<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Sosok yang Perintahkan Tangkap Hidup atau Mati terhadap Para Jenderal saat G30SPKI</title><description>Ini Sosok yang Perintahkan Tangkap Hidup atau Mati terhadap Para Jenderal saat G30SPKI
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/14/337/2900838/ini-sosok-yang-perintahkan-tangkap-hidup-atau-mati-terhadap-para-jenderal-saat-g30spki</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/14/337/2900838/ini-sosok-yang-perintahkan-tangkap-hidup-atau-mati-terhadap-para-jenderal-saat-g30spki"/><item><title>Ini Sosok yang Perintahkan Tangkap Hidup atau Mati terhadap Para Jenderal saat G30SPKI</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/14/337/2900838/ini-sosok-yang-perintahkan-tangkap-hidup-atau-mati-terhadap-para-jenderal-saat-g30spki</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/14/337/2900838/ini-sosok-yang-perintahkan-tangkap-hidup-atau-mati-terhadap-para-jenderal-saat-g30spki</guid><pubDate>Sabtu 14 Oktober 2023 05:21 WIB</pubDate><dc:creator>Erha Aprili Ramadhoni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/13/337/2900838/ini-sosok-yang-perintahkan-tangkap-hidup-atau-mati-terhadap-para-jenderal-saat-g30spki-ZpkZEzyoKi.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ini sosok yang perintahkan tangkap hidup atau mati terhadap para jenderal saat G30SPKI. (Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/13/337/2900838/ini-sosok-yang-perintahkan-tangkap-hidup-atau-mati-terhadap-para-jenderal-saat-g30spki-ZpkZEzyoKi.jpg</image><title>Ini sosok yang perintahkan tangkap hidup atau mati terhadap para jenderal saat G30SPKI. (Ist)</title></images><description>


JAKARTA - Letnan Satu Doel Arif adalah tokoh yang bertanggung jawab dalam menangkap jenderal-jenderal Angkatan Darat yang diduga akan membentuk Dewan Jenderal oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Akhir kehidupan Letnan Satu Doel Arif pun tidak pernah terpublikasikan secara jelas. Dikutip dari Wikipedia, sebagai komandan Pasukan Pasopati yang menjadi operator G30S, ia adalah tokoh kunci.


Ia bertanggung jawab terhadap operasi penculikan jenderal-jenderal pimpinan Angkatan Darat. Tapi Letnan Satu Doel Arief, yang ditangani langsung oleh Ali Moertopo, hilang bak ditelan bumi.







BACA JUGA:
Sejarah Gedung Bappenas, Sempat Dijuluki Loji Setan dan Jadi Lokasi Tokoh PKI Diadili









Bentuk hukuman yang diberikan kepadanya diduga adalah eksekusi, seperti halnya Dipa Nusantara Aidit oleh Kolonel Yasir Hadibroto, atau lebih mirip dengan kasus Sjam Kamaruzzaman.

Peran Doel Arif adalah sebagai pelaksana dalam penculikan para jenderal. Semula tidak ada perintah untuk membunuh para jenderal sasaran penculikan. Tetapi, Doel Arief selaku komandan Pasukan Pasopati memberikan instruksi &quot;tangkap hidup atau mati&quot;.

Akhirnya gerakan 30 September pun menjadi kacau balau.






BACA JUGA:
Dokumen Rahasia AS soal Peristiwa 30 September Terungkap: Kader PKI Bahkan Tak Tahu Apa yang Terjadi














Sulit untuk menyimpulkan karena perkembangan yang terjadi sungguh-sungguh rumit. Lettu Doel Arief bergabung bersama Pelda Djahurub dalam operasi di rumah Jenderal Abdul Harris Nasution.

Tetapi ternyata operasi itu gagal sehingga Nasution lolos. Bahkan Letnan Satu Pierre Tendean dan Ajun Inspektur Polisi Tingkat II Karel Sadsuitubun (pengawal di rumah Johannes Leimena) menjadi korban.







BACA JUGA:
Kisah Jenderal Ahmad Yani, Sang Panglima AD Korban G30S PKI yang Hobi Bermain Golf

















Operasi penculikan di rumah Nasution itu dinilai tidak elegan sebab dari awal sudah memancing keributan yang membuka kemungkinan untuk gagal.

</description><content:encoded>


JAKARTA - Letnan Satu Doel Arif adalah tokoh yang bertanggung jawab dalam menangkap jenderal-jenderal Angkatan Darat yang diduga akan membentuk Dewan Jenderal oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Akhir kehidupan Letnan Satu Doel Arif pun tidak pernah terpublikasikan secara jelas. Dikutip dari Wikipedia, sebagai komandan Pasukan Pasopati yang menjadi operator G30S, ia adalah tokoh kunci.


Ia bertanggung jawab terhadap operasi penculikan jenderal-jenderal pimpinan Angkatan Darat. Tapi Letnan Satu Doel Arief, yang ditangani langsung oleh Ali Moertopo, hilang bak ditelan bumi.







BACA JUGA:
Sejarah Gedung Bappenas, Sempat Dijuluki Loji Setan dan Jadi Lokasi Tokoh PKI Diadili









Bentuk hukuman yang diberikan kepadanya diduga adalah eksekusi, seperti halnya Dipa Nusantara Aidit oleh Kolonel Yasir Hadibroto, atau lebih mirip dengan kasus Sjam Kamaruzzaman.

Peran Doel Arif adalah sebagai pelaksana dalam penculikan para jenderal. Semula tidak ada perintah untuk membunuh para jenderal sasaran penculikan. Tetapi, Doel Arief selaku komandan Pasukan Pasopati memberikan instruksi &quot;tangkap hidup atau mati&quot;.

Akhirnya gerakan 30 September pun menjadi kacau balau.






BACA JUGA:
Dokumen Rahasia AS soal Peristiwa 30 September Terungkap: Kader PKI Bahkan Tak Tahu Apa yang Terjadi














Sulit untuk menyimpulkan karena perkembangan yang terjadi sungguh-sungguh rumit. Lettu Doel Arief bergabung bersama Pelda Djahurub dalam operasi di rumah Jenderal Abdul Harris Nasution.

Tetapi ternyata operasi itu gagal sehingga Nasution lolos. Bahkan Letnan Satu Pierre Tendean dan Ajun Inspektur Polisi Tingkat II Karel Sadsuitubun (pengawal di rumah Johannes Leimena) menjadi korban.







BACA JUGA:
Kisah Jenderal Ahmad Yani, Sang Panglima AD Korban G30S PKI yang Hobi Bermain Golf

















Operasi penculikan di rumah Nasution itu dinilai tidak elegan sebab dari awal sudah memancing keributan yang membuka kemungkinan untuk gagal.

</content:encoded></item></channel></rss>
