu SARA soal Pulau Rempang marak di media sosial.
Pakar Strategic Communication Mass, Tuhu Nugraha  menyarankan dibuat mitigasi untuk menghentikan penyebaran hoaks terkait Pulau Rempang. Jika dibiarkan, maka akan menyebabkan perpecahan dan konflik sosial di tengah masyarakat.

BACA JUGA:
Soroti Bentrok Rempang, DPR: Seharusnya Bisa Dicegah Lewat Dialog

&quot;Sebaiknya yang dilakukan pemerintah adalah pertama memberikan informasi tandingan untuk menjelaskan dan mengklarifikasi,&amp;rdquo;ujar Tuhu di Jakarta, Sabtu (23/9/2023).
&amp;ldquo;Selain itu pernyataannya mesti lebih simpatik, pesan yang dikedepankan harus sentuh sisi emosional, karena ini bukan hanya soal perpindahan lokasi tapi ada ikatan adat, emosional dan lain sebagainya,&amp;rdquo; lanjutnya.
Melalui cara persuasif, maka diharapkan masyarakat mau berkompromi demi kepentingan yang lebih luas, harapan pekerjaan dan kesempatan kerja yang lebih baik buat keluarga, tetangga dan anak cucu mereka.
&quot;Dan ini harus gencar termasuk disebarkan di media sosial. Jadi pendekatan yang dikedepankan sekarang ini kan lebih ke rasional, dan kepentingan dari sudut pandang pemerintah,&quot;ujarnya.

BACA JUGA:
Provokator Pedemo Bela Rempang Ditangkap, Serukan Serang Polisi Pakai Air Keras!

&quot;Masih ada ketakutan 'dijajah' pihak asing dan sebagainya. Maka pesannya harus yang langsung dekat sama masyarakat lokal, dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Ujungnya kan harapan tentang ekonomi yang lebih baik, lalu lapangan kerja baru dari hasil investasi di Rempang,&quot;tambahnya.
Oleh karena itu,  pemerintah memiliki mitigasi risiko sebelum dilakukan eksekusi. &quot;Sekarang ini era media sosial yang menjadi alat framing cukup efektif dalam menyebarkan hoaks, selain itu saat ini menuju tahun politik,&quot; katanya.Sementara terkait penyebaran hoaks di media sosial terkait Rempang, dia meminta masyarakat agar lebih jeli dan cek fakta yang ada.

&quot;Masyarakat mesti belajar untuk cek dan ricek informasi. Nah kalau nggak punya waktu buat cek, jangan langsung share, cukup berhenti pada diri sendiri. Daripada nambah dosa kalau ternyata menyebar hoax dan masyarakat juga perlu belajar bahwa sekarang semua orang bisa bikin berita dan mengarang cerita,&quot;ujarnya.

&quot;Jadi mesti lebih kritis dan hati hati menelan informasi. Saat ini redaksinya ada di masing masing diri kita yang mesti memfilter informasi,&quot; sambungnya.

Dikatakannya, hoaks terkait isu SARA di media sosial dalam kasus di Pulau Rempang dapat memecah belah bangsa.

&amp;ldquo; Jadi mesti ditangani dengan sangat hati hati, serius dan penuh empati karena banyak yang berkepentingan soal isu ini, dan semua tahu isu mana yang mudah dimainkan,&quot;pungkasnya.

</description><content:encoded>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8yMC8xLzE3MDkwMy81L3g4bzcwamY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Penyebaran berita bohong atau hoaks dengan membawa isu SARA soal Pulau Rempang marak di media sosial.
Pakar Strategic Communication Mass, Tuhu Nugraha  menyarankan dibuat mitigasi untuk menghentikan penyebaran hoaks terkait Pulau Rempang. Jika dibiarkan, maka akan menyebabkan perpecahan dan konflik sosial di tengah masyarakat.

BACA JUGA:
Soroti Bentrok Rempang, DPR: Seharusnya Bisa Dicegah Lewat Dialog

&quot;Sebaiknya yang dilakukan pemerintah adalah pertama memberikan informasi tandingan untuk menjelaskan dan mengklarifikasi,&amp;rdquo;ujar Tuhu di Jakarta, Sabtu (23/9/2023).
&amp;ldquo;Selain itu pernyataannya mesti lebih simpatik, pesan yang dikedepankan harus sentuh sisi emosional, karena ini bukan hanya soal perpindahan lokasi tapi ada ikatan adat, emosional dan lain sebagainya,&amp;rdquo; lanjutnya.
Melalui cara persuasif, maka diharapkan masyarakat mau berkompromi demi kepentingan yang lebih luas, harapan pekerjaan dan kesempatan kerja yang lebih baik buat keluarga, tetangga dan anak cucu mereka.
&quot;Dan ini harus gencar termasuk disebarkan di media sosial. Jadi pendekatan yang dikedepankan sekarang ini kan lebih ke rasional, dan kepentingan dari sudut pandang pemerintah,&quot;ujarnya.

BACA JUGA:
Provokator Pedemo Bela Rempang Ditangkap, Serukan Serang Polisi Pakai Air Keras!

&quot;Masih ada ketakutan 'dijajah' pihak asing dan sebagainya. Maka pesannya harus yang langsung dekat sama masyarakat lokal, dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Ujungnya kan harapan tentang ekonomi yang lebih baik, lalu lapangan kerja baru dari hasil investasi di Rempang,&quot;tambahnya.
Oleh karena itu,  pemerintah memiliki mitigasi risiko sebelum dilakukan eksekusi. &quot;Sekarang ini era media sosial yang menjadi alat framing cukup efektif dalam menyebarkan hoaks, selain itu saat ini menuju tahun politik,&quot; katanya.Sementara terkait penyebaran hoaks di media sosial terkait Rempang, dia meminta masyarakat agar lebih jeli dan cek fakta yang ada.

&quot;Masyarakat mesti belajar untuk cek dan ricek informasi. Nah kalau nggak punya waktu buat cek, jangan langsung share, cukup berhenti pada diri sendiri. Daripada nambah dosa kalau ternyata menyebar hoax dan masyarakat juga perlu belajar bahwa sekarang semua orang bisa bikin berita dan mengarang cerita,&quot;ujarnya.

&quot;Jadi mesti lebih kritis dan hati hati menelan informasi. Saat ini redaksinya ada di masing masing diri kita yang mesti memfilter informasi,&quot; sambungnya.

Dikatakannya, hoaks terkait isu SARA di media sosial dalam kasus di Pulau Rempang dapat memecah belah bangsa.

&amp;ldquo; Jadi mesti ditangani dengan sangat hati hati, serius dan penuh empati karena banyak yang berkepentingan soal isu ini, dan semua tahu isu mana yang mudah dimainkan,&quot;pungkasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
