<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gunung Kawi dan Berdirinya Kerajaan Singasari di Kitab Negarakretagama</title><description>Pembentukan Kerajaan Singasari ini diuraikan dalam Pupuh 40, yang terdiri dari lima pada.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/01/337/2912055/gunung-kawi-dan-berdirinya-kerajaan-singasari-di-kitab-negarakretagama</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/11/01/337/2912055/gunung-kawi-dan-berdirinya-kerajaan-singasari-di-kitab-negarakretagama"/><item><title>Gunung Kawi dan Berdirinya Kerajaan Singasari di Kitab Negarakretagama</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/01/337/2912055/gunung-kawi-dan-berdirinya-kerajaan-singasari-di-kitab-negarakretagama</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/11/01/337/2912055/gunung-kawi-dan-berdirinya-kerajaan-singasari-di-kitab-negarakretagama</guid><pubDate>Rabu 01 November 2023 05:29 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/01/337/2912055/gunung-kawi-dan-berdirinya-kerajaan-singasari-di-kitab-negarakretagama-Q4eANBjz7z.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gunung Kawi (Foto: Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/01/337/2912055/gunung-kawi-dan-berdirinya-kerajaan-singasari-di-kitab-negarakretagama-Q4eANBjz7z.jpg</image><title>Gunung Kawi (Foto: Dok Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8zMS8xLzE3MzAzNS81L3g4cDhqdTg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Jauh sebelum nama mitos pesugihan Gunung Kawi disebutkan pada Kakawin Negarakretagama berkaitan dengan Kerajaan Singasari. Di kakawin yang ditulis Prapanca itu Gunung Kawi disebutkan secara gamblang menjadi salah satu berdirinya Kerajaan Singasari. Pembentukan Kerajaan Singasari ini diuraikan dalam Pupuh 40, yang terdiri dari lima pada.
Prapanca mulai dengan uraiannya, bahwa pada tahun Saka 1104 atau tahun Masehi 1182 ada seorang raja besar yang perwirayuda, seakan-akan putra dewa terkenal sebagai putra batara Girinata. Semua orang tunduk bakti menyembah dengan segan terhadap beliau.
Beliau masyhur dengan nama Ranggah Rajasa, penggempur musuh, pahlawan bijak. Lokasinya pada Dusun Agung di sebelah timur Gunung Kawi, makmur karena bermacam-macam hasilnya, itulah kuwu tempat kementeriannya.

BACA JUGA:
Alasan KPU Terima Pendaftaran Pasangan Prabowo dan Gibran Walaupun PKPU Belum Direvisi&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Nama dusun itu Kutaraja, terlalu padat penduduknya. Di situ putra Sri Girinata menunaikan dharmanya, melatih keperwiraannya, menenteramkan para budiman, melatih keperwiraaannya, menenteramkan para budiman, menjinakkan penjahat, mempertinggi kesejahteraan rakyat yang setia bakti kepadanya.

BACA JUGA:
Perdana Raih Piala IMAA 2023, Bryan Domani Bangga

Sebagaimana dikutip dari &quot;Menuju Puncak Kemegahan : Sejarah Kerajaan Majapahit&quot; dari Prof. Slamet Muljana, pada tahun saka 1144, beliau menyerang raja Kediri, sang adiperwira Kretajaya kalah, terkepung bahaya, lari masuk pertapaan yang sunyi-sepi; semua pengiring, pemuka prajurit yang tertinggal di kerajaan, disirnakan.
Dikisahkan pada Prapanca sesudah raja Kediri tunduk, seluruh Jawa diam dalam ketakutan, emua raja datang menyembah serta membawa segala macam hasil daerahnya. Bersatulah Janggala dan Kediri di bawah satu raja sakti. Di situlah tempat pendidikan dan kelahiran para raja yang akan memberi kegirangan kepada dunia.Perbawa dan wibawa putra sang Girinata makin bertambah. Terjamin kesejahteraan bumi Jawa yang menyembah kaki pelindung jagat. Pada tahun Saka 1149 atau tahun Masehi 1227, beliau pulang ke swargaloka. Orang yang menjadi kebanggaan jagat itu dimakamkan di Kegenengan sebagai dewa Siwa, dan di Usana sebagai Budha.

Konon di uraian Prapanca dalam Negarakretagama itu nama Ken Arok tidak disebut. Nama Ken Arok diketahui disebut dalam Kakawin Pararaton yang juga dituliskan oleh Prapanca. Memang pada umumnya Nagarakretagama hanya menyebut nama abhiseka daripada para raja Singasari dan Majapahit.

Sementara pada Pararaton, kita dapati nama kecilnya juga. Kehidupan Ken Arok yang diuraikan panjang lebar dalam Pararaton sama sekali tidak disinggung dalam Nagarakretagama. Sudah pasti uraian Pararaton tentang Ranggah Rajasa itu mengurangi keharuman nenek moyang raja Hayam Wuruk itu.



</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8zMS8xLzE3MzAzNS81L3g4cDhqdTg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Jauh sebelum nama mitos pesugihan Gunung Kawi disebutkan pada Kakawin Negarakretagama berkaitan dengan Kerajaan Singasari. Di kakawin yang ditulis Prapanca itu Gunung Kawi disebutkan secara gamblang menjadi salah satu berdirinya Kerajaan Singasari. Pembentukan Kerajaan Singasari ini diuraikan dalam Pupuh 40, yang terdiri dari lima pada.
Prapanca mulai dengan uraiannya, bahwa pada tahun Saka 1104 atau tahun Masehi 1182 ada seorang raja besar yang perwirayuda, seakan-akan putra dewa terkenal sebagai putra batara Girinata. Semua orang tunduk bakti menyembah dengan segan terhadap beliau.
Beliau masyhur dengan nama Ranggah Rajasa, penggempur musuh, pahlawan bijak. Lokasinya pada Dusun Agung di sebelah timur Gunung Kawi, makmur karena bermacam-macam hasilnya, itulah kuwu tempat kementeriannya.

BACA JUGA:
Alasan KPU Terima Pendaftaran Pasangan Prabowo dan Gibran Walaupun PKPU Belum Direvisi&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Nama dusun itu Kutaraja, terlalu padat penduduknya. Di situ putra Sri Girinata menunaikan dharmanya, melatih keperwiraannya, menenteramkan para budiman, melatih keperwiraaannya, menenteramkan para budiman, menjinakkan penjahat, mempertinggi kesejahteraan rakyat yang setia bakti kepadanya.

BACA JUGA:
Perdana Raih Piala IMAA 2023, Bryan Domani Bangga

Sebagaimana dikutip dari &quot;Menuju Puncak Kemegahan : Sejarah Kerajaan Majapahit&quot; dari Prof. Slamet Muljana, pada tahun saka 1144, beliau menyerang raja Kediri, sang adiperwira Kretajaya kalah, terkepung bahaya, lari masuk pertapaan yang sunyi-sepi; semua pengiring, pemuka prajurit yang tertinggal di kerajaan, disirnakan.
Dikisahkan pada Prapanca sesudah raja Kediri tunduk, seluruh Jawa diam dalam ketakutan, emua raja datang menyembah serta membawa segala macam hasil daerahnya. Bersatulah Janggala dan Kediri di bawah satu raja sakti. Di situlah tempat pendidikan dan kelahiran para raja yang akan memberi kegirangan kepada dunia.Perbawa dan wibawa putra sang Girinata makin bertambah. Terjamin kesejahteraan bumi Jawa yang menyembah kaki pelindung jagat. Pada tahun Saka 1149 atau tahun Masehi 1227, beliau pulang ke swargaloka. Orang yang menjadi kebanggaan jagat itu dimakamkan di Kegenengan sebagai dewa Siwa, dan di Usana sebagai Budha.

Konon di uraian Prapanca dalam Negarakretagama itu nama Ken Arok tidak disebut. Nama Ken Arok diketahui disebut dalam Kakawin Pararaton yang juga dituliskan oleh Prapanca. Memang pada umumnya Nagarakretagama hanya menyebut nama abhiseka daripada para raja Singasari dan Majapahit.

Sementara pada Pararaton, kita dapati nama kecilnya juga. Kehidupan Ken Arok yang diuraikan panjang lebar dalam Pararaton sama sekali tidak disinggung dalam Nagarakretagama. Sudah pasti uraian Pararaton tentang Ranggah Rajasa itu mengurangi keharuman nenek moyang raja Hayam Wuruk itu.



</content:encoded></item></channel></rss>
