<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jualan di Medsos Dilarang, Ketua DPR Harap Aturan Baru Ciptakan Keseimbangan Pasar Digital dan Konvensional</title><description>Jangan sampai, sambungnya, aturan yang baru malah menjadi boomerang untuk mencapai target era ekonomi digital.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/09/28/337/2891332/jualan-di-medsos-dilarang-ketua-dpr-harap-aturan-baru-ciptakan-keseimbangan-pasar-digital-dan-konvensional</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/09/28/337/2891332/jualan-di-medsos-dilarang-ketua-dpr-harap-aturan-baru-ciptakan-keseimbangan-pasar-digital-dan-konvensional"/><item><title>Jualan di Medsos Dilarang, Ketua DPR Harap Aturan Baru Ciptakan Keseimbangan Pasar Digital dan Konvensional</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/09/28/337/2891332/jualan-di-medsos-dilarang-ketua-dpr-harap-aturan-baru-ciptakan-keseimbangan-pasar-digital-dan-konvensional</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/09/28/337/2891332/jualan-di-medsos-dilarang-ketua-dpr-harap-aturan-baru-ciptakan-keseimbangan-pasar-digital-dan-konvensional</guid><pubDate>Kamis 28 September 2023 16:40 WIB</pubDate><dc:creator>Achmad Al Fiqri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/28/337/2891332/jualan-di-medsos-dilarang-ketua-dpr-harap-aturan-baru-ciptakan-keseimbangan-pasar-digital-dan-konvensional-nDSI4gx7AE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketua DPR RI Puan Maharani (Foto: Youtube Setpres)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/28/337/2891332/jualan-di-medsos-dilarang-ketua-dpr-harap-aturan-baru-ciptakan-keseimbangan-pasar-digital-dan-konvensional-nDSI4gx7AE.jpg</image><title>Ketua DPR RI Puan Maharani (Foto: Youtube Setpres)</title></images><description>JAKARTA - Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti kebijakan baru yang dikeluarkan pemerintah terkait praktik social commerce seperti TikTok Shop, yakni Permendag No 50 Tahun 2020 Tentang Ketentuan Perizinan Usaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha.
Aturan itu, melarang media sosial untuk digunakan sebagai sarana berjualan. Melalui aturan itu, kata Puan, DPR berharap dapat menciptakan keseimbangan antara pasar digital dan konvensional.
&quot;Dengan regulasi yang cermat dan tepat, pemerintah harus memastikan perkembangan ekonomi di Indonesia tetap adil dan berkelanjutan,&amp;rdquo; kata Puan dalam keterangan resmi yang dikutip, Rabu (27/9/2023).

BACA JUGA:
Kubu Rafael Alun Ragukan Keterangan Saksi Jaksa di Persidangan


Puan menilai, diperlukan strategi lanjutan guna menciptakan keadilan antara pelaku usaha digital dan konvensional yang tetap menjunjung keadilan. Jangan sampai, sambungnya, aturan yang baru malah menjadi boomerang untuk mencapai target era ekonomi digital.

Menurut data TikTok Indonesia, ada sekitar 6 juta pelaku usaha lokal yang menggantungkan usahanya melalui jasa social commerce. Lalu ada sekitar 7 juta creator affiliate yang menggunakan platform Tiktok Shop.

BACA JUGA:
Ayah Tega Cabuli Anak Kandungnya Berulang Kali sejak 2022


Berkaca dari hal itu, Puan berharap pemerintah menghadirkan regulasi yang win win solution dan berpihak untuk semua pihak. Hal ini mengingat pesatnya perkembangan teknologi sangat berpengaruh pada industri perdagangan.

&amp;ldquo;Maka, harus diimbangi dengan regulasi yang tepat. Sehingga ke depannya Indonesia bisa ambil bagian dalam perkembangan era ekonomi digital,&amp;rdquo; jelas Puan.

BACA JUGA:
KPK Telusuri Aset Mewah Sekretaris Nonaktif MA Hasbi Hasan


Di sisi lain, ia mendorong pemerintah untuk mengalakkan sosialisasi dan pelatihan bagi pelaku usaha konvensional untuk dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, pelaku usaha konvensional perlu didukung untuk meningkatkan usahanya agar bisa seimbang berjualan di pasar konvensional maupun pasar digital.

&amp;ldquo;Jangan sampai usaha yang dibangun bertahun-tahun terpaksa tutup karena tidak mengikuti perkembangan zaman, ini tugas penting pemerintah,&amp;rdquo; terangnya.
Selain itu, ia merasa, pemerintah juga perlu membuat ramai pasar tradisional. Salah satunya dengan merevitalisasi pasar-pasar konvensional agar kembali menarik perhatian pembeli.



&amp;ldquo;Tujuan revitalisasi pasar tradisional didasari untuk mengembalikan kenyamanan pembeli, menambah omzet pedagang, hingga agar tidak kalah saing dengan pasar modern atau pasar digital,&amp;rdquo; ungkap Puan.

BACA JUGA:
Kronologi Tawuran di Depok Janjian Lewat Medsos, Satu Orang Tersabet Sajam




Seperti diketahui, Permendag Nomor 31 Tahun 2023 merupakan respons atas sepinya pasar-pasar konvensional buntut perdagangan digital yang menawarkan harga sangat murah di social commerce. Aturan ini ditujukan demi terciptanya fair trade atau perdagangan yang adil.



Melalui aturan ini, media sosial (medsos) seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan Twitter dilarang digunakan untuk berjualan. Medsos saat ini hanya boleh digunakan dalam memfasilitasi promosi, bukan untuk tempat transaksi jual beli.

BACA JUGA:
Hendak Padamkan Api, Kakek Meninggal Terbakar




Permendag No 31 tahun 2023 pun disebut sebagai upaya Pemerintah untuk mengatur lebih tegas usaha di lini digital agar tidak mematikan mematikan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam negeri yang masih menjajakan dagangannya melalui cara konvensional.



Jika tetap melakukan transaksi jual beli, misalnya di Live TikTok, platform medsos tersebut akan dikenakan sanksi, bahkan ancamannya hingga sampai penutupan platform media sosial. &quot;Saat ini, dalam proses penyelidikan lebih lanjut,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti kebijakan baru yang dikeluarkan pemerintah terkait praktik social commerce seperti TikTok Shop, yakni Permendag No 50 Tahun 2020 Tentang Ketentuan Perizinan Usaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha.
Aturan itu, melarang media sosial untuk digunakan sebagai sarana berjualan. Melalui aturan itu, kata Puan, DPR berharap dapat menciptakan keseimbangan antara pasar digital dan konvensional.
&quot;Dengan regulasi yang cermat dan tepat, pemerintah harus memastikan perkembangan ekonomi di Indonesia tetap adil dan berkelanjutan,&amp;rdquo; kata Puan dalam keterangan resmi yang dikutip, Rabu (27/9/2023).

BACA JUGA:
Kubu Rafael Alun Ragukan Keterangan Saksi Jaksa di Persidangan


Puan menilai, diperlukan strategi lanjutan guna menciptakan keadilan antara pelaku usaha digital dan konvensional yang tetap menjunjung keadilan. Jangan sampai, sambungnya, aturan yang baru malah menjadi boomerang untuk mencapai target era ekonomi digital.

Menurut data TikTok Indonesia, ada sekitar 6 juta pelaku usaha lokal yang menggantungkan usahanya melalui jasa social commerce. Lalu ada sekitar 7 juta creator affiliate yang menggunakan platform Tiktok Shop.

BACA JUGA:
Ayah Tega Cabuli Anak Kandungnya Berulang Kali sejak 2022


Berkaca dari hal itu, Puan berharap pemerintah menghadirkan regulasi yang win win solution dan berpihak untuk semua pihak. Hal ini mengingat pesatnya perkembangan teknologi sangat berpengaruh pada industri perdagangan.

&amp;ldquo;Maka, harus diimbangi dengan regulasi yang tepat. Sehingga ke depannya Indonesia bisa ambil bagian dalam perkembangan era ekonomi digital,&amp;rdquo; jelas Puan.

BACA JUGA:
KPK Telusuri Aset Mewah Sekretaris Nonaktif MA Hasbi Hasan


Di sisi lain, ia mendorong pemerintah untuk mengalakkan sosialisasi dan pelatihan bagi pelaku usaha konvensional untuk dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, pelaku usaha konvensional perlu didukung untuk meningkatkan usahanya agar bisa seimbang berjualan di pasar konvensional maupun pasar digital.

&amp;ldquo;Jangan sampai usaha yang dibangun bertahun-tahun terpaksa tutup karena tidak mengikuti perkembangan zaman, ini tugas penting pemerintah,&amp;rdquo; terangnya.
Selain itu, ia merasa, pemerintah juga perlu membuat ramai pasar tradisional. Salah satunya dengan merevitalisasi pasar-pasar konvensional agar kembali menarik perhatian pembeli.



&amp;ldquo;Tujuan revitalisasi pasar tradisional didasari untuk mengembalikan kenyamanan pembeli, menambah omzet pedagang, hingga agar tidak kalah saing dengan pasar modern atau pasar digital,&amp;rdquo; ungkap Puan.

BACA JUGA:
Kronologi Tawuran di Depok Janjian Lewat Medsos, Satu Orang Tersabet Sajam




Seperti diketahui, Permendag Nomor 31 Tahun 2023 merupakan respons atas sepinya pasar-pasar konvensional buntut perdagangan digital yang menawarkan harga sangat murah di social commerce. Aturan ini ditujukan demi terciptanya fair trade atau perdagangan yang adil.



Melalui aturan ini, media sosial (medsos) seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan Twitter dilarang digunakan untuk berjualan. Medsos saat ini hanya boleh digunakan dalam memfasilitasi promosi, bukan untuk tempat transaksi jual beli.

BACA JUGA:
Hendak Padamkan Api, Kakek Meninggal Terbakar




Permendag No 31 tahun 2023 pun disebut sebagai upaya Pemerintah untuk mengatur lebih tegas usaha di lini digital agar tidak mematikan mematikan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam negeri yang masih menjajakan dagangannya melalui cara konvensional.



Jika tetap melakukan transaksi jual beli, misalnya di Live TikTok, platform medsos tersebut akan dikenakan sanksi, bahkan ancamannya hingga sampai penutupan platform media sosial. &quot;Saat ini, dalam proses penyelidikan lebih lanjut,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
