<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ganjar Pranowo Calon Presiden yang Humble dan Datang dari Keluarga Sederhana</title><description>Ganjar lahir bertepatan dengan tanggal peringatan Hari Sumpah Pemuda.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/02/337/2893514/ganjar-pranowo-calon-presiden-yang-humble-dan-datang-dari-keluarga-sederhana</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/02/337/2893514/ganjar-pranowo-calon-presiden-yang-humble-dan-datang-dari-keluarga-sederhana"/><item><title>Ganjar Pranowo Calon Presiden yang Humble dan Datang dari Keluarga Sederhana</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/02/337/2893514/ganjar-pranowo-calon-presiden-yang-humble-dan-datang-dari-keluarga-sederhana</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/02/337/2893514/ganjar-pranowo-calon-presiden-yang-humble-dan-datang-dari-keluarga-sederhana</guid><pubDate>Senin 02 Oktober 2023 17:20 WIB</pubDate><dc:creator> Royandi Hutasoit</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/02/337/2893514/ganjar-pranowo-calon-presiden-yang-humble-dan-datang-dari-keluarga-sederhana-FPGdhQl2HB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ganjar Pranowo Calon Presiden yang Humble dan Sederhana/Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/02/337/2893514/ganjar-pranowo-calon-presiden-yang-humble-dan-datang-dari-keluarga-sederhana-FPGdhQl2HB.jpg</image><title>Ganjar Pranowo Calon Presiden yang Humble dan Sederhana/Foto: Okezone</title></images><description>
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8wMS8xLzE3MTQ4NC81L3g4b2c2OWc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Calon presiden 2024, Ganjar Pranowo, dikenal sebagai sosok pemimpin yang sederhana, dan sangat dekat dengan rakyat. Ternyata, mantan orang nomor satu se Jawa Tengah (Jateng) ini, juga berasal dari keluarga yang sederhana.

Keluarga Sederhana Ganjar Pranowo

Ganjar lahir bertepatan dengan tanggal peringatan Hari Sumpah Pemuda, pada 28 Oktober 1968, di Tawangmangu, desa kecil di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. Ia terlahir dari pasangan suami-istri sederhana, bernama Parmudji Pramudi Wiryo dan Sri Suparni.

Ganjar merupakan anak kelima dari pasangan tersebut. Ayahnya, Parmudji, menamainya dengan nama &amp;lsquo;Ganjar Sungkowo&amp;rsquo;. Pada masa kelahirannya, kondisi ekonomi dan politik di Indonesia sedang tidak stabil. Peralihan pemerintahan dari Ir Soekarno ke Jenderal Soeharto belum sepenuhnya memperbaiki ekonomi.

Ayahnya merupakan seorang polisi, namun bukan berarti mereka serba berkecukupan. Pendapatan ayahnya belum mencukupi kebutuhan keluarga yang cukup besar, dengan 6 orang anak.

&amp;ldquo;Bapak polisi rendahan, ibu saya ibu rumah tangga. Setiap bulan gaji bapak saya dikasih ke ibu. Lalu, saya mengantar ibu ke warung Mbak Yarni. Warungnya saat ini masih ada. Mbak Yarni punya buku tebal, sampulnya batik, isinya utang ibu saya,&amp;rdquo; ungkap Ganjar di program TV Mata Najwa bertajuk &amp;ldquo;Cerita Anak Kampung: Cerita Susah Ganjar Pranowo&amp;rdquo; pada 2019.

Ia bercerita, bisa bersekolah merupakan suatu hal yang sangat disyukuri, sebuah anugerah yang luar biasa.

Saat memasuki usia sekolah, orang tua Ganjar berinisiatif mengubah namanya menjadi &amp;ldquo;Ganjar Pranowo&amp;rdquo; dikarenakan &amp;lsquo;Pranowo&amp;rsquo; memiliki arti yang lebih baik dari &amp;lsquo;Sungkowo&amp;rsquo;. &amp;lsquo;Pramono&amp;rsquo; berarti &amp;lsquo;hati yang terang&amp;rsquo; sementara &amp;lsquo;Sungkowo&amp;rsquo; berarti &amp;lsquo;kesedihan&amp;rsquo;. Ayah Ganjar khawatir, apabila tetap menggunakan nama Sungkowo, maka Ganjar akan terus dikelilingi kesedihan.

Masa kecil Ganjar, hingga kelas 5 sekolah dasar (SD), dihabiskan di Desa Tawangmangu, namun keluarga Ganjar harus pindah dari Tawangmangu ke kecamatan Karanganyar, sebelum akhirnya menetap di kecamatan Kutoarjo, di Kabupaten Purworejo, Jateng.
&amp;nbsp;
Sempat Berjualan Bensin

Kutoarjo menjadi peralihan Ganjar dari anak-anak menjadi remaja.  Setelah lulus SD, Ganjar diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Kutoarjo.

Di usia remaja itu, Ganjar sebagai anak lelaki terakhir bersama kakaknya, Joko, bekerja keras membantu ibunya berjualan. Meski pindah tugas dinas, gaji Parmudji sebagai polisi tidak seberapa. Istrinya pun terpaksa membuka warung kelontong dan bensin eceran untuk menambah pendapatan.

Salah satu tugas Ganjar ialah berjualan bensin. Setiap shalat Subuh, ia kulakan bensin di pom bensin Andong. Kemudian, ia memindahkan bensin tersebut ke kemasan-kemasan botol literan. Ia juga yang melayani dan menuangkan bensin ke tangki motor pembeli.
Berkuliah di UGM
&amp;nbsp;


Ketika beranjak dewasa, tepatnya saat memasuki usia berkuliah, Ganjar Pranowo berhasil masuk ke universitas ternama di Indonesia, yaitu Universitas Gadjah Mada. Namun, ekonominya belum juga membaik. Hal tersebut membuat dirinya menempuh waktu yang lama untuk menuntaskan kuliahnya.



&amp;ldquo;Saya langganan minta dispensasi telat bayar SPP ke rektor UGM, ibu saya nangis tahu cerita ini,&amp;rdquo; ungkap Ganjar.



Hal ini akhirnya mendorong Ganjar untuk menjadi tenaga pengajar pada beberapa Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta dan mendapatkan uang sebesar Rp 35 ribu per bulan. Uang yang ia tabung demi membayar uang SPP sebesar Rp. 90 ribu per bulan.


Alam Ganjar mengakui dia memang sejak dari kecil hobi bermain bola. Namun belakangan dia mulai jarang lagi bermain sepak bola maupun futsal akibat keterbatasan waktu. &amp;ldquo;Dulu dari SD, SMP, fokus banget main bola dari futsal dan di SSB juga. Cuma akhir-akhir ini lebih terbatas,&amp;rdquo; jelasnya.


&amp;nbsp;
Membentuk Sosok yang Sederhana
&amp;nbsp;






Latar belakang inilah, yang menjadi salah satu alasan mengapa Ganjar Pranowo dinilai sebagai sosok yang pemimpin yang sederhana. Perjalanan hidup yang penuh perjuangan menjadikannya sebagai pemimpin yang peduli dengan kesejahteraan rakyatnya.







&quot;Mas Ganjar lahir juga dari seseorang keluarga kebanyakan, artinya rakyat biasa seperti kita semua, bukan dari kalangan bangsawan, bukan anak jenderal, bukan anak orang-orang elite di republik ini. Dia anak seorang purnawirawan Polri berpangkat biasa, anak kolong, dan sebagainya,&quot; ungkap Ahmad Basarah, ketua Tim Koordinasi Relawan Pemenangan Pilpres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (TKRPP-PDIP), pada Sabtu (08/07/2023.







Ahmad Basarah menyebutkan salah satu aspek mengapa Ganjar Pranowo dianggap paling ideal dalam melanjutkan dan akselerasi pembangunan yang telah dikerjakan Presiden Jokowi dalam dua periode kepemimpinan dari 2014-2024. Ganjar, kata dia, memiliki dimensi yang bersifat humanis, baik secara pribadi maupun keluarga. Bersama istrinya Siti Atikoh dan putranya, keluarga Ganjar menggambarkan sebuah rumah tangga yang ideal dalam struktur sosial masyarakat.







Basarah juga menyebut, Ganjar dan Jokowi melewati hal yang serupa, keduanya berasal dari masyarakat yang sederhana, dari dan dekat dengan rakyat.



</description><content:encoded>
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8wMS8xLzE3MTQ4NC81L3g4b2c2OWc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Calon presiden 2024, Ganjar Pranowo, dikenal sebagai sosok pemimpin yang sederhana, dan sangat dekat dengan rakyat. Ternyata, mantan orang nomor satu se Jawa Tengah (Jateng) ini, juga berasal dari keluarga yang sederhana.

Keluarga Sederhana Ganjar Pranowo

Ganjar lahir bertepatan dengan tanggal peringatan Hari Sumpah Pemuda, pada 28 Oktober 1968, di Tawangmangu, desa kecil di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. Ia terlahir dari pasangan suami-istri sederhana, bernama Parmudji Pramudi Wiryo dan Sri Suparni.

Ganjar merupakan anak kelima dari pasangan tersebut. Ayahnya, Parmudji, menamainya dengan nama &amp;lsquo;Ganjar Sungkowo&amp;rsquo;. Pada masa kelahirannya, kondisi ekonomi dan politik di Indonesia sedang tidak stabil. Peralihan pemerintahan dari Ir Soekarno ke Jenderal Soeharto belum sepenuhnya memperbaiki ekonomi.

Ayahnya merupakan seorang polisi, namun bukan berarti mereka serba berkecukupan. Pendapatan ayahnya belum mencukupi kebutuhan keluarga yang cukup besar, dengan 6 orang anak.

&amp;ldquo;Bapak polisi rendahan, ibu saya ibu rumah tangga. Setiap bulan gaji bapak saya dikasih ke ibu. Lalu, saya mengantar ibu ke warung Mbak Yarni. Warungnya saat ini masih ada. Mbak Yarni punya buku tebal, sampulnya batik, isinya utang ibu saya,&amp;rdquo; ungkap Ganjar di program TV Mata Najwa bertajuk &amp;ldquo;Cerita Anak Kampung: Cerita Susah Ganjar Pranowo&amp;rdquo; pada 2019.

Ia bercerita, bisa bersekolah merupakan suatu hal yang sangat disyukuri, sebuah anugerah yang luar biasa.

Saat memasuki usia sekolah, orang tua Ganjar berinisiatif mengubah namanya menjadi &amp;ldquo;Ganjar Pranowo&amp;rdquo; dikarenakan &amp;lsquo;Pranowo&amp;rsquo; memiliki arti yang lebih baik dari &amp;lsquo;Sungkowo&amp;rsquo;. &amp;lsquo;Pramono&amp;rsquo; berarti &amp;lsquo;hati yang terang&amp;rsquo; sementara &amp;lsquo;Sungkowo&amp;rsquo; berarti &amp;lsquo;kesedihan&amp;rsquo;. Ayah Ganjar khawatir, apabila tetap menggunakan nama Sungkowo, maka Ganjar akan terus dikelilingi kesedihan.

Masa kecil Ganjar, hingga kelas 5 sekolah dasar (SD), dihabiskan di Desa Tawangmangu, namun keluarga Ganjar harus pindah dari Tawangmangu ke kecamatan Karanganyar, sebelum akhirnya menetap di kecamatan Kutoarjo, di Kabupaten Purworejo, Jateng.
&amp;nbsp;
Sempat Berjualan Bensin

Kutoarjo menjadi peralihan Ganjar dari anak-anak menjadi remaja.  Setelah lulus SD, Ganjar diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Kutoarjo.

Di usia remaja itu, Ganjar sebagai anak lelaki terakhir bersama kakaknya, Joko, bekerja keras membantu ibunya berjualan. Meski pindah tugas dinas, gaji Parmudji sebagai polisi tidak seberapa. Istrinya pun terpaksa membuka warung kelontong dan bensin eceran untuk menambah pendapatan.

Salah satu tugas Ganjar ialah berjualan bensin. Setiap shalat Subuh, ia kulakan bensin di pom bensin Andong. Kemudian, ia memindahkan bensin tersebut ke kemasan-kemasan botol literan. Ia juga yang melayani dan menuangkan bensin ke tangki motor pembeli.
Berkuliah di UGM
&amp;nbsp;


Ketika beranjak dewasa, tepatnya saat memasuki usia berkuliah, Ganjar Pranowo berhasil masuk ke universitas ternama di Indonesia, yaitu Universitas Gadjah Mada. Namun, ekonominya belum juga membaik. Hal tersebut membuat dirinya menempuh waktu yang lama untuk menuntaskan kuliahnya.



&amp;ldquo;Saya langganan minta dispensasi telat bayar SPP ke rektor UGM, ibu saya nangis tahu cerita ini,&amp;rdquo; ungkap Ganjar.



Hal ini akhirnya mendorong Ganjar untuk menjadi tenaga pengajar pada beberapa Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta dan mendapatkan uang sebesar Rp 35 ribu per bulan. Uang yang ia tabung demi membayar uang SPP sebesar Rp. 90 ribu per bulan.


Alam Ganjar mengakui dia memang sejak dari kecil hobi bermain bola. Namun belakangan dia mulai jarang lagi bermain sepak bola maupun futsal akibat keterbatasan waktu. &amp;ldquo;Dulu dari SD, SMP, fokus banget main bola dari futsal dan di SSB juga. Cuma akhir-akhir ini lebih terbatas,&amp;rdquo; jelasnya.


&amp;nbsp;
Membentuk Sosok yang Sederhana
&amp;nbsp;






Latar belakang inilah, yang menjadi salah satu alasan mengapa Ganjar Pranowo dinilai sebagai sosok yang pemimpin yang sederhana. Perjalanan hidup yang penuh perjuangan menjadikannya sebagai pemimpin yang peduli dengan kesejahteraan rakyatnya.







&quot;Mas Ganjar lahir juga dari seseorang keluarga kebanyakan, artinya rakyat biasa seperti kita semua, bukan dari kalangan bangsawan, bukan anak jenderal, bukan anak orang-orang elite di republik ini. Dia anak seorang purnawirawan Polri berpangkat biasa, anak kolong, dan sebagainya,&quot; ungkap Ahmad Basarah, ketua Tim Koordinasi Relawan Pemenangan Pilpres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (TKRPP-PDIP), pada Sabtu (08/07/2023.







Ahmad Basarah menyebutkan salah satu aspek mengapa Ganjar Pranowo dianggap paling ideal dalam melanjutkan dan akselerasi pembangunan yang telah dikerjakan Presiden Jokowi dalam dua periode kepemimpinan dari 2014-2024. Ganjar, kata dia, memiliki dimensi yang bersifat humanis, baik secara pribadi maupun keluarga. Bersama istrinya Siti Atikoh dan putranya, keluarga Ganjar menggambarkan sebuah rumah tangga yang ideal dalam struktur sosial masyarakat.







Basarah juga menyebut, Ganjar dan Jokowi melewati hal yang serupa, keduanya berasal dari masyarakat yang sederhana, dari dan dekat dengan rakyat.



</content:encoded></item></channel></rss>
