<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Riwayat Pelabuhan Sunda Kelapa, Pusat Dagang Internasional yang Jadi Embrio Lahirnya Jakarta</title><description>Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta jadi pusat perdagangan internasional di masa lampau&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/27/337/2908889/riwayat-pelabuhan-sunda-kelapa-pusat-dagang-internasional-yang-jadi-embrio-lahirnya-jakarta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/27/337/2908889/riwayat-pelabuhan-sunda-kelapa-pusat-dagang-internasional-yang-jadi-embrio-lahirnya-jakarta"/><item><title>Riwayat Pelabuhan Sunda Kelapa, Pusat Dagang Internasional yang Jadi Embrio Lahirnya Jakarta</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/27/337/2908889/riwayat-pelabuhan-sunda-kelapa-pusat-dagang-internasional-yang-jadi-embrio-lahirnya-jakarta</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/27/337/2908889/riwayat-pelabuhan-sunda-kelapa-pusat-dagang-internasional-yang-jadi-embrio-lahirnya-jakarta</guid><pubDate>Jum'at 27 Oktober 2023 05:18 WIB</pubDate><dc:creator>Nanda Aria</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/26/337/2908889/riwayat-pelabuhan-sunda-kelapa-pusat-dagang-internasional-yang-jadi-embrio-lahirnya-jakarta-dKOkEudvGS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pelabuhan Sunda Kelapa/Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/26/337/2908889/riwayat-pelabuhan-sunda-kelapa-pusat-dagang-internasional-yang-jadi-embrio-lahirnya-jakarta-dKOkEudvGS.jpg</image><title>Pelabuhan Sunda Kelapa/Foto: Okezone</title></images><description>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xMC8xLzE3MDQxMS81L3g4bnl0MG0=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta jadi pusat perdagangan internasional di masa lampau. Kiprahnya tak lepas dari pertarungan tiga kekuatan besar, yakni Kerajaan Banten, Kerajaan Pajajaran, dan Kerajaan Portugis.

Sejarawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Johan Wahyudi, mengisahkan bahwa agak sulit untuk menemukan catatan pasti terkait kapan aktivitas perdagangan di Pelabuhan Sunda Kelapa dilakukan. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa aktivitas tersebut mulai hidup pada abad ke-15 di bawah Kerajaan Sunda atau Kerajaan Pakuan Pajajaran dengan kepercayaan Hindu kala itu.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Selain Religius, Pangeran Diponegoro Tertarik Sejarah Jawa Kuno hingga Nyi Roro Kidul

Letak geografis yang sangat strategis untuk melakukan perdagangan menarik para pedagang dari penjuru Nusantara maupun berbagai belahan negara lain seperti Tiongkok, Arab, India, Inggris, dan Portugis untuk datang ke pelabuan tersebut.

Mereka membawa barang-barang berupa porselen, kopi, sutra, kain wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi kekayaan tanah air saat itu.

Berdasarkan penelitian Claude Guillot seorang penulis buku asal Prancis kata Johan, Kerajaan Pakuan Pajajaran yang kala itu menguasai Sunda Kelapa bergeser karena menguatnya ajaran Islam di Banten melalui Sunan Gunung Jati yang saat itu dipimpin oleh putranya yang dikenal sebagai Sultan Hasanuddin.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Sejarah Menara Saidah, Gedung Angker di Jakarta

&quot;Ketika Islam semakin berkembang di pedalaman sunda terutama di kawasan Banten Girang yang sekarang kawasan Serang itu mulai ada alih kekuasaan dari penguasa Budha (Kerajaan Pajajaran) menjadi muslim. Tokohnya Sultan pertama Banten, Sultan Hasanuddin dia adalah anak Sunan Gunung Jati kerajaan Cirebon,&quot; katanya kepada Okezone pada medio 2019.

Namun demikian, peralihan itu berlangsung bukan dengan peperangan, hal itu dikarenakan adanya hubungan baik antara Sultan Hasanuddin dengan anak dari Raja Pajajaran yakni Sri Mangana ata Ki Samadullah sehingga proses islamisasi berlangsung mudah dilakukan.

Belakangan hadirlah Kerajaan Portugis di Pelabuhan Sunda Kelapa yang memang sudah lebih dulu menginjakkan kaki di Malaka sejak tahun 1511. Malaka merupakan pusat induk perdagangan kala itu. Portugis kemudian datang ke Sunda Kelapa untuk melakukan perdagangan dan mendapat izin untuk mendirikan gudang sebagai tempat untuk menghimpun barang dagangannya.


&quot;Portugis diberi izin (mendirikan gudang di Sunda Kelapa-red) oleh Kerajaan Pajajaran, belakangan justru digunakan Pajajaran sebagai rekan dia untuk menahan laju islamisasi Cirebon. Jadi, mereka kolaborasi membendung islamisasi dari Cirebon dan belakangan dari Banten, karena Portugis itu dateng bukan dalam posisi kosong tapi juga bawa senapan, baju tempur, bahkan ada pendeta, untuk melakukan kristenisasi saat itu itu setiap mereka datang,&quot; tutur Johan.



Fatahillah dan Cikal Bakal Kota Jakarta



Johan menuturkan, pada tahun 1525 sosok Fatahillah atau Falatehan menjadi sosok yang paling dikenang dalam pertempuran mengusir penjajah yang kala itu bangsa Portugis dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Namun demikian, belum ada dokumen resmi kapan pastinya pengusiran itu dilakukan hingga hari ini yang dikenal sebagai cikal bakal Kota Jakarta pada 22 Juni 1527.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Jadi Angker, Menara Saidah Pernah Digunakan untuk Apa?


&quot;Memang kalau kita perlu mencari saya berasumsi ada dokumen sejarah soal itu karena naskah perjanjian dengan pedagang Portugis itu aja ada yang tersimpan di Lisabon, logikanya pasti ada kalau masa sebelum Islam aja ada apalagi masa itu,&quot; kata Johan.



Saat itu lanjutnya, Fatahillah menilai bahwa posisi Portugis sebagai ancaman regional terhadap seluruh kerajaan di Nusantara khususnya pulau Jawa, untuk itu ia mengerahkan armada perangnya bersama Kesultanan Demak dan Cirebon untuk mengusir Portugis dari Sunda Kelapa dan mengganti nama pelabuhan tersebut menjadi Jayakarta atau kemenangan yang gilang-gemilang.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kenapa Menara Saidah Terkenal Angker? Ternyata Ini Penyebabnya



Tidak berhenti sampai di sana, secara perlahan kekuasaan Fatahillah yang kala itu usai mengusir Portugis mulai meredup dan perlahan dikuasai Banten yang saat itu menempatkan seorang Adipati bernama Pangeran Wijayakrama. Dari sana pula Ia mulai membangun komunikasi dengan Belanda.



&quot;Kisah hidupnya (Fatahillah) belakangan misterius bagaimana masa-masa terakhirnya hilang begitu saja karena sejarah dengan cepat mengarah ke Pangeran Wijayakrama. Kemudian mereka Belanda datang itu baik-baik datang sama dengan Portugis ingin membuka loji, semacam pergudangan dan perkantoran tapi ternyata mereka juga menghimpun kekuatan untuk melakukan perlawanan,&quot; ujar dia.



Diakui Johan bahwa dalam beberapa catatan seperti ditulis Wuka Chandra Sasmita, Wijayakrama ini menguasai Banten namun dalam kepemimpinananya tidak melibatkan Banten. Selain kepada Belanda, Wijayakrama juga memberikan izin kepada orang Inggris untuk mendirikan pertahanan dengan catatan membantu Wijaya apabila mendapat perlawanan dari Belanda.







Ia adalah Jan Pieterszoon (JP) Coen yang merupakan Gubernur Jenderal VOC kala itu dan pada 1619 dikenal sebagai pendiri Batavia pengganti Jayakarta pasca-dimenangkan oleh Fatahillah.







&quot;Dalam perjalanannya terjadi persengketaan akhirnya perang. Itu Jan Pieterzoon Coen yang kemudian dikenal sebagai pendiri Kota Batavia mereka memimpin perang VOC melawan Pangeran Wijayakrama dan Inggris pada 1619 pendirian Batavia artinya peperangan itu bisa dimulai dari tahun sebelum 1619,&quot; ucap Johan.







Sejak saat itu pula nama Pelabuhan Sunda Kelapa berubah menjadi Jayakarta di tangan Fatahillah dan menjadi Batavia di masa VOC Belanda di bawah kepemimpinan Jan Pieterzoon Coen, yang kemudian kembali beralih menjadi Pelabuhan Sunda Kelapa oleh Pemerintah Republik Indonesia hingga saat ini.



</description><content:encoded>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xMC8xLzE3MDQxMS81L3g4bnl0MG0=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta jadi pusat perdagangan internasional di masa lampau. Kiprahnya tak lepas dari pertarungan tiga kekuatan besar, yakni Kerajaan Banten, Kerajaan Pajajaran, dan Kerajaan Portugis.

Sejarawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Johan Wahyudi, mengisahkan bahwa agak sulit untuk menemukan catatan pasti terkait kapan aktivitas perdagangan di Pelabuhan Sunda Kelapa dilakukan. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa aktivitas tersebut mulai hidup pada abad ke-15 di bawah Kerajaan Sunda atau Kerajaan Pakuan Pajajaran dengan kepercayaan Hindu kala itu.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Selain Religius, Pangeran Diponegoro Tertarik Sejarah Jawa Kuno hingga Nyi Roro Kidul

Letak geografis yang sangat strategis untuk melakukan perdagangan menarik para pedagang dari penjuru Nusantara maupun berbagai belahan negara lain seperti Tiongkok, Arab, India, Inggris, dan Portugis untuk datang ke pelabuan tersebut.

Mereka membawa barang-barang berupa porselen, kopi, sutra, kain wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi kekayaan tanah air saat itu.

Berdasarkan penelitian Claude Guillot seorang penulis buku asal Prancis kata Johan, Kerajaan Pakuan Pajajaran yang kala itu menguasai Sunda Kelapa bergeser karena menguatnya ajaran Islam di Banten melalui Sunan Gunung Jati yang saat itu dipimpin oleh putranya yang dikenal sebagai Sultan Hasanuddin.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Sejarah Menara Saidah, Gedung Angker di Jakarta

&quot;Ketika Islam semakin berkembang di pedalaman sunda terutama di kawasan Banten Girang yang sekarang kawasan Serang itu mulai ada alih kekuasaan dari penguasa Budha (Kerajaan Pajajaran) menjadi muslim. Tokohnya Sultan pertama Banten, Sultan Hasanuddin dia adalah anak Sunan Gunung Jati kerajaan Cirebon,&quot; katanya kepada Okezone pada medio 2019.

Namun demikian, peralihan itu berlangsung bukan dengan peperangan, hal itu dikarenakan adanya hubungan baik antara Sultan Hasanuddin dengan anak dari Raja Pajajaran yakni Sri Mangana ata Ki Samadullah sehingga proses islamisasi berlangsung mudah dilakukan.

Belakangan hadirlah Kerajaan Portugis di Pelabuhan Sunda Kelapa yang memang sudah lebih dulu menginjakkan kaki di Malaka sejak tahun 1511. Malaka merupakan pusat induk perdagangan kala itu. Portugis kemudian datang ke Sunda Kelapa untuk melakukan perdagangan dan mendapat izin untuk mendirikan gudang sebagai tempat untuk menghimpun barang dagangannya.


&quot;Portugis diberi izin (mendirikan gudang di Sunda Kelapa-red) oleh Kerajaan Pajajaran, belakangan justru digunakan Pajajaran sebagai rekan dia untuk menahan laju islamisasi Cirebon. Jadi, mereka kolaborasi membendung islamisasi dari Cirebon dan belakangan dari Banten, karena Portugis itu dateng bukan dalam posisi kosong tapi juga bawa senapan, baju tempur, bahkan ada pendeta, untuk melakukan kristenisasi saat itu itu setiap mereka datang,&quot; tutur Johan.



Fatahillah dan Cikal Bakal Kota Jakarta



Johan menuturkan, pada tahun 1525 sosok Fatahillah atau Falatehan menjadi sosok yang paling dikenang dalam pertempuran mengusir penjajah yang kala itu bangsa Portugis dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Namun demikian, belum ada dokumen resmi kapan pastinya pengusiran itu dilakukan hingga hari ini yang dikenal sebagai cikal bakal Kota Jakarta pada 22 Juni 1527.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Jadi Angker, Menara Saidah Pernah Digunakan untuk Apa?


&quot;Memang kalau kita perlu mencari saya berasumsi ada dokumen sejarah soal itu karena naskah perjanjian dengan pedagang Portugis itu aja ada yang tersimpan di Lisabon, logikanya pasti ada kalau masa sebelum Islam aja ada apalagi masa itu,&quot; kata Johan.



Saat itu lanjutnya, Fatahillah menilai bahwa posisi Portugis sebagai ancaman regional terhadap seluruh kerajaan di Nusantara khususnya pulau Jawa, untuk itu ia mengerahkan armada perangnya bersama Kesultanan Demak dan Cirebon untuk mengusir Portugis dari Sunda Kelapa dan mengganti nama pelabuhan tersebut menjadi Jayakarta atau kemenangan yang gilang-gemilang.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Kenapa Menara Saidah Terkenal Angker? Ternyata Ini Penyebabnya



Tidak berhenti sampai di sana, secara perlahan kekuasaan Fatahillah yang kala itu usai mengusir Portugis mulai meredup dan perlahan dikuasai Banten yang saat itu menempatkan seorang Adipati bernama Pangeran Wijayakrama. Dari sana pula Ia mulai membangun komunikasi dengan Belanda.



&quot;Kisah hidupnya (Fatahillah) belakangan misterius bagaimana masa-masa terakhirnya hilang begitu saja karena sejarah dengan cepat mengarah ke Pangeran Wijayakrama. Kemudian mereka Belanda datang itu baik-baik datang sama dengan Portugis ingin membuka loji, semacam pergudangan dan perkantoran tapi ternyata mereka juga menghimpun kekuatan untuk melakukan perlawanan,&quot; ujar dia.



Diakui Johan bahwa dalam beberapa catatan seperti ditulis Wuka Chandra Sasmita, Wijayakrama ini menguasai Banten namun dalam kepemimpinananya tidak melibatkan Banten. Selain kepada Belanda, Wijayakrama juga memberikan izin kepada orang Inggris untuk mendirikan pertahanan dengan catatan membantu Wijaya apabila mendapat perlawanan dari Belanda.







Ia adalah Jan Pieterszoon (JP) Coen yang merupakan Gubernur Jenderal VOC kala itu dan pada 1619 dikenal sebagai pendiri Batavia pengganti Jayakarta pasca-dimenangkan oleh Fatahillah.







&quot;Dalam perjalanannya terjadi persengketaan akhirnya perang. Itu Jan Pieterzoon Coen yang kemudian dikenal sebagai pendiri Kota Batavia mereka memimpin perang VOC melawan Pangeran Wijayakrama dan Inggris pada 1619 pendirian Batavia artinya peperangan itu bisa dimulai dari tahun sebelum 1619,&quot; ucap Johan.







Sejak saat itu pula nama Pelabuhan Sunda Kelapa berubah menjadi Jayakarta di tangan Fatahillah dan menjadi Batavia di masa VOC Belanda di bawah kepemimpinan Jan Pieterzoon Coen, yang kemudian kembali beralih menjadi Pelabuhan Sunda Kelapa oleh Pemerintah Republik Indonesia hingga saat ini.



</content:encoded></item></channel></rss>
