<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kenapa Palestina Tidak Ada di Google Maps</title><description>Palestina telah diakui sebagai negara merdeka oleh PBB dan 136 negara anggotanya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/27/18/2909536/kenapa-palestina-tidak-ada-di-google-maps</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/27/18/2909536/kenapa-palestina-tidak-ada-di-google-maps"/><item><title>Kenapa Palestina Tidak Ada di Google Maps</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/27/18/2909536/kenapa-palestina-tidak-ada-di-google-maps</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/27/18/2909536/kenapa-palestina-tidak-ada-di-google-maps</guid><pubDate>Jum'at 27 Oktober 2023 19:32 WIB</pubDate><dc:creator>Salsabila Fitirah Puteri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/27/18/2909536/kenapa-palestina-tidak-ada-di-google-maps-YpP4Nug7Sg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Palestina tidak ada di Google Maps (Foto: AFP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/27/18/2909536/kenapa-palestina-tidak-ada-di-google-maps-YpP4Nug7Sg.jpg</image><title>Palestina tidak ada di Google Maps (Foto: AFP)</title></images><description>GAZA -  Google&amp;nbsp;dan Apple dihadapkan pada tuduhan bahwa mereka telah menghilangkan Palestina dari peta daring mereka, meskipun sebenarnya Palestina tidak pernah memiliki label di peta mereka sejak awal.

Penggunaan Apple Maps dan Google Maps untuk mencari Palestina menunjukkan batasan geografis yang mencakup wilayah Jalur Gaza dan Tepi Barat, tetapi tanpa label yang secara khusus menyebut Palestina.

Dilansir dari Independent, berita mengenai hilangnya Palestina di Google Maps pun menyebar dan viral. Artikel berita dan unggahan di platform media sosial lainnya juga terus menyebarkan klaim ini, dan beberapa pendukung perjuangan Palestina menuduh bahwa perusahaan teknologi tersebut mendukung pendudukan Israel.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pemimpin Uni Eropa Terpecah Pro Palestina dan Pendukung Setia Israel, Serukan Jeda dalam Perang

Palestina telah diakui sebagai negara merdeka oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan 136 negara anggotanya. Namun pengakuan ini tidak termasuk Amerika Serikat (AS), di mana Apple dan Google memiliki kantor pusat mereka.


BACA JUGA:
Ini Solusi Joe Biden untuk Konflik Palestina dan Israel

Hal ini memungkinkan pihak Google menghapus Palestina di Google Maps, dikarenakan pendirian Google berada di Amerika yang lebih pro terhadap Israel.

Hingga saat ini, Google belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan terbaru ini. Namun, di bagian situs web yang ditujukan untuk menyajikan informasi tentang sengketa batas negara, Google menjelaskan bahwa batas yang sedang disengketakan ditampilkan sebagai garis abu-abu putus-putus, dan tempat-tempat yang terlibat dalam sengketa tersebut tidak mencapai kesepakatan tentang batasan wilayah.
Selama perang tahun 1967, Israel merebut dan menduduki Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Dataran Tinggi Golan. Israel telah berpendapat bahwa mereka tidak lagi menganggap Gaza sebagai wilayah yang diduduki setelah membongkar permukiman di sana pada tahun 2005.



Sejumlah kelompok pemantau telah mencatat bahwa ada lebih dari 130 pemukiman Israel di Tepi Barat, meskipun pemukiman-pemukiman ini dianggap ilegal menurut hukum internasional.



Tidak jarang Google dihadapkan pada tuduhan bahwa mereka telah menghapus nama Palestina dari layanan peta mereka, dan ini bukan kali pertama klaim semacam itu muncul.



Pada tahun 2016, sebuah petisi di Change.org yang berjudul &quot;Google: Tempatkan Palestina di Peta Anda!&quot; mengklaim bahwa penyebutan Palestina telah dihapus dari layanan peta Google atas desakan pemerintah Israel.



Petisi tersebut juga menambahkan bahwa dua pendiri Google yang beragama Yahudi memiliki hubungan dekat dengan Israel dan para pemimpinnya. Petisi ini telah mendapatkan lebih dari 800.000 tanda tangan.



Pada Juni 2020, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berjanji untuk memulai pencaplokan sebagian wilayah Tepi Barat yang diduduki, tindakan ini memicu protes dari lebih dari 1.000 anggota parlemen dari seluruh Eropa.



Kontroversi mengenai hal ini membuka diskusi publik tentang peran perusahaan teknologi dalam merepresentasikan wilayah yang kontroversial secara politik di layanan peta online mereka, serta menyoroti pentingnya perdebatan terkait isu-isu geopolitik dan dampaknya dalam era digital.</description><content:encoded>GAZA -  Google&amp;nbsp;dan Apple dihadapkan pada tuduhan bahwa mereka telah menghilangkan Palestina dari peta daring mereka, meskipun sebenarnya Palestina tidak pernah memiliki label di peta mereka sejak awal.

Penggunaan Apple Maps dan Google Maps untuk mencari Palestina menunjukkan batasan geografis yang mencakup wilayah Jalur Gaza dan Tepi Barat, tetapi tanpa label yang secara khusus menyebut Palestina.

Dilansir dari Independent, berita mengenai hilangnya Palestina di Google Maps pun menyebar dan viral. Artikel berita dan unggahan di platform media sosial lainnya juga terus menyebarkan klaim ini, dan beberapa pendukung perjuangan Palestina menuduh bahwa perusahaan teknologi tersebut mendukung pendudukan Israel.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pemimpin Uni Eropa Terpecah Pro Palestina dan Pendukung Setia Israel, Serukan Jeda dalam Perang

Palestina telah diakui sebagai negara merdeka oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan 136 negara anggotanya. Namun pengakuan ini tidak termasuk Amerika Serikat (AS), di mana Apple dan Google memiliki kantor pusat mereka.


BACA JUGA:
Ini Solusi Joe Biden untuk Konflik Palestina dan Israel

Hal ini memungkinkan pihak Google menghapus Palestina di Google Maps, dikarenakan pendirian Google berada di Amerika yang lebih pro terhadap Israel.

Hingga saat ini, Google belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan terbaru ini. Namun, di bagian situs web yang ditujukan untuk menyajikan informasi tentang sengketa batas negara, Google menjelaskan bahwa batas yang sedang disengketakan ditampilkan sebagai garis abu-abu putus-putus, dan tempat-tempat yang terlibat dalam sengketa tersebut tidak mencapai kesepakatan tentang batasan wilayah.
Selama perang tahun 1967, Israel merebut dan menduduki Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Dataran Tinggi Golan. Israel telah berpendapat bahwa mereka tidak lagi menganggap Gaza sebagai wilayah yang diduduki setelah membongkar permukiman di sana pada tahun 2005.



Sejumlah kelompok pemantau telah mencatat bahwa ada lebih dari 130 pemukiman Israel di Tepi Barat, meskipun pemukiman-pemukiman ini dianggap ilegal menurut hukum internasional.



Tidak jarang Google dihadapkan pada tuduhan bahwa mereka telah menghapus nama Palestina dari layanan peta mereka, dan ini bukan kali pertama klaim semacam itu muncul.



Pada tahun 2016, sebuah petisi di Change.org yang berjudul &quot;Google: Tempatkan Palestina di Peta Anda!&quot; mengklaim bahwa penyebutan Palestina telah dihapus dari layanan peta Google atas desakan pemerintah Israel.



Petisi tersebut juga menambahkan bahwa dua pendiri Google yang beragama Yahudi memiliki hubungan dekat dengan Israel dan para pemimpinnya. Petisi ini telah mendapatkan lebih dari 800.000 tanda tangan.



Pada Juni 2020, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berjanji untuk memulai pencaplokan sebagian wilayah Tepi Barat yang diduduki, tindakan ini memicu protes dari lebih dari 1.000 anggota parlemen dari seluruh Eropa.



Kontroversi mengenai hal ini membuka diskusi publik tentang peran perusahaan teknologi dalam merepresentasikan wilayah yang kontroversial secara politik di layanan peta online mereka, serta menyoroti pentingnya perdebatan terkait isu-isu geopolitik dan dampaknya dalam era digital.</content:encoded></item></channel></rss>
