<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dubes Rusia Salahkan Barat Atas Kegagalan Kesepakatan Biji-bijian Laut Hitam</title><description>Dubes Lyudmila membeberkan penyebab Rusia memilih keluar dari kesepakatan biji-bijian Laut Hitam.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/09/25/18/2889455/dubes-rusia-salahkan-barat-atas-kegagalan-kesepakatan-biji-bijian-laut-hitam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/09/25/18/2889455/dubes-rusia-salahkan-barat-atas-kegagalan-kesepakatan-biji-bijian-laut-hitam"/><item><title>Dubes Rusia Salahkan Barat Atas Kegagalan Kesepakatan Biji-bijian Laut Hitam</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/09/25/18/2889455/dubes-rusia-salahkan-barat-atas-kegagalan-kesepakatan-biji-bijian-laut-hitam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/09/25/18/2889455/dubes-rusia-salahkan-barat-atas-kegagalan-kesepakatan-biji-bijian-laut-hitam</guid><pubDate>Senin 25 September 2023 18:30 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/25/18/2889455/dubes-rusia-salahkan-barat-atas-kegagalan-kesepakatan-biji-bijian-laut-hitam-6YdX3SRof2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/25/18/2889455/dubes-rusia-salahkan-barat-atas-kegagalan-kesepakatan-biji-bijian-laut-hitam-6YdX3SRof2.jpg</image><title>Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva. (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8yNS8xLzE3MTEzOS81L3g4b2FxaDM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Duta Besar Rusia untuk Indonesia membantah tudingan bahwa Rusia menggunakan keamanan pangan sebagai &amp;ldquo;senjata&amp;rdquo; dengan menarik diri dari Kesepakatan Biji-bijian Laut Hitam pada Juli lalu.
Berdasarkan kesepakatan biji-bijian yang dinegosiasikan pada Juli 2022 dengan Rusia, Turki dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu, Ukraina dapat memastikan bahwa gandumnya dapat meninggalkan pelabuhan selatannya melalui Bosphorus untuk diekspor.

BACA JUGA:
Bahas Kesepakatan Biji-bijian Laut Hitam dengan Erdogan, Ini Kata Putin

Namun, pada Juli 2023 Rusia menarik diri dari kesepakatan ini, menuding bahwa ada pelanggaran atas hal-hal yang disepakati dalam perjanjian tersebut. Rusia juga mengatakan tidak menjamin keamanan kapal-kapal di Laut Hitam yang mengarah ke Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenksy menuding Rusia menjadikan ketahanan pangan sebagai alat pemerasan dengan keluar dari perjanjian ini. Zelensky mengatakan ekspor biji-bijian Ukraina memberikan keamanan pangan bagi 400 juta orang, terutama di negara-negara Afrika dan Rusia tidak dapat diizinkan untuk menahan pasokan penting seperti itu.
Namun, Duta Besar Rusia Lyudmila Vorobieva membantah tudingan tersebut. Menurutnya, gandum-gandum Ukraina banyak yang masuk ke negara-negara Eropa alih-alih ke negara yang membutuhkan.

BACA JUGA:
Tanpa Malu-Malu, Putin Tuding Barat Belokkan Makna Kesepakatan Biji-bijian Laut Hitam

Hal ini, menurut Lyudmila, terlihat dari meningkatnya impor biji-bijian Uni Eropa lebih dari 100 persen pada 2022, tanpa adanya peningkatan serupa dalam jumlah ekspor.
&amp;ldquo;Ini berarti Uni Eropa membeli banyak biji-bijian untuk ditimbun dan mereka tidak terburu-buru untuk memberi atau menjual biji-bijian ini ke negara-negara yang benar-benar membutuhkan,&amp;rdquo; kata diplomat kelahiran Kyiv itu.Lebih lanjut, Dubes Rusia mengatakan bahwa negara-negara Barat juga tidak memenuhi kewajibannya kepada Rusia sesuai yang disepakati dalam perjanjian biji-bijian. Ini termasuk tidak difasilitasinya ekspor biji-bijian Rusia ke negara-negara tertentu dan tidak dimasukkannya bank Rusia ke dalam sistem SWIFT yang dibutuhkan untuk transaksi antar negara.

BACA JUGA:
Perselisihan Diplomatik Soal Biji-bijian, Polandia Akan Stop Pasok Senjata ke Ukraina

&amp;ldquo;Kami memenuhi janji kami, sementara Barat tidak. Jadi mengapa kami ambil bagian dalam kesepakatan yang tidak berjalan bagi kami,&amp;rdquo; ujarnya.
Dubes Lyudmila menekankan kembali pernyataan dari Presiden Rusia bahwa negaranya siap untuk kembali ke perjanjian tersebut setelah Barat dan Ukraina menjalankan kewajiban mereka sesuai dengan kesepakatan tersebut.

</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8yNS8xLzE3MTEzOS81L3g4b2FxaDM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Duta Besar Rusia untuk Indonesia membantah tudingan bahwa Rusia menggunakan keamanan pangan sebagai &amp;ldquo;senjata&amp;rdquo; dengan menarik diri dari Kesepakatan Biji-bijian Laut Hitam pada Juli lalu.
Berdasarkan kesepakatan biji-bijian yang dinegosiasikan pada Juli 2022 dengan Rusia, Turki dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu, Ukraina dapat memastikan bahwa gandumnya dapat meninggalkan pelabuhan selatannya melalui Bosphorus untuk diekspor.

BACA JUGA:
Bahas Kesepakatan Biji-bijian Laut Hitam dengan Erdogan, Ini Kata Putin

Namun, pada Juli 2023 Rusia menarik diri dari kesepakatan ini, menuding bahwa ada pelanggaran atas hal-hal yang disepakati dalam perjanjian tersebut. Rusia juga mengatakan tidak menjamin keamanan kapal-kapal di Laut Hitam yang mengarah ke Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenksy menuding Rusia menjadikan ketahanan pangan sebagai alat pemerasan dengan keluar dari perjanjian ini. Zelensky mengatakan ekspor biji-bijian Ukraina memberikan keamanan pangan bagi 400 juta orang, terutama di negara-negara Afrika dan Rusia tidak dapat diizinkan untuk menahan pasokan penting seperti itu.
Namun, Duta Besar Rusia Lyudmila Vorobieva membantah tudingan tersebut. Menurutnya, gandum-gandum Ukraina banyak yang masuk ke negara-negara Eropa alih-alih ke negara yang membutuhkan.

BACA JUGA:
Tanpa Malu-Malu, Putin Tuding Barat Belokkan Makna Kesepakatan Biji-bijian Laut Hitam

Hal ini, menurut Lyudmila, terlihat dari meningkatnya impor biji-bijian Uni Eropa lebih dari 100 persen pada 2022, tanpa adanya peningkatan serupa dalam jumlah ekspor.
&amp;ldquo;Ini berarti Uni Eropa membeli banyak biji-bijian untuk ditimbun dan mereka tidak terburu-buru untuk memberi atau menjual biji-bijian ini ke negara-negara yang benar-benar membutuhkan,&amp;rdquo; kata diplomat kelahiran Kyiv itu.Lebih lanjut, Dubes Rusia mengatakan bahwa negara-negara Barat juga tidak memenuhi kewajibannya kepada Rusia sesuai yang disepakati dalam perjanjian biji-bijian. Ini termasuk tidak difasilitasinya ekspor biji-bijian Rusia ke negara-negara tertentu dan tidak dimasukkannya bank Rusia ke dalam sistem SWIFT yang dibutuhkan untuk transaksi antar negara.

BACA JUGA:
Perselisihan Diplomatik Soal Biji-bijian, Polandia Akan Stop Pasok Senjata ke Ukraina

&amp;ldquo;Kami memenuhi janji kami, sementara Barat tidak. Jadi mengapa kami ambil bagian dalam kesepakatan yang tidak berjalan bagi kami,&amp;rdquo; ujarnya.
Dubes Lyudmila menekankan kembali pernyataan dari Presiden Rusia bahwa negaranya siap untuk kembali ke perjanjian tersebut setelah Barat dan Ukraina menjalankan kewajiban mereka sesuai dengan kesepakatan tersebut.

</content:encoded></item></channel></rss>
