<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kala Gajah Mada Berburu Jodoh untuk Hayam Wuruk, Memicu Perang Bubat</title><description>Ia naik tahta saat sang nenek Gayatri telah tiada dan berstatus lajang atau belum memiliki pasangan
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/26/337/2908096/kala-gajah-mada-berburu-jodoh-untuk-hayam-wuruk-memicu-perang-bubat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/26/337/2908096/kala-gajah-mada-berburu-jodoh-untuk-hayam-wuruk-memicu-perang-bubat"/><item><title>Kala Gajah Mada Berburu Jodoh untuk Hayam Wuruk, Memicu Perang Bubat</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/26/337/2908096/kala-gajah-mada-berburu-jodoh-untuk-hayam-wuruk-memicu-perang-bubat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/26/337/2908096/kala-gajah-mada-berburu-jodoh-untuk-hayam-wuruk-memicu-perang-bubat</guid><pubDate>Kamis 26 Oktober 2023 06:06 WIB</pubDate><dc:creator>Nanda Aria</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/25/337/2908096/kala-gajah-mada-berburu-jodoh-untuk-hayam-wuruk-memicu-perang-bubat-NHXWRRszKs.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gajah Mada/Foto: Wikipedia </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/25/337/2908096/kala-gajah-mada-berburu-jodoh-untuk-hayam-wuruk-memicu-perang-bubat-NHXWRRszKs.jpg</image><title>Gajah Mada/Foto: Wikipedia </title></images><description>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8yMC8xLzE3MjQ5MC81L3g4b3l2a2U=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Hayam Wuruk naik tahta di usia yang muda setelah Tribhuwana Tunggadewi menyerahkan tampuk kekuasaannya. Ia naik tahta saat sang nenek Gayatri telah tiada dan berstatus lajang atau belum memiliki pasangan.

Beberapa tahun pertama sepeninggal Gayatri, situasi dalam negeri tetap tenteram, sementara di luar Majapahit tetap berjaya dan makmur. Kini, Tribhuwana telah menjadi ibu suri ratu, dan pelan-pelan ia selalu menasehati anaknya yang kian matang.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ada Peran Penting Arya Wiraraja di Balik Berdirinya Majapahit, Ini Sosoknya


Sementara itu, sang raja muda menikmati upacara-upacara di sitananya, namun ia cukup puas dengan membiarkan Gajah Mada mengambil semua keputusan resmi. Sebagaimana dikutip dari &quot;Gayatri Rajapatni : Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit&quot;, dari tulisan Earl Drake, Gajah Mada memusatkan perhatiannya pada perluasan Majapahit dengan menekan negeri-negeri tetangga untuk secara resmi bergabung dengan Majapahit.


Sedangkan untuk negeri - negeri yang jauh dari Majapahit pun juga didesak untuk bergabung menjadi negeri bawahan. Dengan demikian, mereka dapat menikmati manfaat perdagangan dan perlindungan angkatan laut Majapahit cukup dengan membayar upeti tahunan kepada kerajaan serta mengakui kekuasaan sang raja.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Tanjung Perak, Saksi Bisu Pertempuran Pasukan Majapahit Melawan Tentara Mongol


Proses ini berlangsung mulus sampai Raja Hayam Wuruk menginjak usia 21 tahun pada 1355. Ibu Suri pun cemas akan dua hal. Pertama sang putra kerap mengandalkan dirinya kepada Gajah Mada untuk membuat keputusan - keputusan penting menyangkut pemerintahan.

Kedua, Hayam Wuruk juga tak mengalami kemajuan dalam mencari seorang putri yang pantas untuk ratu. Dia bukan lagi seorang bocah, seiring bertambahnya usia, ia harus mulai bersikap layaknya seorang raja dewasa.


Tak heran jika tugas pertama yang Tribuhawana berikan kepada putranya ketika menginjak usia ke-21 adalah bersama-sama Gajah Mada mencari calon mempelai yang cocok dari sebuah negeri besar, sehingga dari pernikahan tersebut, akan lahir aliansi yang penting bagi Majapahit. Hayam Wuruk menyambut tantangan itu. Sayangnya, ia melakukan segala sesuatunya sendirian, tanpa meminta pertimbangan Gajah Mada.



Naluri mudanya menegaskan Hayam Wuruk ingin menunjukkan kemandirian dari sang Mahapatih Gajah Mada. Langkahnya memang amat mengesankan, sayang raja muda ini keliru memilih topik yang sensitif sebagai bahan ujian.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Dampingi Megawati, Pramono Anung Datang ke Rapat TPN Ganjar-Mahfud

Pilihan tersebut menyebabkan kunjungan resmi Sunda ke Bubat dalam rangka merayakan pernikahan berakhir tragis.



Peristiwa yang terjadi pada ini menimbulkan trauma, karena setelah itu Majapahit terus berseteru dengan Sunda, negeri terpenting yang masih menolak tunduk pada Majapahit. Dalam sejarah Jawa, isu ini mengundang perdebatan yang berkepanjangan tiada akhir.

</description><content:encoded>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8yMC8xLzE3MjQ5MC81L3g4b3l2a2U=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Hayam Wuruk naik tahta di usia yang muda setelah Tribhuwana Tunggadewi menyerahkan tampuk kekuasaannya. Ia naik tahta saat sang nenek Gayatri telah tiada dan berstatus lajang atau belum memiliki pasangan.

Beberapa tahun pertama sepeninggal Gayatri, situasi dalam negeri tetap tenteram, sementara di luar Majapahit tetap berjaya dan makmur. Kini, Tribhuwana telah menjadi ibu suri ratu, dan pelan-pelan ia selalu menasehati anaknya yang kian matang.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ada Peran Penting Arya Wiraraja di Balik Berdirinya Majapahit, Ini Sosoknya


Sementara itu, sang raja muda menikmati upacara-upacara di sitananya, namun ia cukup puas dengan membiarkan Gajah Mada mengambil semua keputusan resmi. Sebagaimana dikutip dari &quot;Gayatri Rajapatni : Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit&quot;, dari tulisan Earl Drake, Gajah Mada memusatkan perhatiannya pada perluasan Majapahit dengan menekan negeri-negeri tetangga untuk secara resmi bergabung dengan Majapahit.


Sedangkan untuk negeri - negeri yang jauh dari Majapahit pun juga didesak untuk bergabung menjadi negeri bawahan. Dengan demikian, mereka dapat menikmati manfaat perdagangan dan perlindungan angkatan laut Majapahit cukup dengan membayar upeti tahunan kepada kerajaan serta mengakui kekuasaan sang raja.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Tanjung Perak, Saksi Bisu Pertempuran Pasukan Majapahit Melawan Tentara Mongol


Proses ini berlangsung mulus sampai Raja Hayam Wuruk menginjak usia 21 tahun pada 1355. Ibu Suri pun cemas akan dua hal. Pertama sang putra kerap mengandalkan dirinya kepada Gajah Mada untuk membuat keputusan - keputusan penting menyangkut pemerintahan.

Kedua, Hayam Wuruk juga tak mengalami kemajuan dalam mencari seorang putri yang pantas untuk ratu. Dia bukan lagi seorang bocah, seiring bertambahnya usia, ia harus mulai bersikap layaknya seorang raja dewasa.


Tak heran jika tugas pertama yang Tribuhawana berikan kepada putranya ketika menginjak usia ke-21 adalah bersama-sama Gajah Mada mencari calon mempelai yang cocok dari sebuah negeri besar, sehingga dari pernikahan tersebut, akan lahir aliansi yang penting bagi Majapahit. Hayam Wuruk menyambut tantangan itu. Sayangnya, ia melakukan segala sesuatunya sendirian, tanpa meminta pertimbangan Gajah Mada.



Naluri mudanya menegaskan Hayam Wuruk ingin menunjukkan kemandirian dari sang Mahapatih Gajah Mada. Langkahnya memang amat mengesankan, sayang raja muda ini keliru memilih topik yang sensitif sebagai bahan ujian.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Dampingi Megawati, Pramono Anung Datang ke Rapat TPN Ganjar-Mahfud

Pilihan tersebut menyebabkan kunjungan resmi Sunda ke Bubat dalam rangka merayakan pernikahan berakhir tragis.



Peristiwa yang terjadi pada ini menimbulkan trauma, karena setelah itu Majapahit terus berseteru dengan Sunda, negeri terpenting yang masih menolak tunduk pada Majapahit. Dalam sejarah Jawa, isu ini mengundang perdebatan yang berkepanjangan tiada akhir.

</content:encoded></item></channel></rss>
