<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Telepon Misterius di Detik-Detik Sebelum Gugurnya Jenderal A Yani</title><description>&amp;nbsp;
Sehari sebelumnya, 30 September 1965, anak-anak Jenderal Yani seolah tak pernah mendapat isyarat maupun firasat&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/02/337/2892761/telepon-misterius-di-detik-detik-sebelum-gugurnya-jenderal-a-yani</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/02/337/2892761/telepon-misterius-di-detik-detik-sebelum-gugurnya-jenderal-a-yani"/><item><title>Telepon Misterius di Detik-Detik Sebelum Gugurnya Jenderal A Yani</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/02/337/2892761/telepon-misterius-di-detik-detik-sebelum-gugurnya-jenderal-a-yani</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/02/337/2892761/telepon-misterius-di-detik-detik-sebelum-gugurnya-jenderal-a-yani</guid><pubDate>Senin 02 Oktober 2023 05:38 WIB</pubDate><dc:creator>Nanda Aria</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/01/337/2892761/telepon-misterius-di-detik-detik-sebelum-gugurnya-jenderal-a-yani-y2r3sv2cai.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ahmad Yani/Foto: Okezone </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/01/337/2892761/telepon-misterius-di-detik-detik-sebelum-gugurnya-jenderal-a-yani-y2r3sv2cai.jpeg</image><title>Ahmad Yani/Foto: Okezone </title></images><description>
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8wMS8xLzE3MTQ2My81L3g4b2cxdHg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letjen TNI Ahmad Yani tewas secara tragis di subuh 1 Oktober 1965. Tujuh peluru tercatat menembus tubuh Jenderal Yani akibat serangan gerombolan Tjakrabirawa dan pemuda rakyat.

Sehari sebelumnya, 30 September 1965, anak-anak Jenderal Yani seolah tak pernah mendapat isyarat maupun firasat apapun tentang ayahnya. Seperti biasa, Jenderal Yani menanyakan keberadaan ibunya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Amuk Massa G30S PKI, Bupati Blitar Ikut Dibersihkan&amp;nbsp; &amp;nbsp;


&amp;ldquo;Ibu nandi (Ibu di mana),&amp;rdquo; tanyanya.


&amp;ldquo;Ibu di dapur, sedang masak,&amp;rdquo; jawab anak-anaknya kompak, sebagaimana tertulis di buku &amp;lsquo;Tujuh Prajurit TNI Gugur: 1 Oktober 1965&amp;rsquo;.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah Masjid Sabilillah Malang yang Lahannya Nyaris Dikuasai PKI


Kegiatan siang itu pun dilanjutkan dengan hanya ngobrol santai di ruang keluarga, sembari memberi tahu bahwa anak-anaknya tak perlu masuk sekolah pada 5 Oktober yang merupakan HUT TNI.

&amp;ldquo;Mengko tanggal 5 Oktober, kabeh melu bapak. Ndelok defile nang Istana. Kabeh mbolos sekolah wae (Nanti tanggal 5 Oktober semua ikut bapak. Lihat defile di Istana. Semua bolos sekolah saja),&amp;rdquo; tutur Jenderal Yani.

Sontak anak-anak Jenderal Yani pun kegirangan. Obrolan penuh canda di bar kecil di dalam rumah, Jalan Lembang No.58, Jakarta Pusat itu pun berlanjut, hingga tangan Jenderal Yani sempat menyenggol botol minyak wangi hingga isinya tumpah.

Sang Jenderal lantas mengusap-usap ceceran minyak wangi itu ke tubuh anak-anaknya. &amp;ldquo;Nek ditakon uwong seko endi wangine, kandakke nek wangine seko bapak. (Kalau ditanya orang, dari mana wanginya kau dapatkan, bilang wanginya dari bapak),&amp;rdquo; ucap Jenderal Yani sembari berkelakar.



Selesai makan siang bersama, Jenderal Yani kembali keluar rumah untuk main golf dengan Bob Hasan. Sorenya, Jenderal Yani sepulang ke rumah sempat menyapa beberapa temannya anak-anak Jenderal Yani dari Akademi Militer Nasional (AMN).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Cegah Tawuran, Polsek Mampang Edukasi Pemuda Jauhi Tindak Kejahatan&amp;nbsp; &amp;nbsp;



&amp;ldquo;Anak-anak saya ini paling senang dengan kalian. Silakan ngobrol dengan adik-adikmu!&amp;rdquo; sapa Jenderal Yani yang kemudian berlalu ke ruang tamu untuk bertemu beberapa koleganya.



Malam 30 September sekira pukul 23.00 WIB, telepon di rumah mereka bordering. Penelepon misterius itu sempat dua kali bertanya soal keberadaan Jenderal Yani yang dijawab putri sulungnya, Indria Ami Rulliati (Rully).



&amp;ldquo;Bapak sudah tidur. Jangan main-main ya. Ini rumah Jenderal Yani,&amp;rdquo; ketus Rully kala menjawab penelefon misterius itu.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Bantu Warga Hidup Sehat, Relawan Ganjar Adakan Pengecekan Kesehatan Gratis




Tak dinyana, mereka harus melihat tragedi yang bikin perih hati kala sang Ayah ditembaki, diseret dan dilemparkan ke dalam truk pada Jumat subuh, 1 Oktober 1965. Mereka pun benar-benar bolos sekolah pada 5 Oktober, seperti yang dikatakan Jenderal Yani &amp;ndash; untuk mengikuti prosesi pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata.</description><content:encoded>
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8wMS8xLzE3MTQ2My81L3g4b2cxdHg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letjen TNI Ahmad Yani tewas secara tragis di subuh 1 Oktober 1965. Tujuh peluru tercatat menembus tubuh Jenderal Yani akibat serangan gerombolan Tjakrabirawa dan pemuda rakyat.

Sehari sebelumnya, 30 September 1965, anak-anak Jenderal Yani seolah tak pernah mendapat isyarat maupun firasat apapun tentang ayahnya. Seperti biasa, Jenderal Yani menanyakan keberadaan ibunya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Amuk Massa G30S PKI, Bupati Blitar Ikut Dibersihkan&amp;nbsp; &amp;nbsp;


&amp;ldquo;Ibu nandi (Ibu di mana),&amp;rdquo; tanyanya.


&amp;ldquo;Ibu di dapur, sedang masak,&amp;rdquo; jawab anak-anaknya kompak, sebagaimana tertulis di buku &amp;lsquo;Tujuh Prajurit TNI Gugur: 1 Oktober 1965&amp;rsquo;.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kisah Masjid Sabilillah Malang yang Lahannya Nyaris Dikuasai PKI


Kegiatan siang itu pun dilanjutkan dengan hanya ngobrol santai di ruang keluarga, sembari memberi tahu bahwa anak-anaknya tak perlu masuk sekolah pada 5 Oktober yang merupakan HUT TNI.

&amp;ldquo;Mengko tanggal 5 Oktober, kabeh melu bapak. Ndelok defile nang Istana. Kabeh mbolos sekolah wae (Nanti tanggal 5 Oktober semua ikut bapak. Lihat defile di Istana. Semua bolos sekolah saja),&amp;rdquo; tutur Jenderal Yani.

Sontak anak-anak Jenderal Yani pun kegirangan. Obrolan penuh canda di bar kecil di dalam rumah, Jalan Lembang No.58, Jakarta Pusat itu pun berlanjut, hingga tangan Jenderal Yani sempat menyenggol botol minyak wangi hingga isinya tumpah.

Sang Jenderal lantas mengusap-usap ceceran minyak wangi itu ke tubuh anak-anaknya. &amp;ldquo;Nek ditakon uwong seko endi wangine, kandakke nek wangine seko bapak. (Kalau ditanya orang, dari mana wanginya kau dapatkan, bilang wanginya dari bapak),&amp;rdquo; ucap Jenderal Yani sembari berkelakar.



Selesai makan siang bersama, Jenderal Yani kembali keluar rumah untuk main golf dengan Bob Hasan. Sorenya, Jenderal Yani sepulang ke rumah sempat menyapa beberapa temannya anak-anak Jenderal Yani dari Akademi Militer Nasional (AMN).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Cegah Tawuran, Polsek Mampang Edukasi Pemuda Jauhi Tindak Kejahatan&amp;nbsp; &amp;nbsp;



&amp;ldquo;Anak-anak saya ini paling senang dengan kalian. Silakan ngobrol dengan adik-adikmu!&amp;rdquo; sapa Jenderal Yani yang kemudian berlalu ke ruang tamu untuk bertemu beberapa koleganya.



Malam 30 September sekira pukul 23.00 WIB, telepon di rumah mereka bordering. Penelepon misterius itu sempat dua kali bertanya soal keberadaan Jenderal Yani yang dijawab putri sulungnya, Indria Ami Rulliati (Rully).



&amp;ldquo;Bapak sudah tidur. Jangan main-main ya. Ini rumah Jenderal Yani,&amp;rdquo; ketus Rully kala menjawab penelefon misterius itu.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Bantu Warga Hidup Sehat, Relawan Ganjar Adakan Pengecekan Kesehatan Gratis




Tak dinyana, mereka harus melihat tragedi yang bikin perih hati kala sang Ayah ditembaki, diseret dan dilemparkan ke dalam truk pada Jumat subuh, 1 Oktober 1965. Mereka pun benar-benar bolos sekolah pada 5 Oktober, seperti yang dikatakan Jenderal Yani &amp;ndash; untuk mengikuti prosesi pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata.</content:encoded></item></channel></rss>
