<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hari Museum Nasional: Menengok Kuburan Tentara Belanda di Taman Museum Wayang</title><description>Museum juga difungsikan untuk penyimpanan, perawatan, pengamanan, pemanfaatan, serta pelestarian hasil budaya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/12/337/2899561/hari-museum-nasional-menengok-kuburan-tentara-belanda-di-taman-museum-wayang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/12/337/2899561/hari-museum-nasional-menengok-kuburan-tentara-belanda-di-taman-museum-wayang"/><item><title>Hari Museum Nasional: Menengok Kuburan Tentara Belanda di Taman Museum Wayang</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/12/337/2899561/hari-museum-nasional-menengok-kuburan-tentara-belanda-di-taman-museum-wayang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/12/337/2899561/hari-museum-nasional-menengok-kuburan-tentara-belanda-di-taman-museum-wayang</guid><pubDate>Kamis 12 Oktober 2023 01:12 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhrizal Fakhri </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/12/337/2899561/hari-museum-nasional-menengok-kuburan-tentara-belanda-di-taman-museum-wayang-Y6ncuwkqrl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/12/337/2899561/hari-museum-nasional-menengok-kuburan-tentara-belanda-di-taman-museum-wayang-Y6ncuwkqrl.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)</title></images><description>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8xMS84LzE3MjAzNi81L3g4b3F4OWk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Bangsa Indonesia memperingati 12 Oktober sebagai Hari Museum Nasional. Museum menjadi sarana bagi masyarakat untuk rekreasi atau hiburan hingga kepentingan edukasi serta penelitian.
Selain itu, museum juga difungsikan untuk penyimpanan, perawatan, pengamanan, pemanfaatan, serta pelestarian hasil budaya.
Gedung museum di Indonesia juga banyak menyimpan memori bangsa Indonesia terhadap perjuangan pahlawan dari penjajahan.

BACA JUGA:
Ajak Sineas Gorontalo hingga Maluku Ikut Festival Film Bulanan, Sandiaga: Harus Berani Bangun Relasi

Banyak darah telah bertumpahan menjadi lautan di zaman itu. Gedung-gedung museum yang menjadi saksi bisu terhadap kekejaman Belanda. Salah satunya bekas makam tentara Belanda yang berlokasi di taman Museum Wayang.

BACA JUGA:
Hasil Timnas Futsal Indonesia vs Arab Saudi di Kualifikasi Piala Asia Futsal 2024: Kalah 2-3, Indonesia Gagal Lolos ke Piala Asia Futsal 2024!

Kala itu, zaman penjajahan Belanda lokasi museum Wayang dijadikan sebagai gereja di tahun 1712 , dan menjadi tempat ibadah para penjajah serta turis yang sedang jalan-jalan di Jakarta.Namun, di balik tempat ibadah ini, terdapat makam-makan jenderal dan tentara Belanda yang kalah perang saat itu. Dan, di sanalah kilas balik perperangan terasa.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Klasemen Akhir Grup B Kualifikasi Piala Asia Futsal 2024: Finis Ketiga, Timnas Futsal Indonesia Gagal Lolos ke Putaran Final

&quot;Dulu memang gedung ini dijadikan gereja, nah jika melihat di belakang ada taman itu dulunya makan tentara Belanda, dan jenderal,&quot; jelas Irfan sebagai pemandu wisata kepada Okezone, di Museum Wayang.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Gempar! Mahasiswi Ditemukan Tewas di Kos Semarang, Tinggalkan Surat Wasiat

Kemudian, seiring perkembangan zaman, dan perubahan jabatan gubenur di Jakarta, makam itu dikemas menjadi sebuah taman yang dikelilingi dengan ukiran dinding berbahasa Belanda.

&quot;Sejak Gubenur Ali Sadikin menjabat, gedung ini diubah menjadi museum, dan makam dibuat jadi taman. Tulang-tulang tentara itu dikirim ke Museum Prasasti,&quot; tuturnya.

</description><content:encoded>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8xMS84LzE3MjAzNi81L3g4b3F4OWk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Bangsa Indonesia memperingati 12 Oktober sebagai Hari Museum Nasional. Museum menjadi sarana bagi masyarakat untuk rekreasi atau hiburan hingga kepentingan edukasi serta penelitian.
Selain itu, museum juga difungsikan untuk penyimpanan, perawatan, pengamanan, pemanfaatan, serta pelestarian hasil budaya.
Gedung museum di Indonesia juga banyak menyimpan memori bangsa Indonesia terhadap perjuangan pahlawan dari penjajahan.

BACA JUGA:
Ajak Sineas Gorontalo hingga Maluku Ikut Festival Film Bulanan, Sandiaga: Harus Berani Bangun Relasi

Banyak darah telah bertumpahan menjadi lautan di zaman itu. Gedung-gedung museum yang menjadi saksi bisu terhadap kekejaman Belanda. Salah satunya bekas makam tentara Belanda yang berlokasi di taman Museum Wayang.

BACA JUGA:
Hasil Timnas Futsal Indonesia vs Arab Saudi di Kualifikasi Piala Asia Futsal 2024: Kalah 2-3, Indonesia Gagal Lolos ke Piala Asia Futsal 2024!

Kala itu, zaman penjajahan Belanda lokasi museum Wayang dijadikan sebagai gereja di tahun 1712 , dan menjadi tempat ibadah para penjajah serta turis yang sedang jalan-jalan di Jakarta.Namun, di balik tempat ibadah ini, terdapat makam-makan jenderal dan tentara Belanda yang kalah perang saat itu. Dan, di sanalah kilas balik perperangan terasa.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Klasemen Akhir Grup B Kualifikasi Piala Asia Futsal 2024: Finis Ketiga, Timnas Futsal Indonesia Gagal Lolos ke Putaran Final

&quot;Dulu memang gedung ini dijadikan gereja, nah jika melihat di belakang ada taman itu dulunya makan tentara Belanda, dan jenderal,&quot; jelas Irfan sebagai pemandu wisata kepada Okezone, di Museum Wayang.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Gempar! Mahasiswi Ditemukan Tewas di Kos Semarang, Tinggalkan Surat Wasiat

Kemudian, seiring perkembangan zaman, dan perubahan jabatan gubenur di Jakarta, makam itu dikemas menjadi sebuah taman yang dikelilingi dengan ukiran dinding berbahasa Belanda.

&quot;Sejak Gubenur Ali Sadikin menjabat, gedung ini diubah menjadi museum, dan makam dibuat jadi taman. Tulang-tulang tentara itu dikirim ke Museum Prasasti,&quot; tuturnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
