<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Duh! Sering Meleset, Prakiraan Cuaca di Smartphone Ternyata Bukan dari BMKG </title><description>Kurang akuratnya prakiraan cuaca di smartphone terjadi karena sumber data dan informasi tersebut bersifat global, bukan dari informasi BMKG.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/19/337/2904002/duh-sering-meleset-prakiraan-cuaca-di-smartphone-ternyata-bukan-dari-bmkg</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/19/337/2904002/duh-sering-meleset-prakiraan-cuaca-di-smartphone-ternyata-bukan-dari-bmkg"/><item><title>Duh! Sering Meleset, Prakiraan Cuaca di Smartphone Ternyata Bukan dari BMKG </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/19/337/2904002/duh-sering-meleset-prakiraan-cuaca-di-smartphone-ternyata-bukan-dari-bmkg</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/19/337/2904002/duh-sering-meleset-prakiraan-cuaca-di-smartphone-ternyata-bukan-dari-bmkg</guid><pubDate>Kamis 19 Oktober 2023 06:59 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/19/337/2904002/duh-sering-meleset-prakiraan-cuaca-di-smartphone-ternyata-bukan-dari-bmkg-FLN3qTrfw3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi cuaca buruk (Foto: Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/19/337/2904002/duh-sering-meleset-prakiraan-cuaca-di-smartphone-ternyata-bukan-dari-bmkg-FLN3qTrfw3.jpg</image><title>Ilustrasi cuaca buruk (Foto: Dok Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Prakiraan cuaca berbasis aplikasi yang terinstal di smartphone sering meleset. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut kurang akurat prakiraan cuaca di smartphone terjadi karena sumber data dan informasi tersebut bersifat global, bukan dari informasi BMKG.
&amp;ldquo;Tidak sedikit masyarakat yang menganggap data dan informasi yang diberikan berasal dari BMKG karena menampilkan informasi seputar cuaca di Indonesia, padahal setelah ditelurusi data dan informasi tersebut bersumber dari institusi di luar Indonesia, bukan dari institusi resmi pemerintah,&amp;rdquo; ungkap Dwikorita dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (19/10/2023).

BACA JUGA:
Duet dengan Mahfud MD, Bacapres Perindo Ganjar Pranowo Janji Bakal Wujudkan Indonesia Unggul

Seperti diketahui, di Google Play maupun App Store terdapat banyak aplikasi prakiraan cuaca yang tersedia, selain aplikasi resmi dari pemerintah Indonesia &amp;ldquo;Info BMKG&amp;rdquo;. Meski berbeda nama aplikasinya, namun fungsi aplikasi-aplikasi yang dikeluarkan oleh non pemerintah Indonesia tersebut kurang lebih sama, yakni untuk memprakirakan cuaca.
Dwikorita menerangkan bahwa prakiraan cuaca di wilayah Indonesia dikeluarkan secara resmi oleh BMKG yang dapat menjadi patokan untuk masyarakat beraktivitas. BMKG, kata dia, merupakan satu-satunya institusi resmi Indonesia yang berwenang untuk memberikan prakiraan cuaca bagi publik di Indonesia, sesuai dengan Undang - Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

BACA JUGA:
Hujan Landa Gunungkidul Utara, Namun DIY Masih Terasa Panas

Sementara itu, Deputi Meteorologi BMKG Guswanto, menjelaskan rendahnya tingkat akurasi prakiraan cuaca pada aplikasi yang non pemerintah tersebut (pada aplikasi selain Info BMKG), karena prakiraan tersebut dibuat dengan data global yang diolah dengan pemodelan matematis dan kemudian didownscale khusus untuk wilayah Indonesia.
Data global tersebut, kata dia, merupakan data cuaca yang berasal dari negara-negara di seluruh dunia yang menjadi anggota Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organisasi - WMO)
&amp;ldquo;Termasuk BMKG yang selalu mengirimkan data ke WMO secara otomatis melalui jaringan komunikasi satelit, untuk dihimpun menjadi data global. Namun, perlu dipahami bahwa data dan informasi yang dikirimkan oleh BMKG hanya terbatas data dari 59 stasiun pengamatan di Indonesia yang mayoritas berasal dari Pulau Jawa dan Sumatra,&amp;rdquo; paparnya.

BACA JUGA:
Jokowi: Kerja Sama Belt and Road Initiative Tidak Boleh Dipolitisasi

&quot;Oleh institusi non pemerintah, data global tersebut selanjutnya diolah, dimodelkan, dan &quot;didownscale&quot; guna menghasilkan prakiraan cuaca di kota-kota atau di  berbagai daerah di Indonesia. Terbatasnya data tersebut tentu saja tidak mampu merepresentasikan kondisi cuaca dan iklim di seluruh wilayah Indonesia,&amp;rdquo; tambah Guswanto.
Ditegaskan kembali oleh Dwikorita, inilah jawaban mengapa informasi cuaca yang dikeluarkan aplikasi smartphone tidak jarang meleset dan menimbulkan kebingungan masyarakat. Karena tidak divalidasi atau diverifikasi dengan data observasi faktual di lapangan, yang lebih merepresentasikan kondisi dan dinamika cuaca di Indonesia.Dwikorita menambahkan, pemodelan global yang &quot;didownscale&quot; tersebut tentunya tidak cukup akurat untuk merepresentasikan kondisi faktual di Indonesia yang sangat kompleks dan dinamis. Terlebih, kondisi cuaca dan iklim Indonesia sangat dipengaruhi oleh Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, serta Benua Asia dan Benua Australia.
Ditambah, lanjut Dwikorita, wilayah Indonesia merupakan negara kepulauan yang dilewati oleh garis khatulistiwa dengan kondisi topografi yang kompleks. Realitas ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap dinamika cuaca dan iklim di wilayah Indonesia.

BACA JUGA:
Situasi Terkini Rumah Dinas Bacawapres Mahfud MD Jelang Pendaftaran ke KPU

Akhirnya Dwikorita menekankan bahwa data di BMKG, jauh lebih merepresentasikan kondisi di Indonesia yang diambil dari ratusan stasiun observasi atau ribuan peralatan observasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dia berharap, masyarakat bisa memanfaatkan data dan informasi yang dikeluarkan secara resmi oleh BMKG.
&amp;ldquo;Sistem processing dan pemodelan yang digunakan pun telah diset-up sesuai dengan keunikan kondisi dan dinamika cuaca di Indonesia, sehingga hasilnya bisa jauh lebih tepat dan akurat,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Prakiraan cuaca berbasis aplikasi yang terinstal di smartphone sering meleset. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut kurang akurat prakiraan cuaca di smartphone terjadi karena sumber data dan informasi tersebut bersifat global, bukan dari informasi BMKG.
&amp;ldquo;Tidak sedikit masyarakat yang menganggap data dan informasi yang diberikan berasal dari BMKG karena menampilkan informasi seputar cuaca di Indonesia, padahal setelah ditelurusi data dan informasi tersebut bersumber dari institusi di luar Indonesia, bukan dari institusi resmi pemerintah,&amp;rdquo; ungkap Dwikorita dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (19/10/2023).

BACA JUGA:
Duet dengan Mahfud MD, Bacapres Perindo Ganjar Pranowo Janji Bakal Wujudkan Indonesia Unggul

Seperti diketahui, di Google Play maupun App Store terdapat banyak aplikasi prakiraan cuaca yang tersedia, selain aplikasi resmi dari pemerintah Indonesia &amp;ldquo;Info BMKG&amp;rdquo;. Meski berbeda nama aplikasinya, namun fungsi aplikasi-aplikasi yang dikeluarkan oleh non pemerintah Indonesia tersebut kurang lebih sama, yakni untuk memprakirakan cuaca.
Dwikorita menerangkan bahwa prakiraan cuaca di wilayah Indonesia dikeluarkan secara resmi oleh BMKG yang dapat menjadi patokan untuk masyarakat beraktivitas. BMKG, kata dia, merupakan satu-satunya institusi resmi Indonesia yang berwenang untuk memberikan prakiraan cuaca bagi publik di Indonesia, sesuai dengan Undang - Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

BACA JUGA:
Hujan Landa Gunungkidul Utara, Namun DIY Masih Terasa Panas

Sementara itu, Deputi Meteorologi BMKG Guswanto, menjelaskan rendahnya tingkat akurasi prakiraan cuaca pada aplikasi yang non pemerintah tersebut (pada aplikasi selain Info BMKG), karena prakiraan tersebut dibuat dengan data global yang diolah dengan pemodelan matematis dan kemudian didownscale khusus untuk wilayah Indonesia.
Data global tersebut, kata dia, merupakan data cuaca yang berasal dari negara-negara di seluruh dunia yang menjadi anggota Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organisasi - WMO)
&amp;ldquo;Termasuk BMKG yang selalu mengirimkan data ke WMO secara otomatis melalui jaringan komunikasi satelit, untuk dihimpun menjadi data global. Namun, perlu dipahami bahwa data dan informasi yang dikirimkan oleh BMKG hanya terbatas data dari 59 stasiun pengamatan di Indonesia yang mayoritas berasal dari Pulau Jawa dan Sumatra,&amp;rdquo; paparnya.

BACA JUGA:
Jokowi: Kerja Sama Belt and Road Initiative Tidak Boleh Dipolitisasi

&quot;Oleh institusi non pemerintah, data global tersebut selanjutnya diolah, dimodelkan, dan &quot;didownscale&quot; guna menghasilkan prakiraan cuaca di kota-kota atau di  berbagai daerah di Indonesia. Terbatasnya data tersebut tentu saja tidak mampu merepresentasikan kondisi cuaca dan iklim di seluruh wilayah Indonesia,&amp;rdquo; tambah Guswanto.
Ditegaskan kembali oleh Dwikorita, inilah jawaban mengapa informasi cuaca yang dikeluarkan aplikasi smartphone tidak jarang meleset dan menimbulkan kebingungan masyarakat. Karena tidak divalidasi atau diverifikasi dengan data observasi faktual di lapangan, yang lebih merepresentasikan kondisi dan dinamika cuaca di Indonesia.Dwikorita menambahkan, pemodelan global yang &quot;didownscale&quot; tersebut tentunya tidak cukup akurat untuk merepresentasikan kondisi faktual di Indonesia yang sangat kompleks dan dinamis. Terlebih, kondisi cuaca dan iklim Indonesia sangat dipengaruhi oleh Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, serta Benua Asia dan Benua Australia.
Ditambah, lanjut Dwikorita, wilayah Indonesia merupakan negara kepulauan yang dilewati oleh garis khatulistiwa dengan kondisi topografi yang kompleks. Realitas ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap dinamika cuaca dan iklim di wilayah Indonesia.

BACA JUGA:
Situasi Terkini Rumah Dinas Bacawapres Mahfud MD Jelang Pendaftaran ke KPU

Akhirnya Dwikorita menekankan bahwa data di BMKG, jauh lebih merepresentasikan kondisi di Indonesia yang diambil dari ratusan stasiun observasi atau ribuan peralatan observasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dia berharap, masyarakat bisa memanfaatkan data dan informasi yang dikeluarkan secara resmi oleh BMKG.
&amp;ldquo;Sistem processing dan pemodelan yang digunakan pun telah diset-up sesuai dengan keunikan kondisi dan dinamika cuaca di Indonesia, sehingga hasilnya bisa jauh lebih tepat dan akurat,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
