<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Soedirman, Jenderal yang Rajin Shalat hingga Puasa di Tengah Perang   </title><description>Soedirman, memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sekolah yang terkenal nasional.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/05/337/2895087/soedirman-jenderal-yang-rajin-shalat-hingga-puasa-di-tengah-perang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/05/337/2895087/soedirman-jenderal-yang-rajin-shalat-hingga-puasa-di-tengah-perang"/><item><title> Soedirman, Jenderal yang Rajin Shalat hingga Puasa di Tengah Perang   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/05/337/2895087/soedirman-jenderal-yang-rajin-shalat-hingga-puasa-di-tengah-perang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/05/337/2895087/soedirman-jenderal-yang-rajin-shalat-hingga-puasa-di-tengah-perang</guid><pubDate>Kamis 05 Oktober 2023 04:01 WIB</pubDate><dc:creator>Awaludin</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/04/337/2895087/soedirman-jenderal-yang-rajin-shalat-hingga-puasa-di-tengah-perang-wdkh7ohL5Z.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Jenderal Soedirman (foto: dok wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/04/337/2895087/soedirman-jenderal-yang-rajin-shalat-hingga-puasa-di-tengah-perang-wdkh7ohL5Z.jpeg</image><title>Jenderal Soedirman (foto: dok wikipedia)</title></images><description>

JENDERAL Soedirman, memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sekolah yang terkenal nasional, lalu ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo, namun pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah, pada 24 Januari 1916 itu tidak sampai tamat.

Dalam buku &quot;Guru Bangsa: Sebuah Biografi Jenderal Soedirman&quot; disebutkan, Soedirman muda dikenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Kemudian ia menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap.

Sebagai kader Muhammadiyah, anak dari mandor tebu di pabrik gula di Purwokerto itu dikenal sebagai santri atau jamaah yang cukup aktif dalam pengajian &amp;ldquo;malam selasa&amp;rdquo;, yakni pengajian yang diselenggarakan PP Muhammadiyah di Kauman berdekatan dengan Masjid Besar Yogyakarta.

BACA JUGA:
Panglima Yudo Margono Ziarah ke Makam Jenderal Soedirman Jelang HUT Ke-78 TNI

Ia juga dikenal sebagai sosok yang rajin beribadah. Di Museum Sasmitaloka Panglima Jenderal Besar Soedirman di Jalan Bintaran Wetan, Pakualaman, Yogyakarta, terdapat sajadah digunakan untuk beribadah. Tempat sholat itu diletakkan tepat di samping tempat tidurnya yang ada di museum.

Soedirman mengawali karier militernya sebagai seorang dai muda yang giat berdakwah di era 1936-1942 di daerah Cilacap dan Banyumas. Hingga pada masa itu, ia adalah dai yang dicintai masyarakat.

Ia selalu menjaga kesuciannya dengan berwudhu. Saat wudhunya batal, ia akan berwudhu kembali. Bahkan, jika tidak dalam masuknya waktu sholat, Soedirman tetap akan berwudhu.

BACA JUGA:
Baru Keluar Rumah Sakit, Jenderal Soedirman Pimpin Perang Gerilya Meski Ditandu

Ia selalu menjaga menjaga wudhunya. Saat mendengar suara azan, ia langsung sholat. Saat memimpin perang gerilya, Soedirman tidak pernah menunda ibadah, meski tengah sakit sekalipun.

Saat bergerilya, Soedirman pun memerintahkan kepada ajudannya untuk membawa kendi yang berisi air. Air itu digunakan untuk berwudhu saat perang gerilya.



Ia juga berprinsip tidak pernah meninggalkan sholat. Jika tidak bisa berdiri, ia sholat dalam keadaan duduk. Jika tidak bisa duduk, sholat dilakukan dengan berbaring. Ia juga rajin berpuasa.



Sikap prihatinnya juga tampak ketika dia menghadapi masalah. Ia yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.



Pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya.



Ketika itu, ia sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.



Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia.



Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden.</description><content:encoded>

JENDERAL Soedirman, memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sekolah yang terkenal nasional, lalu ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo, namun pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah, pada 24 Januari 1916 itu tidak sampai tamat.

Dalam buku &quot;Guru Bangsa: Sebuah Biografi Jenderal Soedirman&quot; disebutkan, Soedirman muda dikenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Kemudian ia menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap.

Sebagai kader Muhammadiyah, anak dari mandor tebu di pabrik gula di Purwokerto itu dikenal sebagai santri atau jamaah yang cukup aktif dalam pengajian &amp;ldquo;malam selasa&amp;rdquo;, yakni pengajian yang diselenggarakan PP Muhammadiyah di Kauman berdekatan dengan Masjid Besar Yogyakarta.

BACA JUGA:
Panglima Yudo Margono Ziarah ke Makam Jenderal Soedirman Jelang HUT Ke-78 TNI

Ia juga dikenal sebagai sosok yang rajin beribadah. Di Museum Sasmitaloka Panglima Jenderal Besar Soedirman di Jalan Bintaran Wetan, Pakualaman, Yogyakarta, terdapat sajadah digunakan untuk beribadah. Tempat sholat itu diletakkan tepat di samping tempat tidurnya yang ada di museum.

Soedirman mengawali karier militernya sebagai seorang dai muda yang giat berdakwah di era 1936-1942 di daerah Cilacap dan Banyumas. Hingga pada masa itu, ia adalah dai yang dicintai masyarakat.

Ia selalu menjaga kesuciannya dengan berwudhu. Saat wudhunya batal, ia akan berwudhu kembali. Bahkan, jika tidak dalam masuknya waktu sholat, Soedirman tetap akan berwudhu.

BACA JUGA:
Baru Keluar Rumah Sakit, Jenderal Soedirman Pimpin Perang Gerilya Meski Ditandu

Ia selalu menjaga menjaga wudhunya. Saat mendengar suara azan, ia langsung sholat. Saat memimpin perang gerilya, Soedirman tidak pernah menunda ibadah, meski tengah sakit sekalipun.

Saat bergerilya, Soedirman pun memerintahkan kepada ajudannya untuk membawa kendi yang berisi air. Air itu digunakan untuk berwudhu saat perang gerilya.



Ia juga berprinsip tidak pernah meninggalkan sholat. Jika tidak bisa berdiri, ia sholat dalam keadaan duduk. Jika tidak bisa duduk, sholat dilakukan dengan berbaring. Ia juga rajin berpuasa.



Sikap prihatinnya juga tampak ketika dia menghadapi masalah. Ia yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.



Pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya.



Ketika itu, ia sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.



Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia.



Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden.</content:encoded></item></channel></rss>
