<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pilu Keluarga Disabilitas Hidup di Rumah Hampir Roboh</title><description>Sungguh miris yang dirasakan Sasmiati, warga Kabupaten Blitar, Jawa Timur.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/03/519/2893962/pilu-keluarga-disabilitas-hidup-di-rumah-hampir-roboh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/03/519/2893962/pilu-keluarga-disabilitas-hidup-di-rumah-hampir-roboh"/><item><title>Pilu Keluarga Disabilitas Hidup di Rumah Hampir Roboh</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/03/519/2893962/pilu-keluarga-disabilitas-hidup-di-rumah-hampir-roboh</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/03/519/2893962/pilu-keluarga-disabilitas-hidup-di-rumah-hampir-roboh</guid><pubDate>Selasa 03 Oktober 2023 12:41 WIB</pubDate><dc:creator>Robby Ridwan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/03/519/2893962/pilu-keluarga-disabilitas-hidup-di-rumah-hampir-roboh-dTLzwQ9pnk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sasmiati bersama dua anaknya harus tinggal di rumah yang hampir roboh di Blitar, Jawa Timur (Foto: Robby Ridwan)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/03/519/2893962/pilu-keluarga-disabilitas-hidup-di-rumah-hampir-roboh-dTLzwQ9pnk.jpg</image><title>Sasmiati bersama dua anaknya harus tinggal di rumah yang hampir roboh di Blitar, Jawa Timur (Foto: Robby Ridwan)</title></images><description>BLITAR - Sungguh miris yang dirasakan Sasmiati, warga Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Selain hidup dalam keluarga disabilitas bersama dua anaknya, ia harus tinggal di rumah hampir roboh.
Keluarga kurang mampu ini bertahan karena tidak ada tempat tinggal selain rumahnya tersebut. Sasmiati tinggal di Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben.

BACA JUGA:
Usai Olah TKP Siswa SD Jatuh di Sekolah, Polisi Dalami Dugaan Bully kepada Korban

Kondisi rumah yang hampir roboh dan tanpa tempat tidur ini masih dipertahankannya. Tidak hanya rumah yang sudah rapuh dan hampir roboh, keluarga ini juga tidak tersentuh bantuan.
Belum lagi Sasmiati juga masih mengurus dua anaknya yang sekolah di SLB Kesamben lantaran keterbelakangan mental.

BACA JUGA:
Mahasiswi UMY yang Tewas Jatuh dari Lantai 4 Dimakamkan di Bandarlampung

Setiap harinya, Sasmiati berjalan sejauh 5 Kilometer untuk mengantar dua anaknya sekolah. Namun, hingga kini tidak ada yang memberikan bantuan sama sekali, baik memperbaiki rumah maupun memenuhi kebutuhan ekonomi.&amp;nbsp;
Sasmiati terpaksa makan dengan ala kadarnya karena ditinggal suaminya sejak beberapa tahun yang lalu.

BACA JUGA:
Ambil Layangan di Sungai, Bocah 14 Tahun Tewas Tenggelam&amp;nbsp; &amp;nbsp;
Kepala Desa Pagerwojo Mujiadi mengatakan, rumah ini sudah lama rusak. Pihaknya juga mengaku sudah sering mengajukan ke Pemkab Blitar, namun tidak ada tangapan.
Sedangkan bantuan lainnya, Sasmiati belum dapat sama sekali lantaran Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) nya belum KTP elektronik.

BACA JUGA:
Bule Bikin Ulah Lagi di Bali, Meditasi Tanpa Busana di Tempat Suci

Hidup seperti ini bukan menjadi pilihan Sasmiati, apalagi harus memenuhi kebutuhan hidup seorang diri dengan dua anaknya yang mengalami keterbelakangan mental.</description><content:encoded>BLITAR - Sungguh miris yang dirasakan Sasmiati, warga Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Selain hidup dalam keluarga disabilitas bersama dua anaknya, ia harus tinggal di rumah hampir roboh.
Keluarga kurang mampu ini bertahan karena tidak ada tempat tinggal selain rumahnya tersebut. Sasmiati tinggal di Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben.

BACA JUGA:
Usai Olah TKP Siswa SD Jatuh di Sekolah, Polisi Dalami Dugaan Bully kepada Korban

Kondisi rumah yang hampir roboh dan tanpa tempat tidur ini masih dipertahankannya. Tidak hanya rumah yang sudah rapuh dan hampir roboh, keluarga ini juga tidak tersentuh bantuan.
Belum lagi Sasmiati juga masih mengurus dua anaknya yang sekolah di SLB Kesamben lantaran keterbelakangan mental.

BACA JUGA:
Mahasiswi UMY yang Tewas Jatuh dari Lantai 4 Dimakamkan di Bandarlampung

Setiap harinya, Sasmiati berjalan sejauh 5 Kilometer untuk mengantar dua anaknya sekolah. Namun, hingga kini tidak ada yang memberikan bantuan sama sekali, baik memperbaiki rumah maupun memenuhi kebutuhan ekonomi.&amp;nbsp;
Sasmiati terpaksa makan dengan ala kadarnya karena ditinggal suaminya sejak beberapa tahun yang lalu.

BACA JUGA:
Ambil Layangan di Sungai, Bocah 14 Tahun Tewas Tenggelam&amp;nbsp; &amp;nbsp;
Kepala Desa Pagerwojo Mujiadi mengatakan, rumah ini sudah lama rusak. Pihaknya juga mengaku sudah sering mengajukan ke Pemkab Blitar, namun tidak ada tangapan.
Sedangkan bantuan lainnya, Sasmiati belum dapat sama sekali lantaran Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) nya belum KTP elektronik.

BACA JUGA:
Bule Bikin Ulah Lagi di Bali, Meditasi Tanpa Busana di Tempat Suci

Hidup seperti ini bukan menjadi pilihan Sasmiati, apalagi harus memenuhi kebutuhan hidup seorang diri dengan dua anaknya yang mengalami keterbelakangan mental.</content:encoded></item></channel></rss>
