<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Berkongsi dengan China, Cara Sriwijaya Kuasai Jalur Perdagangan dan Halau Ancaman dari Jawa</title><description>&amp;nbsp;
Hal ini tentu menguatkan posisi Sriwijaya sebagai kerajaan yang diperhitungkan di Nusantara dan di dunia</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/29/337/2910120/berkongsi-dengan-china-cara-sriwijaya-kuasai-jalur-perdagangan-dan-halau-ancaman-dari-jawa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/29/337/2910120/berkongsi-dengan-china-cara-sriwijaya-kuasai-jalur-perdagangan-dan-halau-ancaman-dari-jawa"/><item><title> Berkongsi dengan China, Cara Sriwijaya Kuasai Jalur Perdagangan dan Halau Ancaman dari Jawa</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/29/337/2910120/berkongsi-dengan-china-cara-sriwijaya-kuasai-jalur-perdagangan-dan-halau-ancaman-dari-jawa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/29/337/2910120/berkongsi-dengan-china-cara-sriwijaya-kuasai-jalur-perdagangan-dan-halau-ancaman-dari-jawa</guid><pubDate>Minggu 29 Oktober 2023 07:15 WIB</pubDate><dc:creator>Nanda Aria</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/28/337/2910120/berkongsi-dengan-china-cara-sriwijaya-kuasai-jalur-perdagangan-dan-halau-ancaman-dari-jawa-3wk4xcBNxL.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi/Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/28/337/2910120/berkongsi-dengan-china-cara-sriwijaya-kuasai-jalur-perdagangan-dan-halau-ancaman-dari-jawa-3wk4xcBNxL.jpeg</image><title>Ilustrasi/Foto: Okezone</title></images><description>
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8yMC8xLzE3MjQ5MC81L3g4b3l2a2U=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kerajaan Sriwijaya sukses menguasai perdagangan dunia di abad ke-7. Kerajaan di wilayah Sumatera ini bahkan dikisahkan berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan yang berada di dalam dan luar negeri.

Hal ini tentu menguatkan posisi Sriwijaya sebagai kerajaan yang diperhitungkan di Nusantara dan di dunia. Apalagi secara letak, Pulau Sumatera memiliki lokasi cukup strategis bagi kegiatan perdagangan internasional.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Candi Buddha Berusia 1.200 Tahun Ditemukan di Malayia, Sezaman dengan Sriwijaya

Hal ini memungkinkan karena Pulau Sumatera digunakan pelayaran sejak masa prasejarah, terutama dalam rangka perdagangan rempah-rempah.

Kebesaran Kerajaan Sriwijaya dikisahkan pada Buku &quot;Airlangga : Biografi Raja Pembaru Jawa Abadi XI&quot; dari Ninie Susanti, di mana pada kenyataannya Sriwijaya muncul sebagai pelabuhan transit dagang yang penting bagi jalur dagang melalui laut karena banyak disinggahi oleh pedagang dari berbagai bangsa di dunia.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Mengapa Sriwijaya dan Majapahit Disebut sebagai Negara Nasional? Simak Penjelasannya

Sriwijaya merupakan kekuatan pertama dalam sejarah Indonesia yang berhasil mendominasi wilayah Selat Malaka yang memegang kunci perdagangan dan pelayaran baik ke negeri Cina, maupun ke negeri-negeri lainnya.

Sriwijaya pun memulai ekspansi ke utara yang bukan hanya dimaksudkan untuk mengendalikan lalu lintas bahari yang keluar masuk selat, melainkan ditujukan pula untuk menguasai penyeberangan darat melalui tanah genting Kra.

Di samping itu, ekspedisi ke selatan juga disiapkan Kerajaan Sriwijaya, hal ini untuk menaklukkan bumi Jawa biasanya ditafsirkan sebagai usaha ekspansi ke Jawa Barat. Suatu rencana untuk memasukkan pantai sebelah Selat Sunda dalam kekuasaan Sriwijaya.


Keterangan ini menjawab mengapa Sriwijaya melakukan ekspansi pada awal perkembangannya dan mengeluarkan prasasti - prasasti yang berisi kutukan.



Guna meluaskan kekuasaannya, Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan diplomatik dengan mengirimkan utusan ke Cina. Pada waktu itu Raja Sri Cudamaniwarmadewa mengirimkan utusan ke Cina pada 1003 dan 1008. Sementara utusan kedua dikirimkan Sriwijaya saat masa pemerintahan Raja Sri Marawijayatungawarman.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pemilik Wedding Organizer Gelapkan Rp1,3 Miliar, Hasil Tipu 14 Calon Pengantin


Raja - raja Sriwijaya menjalin hubungan persahabatan dengan Chola dan Cina yang pada saat itu merupakan dua kekuatan besar di kawasan Asia Tenggara. Persahabatan tersebut diartikan sebagai antisipasi ancaman dari Jawa.



Pada catatan Dinasti Sung, Sriwijaya diperkirakan menghadapi lawannya dari Pulau Jawa, yang tak lain adalah Mataram Kuno, yang saat itu diperintah oleh Raja Dharmmawangsa Tguh.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Mahfud MD Tekankan Soal Nasionalisme di Hari Sumpah Pemuda



Hubungan diplomatik itu terus berlanjut terjadi pada 1016, 1017, dan 1018, di mana utusan Sriwijaya dikirimkan ke Cina. Untuk kepentingan diplomatik, Sriwijaya tak keberatan membayar upeti kepada Cina dan mengakui sebagai negara yang berkuasa.



Ini adalah bagian dari usaha diplomatik untuk menjamin agar Cina tidak membuka perdagangan langsung dengan negara lain di Asia Tenggara yang dapat merugikan Sriwijaya.



Sedangkan persahabatan dengan Chola diwujudkan dengan bantuan pendirian bangunan suci agama Buddha di Nagipattana oleh Raja Chola bernama Raja Kesariwarman Rajaraja I pada 1005 - 1006 Masehi. Bangunan ini selanjutnya diberi nama Cudamanivarmavihara.



Konon Chola ini berlokasi di India selatan, yang merupakan salah satu kerajaan besar dalam tradisi Tamil. Kerajaan Chola mencapai masa kejayaannya pada masa pemerintahan Rajaraja I tahun 985 - 1014 Masehi.

</description><content:encoded>
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8yMC8xLzE3MjQ5MC81L3g4b3l2a2U=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kerajaan Sriwijaya sukses menguasai perdagangan dunia di abad ke-7. Kerajaan di wilayah Sumatera ini bahkan dikisahkan berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan yang berada di dalam dan luar negeri.

Hal ini tentu menguatkan posisi Sriwijaya sebagai kerajaan yang diperhitungkan di Nusantara dan di dunia. Apalagi secara letak, Pulau Sumatera memiliki lokasi cukup strategis bagi kegiatan perdagangan internasional.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Candi Buddha Berusia 1.200 Tahun Ditemukan di Malayia, Sezaman dengan Sriwijaya

Hal ini memungkinkan karena Pulau Sumatera digunakan pelayaran sejak masa prasejarah, terutama dalam rangka perdagangan rempah-rempah.

Kebesaran Kerajaan Sriwijaya dikisahkan pada Buku &quot;Airlangga : Biografi Raja Pembaru Jawa Abadi XI&quot; dari Ninie Susanti, di mana pada kenyataannya Sriwijaya muncul sebagai pelabuhan transit dagang yang penting bagi jalur dagang melalui laut karena banyak disinggahi oleh pedagang dari berbagai bangsa di dunia.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Mengapa Sriwijaya dan Majapahit Disebut sebagai Negara Nasional? Simak Penjelasannya

Sriwijaya merupakan kekuatan pertama dalam sejarah Indonesia yang berhasil mendominasi wilayah Selat Malaka yang memegang kunci perdagangan dan pelayaran baik ke negeri Cina, maupun ke negeri-negeri lainnya.

Sriwijaya pun memulai ekspansi ke utara yang bukan hanya dimaksudkan untuk mengendalikan lalu lintas bahari yang keluar masuk selat, melainkan ditujukan pula untuk menguasai penyeberangan darat melalui tanah genting Kra.

Di samping itu, ekspedisi ke selatan juga disiapkan Kerajaan Sriwijaya, hal ini untuk menaklukkan bumi Jawa biasanya ditafsirkan sebagai usaha ekspansi ke Jawa Barat. Suatu rencana untuk memasukkan pantai sebelah Selat Sunda dalam kekuasaan Sriwijaya.


Keterangan ini menjawab mengapa Sriwijaya melakukan ekspansi pada awal perkembangannya dan mengeluarkan prasasti - prasasti yang berisi kutukan.



Guna meluaskan kekuasaannya, Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan diplomatik dengan mengirimkan utusan ke Cina. Pada waktu itu Raja Sri Cudamaniwarmadewa mengirimkan utusan ke Cina pada 1003 dan 1008. Sementara utusan kedua dikirimkan Sriwijaya saat masa pemerintahan Raja Sri Marawijayatungawarman.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pemilik Wedding Organizer Gelapkan Rp1,3 Miliar, Hasil Tipu 14 Calon Pengantin


Raja - raja Sriwijaya menjalin hubungan persahabatan dengan Chola dan Cina yang pada saat itu merupakan dua kekuatan besar di kawasan Asia Tenggara. Persahabatan tersebut diartikan sebagai antisipasi ancaman dari Jawa.



Pada catatan Dinasti Sung, Sriwijaya diperkirakan menghadapi lawannya dari Pulau Jawa, yang tak lain adalah Mataram Kuno, yang saat itu diperintah oleh Raja Dharmmawangsa Tguh.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Mahfud MD Tekankan Soal Nasionalisme di Hari Sumpah Pemuda



Hubungan diplomatik itu terus berlanjut terjadi pada 1016, 1017, dan 1018, di mana utusan Sriwijaya dikirimkan ke Cina. Untuk kepentingan diplomatik, Sriwijaya tak keberatan membayar upeti kepada Cina dan mengakui sebagai negara yang berkuasa.



Ini adalah bagian dari usaha diplomatik untuk menjamin agar Cina tidak membuka perdagangan langsung dengan negara lain di Asia Tenggara yang dapat merugikan Sriwijaya.



Sedangkan persahabatan dengan Chola diwujudkan dengan bantuan pendirian bangunan suci agama Buddha di Nagipattana oleh Raja Chola bernama Raja Kesariwarman Rajaraja I pada 1005 - 1006 Masehi. Bangunan ini selanjutnya diberi nama Cudamanivarmavihara.



Konon Chola ini berlokasi di India selatan, yang merupakan salah satu kerajaan besar dalam tradisi Tamil. Kerajaan Chola mencapai masa kejayaannya pada masa pemerintahan Rajaraja I tahun 985 - 1014 Masehi.

</content:encoded></item></channel></rss>
