<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sosok Jenderal Besar Sekaligus Panglima ABRI yang Berani Gebrak Meja di Hadapan Soeharto</title><description>Rezim Orde Baru tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Indonesia yang mengalami rezim otoriter kepemimpinan Soeharto</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/30/337/2911072/sosok-jenderal-besar-sekaligus-panglima-abri-yang-berani-gebrak-meja-di-hadapan-soeharto</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/10/30/337/2911072/sosok-jenderal-besar-sekaligus-panglima-abri-yang-berani-gebrak-meja-di-hadapan-soeharto"/><item><title>Sosok Jenderal Besar Sekaligus Panglima ABRI yang Berani Gebrak Meja di Hadapan Soeharto</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/10/30/337/2911072/sosok-jenderal-besar-sekaligus-panglima-abri-yang-berani-gebrak-meja-di-hadapan-soeharto</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/10/30/337/2911072/sosok-jenderal-besar-sekaligus-panglima-abri-yang-berani-gebrak-meja-di-hadapan-soeharto</guid><pubDate>Senin 30 Oktober 2023 16:43 WIB</pubDate><dc:creator>Alifia Zahra Kinanti </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/30/337/2911072/sosok-jenderal-besar-sekaligus-panglima-abri-yang-berani-gebrak-meja-di-hadapan-soeharto-kxdut3heHG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sosok yang berani menggebrak meja di hadapan Soeharto/Foto: Istimewa</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/30/337/2911072/sosok-jenderal-besar-sekaligus-panglima-abri-yang-berani-gebrak-meja-di-hadapan-soeharto-kxdut3heHG.jpg</image><title>Sosok yang berani menggebrak meja di hadapan Soeharto/Foto: Istimewa</title></images><description>


JAKARTA&amp;nbsp;- Rezim Orde Baru tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Indonesia yang mengalami rezim otoriter kepemimpinan Soeharto. Salah satunya adalah ketika Jenderal Muhammad Jusuf sebagai Panglima ABRI menggebrak meja di depan Presiden Soeharto.
Padahal, semasa kepemimpinan presiden Soeharto tidak ada orang yang pernah berani menggebrak meja di hadapannya.

BACA JUGA:
Jenderal Besar dan Terkenal Loyalis yang Disingkirkan Soeharto

Jenderal Andi M Jusuf Amir adalah mantan Panglima ABRI yang juga pernah ditunjuk sebagai Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan oleh Presiden Soeharto. Pada saat pemerintahan Soeharto ia bertahan menjadi Menteri Perindustrian hingga 1978.
Kemudian, M Jusuf naik jabatan menjadi Menhankam menggantikan posisi Jenderal Maraden Panggabean.  Jusuf dengan Amir selaku mantan Menteri Dalam Negeri pada tahun 1969 memiliki hubungan yang sangat erat.

BACA JUGA:
Kisah Duel Panas Jenderal Soemitro dan Ali Moertopo, 2 Jenderal Kesayangan Soeharto

Tidak hanya itu, keduanya juga tokoh di balik lahirnya Supersemar. Jusuf dengan cepat menjadi orang terkenal di ABRI. Dia dianggap memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan tugas yang diberikan Soeharto, yaitu manunggal dengan rakyat.
Popularitas karir Jusuf dalam bidang militer memberikan dampak ke dirinya, Letjen Leornadus Benyamin Moerdani atau Benny Moerdani sebagai pemimpin jaringan intelijen Soeharto memberikan sebuah informasi ke Istana negara bahwa Jusuf dianggap memiliki ambisi politik.
Akhirnya muncul isu miring tentang Jusuf, yang mengatakan bahwa ia akan melemahkan kekuatan internal untuk menjadi  presiden. Hal ini bisa dilihat dari gerak gerik Jusuf yang sering mendatangi barak-barak prajurit dan perhatiannya yang lebih ke kesejahteraan dan perlengkapan pasukan.
Isu mengenai dirinya semakin kencang, Jusuf bahkan diisukan memberikan kenaikan pangkat langsung di lapangan untuk prajurit berprestasi untuk menaikan popularitasnya.  Isu ini terdengar oleh Soeharto sehingga ia tidak tinggal diam begitu saja.
Pada suatu malam Soeharto mengumpulkan panglima para prajurit di kediamannya, mereka yang dipanggil yakni Mensesneg Soedharmono, Sekkab Moerdiono, Asintel Hankam Letjen Benny Moerdani, Mendagri Amirmachmud, dan juga Jusuf.Dalam pertemuan tersebut Amir Mahmud selaku mantan Medagri mengatakan bahwa di balik popularitas Jusuf ada ambisi-ambisi tertentu. Kalimat yang dikatakan oleh Amir membuat Jusuf menggebrak meja dengan suara keras.
&amp;ldquo;Bohong! Itu tidak benar semua. Saya ini diminta untuk menjadi Menhankam/Pangab karena perintah Bapak Presiden.&quot;
&amp;nbsp;BACA JUGA:

PJ Bupati HSU Harap Pemuda Jadi Agen Perubahan Menjaga Keutuhan NKRI

&amp;ldquo;Saya ini orang Bugis. Jadi saya sendiri tidak tahu arti kemanunggalan yang Bahasa Jawa itu. Tapi saya laksanakan perintah itu sebaik-baiknya tanpa tujuan apa-apa!&amp;rdquo; tutur Jusuf.
Semua yang hadir termasuk Soeharto langsung terkejut ketika Jusuf menggebrak meja. Presiden Soeharto kemudian membubarkan rapat yang baru berlangsung beberapa menit.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Diduga Kurang Hati-Hati, Motor Tabrak Truk Galon di Dekat Stasiun LRT

Semenjak peristiwa penggebrakan meja itu akhirnya membuat hubungan Jusuf dengan Soeharto menjadi renggang. Jusuf juga jarang hadir dalam rapat kabinet yang dipimpin oleh Soeharto di Bina Graha.</description><content:encoded>


JAKARTA&amp;nbsp;- Rezim Orde Baru tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Indonesia yang mengalami rezim otoriter kepemimpinan Soeharto. Salah satunya adalah ketika Jenderal Muhammad Jusuf sebagai Panglima ABRI menggebrak meja di depan Presiden Soeharto.
Padahal, semasa kepemimpinan presiden Soeharto tidak ada orang yang pernah berani menggebrak meja di hadapannya.

BACA JUGA:
Jenderal Besar dan Terkenal Loyalis yang Disingkirkan Soeharto

Jenderal Andi M Jusuf Amir adalah mantan Panglima ABRI yang juga pernah ditunjuk sebagai Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan oleh Presiden Soeharto. Pada saat pemerintahan Soeharto ia bertahan menjadi Menteri Perindustrian hingga 1978.
Kemudian, M Jusuf naik jabatan menjadi Menhankam menggantikan posisi Jenderal Maraden Panggabean.  Jusuf dengan Amir selaku mantan Menteri Dalam Negeri pada tahun 1969 memiliki hubungan yang sangat erat.

BACA JUGA:
Kisah Duel Panas Jenderal Soemitro dan Ali Moertopo, 2 Jenderal Kesayangan Soeharto

Tidak hanya itu, keduanya juga tokoh di balik lahirnya Supersemar. Jusuf dengan cepat menjadi orang terkenal di ABRI. Dia dianggap memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan tugas yang diberikan Soeharto, yaitu manunggal dengan rakyat.
Popularitas karir Jusuf dalam bidang militer memberikan dampak ke dirinya, Letjen Leornadus Benyamin Moerdani atau Benny Moerdani sebagai pemimpin jaringan intelijen Soeharto memberikan sebuah informasi ke Istana negara bahwa Jusuf dianggap memiliki ambisi politik.
Akhirnya muncul isu miring tentang Jusuf, yang mengatakan bahwa ia akan melemahkan kekuatan internal untuk menjadi  presiden. Hal ini bisa dilihat dari gerak gerik Jusuf yang sering mendatangi barak-barak prajurit dan perhatiannya yang lebih ke kesejahteraan dan perlengkapan pasukan.
Isu mengenai dirinya semakin kencang, Jusuf bahkan diisukan memberikan kenaikan pangkat langsung di lapangan untuk prajurit berprestasi untuk menaikan popularitasnya.  Isu ini terdengar oleh Soeharto sehingga ia tidak tinggal diam begitu saja.
Pada suatu malam Soeharto mengumpulkan panglima para prajurit di kediamannya, mereka yang dipanggil yakni Mensesneg Soedharmono, Sekkab Moerdiono, Asintel Hankam Letjen Benny Moerdani, Mendagri Amirmachmud, dan juga Jusuf.Dalam pertemuan tersebut Amir Mahmud selaku mantan Medagri mengatakan bahwa di balik popularitas Jusuf ada ambisi-ambisi tertentu. Kalimat yang dikatakan oleh Amir membuat Jusuf menggebrak meja dengan suara keras.
&amp;ldquo;Bohong! Itu tidak benar semua. Saya ini diminta untuk menjadi Menhankam/Pangab karena perintah Bapak Presiden.&quot;
&amp;nbsp;BACA JUGA:

PJ Bupati HSU Harap Pemuda Jadi Agen Perubahan Menjaga Keutuhan NKRI

&amp;ldquo;Saya ini orang Bugis. Jadi saya sendiri tidak tahu arti kemanunggalan yang Bahasa Jawa itu. Tapi saya laksanakan perintah itu sebaik-baiknya tanpa tujuan apa-apa!&amp;rdquo; tutur Jusuf.
Semua yang hadir termasuk Soeharto langsung terkejut ketika Jusuf menggebrak meja. Presiden Soeharto kemudian membubarkan rapat yang baru berlangsung beberapa menit.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Diduga Kurang Hati-Hati, Motor Tabrak Truk Galon di Dekat Stasiun LRT

Semenjak peristiwa penggebrakan meja itu akhirnya membuat hubungan Jusuf dengan Soeharto menjadi renggang. Jusuf juga jarang hadir dalam rapat kabinet yang dipimpin oleh Soeharto di Bina Graha.</content:encoded></item></channel></rss>
