<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Ketika Kerajaan Sriwijaya Diserang saat Pesta, Selir dan Para Perempuan Cantik Dibawa Kabur   </title><description>Serangan ini cukup berhasil dan melumpuhkan Kerajaan Mataram hingga mengakibatkan sang rajanya Dharmawangsa mati&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/02/337/2912807/ketika-kerajaan-sriwijaya-diserang-saat-pesta-selir-dan-para-perempuan-cantik-dibawa-kabur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/11/02/337/2912807/ketika-kerajaan-sriwijaya-diserang-saat-pesta-selir-dan-para-perempuan-cantik-dibawa-kabur"/><item><title> Ketika Kerajaan Sriwijaya Diserang saat Pesta, Selir dan Para Perempuan Cantik Dibawa Kabur   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/02/337/2912807/ketika-kerajaan-sriwijaya-diserang-saat-pesta-selir-dan-para-perempuan-cantik-dibawa-kabur</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/11/02/337/2912807/ketika-kerajaan-sriwijaya-diserang-saat-pesta-selir-dan-para-perempuan-cantik-dibawa-kabur</guid><pubDate>Kamis 02 November 2023 05:44 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/02/337/2912807/ketika-kerajaan-sriwijaya-diserang-saat-pesta-selir-dan-para-perempuan-cantik-dibawa-kabur-lOUxvu5sAG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Illustrasi (foto: dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/02/337/2912807/ketika-kerajaan-sriwijaya-diserang-saat-pesta-selir-dan-para-perempuan-cantik-dibawa-kabur-lOUxvu5sAG.jpg</image><title>Illustrasi (foto: dok Okezone)</title></images><description>KERAJAAN Sriwijaya melakukan serangan balasan ke Mataram Kuno. Serangan ini cukup berhasil dan melumpuhkan Kerajaan Mataram hingga mengakibatkan sang rajanya Dharmawangsa mati terbunuh bersama para pembesar kerajaan lainnya.

Serangan Sriwijaya di bawah kendali Raja Sri Cudamani Warmadewa ini tersusun rapi, juga tak lepas dari peran Raja Wurawari, yang merupakan raja dari Kerajaan Lwaram, yang kini berada di Blora, Jawa Tengah. Kerajaan itu dikisahkan merupakan salah satu sekutu Kerajaan Sriwijaya di Pulau Jawa.

BACA JUGA:
Menguak Perbedaan Kerajaan Mataram Kuno dengan Mataram Islam

Saat itu sang Raja Lwaram mendengar adanya pesta pernikahan sang anak raja Mataram Dharmawangsa di Istana Medang. Saat itulah Raja Lwaram ini menawarkan bantuan ke Kerajaan Sriwijaya untuk melakukan serangan balasan di kala Mataram tengah berpesta.

Sebagaimana dikutip dari buku &quot;Sandyakala di Timur Jawa 1042 - 1527 M&quot; tulisan Prasetya Ramadhan, dikisahkan serangan ini menjadi balasan atas serangan yang dahulu pernah dilakukan ke Sriwijaya oleh Raja Medang. Raja Sriwijaya Sri Cudamani Warmadewa kemudian menyusun strategi cerdik mengatur serangan ke istana Medang.

Ia kemudian mengambil jalan lain, dengan menjalin persekutuan dengan Raja Wurawari dari Kerajaan Lwaram. Langkah itu dilakukan karena Sriwijaya menyadari pasti akan kalah jika berperang sendirian. Dengan persekutuan itu, maka dapat menghimpun kekuatan lebih besar.

BACA JUGA:
Wisata ke Istana Mataram Kuno di Tengah Hutan Borobudur, Sarat Koleksi Benda Purbakala

Penyerangan balasan terhadap Kerajaan Medang Mataram menuai keberhasilan. Bahkan Kerajaan Mataram era Medang mendapat malapetaka yang besar. Istananya habis dibakar oleh gabungan pasukan lawan Sriwijaya dan Lwaram.

Sementara para selir dan perempuan cantik di istana Medang dibawa lari ke Sriwijaya. Sebagian ada yang dibawa ke Kerajaan Lwaram untuk dihadiahkan kepada Raja Wurawari. Dengan demikian, lenyaplah pusat pemerintahan Kerajaan Medang, maka para raja yang semula tunduk kepada Raja Dharmawangsa berani memerdekakan diri.



Mereka lebih senang berdiri membangun kerajaan sendiri dan pada terikat dengan kerajaan lain. Maka munculah kini sejumlah kerajaan kecil di daerah-daerah dekat ibu Kerajaan Medang, serta bekas wilayah kekuasaan Kerajaan Medang.</description><content:encoded>KERAJAAN Sriwijaya melakukan serangan balasan ke Mataram Kuno. Serangan ini cukup berhasil dan melumpuhkan Kerajaan Mataram hingga mengakibatkan sang rajanya Dharmawangsa mati terbunuh bersama para pembesar kerajaan lainnya.

Serangan Sriwijaya di bawah kendali Raja Sri Cudamani Warmadewa ini tersusun rapi, juga tak lepas dari peran Raja Wurawari, yang merupakan raja dari Kerajaan Lwaram, yang kini berada di Blora, Jawa Tengah. Kerajaan itu dikisahkan merupakan salah satu sekutu Kerajaan Sriwijaya di Pulau Jawa.

BACA JUGA:
Menguak Perbedaan Kerajaan Mataram Kuno dengan Mataram Islam

Saat itu sang Raja Lwaram mendengar adanya pesta pernikahan sang anak raja Mataram Dharmawangsa di Istana Medang. Saat itulah Raja Lwaram ini menawarkan bantuan ke Kerajaan Sriwijaya untuk melakukan serangan balasan di kala Mataram tengah berpesta.

Sebagaimana dikutip dari buku &quot;Sandyakala di Timur Jawa 1042 - 1527 M&quot; tulisan Prasetya Ramadhan, dikisahkan serangan ini menjadi balasan atas serangan yang dahulu pernah dilakukan ke Sriwijaya oleh Raja Medang. Raja Sriwijaya Sri Cudamani Warmadewa kemudian menyusun strategi cerdik mengatur serangan ke istana Medang.

Ia kemudian mengambil jalan lain, dengan menjalin persekutuan dengan Raja Wurawari dari Kerajaan Lwaram. Langkah itu dilakukan karena Sriwijaya menyadari pasti akan kalah jika berperang sendirian. Dengan persekutuan itu, maka dapat menghimpun kekuatan lebih besar.

BACA JUGA:
Wisata ke Istana Mataram Kuno di Tengah Hutan Borobudur, Sarat Koleksi Benda Purbakala

Penyerangan balasan terhadap Kerajaan Medang Mataram menuai keberhasilan. Bahkan Kerajaan Mataram era Medang mendapat malapetaka yang besar. Istananya habis dibakar oleh gabungan pasukan lawan Sriwijaya dan Lwaram.

Sementara para selir dan perempuan cantik di istana Medang dibawa lari ke Sriwijaya. Sebagian ada yang dibawa ke Kerajaan Lwaram untuk dihadiahkan kepada Raja Wurawari. Dengan demikian, lenyaplah pusat pemerintahan Kerajaan Medang, maka para raja yang semula tunduk kepada Raja Dharmawangsa berani memerdekakan diri.



Mereka lebih senang berdiri membangun kerajaan sendiri dan pada terikat dengan kerajaan lain. Maka munculah kini sejumlah kerajaan kecil di daerah-daerah dekat ibu Kerajaan Medang, serta bekas wilayah kekuasaan Kerajaan Medang.</content:encoded></item></channel></rss>
