<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sosok Nyonya China yang Buat Kesaktian Pangeran Diponegoro Luntur Usai Dipijat</title><description>Peristiwa itu terjadi ketika sang pangeran tengah dalam kondisi berperang dan beristirahat di suatu daerah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/21/337/2905500/sosok-nyonya-china-yang-buat-kesaktian-pangeran-diponegoro-luntur-usai-dipijat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/21/337/2905500/sosok-nyonya-china-yang-buat-kesaktian-pangeran-diponegoro-luntur-usai-dipijat"/><item><title>Sosok Nyonya China yang Buat Kesaktian Pangeran Diponegoro Luntur Usai Dipijat</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/21/337/2905500/sosok-nyonya-china-yang-buat-kesaktian-pangeran-diponegoro-luntur-usai-dipijat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/21/337/2905500/sosok-nyonya-china-yang-buat-kesaktian-pangeran-diponegoro-luntur-usai-dipijat</guid><pubDate>Sabtu 21 Oktober 2023 08:52 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/21/337/2905500/sosok-nyonya-china-yang-buat-kesaktian-pangeran-diponegoro-luntur-usai-dipijat-dqarNIXB2m.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pangeran Diponegoro (Foto: Dok Istimewa/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/21/337/2905500/sosok-nyonya-china-yang-buat-kesaktian-pangeran-diponegoro-luntur-usai-dipijat-dqarNIXB2m.jpg</image><title>Pangeran Diponegoro (Foto: Dok Istimewa/Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8yMS8xLzE3MjUyNC81L3g4b3ptdmg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Pangeran Diponegoro konon pernah dikabarkan berinteraksi dengan perempuan China sehingga membuat kesaktiannya luntur usai dipijat. Beberapa sumber dari Babad Diponegoro versi Peter Carey, bahkan secara gamblang menyebut sang pangeran tidur dengan perempuan China itu.
Peristiwa itu terjadi ketika sang pangeran tengah dalam kondisi berperang dan beristirahat di suatu daerah.
Sekretaris Umum Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) Pandu Setyawan mengakui momen Pangeran Diponegoro berinteraksi dengan perempuan China yang disebutnya Nyonya Cina ini memang terjadi. Tetapi hal itu bukanlah seperti yang dituliskan oleh Peter Carey, dan informasi sejarah yang beredar.

BACA JUGA:
Media Vietnam Sebut Shin Tae-yong Berpeluang Cetak Sejarah saat Timnas Indonesia Lawan Irak di Kualifikasi Piala Dunia 2026

Apalagi Pangeran Diponegoro merupakan sosok religius yang sejak kecil belajar agama Islam.
&quot;Kita Lihat backgroundnya dari kecil dididik para ulama, merantau dari pesantren ke pondok pesantren. Artinya beliau punya basic agama, terkait konsep lawan jenis,&quot; ucap Pandu Setyawan, dikonfirmasi MPI.

BACA JUGA:
4 Momen Tangisan Sedih Soekarno dalam Sejarah Indonesia Termasuk Pembacaan Pancasila Pertama Kali

Dirinya juga menyangsikan Peter Carey perihal Pangeran Diponegoro yang tidur dengan perempuan China bukan mahramnya. Sebab sejak kecil memang sang pangeran taat beragama Islam. Bahkan ketika ia dan pasukannya membuat markas besar di Gua Selarong, Pangeran Diponegoro memisahkan antara gua laki-laki dan perempuan.
&quot;Di Selarong pun dibedakan, antara gua laki-laki, dan perempuan, itu masalah remeh temeh yang basic itu diperhatikan. Ini masalah mahram laki-laki perempuan. Masalah mahram,&quot; ucapnya.

BACA JUGA:
 Jalani Tes Kesehatan di RSPAD, Muhaimin Iskandar: Semoga Semuanya Lancar

Apalagi mengacu pada sumber Babad Diponegoro Manado - Makassar Pupuh XXVII Sinom disebut Pandu, sang pangeran menulis &quot;Aneng ing daren punika, pan dalu kinen meteki, kang boyongan nyonya China, Kangjeng Sultan salah kardi,&quot; yang ketika diterjemahkan intinya peristiwa itu saat sang pangeran lelah dan akhirnya meminta pijat oleh perempuan China, yang disebut Nyonya China.
&quot;Perempuan China itu tawanan perang, tapi versi keluarga itu bukan tawanan perang, tapi bisa jadi dia itu pembantu, tukang cuci, bisa-bisa jadi tukang laundry, kalau dihubungkan 1800-an ini secara logika banyak merantau orang China ke Jawa juga, selain bekerja juga berdagang, bisnis laundry, jadi pembantu, tapi tidak disebutkan itu asal-usulnya dari mana,&quot; paparnya.Jika itu tawanan perang, kata Pandu, sesuai aturan fikih hukum Islam memang hukumnya boleh diperintah apa pun. Bahkan jika tawanan perang itu tidak menurut, atau memberontak boleh dibunuh. Tetapi Pangeran Diponegoro tetap memperlakukan tawanan perang itu dengan baik.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pertemuan Pangeran Diponegoro dan Sunan Kalijaga di Dimensi Berbeda Saat Bertapa

&quot;Intinya kejadian (Pangeran Diponegoro dipijat perempuan China) di Kedaren, suatu nama daerah, itu di suatu malam, garis besarnya di suatu malam saat ngatur macam-macam, ngatur perang konsolidasi capek istirahat, meteki itu memijat,&quot; katanya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Hasil Timnas Indonesia U-17 vs FC Koln U-17: Chow Yun Damanik Cetak Gol, Garuda Nusantara Tumbang 2-3

Pada kondisi badan yang sangat lelah, konsentrasi yang sudah hilang, membuat Pangeran Diponegoro meminta perempuan China itu untuk memijat badannya. Peristiwa ini digambarkan terjadi di sebuah tenda, ketika malam hari.

&quot;Istilahnya orang kalau capek berat itu fokusnya menurun, nggak sadar kalau nggak nggeh, bukan muhrimnya. Akhirnya merasa bersalah dan mengkhianati istri-istrinya. Jadi istilah meteki itu memijat,&quot; tuturnya.



</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8yMS8xLzE3MjUyNC81L3g4b3ptdmg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Pangeran Diponegoro konon pernah dikabarkan berinteraksi dengan perempuan China sehingga membuat kesaktiannya luntur usai dipijat. Beberapa sumber dari Babad Diponegoro versi Peter Carey, bahkan secara gamblang menyebut sang pangeran tidur dengan perempuan China itu.
Peristiwa itu terjadi ketika sang pangeran tengah dalam kondisi berperang dan beristirahat di suatu daerah.
Sekretaris Umum Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) Pandu Setyawan mengakui momen Pangeran Diponegoro berinteraksi dengan perempuan China yang disebutnya Nyonya Cina ini memang terjadi. Tetapi hal itu bukanlah seperti yang dituliskan oleh Peter Carey, dan informasi sejarah yang beredar.

BACA JUGA:
Media Vietnam Sebut Shin Tae-yong Berpeluang Cetak Sejarah saat Timnas Indonesia Lawan Irak di Kualifikasi Piala Dunia 2026

Apalagi Pangeran Diponegoro merupakan sosok religius yang sejak kecil belajar agama Islam.
&quot;Kita Lihat backgroundnya dari kecil dididik para ulama, merantau dari pesantren ke pondok pesantren. Artinya beliau punya basic agama, terkait konsep lawan jenis,&quot; ucap Pandu Setyawan, dikonfirmasi MPI.

BACA JUGA:
4 Momen Tangisan Sedih Soekarno dalam Sejarah Indonesia Termasuk Pembacaan Pancasila Pertama Kali

Dirinya juga menyangsikan Peter Carey perihal Pangeran Diponegoro yang tidur dengan perempuan China bukan mahramnya. Sebab sejak kecil memang sang pangeran taat beragama Islam. Bahkan ketika ia dan pasukannya membuat markas besar di Gua Selarong, Pangeran Diponegoro memisahkan antara gua laki-laki dan perempuan.
&quot;Di Selarong pun dibedakan, antara gua laki-laki, dan perempuan, itu masalah remeh temeh yang basic itu diperhatikan. Ini masalah mahram laki-laki perempuan. Masalah mahram,&quot; ucapnya.

BACA JUGA:
 Jalani Tes Kesehatan di RSPAD, Muhaimin Iskandar: Semoga Semuanya Lancar

Apalagi mengacu pada sumber Babad Diponegoro Manado - Makassar Pupuh XXVII Sinom disebut Pandu, sang pangeran menulis &quot;Aneng ing daren punika, pan dalu kinen meteki, kang boyongan nyonya China, Kangjeng Sultan salah kardi,&quot; yang ketika diterjemahkan intinya peristiwa itu saat sang pangeran lelah dan akhirnya meminta pijat oleh perempuan China, yang disebut Nyonya China.
&quot;Perempuan China itu tawanan perang, tapi versi keluarga itu bukan tawanan perang, tapi bisa jadi dia itu pembantu, tukang cuci, bisa-bisa jadi tukang laundry, kalau dihubungkan 1800-an ini secara logika banyak merantau orang China ke Jawa juga, selain bekerja juga berdagang, bisnis laundry, jadi pembantu, tapi tidak disebutkan itu asal-usulnya dari mana,&quot; paparnya.Jika itu tawanan perang, kata Pandu, sesuai aturan fikih hukum Islam memang hukumnya boleh diperintah apa pun. Bahkan jika tawanan perang itu tidak menurut, atau memberontak boleh dibunuh. Tetapi Pangeran Diponegoro tetap memperlakukan tawanan perang itu dengan baik.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pertemuan Pangeran Diponegoro dan Sunan Kalijaga di Dimensi Berbeda Saat Bertapa

&quot;Intinya kejadian (Pangeran Diponegoro dipijat perempuan China) di Kedaren, suatu nama daerah, itu di suatu malam, garis besarnya di suatu malam saat ngatur macam-macam, ngatur perang konsolidasi capek istirahat, meteki itu memijat,&quot; katanya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Hasil Timnas Indonesia U-17 vs FC Koln U-17: Chow Yun Damanik Cetak Gol, Garuda Nusantara Tumbang 2-3

Pada kondisi badan yang sangat lelah, konsentrasi yang sudah hilang, membuat Pangeran Diponegoro meminta perempuan China itu untuk memijat badannya. Peristiwa ini digambarkan terjadi di sebuah tenda, ketika malam hari.

&quot;Istilahnya orang kalau capek berat itu fokusnya menurun, nggak sadar kalau nggak nggeh, bukan muhrimnya. Akhirnya merasa bersalah dan mengkhianati istri-istrinya. Jadi istilah meteki itu memijat,&quot; tuturnya.



</content:encoded></item></channel></rss>
