<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Arti Kata Pakuan Pajajaran, Ibu Kota Kerajaan yang Megah</title><description>Makna Nama Pakuan Pajajaran, Ibu Kota Kerajaan yang Megah</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/28/337/2909844/arti-kata-pakuan-pajajaran-ibu-kota-kerajaan-yang-megah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/28/337/2909844/arti-kata-pakuan-pajajaran-ibu-kota-kerajaan-yang-megah"/><item><title>Arti Kata Pakuan Pajajaran, Ibu Kota Kerajaan yang Megah</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/28/337/2909844/arti-kata-pakuan-pajajaran-ibu-kota-kerajaan-yang-megah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/28/337/2909844/arti-kata-pakuan-pajajaran-ibu-kota-kerajaan-yang-megah</guid><pubDate>Sabtu 28 Oktober 2023 08:04 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/28/337/2909844/arti-kata-pakuan-pajajaran-ibu-kota-kerajaan-yang-megah-kVLO1YkuPf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Arti kata Pakuan Pajajaran, ibu kota kerajaan yang megah. (Ilustrasi/Museum Nasional)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/28/337/2909844/arti-kata-pakuan-pajajaran-ibu-kota-kerajaan-yang-megah-kVLO1YkuPf.jpg</image><title>Arti kata Pakuan Pajajaran, ibu kota kerajaan yang megah. (Ilustrasi/Museum Nasional)</title></images><description>



KERAJAAN Pajajaran konon memiliki ibu kota di Pakuan Pajajaran. Nama kata Pakuan Pajajaran memiliki beberapa arti dalam penafsirannya. Konon nama ini berasal dari nama tanaman yang sudah ada.

Kata Pakuan Pajajaran ditafsirkan beberapa sejarawan berbeda pada artinya. Ada yang berpendapat nama ini berasal dari pohon paku sejenis cycas circnalis, sedangkan Pajajaran diartikan sebagai tempatnya yang berjajar, sehingga Pakuan Pajajaran diartikan sebagai tempat dengan pohon paku yang berjajar.






BACA JUGA:
 Pasca-Prabu Siliwangi Tiada, Kerajaan Pajajaran Kerap Digempur Musuh&amp;nbsp; &amp;nbsp;









Pendapat kedua mencoba menghubungkan pakuan dengan kuwu yang terdapat dalam naskah Nagarakretagama. Pendapat ketiga ialah pendapat yang menyatakan pakuan berasal dari paku (pasak) dan paku tersebut dihubungkan dengan lingga kerajaan yang terletak di samping Prasasti Batutulis.

Dikutip dari &quot;Hitam Putih Pajajaran: Dari Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran&quot;, disebutkan paku dalam pengertian lingga, sesuai dengan penafsiran pada zamannya yakni poros dunia yang tautannya erat dengan masa kejayaan Kerajaan Pajajaran pada masanya. Di dalam Carita Parahiyangan, Pajajaran merupakan pusat jagat dan lingga tersebut kemungkinan yang disebut hulu wesi oleh Sang Susuktunggal ketika memperbaiki Pakuan.






BACA JUGA:
 Korupsi hingga Suka Membunuh Orang, Raja-Raja Ini Bikin Kerajaan Pajajaran Terpuruk&amp;nbsp; &amp;nbsp;












Kondisi mengenai ibu kota Pakuan Pajajaran digambarkan oleh seorang petualang sekaligus pedagang asal Portugis bernama Tome Pires, yang menyatakan kotanya cukup besar dengan jumlah penduduk 50 ribu jiwa. Rumah-rumah di kota itu sangat baik, terbuat dari kayu dengan atap terbuat dari daun jenis palma.

Sementara raja tinggal di sebuah istana yang memiliki 330 buah tiang kayu yang masing-masing sebesar peti anggur, sedangkan tingginya mencapai 5 fathom, dimana satu fathom sama dengan 1,8 meter, atau diperkirakan mencapai 9 meter. Bagian atas tiang diberi hiasan yang indah.



Bagaimanapun, tentu kota inilah yang pada tahun 1690 M masih sempat disaksikan secara langsung oleh Winkler ketika ia berkunjung ke Sunda. Tome Pires mengungkapkan, bahwa ibu kota yang bernama Pakuan tersebut terletak di antara dua buah sungai besar yang mengalir sejajar. Jadi, ketika akhir abad ke-17 M, Pakuan juga dikenal sebagai ibu kota atau pusat kerajaan, dan bukan nama kerajaan itu sendiri. Hal ini didukung oleh berita-berita yang lebih tua.






BACA JUGA:
 Strategi Prabu Siliwangi saat Berkuasa di Pajajaran Ciptakan Keamanan pada Rakyatnya&amp;nbsp; &amp;nbsp;
















</description><content:encoded>



KERAJAAN Pajajaran konon memiliki ibu kota di Pakuan Pajajaran. Nama kata Pakuan Pajajaran memiliki beberapa arti dalam penafsirannya. Konon nama ini berasal dari nama tanaman yang sudah ada.

Kata Pakuan Pajajaran ditafsirkan beberapa sejarawan berbeda pada artinya. Ada yang berpendapat nama ini berasal dari pohon paku sejenis cycas circnalis, sedangkan Pajajaran diartikan sebagai tempatnya yang berjajar, sehingga Pakuan Pajajaran diartikan sebagai tempat dengan pohon paku yang berjajar.






BACA JUGA:
 Pasca-Prabu Siliwangi Tiada, Kerajaan Pajajaran Kerap Digempur Musuh&amp;nbsp; &amp;nbsp;









Pendapat kedua mencoba menghubungkan pakuan dengan kuwu yang terdapat dalam naskah Nagarakretagama. Pendapat ketiga ialah pendapat yang menyatakan pakuan berasal dari paku (pasak) dan paku tersebut dihubungkan dengan lingga kerajaan yang terletak di samping Prasasti Batutulis.

Dikutip dari &quot;Hitam Putih Pajajaran: Dari Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran&quot;, disebutkan paku dalam pengertian lingga, sesuai dengan penafsiran pada zamannya yakni poros dunia yang tautannya erat dengan masa kejayaan Kerajaan Pajajaran pada masanya. Di dalam Carita Parahiyangan, Pajajaran merupakan pusat jagat dan lingga tersebut kemungkinan yang disebut hulu wesi oleh Sang Susuktunggal ketika memperbaiki Pakuan.






BACA JUGA:
 Korupsi hingga Suka Membunuh Orang, Raja-Raja Ini Bikin Kerajaan Pajajaran Terpuruk&amp;nbsp; &amp;nbsp;












Kondisi mengenai ibu kota Pakuan Pajajaran digambarkan oleh seorang petualang sekaligus pedagang asal Portugis bernama Tome Pires, yang menyatakan kotanya cukup besar dengan jumlah penduduk 50 ribu jiwa. Rumah-rumah di kota itu sangat baik, terbuat dari kayu dengan atap terbuat dari daun jenis palma.

Sementara raja tinggal di sebuah istana yang memiliki 330 buah tiang kayu yang masing-masing sebesar peti anggur, sedangkan tingginya mencapai 5 fathom, dimana satu fathom sama dengan 1,8 meter, atau diperkirakan mencapai 9 meter. Bagian atas tiang diberi hiasan yang indah.



Bagaimanapun, tentu kota inilah yang pada tahun 1690 M masih sempat disaksikan secara langsung oleh Winkler ketika ia berkunjung ke Sunda. Tome Pires mengungkapkan, bahwa ibu kota yang bernama Pakuan tersebut terletak di antara dua buah sungai besar yang mengalir sejajar. Jadi, ketika akhir abad ke-17 M, Pakuan juga dikenal sebagai ibu kota atau pusat kerajaan, dan bukan nama kerajaan itu sendiri. Hal ini didukung oleh berita-berita yang lebih tua.






BACA JUGA:
 Strategi Prabu Siliwangi saat Berkuasa di Pajajaran Ciptakan Keamanan pada Rakyatnya&amp;nbsp; &amp;nbsp;
















</content:encoded></item></channel></rss>
