<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Gajah Mada Ditertawakan Usai Dilantik Jadi Mahapatih Berujung Pertumpahan Darah</title><description>Gajah Mada menyampaikan keinginannya itu tak lama usai dilantik menjadi mahapatih.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/21/337/2905404/kisah-gajah-mada-ditertawakan-usai-dilantik-jadi-mahapatih-berujung-pertumpahan-darah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/21/337/2905404/kisah-gajah-mada-ditertawakan-usai-dilantik-jadi-mahapatih-berujung-pertumpahan-darah"/><item><title>Kisah Gajah Mada Ditertawakan Usai Dilantik Jadi Mahapatih Berujung Pertumpahan Darah</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/21/337/2905404/kisah-gajah-mada-ditertawakan-usai-dilantik-jadi-mahapatih-berujung-pertumpahan-darah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/21/337/2905404/kisah-gajah-mada-ditertawakan-usai-dilantik-jadi-mahapatih-berujung-pertumpahan-darah</guid><pubDate>Sabtu 21 Oktober 2023 05:08 WIB</pubDate><dc:creator>Qur'anul Hidayat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/20/337/2905404/kisah-gajah-mada-ditertawakan-usai-dilantik-jadi-mahapatih-berujung-pertumpahan-darah-2gMVH9uRZw.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Gajah Mada. (Foto: Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/20/337/2905404/kisah-gajah-mada-ditertawakan-usai-dilantik-jadi-mahapatih-berujung-pertumpahan-darah-2gMVH9uRZw.jpeg</image><title>Gajah Mada. (Foto: Sindo)</title></images><description>KEINGINAN Gajah Mada untuk menyatukan nusantara, dari Maluku hingga Lombok, seluruh Jawa termasuk Sunda, sampai ke Sumatra dan Pahang, yang masuk wilayah Malaysia saat ini, ditentang oleh para petinggi Majapahit.

Gajah Mada menyampaikan keinginannya itu tak lama usai dilantik menjadi mahapatih alias pejabat utama pembantu raja atau setara perdana menteri dalam sistem sebuah negara.

BACA JUGA:


Strategi Cerdas Gajah Mada Kalahkan Kebo Wawira yang Terkenal Sakti Mandraguna&amp;nbsp;
Mengutip buku Gayatri Rajapatni : Perempuan Dibalik Kejayaan Majapahit&amp;rdquo;, rapat diikuti para perwira tinggi dan pejabat istana lainnya. Gajah Mada mengumumkan kebijakannya yang berani untuk memperluas wilayah kerajaan, yang bahkan lebih ambisius ketimbang yang pernah diajukan Kertanagara.

Menurutnya, jika keinginan itu tidak terlaksana maka tidak akan dapat menikmati hidup dengan tenang. Dalam narasi yang tercatat dalam dokumen pada waktu itu, para rekannya terkejut dan menentang rencana Gajah Mada, yang akhirnya ditanggapi dengan kekerasan. Saat rapat kabinet kala itu seluruh menteri hadir di aula sidang.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Gajah Mada Terusik Kejayaan Kerajaan Samudera Pasai, Kerahkan Serangan Laut dan Darat&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Kembar pejabat istana mengkritik dan menghina Gajah Mada, habis-habisan, Banak pun ikut-ikutan. Waktu itu, Jabu-Terewes dan Lembu-peten tertawa. Gajah Mada turun dari panggung dan memberikan penjelasan kepada sang Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi. Dia sedemikian marahnya atas kelakuan para pengkritik itu, demikian pula dengan Arya Tadah. Kesalahan Kembar amatlah besar, sehingga ia lalu dibunuh.

Begitu berita tantang kehebohan ini sampai ke telinga Gayatri, ia segera meminta Gajah Mada menghadap. la mencemaskan siasat Gajah Mada dalam mempresentasikan rencananya itu dengan tiba-tiba, maupun reaksi negatif di majelis yang muncul setelah presentasi tersebut.



Gayatri memberi selamat kepada Gajah Mada yang setia mendukung kebijakan lama Kertanagara untuk menyatukan seluruh negeri di Nusantara di bawah Majapahit. Namun, setelah itu ia meminta dengan selembut dan sesantun mungkin, agar Gajah Mada menjelaskan mengapa ia terlalu lugas dan keras dalam presentasi pertamanya sebagai mahapatih.

</description><content:encoded>KEINGINAN Gajah Mada untuk menyatukan nusantara, dari Maluku hingga Lombok, seluruh Jawa termasuk Sunda, sampai ke Sumatra dan Pahang, yang masuk wilayah Malaysia saat ini, ditentang oleh para petinggi Majapahit.

Gajah Mada menyampaikan keinginannya itu tak lama usai dilantik menjadi mahapatih alias pejabat utama pembantu raja atau setara perdana menteri dalam sistem sebuah negara.

BACA JUGA:


Strategi Cerdas Gajah Mada Kalahkan Kebo Wawira yang Terkenal Sakti Mandraguna&amp;nbsp;
Mengutip buku Gayatri Rajapatni : Perempuan Dibalik Kejayaan Majapahit&amp;rdquo;, rapat diikuti para perwira tinggi dan pejabat istana lainnya. Gajah Mada mengumumkan kebijakannya yang berani untuk memperluas wilayah kerajaan, yang bahkan lebih ambisius ketimbang yang pernah diajukan Kertanagara.

Menurutnya, jika keinginan itu tidak terlaksana maka tidak akan dapat menikmati hidup dengan tenang. Dalam narasi yang tercatat dalam dokumen pada waktu itu, para rekannya terkejut dan menentang rencana Gajah Mada, yang akhirnya ditanggapi dengan kekerasan. Saat rapat kabinet kala itu seluruh menteri hadir di aula sidang.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Gajah Mada Terusik Kejayaan Kerajaan Samudera Pasai, Kerahkan Serangan Laut dan Darat&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Kembar pejabat istana mengkritik dan menghina Gajah Mada, habis-habisan, Banak pun ikut-ikutan. Waktu itu, Jabu-Terewes dan Lembu-peten tertawa. Gajah Mada turun dari panggung dan memberikan penjelasan kepada sang Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi. Dia sedemikian marahnya atas kelakuan para pengkritik itu, demikian pula dengan Arya Tadah. Kesalahan Kembar amatlah besar, sehingga ia lalu dibunuh.

Begitu berita tantang kehebohan ini sampai ke telinga Gayatri, ia segera meminta Gajah Mada menghadap. la mencemaskan siasat Gajah Mada dalam mempresentasikan rencananya itu dengan tiba-tiba, maupun reaksi negatif di majelis yang muncul setelah presentasi tersebut.



Gayatri memberi selamat kepada Gajah Mada yang setia mendukung kebijakan lama Kertanagara untuk menyatukan seluruh negeri di Nusantara di bawah Majapahit. Namun, setelah itu ia meminta dengan selembut dan sesantun mungkin, agar Gajah Mada menjelaskan mengapa ia terlalu lugas dan keras dalam presentasi pertamanya sebagai mahapatih.

</content:encoded></item></channel></rss>
