<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Berkecamuk di Perang Sabil, Pangeran Diponegoro Gunakan Simbol Agama Menuntut Keadilan</title><description>Pangeran Diponegoro pernah terlibat dalam Perang Sabil atau dikenal sebagai Perang Jawa (De Java Oorlog van 1825-1830).</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/24/337/2906823/berkecamuk-di-perang-sabil-pangeran-diponegoro-gunakan-simbol-agama-menuntut-keadilan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/24/337/2906823/berkecamuk-di-perang-sabil-pangeran-diponegoro-gunakan-simbol-agama-menuntut-keadilan"/><item><title>Berkecamuk di Perang Sabil, Pangeran Diponegoro Gunakan Simbol Agama Menuntut Keadilan</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/24/337/2906823/berkecamuk-di-perang-sabil-pangeran-diponegoro-gunakan-simbol-agama-menuntut-keadilan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/24/337/2906823/berkecamuk-di-perang-sabil-pangeran-diponegoro-gunakan-simbol-agama-menuntut-keadilan</guid><pubDate>Selasa 24 Oktober 2023 05:07 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/23/337/2906823/berkecamuk-di-perang-sabil-pangeran-diponegoro-gunakan-simbol-agama-menuntut-keadilan-2OIiVZZKr4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pangeran Diponegoro (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/23/337/2906823/berkecamuk-di-perang-sabil-pangeran-diponegoro-gunakan-simbol-agama-menuntut-keadilan-2OIiVZZKr4.jpg</image><title>Pangeran Diponegoro (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Pangeran Diponegoro pernah terlibat dalam Perang Sabil atau dikenal sebagai Perang Jawa (De Java Oorlog van 1825-1830). Saat Perang Sabil, Diponegoro menggunakan simbol-simbol agama dan ayat-ayat Alquran untuk menuntut keadilan kepada penjajah yang zalim.

Peristiwa tersebut banyak disebut menjadi tonggak sejarah perang di bawah panji syariat Islam di Tanah Jawa. Menurut Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi mengatakan, Diponegoro merupakan seorang yang masuk kategori radikal kritis dan bukan radikal fundamentalis. Sebab itu, ia menggunakan simbol-simbol tersebut dalam peperangan.

BACA JUGA:
PWNU DKI: Calon Pemimpin Bangsa Tak Boleh Terlibat Politisasi Agama


Kendati Zastrouw menegaskan, bahwa tidak dibenarkan kalau ada kelompok yang ingin menegakkan negara Islam atau khilafah dengan memakai spirit Diponegoro.

&quot;Ini kalau kita salah menjelaskan, ini bisa menjadi inspirasi kaum Wahabi bahwasanya 'iki kudu diberontak iki', padahal dulu yang diberontak (oleh Diponegoro) itu Londo (Belanda), bukan pemerintahan yang sah (seperti Indonesia), yang beragama Islam,&quot; kata Zastrouw dikutip Nu.online.

BACA JUGA:
Nahas! Adu Banteng dengan Mobil, Pengendara Motor Terpental ke Semak dan Tewas


Zastrouw mengungkapkan hal tersebut saat peluncuran buku Jejaring Ulama Diponegoro: Kolaborasi Santri dan Ksatria Membangun Islam Kebangsaan Awal Abad ke-19 karya Zainul Milal Bizawie di Auditorium 2 Gedung Perpusnas RI, Jakarta Pusat beberapa waktu silam.

Ciri-ciri radikal kritis dijelaskan Zastrouw, yang pertama adalah dengan menjadikan ayat dan simbol agama untuk melakukan perlawanan menuntut keadilan. &quot;Jadi tujuannya bukan untuk fundamentalis, mendirikan khilafah, dan menegakkan syariat, bukan itu,&quot; tuturnya.

Selanjutnya, tokohnya berasal dari lokal dan mengadopsi tradisi dan kebudayaan yang ada. Kemudian, merajut kekuatan-kekuatan lokal ini bukan dari bagian gerakan transnasional.



&quot;Ini yang membedakan Diponegoro dengan gerakan fundamentalis. Meskipun sama-sama pakai agama, sama-sama pakai simbol ayat, tetapi spirit yang ada di dalamnya bukan untuk fundamentalisme agama, tetapi kritisisme agama, sehingga dia menjadi 'Bapak Nasionalisme Indonesia' sebelum gerakan nasionalisme yang dipelopori oleh para ex pendidikan Eropa itu,&quot; katanya.

BACA JUGA:
Dengar Kata-Kata Ini, Bocah Korban Penganiayaan 5 Anggota Keluarganya Langsung Diam




Perang Sabil merupakan bentuk nasionalisme Diponegoro. Adapun nasionalisme itu terbentuk atas bacaannya yang luas dan menggabungkan antara khazanah Arab dan kenusantaraan. Diponegoro disebut mempelajari kitab-kitab kuning klasik, seperti Al-Ghayah wat Taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja, Nasihatul Mulk karya Imam Ghazali, Muharrar karya Imam Al-Fara'i, dan Lubabul Fiqih karya Al-Mahalli, dan Tajus Salatin.



Diponegoro juga mengkaji kitab-kitab kejawaan, yakni Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa, Joyo Lengkoro Wulang, dan Bongo Suwiryo.



&quot;Sehingga dia bisa mempertautkan antara khazanah klasik kitab-kitab kuning warisan kebudayaan Arab, pemokiran Timur Tengah dengan khazanah kenusantaraan Indonesia, dan dia rajut menjadi suatu spirit perjuangan nasionalisme,&quot; katanya.

BACA JUGA:
Ganjar Tak Khawatir Gibran Jadi Cawapres: Insya Allah PDIP Kompak




Dengan kapasitas yang dimiliki, menjadikan Diponegoro memiliki peranan dalam menyatukan ulama, ksatria, pendeta dan seluruh lapisan masyarakat.</description><content:encoded>JAKARTA - Pangeran Diponegoro pernah terlibat dalam Perang Sabil atau dikenal sebagai Perang Jawa (De Java Oorlog van 1825-1830). Saat Perang Sabil, Diponegoro menggunakan simbol-simbol agama dan ayat-ayat Alquran untuk menuntut keadilan kepada penjajah yang zalim.

Peristiwa tersebut banyak disebut menjadi tonggak sejarah perang di bawah panji syariat Islam di Tanah Jawa. Menurut Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi mengatakan, Diponegoro merupakan seorang yang masuk kategori radikal kritis dan bukan radikal fundamentalis. Sebab itu, ia menggunakan simbol-simbol tersebut dalam peperangan.

BACA JUGA:
PWNU DKI: Calon Pemimpin Bangsa Tak Boleh Terlibat Politisasi Agama


Kendati Zastrouw menegaskan, bahwa tidak dibenarkan kalau ada kelompok yang ingin menegakkan negara Islam atau khilafah dengan memakai spirit Diponegoro.

&quot;Ini kalau kita salah menjelaskan, ini bisa menjadi inspirasi kaum Wahabi bahwasanya 'iki kudu diberontak iki', padahal dulu yang diberontak (oleh Diponegoro) itu Londo (Belanda), bukan pemerintahan yang sah (seperti Indonesia), yang beragama Islam,&quot; kata Zastrouw dikutip Nu.online.

BACA JUGA:
Nahas! Adu Banteng dengan Mobil, Pengendara Motor Terpental ke Semak dan Tewas


Zastrouw mengungkapkan hal tersebut saat peluncuran buku Jejaring Ulama Diponegoro: Kolaborasi Santri dan Ksatria Membangun Islam Kebangsaan Awal Abad ke-19 karya Zainul Milal Bizawie di Auditorium 2 Gedung Perpusnas RI, Jakarta Pusat beberapa waktu silam.

Ciri-ciri radikal kritis dijelaskan Zastrouw, yang pertama adalah dengan menjadikan ayat dan simbol agama untuk melakukan perlawanan menuntut keadilan. &quot;Jadi tujuannya bukan untuk fundamentalis, mendirikan khilafah, dan menegakkan syariat, bukan itu,&quot; tuturnya.

Selanjutnya, tokohnya berasal dari lokal dan mengadopsi tradisi dan kebudayaan yang ada. Kemudian, merajut kekuatan-kekuatan lokal ini bukan dari bagian gerakan transnasional.



&quot;Ini yang membedakan Diponegoro dengan gerakan fundamentalis. Meskipun sama-sama pakai agama, sama-sama pakai simbol ayat, tetapi spirit yang ada di dalamnya bukan untuk fundamentalisme agama, tetapi kritisisme agama, sehingga dia menjadi 'Bapak Nasionalisme Indonesia' sebelum gerakan nasionalisme yang dipelopori oleh para ex pendidikan Eropa itu,&quot; katanya.

BACA JUGA:
Dengar Kata-Kata Ini, Bocah Korban Penganiayaan 5 Anggota Keluarganya Langsung Diam




Perang Sabil merupakan bentuk nasionalisme Diponegoro. Adapun nasionalisme itu terbentuk atas bacaannya yang luas dan menggabungkan antara khazanah Arab dan kenusantaraan. Diponegoro disebut mempelajari kitab-kitab kuning klasik, seperti Al-Ghayah wat Taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja, Nasihatul Mulk karya Imam Ghazali, Muharrar karya Imam Al-Fara'i, dan Lubabul Fiqih karya Al-Mahalli, dan Tajus Salatin.



Diponegoro juga mengkaji kitab-kitab kejawaan, yakni Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa, Joyo Lengkoro Wulang, dan Bongo Suwiryo.



&quot;Sehingga dia bisa mempertautkan antara khazanah klasik kitab-kitab kuning warisan kebudayaan Arab, pemokiran Timur Tengah dengan khazanah kenusantaraan Indonesia, dan dia rajut menjadi suatu spirit perjuangan nasionalisme,&quot; katanya.

BACA JUGA:
Ganjar Tak Khawatir Gibran Jadi Cawapres: Insya Allah PDIP Kompak




Dengan kapasitas yang dimiliki, menjadikan Diponegoro memiliki peranan dalam menyatukan ulama, ksatria, pendeta dan seluruh lapisan masyarakat.</content:encoded></item></channel></rss>
