<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Duka Seorang Ayah Kehilangan 11 Anggota Keluarganya yang Tewas dalam 1 Ledakan Israel</title><description>Itu adalah piyama milik anaknya bernama Rosa, bayi berusia 18 bulan.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/01/18/2912176/duka-seorang-ayah-kehilangan-11-anggota-keluarganya-yang-tewas-dalam-1-ledakan-israel</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/11/01/18/2912176/duka-seorang-ayah-kehilangan-11-anggota-keluarganya-yang-tewas-dalam-1-ledakan-israel"/><item><title>Duka Seorang Ayah Kehilangan 11 Anggota Keluarganya yang Tewas dalam 1 Ledakan Israel</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/01/18/2912176/duka-seorang-ayah-kehilangan-11-anggota-keluarganya-yang-tewas-dalam-1-ledakan-israel</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/11/01/18/2912176/duka-seorang-ayah-kehilangan-11-anggota-keluarganya-yang-tewas-dalam-1-ledakan-israel</guid><pubDate>Rabu 01 November 2023 10:02 WIB</pubDate><dc:creator>Susi Susanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/01/18/2912176/duka-seorang-ayah-kehilangan-11-anggota-keluarganya-dalam-1-ledakan-israel-8Yof4sCcDv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Duka seorang ayah yang kehilangan 11 anggota keluarganya dalam 1 ledakan Israel (Foto: Khalil Khader) </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/01/18/2912176/duka-seorang-ayah-kehilangan-11-anggota-keluarganya-dalam-1-ledakan-israel-8Yof4sCcDv.jpg</image><title>Duka seorang ayah yang kehilangan 11 anggota keluarganya dalam 1 ledakan Israel (Foto: Khalil Khader) </title></images><description>GAZA &amp;ndash; Seorang ayah bernama Khalil Khader di Gaza sangat berduka mendalam. Dia harus rela menerima takdir pahit jika 11 anggota keluarganya meninggal hanya karena satu ledakan Israel saja.
Mata Khader tertuju pada satu benda saat berada di reruntuhan. Dia melihat sebuah kain yang terlihat terang di balik puing-puing abu-abu. Dia yakin betul itu adalah piyama yang dikenakan anaknya sebelum tiada. Piyama yang terlihat berdebu dan compang-camping itu memiliki banyak kenangan indah. Itu adalah piyama milik anaknya bernama Rosa, bayi berusia 18 bulan.

BACA JUGA:
Israel Konfirmasi Serangan di Kamp Pengungsi Jabalia di Gaza dan Tewaskan Komandan Senior Hamas

Khalil menunjukkan video di ponselnya. Rosa mengenakan pakaian tidur biru yang sama dan memegang tangan dua sepupunya yang lebih tua. Mereka bertiga menari membentuk lingkaran.

BACA JUGA:
Serangan Udara Israel Bombardir Kamp Pengungsi Jabalia di Gaza , 50 Orang Tewas dan 150 Terluka

Video tersebut direkam dalam gerakan lambat, sehingga seolah-olah anak-anak sedang bergoyang tertiup angin sepoi-sepoi. Mereka tersenyum. Ini adalah waktu bermain dan kehidupan mereka belum diambil alih oleh perang.
Khalil adalah pria pendiam, berusia 36 tahun, seorang insinyur komputer di rumah sakit Al-Najjar di Rafah, dan ayah dari empat anak kecil. Yakni Ibrahim, berusia sembilan tahun; Amal, berusia lima tahun; Kinan, dua setengah tahun, dan Rosa anak terakhir.
Khalil melangkah dengan hati-hati melintasi reruntuhan. Rumah ini hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari rumah sakit. Kini terdapat gundukan batu dan logam, benda-benda rumah tangga dan beberapa mainan anak-anak. Sebuah drum kecil. Piano mainan.Pada malam serangan rudal - 20 Oktober - Khalil sedang bekerja di rumah sakit.
&quot;Sebuah bom besar meledak,&quot; katanya kepada salah satu rekan saya di BBC yang ikut bersamanya ke lokasi serangan.
&amp;ldquo;Tetangga saya datang ke rumah sakit. Jadi saya bertanya, 'Di mana pengebomannya?' Dan mereka bilang padaku, 'Itu ada di sekitar rumahmu.' Saya harus lari ke lokasi untuk memeriksa keluarga. Saya mencoba menelepon tetapi tidak ada yang menjawab. Dan seperti yang Anda lihat, seluruh rumah dibom,&amp;rdquo; terangnya.
Sebelas anggota keluarganya terbunuh. Mereka termasuk keempat anaknya, dua saudara perempuannya, ayahnya yang berusia 70 tahun, saudara laki-laki dan perempuan iparnya, serta kedua putri mereka. Mereka dibungkus dengan kain kafan putih di halaman rumah sakit.
Istrinya terluka parah. Dia dirawat karena luka bakar dan luka lain yang dideritanya ketika rumahnya runtuh.
Khalil sudah mengetahui perang sebelumnya di Gaza. Sebidang tanah kecil &amp;ndash; dengan total luas daratan hanya 141 mil persegi (365 km persegi) &amp;ndash; telah mengalami konflik tanpa henti selama beberapa dekade. Begitulah warisan konflik yang dia khawatirkan dalam membina keluarga di sana.
&amp;ldquo;Saya ingat pada perang 2014, istri saya sedang hamil, dan tetangga kami dibom. Istri saya sedang berusia tujuh bulan dan hampir terjatuh dari tangga akibat ledakan. Dan saya berpikir, bagaimana saya bisa membawa anak-anak dalam hidup ini?,&amp;rdquo; kenangnya.Namun dia membayangkan kehidupan yang lebih baik mungkin bisa dicapai bagi mereka.
&quot;Saya mempunyai impian untuk masing-masing anak saya. Ibrahim adalah siswa pertama di sekolahnya dan saya bermimpi melihatnya sebagai dokter suatu hari nanti. Amal sangat kreatif, dia suka menggambar. Dan dia sering menunjukkan gambarnya kepada saya, dan terkadang saya akan menggambar dengannya,&amp;rdquo; lanjutnya.
&quot;Kinan sangat ceria - semua orang menyukainya. Dan dia selalu menjaga adik perempuannya. Dia selalu ada untuk melindungi Rosa, dan akan berkata, 'Jangan sentuh dia, dia bayiku!' Dan sekarang mereka semua sudah pergi,&amp;rdquo; ujarnya.
Khalil masih mencari jenazah adiknya di bawah reruntuhan. Dan dia harus menjaga istrinya di rumah sakit. Anak-anaknya sudah tiada.
Namun saat ia menunjukkan satu demi satu foto Ibrahim, Amal, Kenin dan Rosa, ada kesedihan sekaligus kelembutan di matanya.</description><content:encoded>GAZA &amp;ndash; Seorang ayah bernama Khalil Khader di Gaza sangat berduka mendalam. Dia harus rela menerima takdir pahit jika 11 anggota keluarganya meninggal hanya karena satu ledakan Israel saja.
Mata Khader tertuju pada satu benda saat berada di reruntuhan. Dia melihat sebuah kain yang terlihat terang di balik puing-puing abu-abu. Dia yakin betul itu adalah piyama yang dikenakan anaknya sebelum tiada. Piyama yang terlihat berdebu dan compang-camping itu memiliki banyak kenangan indah. Itu adalah piyama milik anaknya bernama Rosa, bayi berusia 18 bulan.

BACA JUGA:
Israel Konfirmasi Serangan di Kamp Pengungsi Jabalia di Gaza dan Tewaskan Komandan Senior Hamas

Khalil menunjukkan video di ponselnya. Rosa mengenakan pakaian tidur biru yang sama dan memegang tangan dua sepupunya yang lebih tua. Mereka bertiga menari membentuk lingkaran.

BACA JUGA:
Serangan Udara Israel Bombardir Kamp Pengungsi Jabalia di Gaza , 50 Orang Tewas dan 150 Terluka

Video tersebut direkam dalam gerakan lambat, sehingga seolah-olah anak-anak sedang bergoyang tertiup angin sepoi-sepoi. Mereka tersenyum. Ini adalah waktu bermain dan kehidupan mereka belum diambil alih oleh perang.
Khalil adalah pria pendiam, berusia 36 tahun, seorang insinyur komputer di rumah sakit Al-Najjar di Rafah, dan ayah dari empat anak kecil. Yakni Ibrahim, berusia sembilan tahun; Amal, berusia lima tahun; Kinan, dua setengah tahun, dan Rosa anak terakhir.
Khalil melangkah dengan hati-hati melintasi reruntuhan. Rumah ini hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari rumah sakit. Kini terdapat gundukan batu dan logam, benda-benda rumah tangga dan beberapa mainan anak-anak. Sebuah drum kecil. Piano mainan.Pada malam serangan rudal - 20 Oktober - Khalil sedang bekerja di rumah sakit.
&quot;Sebuah bom besar meledak,&quot; katanya kepada salah satu rekan saya di BBC yang ikut bersamanya ke lokasi serangan.
&amp;ldquo;Tetangga saya datang ke rumah sakit. Jadi saya bertanya, 'Di mana pengebomannya?' Dan mereka bilang padaku, 'Itu ada di sekitar rumahmu.' Saya harus lari ke lokasi untuk memeriksa keluarga. Saya mencoba menelepon tetapi tidak ada yang menjawab. Dan seperti yang Anda lihat, seluruh rumah dibom,&amp;rdquo; terangnya.
Sebelas anggota keluarganya terbunuh. Mereka termasuk keempat anaknya, dua saudara perempuannya, ayahnya yang berusia 70 tahun, saudara laki-laki dan perempuan iparnya, serta kedua putri mereka. Mereka dibungkus dengan kain kafan putih di halaman rumah sakit.
Istrinya terluka parah. Dia dirawat karena luka bakar dan luka lain yang dideritanya ketika rumahnya runtuh.
Khalil sudah mengetahui perang sebelumnya di Gaza. Sebidang tanah kecil &amp;ndash; dengan total luas daratan hanya 141 mil persegi (365 km persegi) &amp;ndash; telah mengalami konflik tanpa henti selama beberapa dekade. Begitulah warisan konflik yang dia khawatirkan dalam membina keluarga di sana.
&amp;ldquo;Saya ingat pada perang 2014, istri saya sedang hamil, dan tetangga kami dibom. Istri saya sedang berusia tujuh bulan dan hampir terjatuh dari tangga akibat ledakan. Dan saya berpikir, bagaimana saya bisa membawa anak-anak dalam hidup ini?,&amp;rdquo; kenangnya.Namun dia membayangkan kehidupan yang lebih baik mungkin bisa dicapai bagi mereka.
&quot;Saya mempunyai impian untuk masing-masing anak saya. Ibrahim adalah siswa pertama di sekolahnya dan saya bermimpi melihatnya sebagai dokter suatu hari nanti. Amal sangat kreatif, dia suka menggambar. Dan dia sering menunjukkan gambarnya kepada saya, dan terkadang saya akan menggambar dengannya,&amp;rdquo; lanjutnya.
&quot;Kinan sangat ceria - semua orang menyukainya. Dan dia selalu menjaga adik perempuannya. Dia selalu ada untuk melindungi Rosa, dan akan berkata, 'Jangan sentuh dia, dia bayiku!' Dan sekarang mereka semua sudah pergi,&amp;rdquo; ujarnya.
Khalil masih mencari jenazah adiknya di bawah reruntuhan. Dan dia harus menjaga istrinya di rumah sakit. Anak-anaknya sudah tiada.
Namun saat ia menunjukkan satu demi satu foto Ibrahim, Amal, Kenin dan Rosa, ada kesedihan sekaligus kelembutan di matanya.</content:encoded></item></channel></rss>
