<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Jejak Sejarah Mbah Priok</title><description>Kisah Jejak Sejarah Mbah Priok
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/03/337/2913332/kisah-jejak-sejarah-mbah-priok</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/11/03/337/2913332/kisah-jejak-sejarah-mbah-priok"/><item><title>Kisah Jejak Sejarah Mbah Priok</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/03/337/2913332/kisah-jejak-sejarah-mbah-priok</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/11/03/337/2913332/kisah-jejak-sejarah-mbah-priok</guid><pubDate>Jum'at 03 November 2023 05:10 WIB</pubDate><dc:creator>Erha Aprili Ramadhoni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/02/337/2913332/kisah-jejak-sejarah-mbah-priok-tgs0GzD45i.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Makam Mbah Priok di Tanjung Priok, Jakarta Utara. (Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/02/337/2913332/kisah-jejak-sejarah-mbah-priok-tgs0GzD45i.jpeg</image><title>Makam Mbah Priok di Tanjung Priok, Jakarta Utara. (Dok Okezone)</title></images><description>



JAKARTA - Makam Mbah Priok dikeramatkan oleh warga Jakarta Utara. Mbah Priok memiliki nama asli Al Imam Al`Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Husain Ass Syafi'i Sunnira.


Melansir berbagai sumber, Habib Hasan dilahirkan di Palembang pada 1727. Pada 1756, Habib Hasan bersama Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad pergi ke Pulau Jawa untuk menjalankan misi dakwah Islam.


Mereka berlayar menuju Batavia selama dua bulan. Dalam perjalanannya, Habib mendapatkan banyak rintangan, salah satunya dihadang armada Belanda dengan persenjataan lengkap. Tanpa peringatan, kapal Habib dibombardir meriam. Namun, tak satu pun yang mengenai kapal.


Lolos dari kejaran kapal Belanda, kapal Habib ditabrak ombak besar. Semua perlengkapan di kapal hanyut bersama gelombang. Yang tersisa hanya alat penanak nasi dan beberapa liter beras yang berserakan.






BACA JUGA:
 Peristiwa 15 September: Wafatnya Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa&amp;nbsp; &amp;nbsp;










Selanjutnya, ombak lebih besar datang menghantam lebih keras sehingga kapal Habib terbalik. Dua ulama itu terseret ombak. Habib Hasan ditemukan warga dalam keadaan sudah meninggal. Sedangkan Habib Ali masih hidup.
Di samping keduanya, terdapat periuk dan sebuah dayung. Setelah Habib Hasan wafat, Habib Ali yang selamat menetap di daerah itu hingga beberapa lama kemudian melanjutkan perjalanan ke Pulau Sumbawa dan menetap selamanya di wilayah tersebut.





Di makam Habib Hasan ditancapkan dayung sebagai nisan yang lama kelamaan di sekitarnya tumbuh berkembang pohon Tanjung.



Sementara periuk yang tadinya berada di sisi makam terus bergeser ke tengah laut. Konon menurut warga, setiap 3-4 tahun periuk itu muncul di lautan dengan ukuran makin membesar.






BACA JUGA:
Habib Luthfi Minta Masyarakat Tak Terbelah karena Putusan MK: Ini Bukan Cuma soal Mas Gibran













Dari peristiwa itulah nama Tanjung Priok mulai dilekatkan di kawasan utara Jakarta ini. Singkat cerita, Belanda ingin membangun pelabuhan peti kemas di Tanjung Priok.





Belanda berencana memindahkan makam Mbah Priok yang awalnya berada di Pelabuhan Tanjung Priok ke wilayah pelabuhan peti kemas Koja Utara. Namun, rencana itu gagal lantaran ada makam keramat di sana.













</description><content:encoded>



JAKARTA - Makam Mbah Priok dikeramatkan oleh warga Jakarta Utara. Mbah Priok memiliki nama asli Al Imam Al`Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Husain Ass Syafi'i Sunnira.


Melansir berbagai sumber, Habib Hasan dilahirkan di Palembang pada 1727. Pada 1756, Habib Hasan bersama Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad pergi ke Pulau Jawa untuk menjalankan misi dakwah Islam.


Mereka berlayar menuju Batavia selama dua bulan. Dalam perjalanannya, Habib mendapatkan banyak rintangan, salah satunya dihadang armada Belanda dengan persenjataan lengkap. Tanpa peringatan, kapal Habib dibombardir meriam. Namun, tak satu pun yang mengenai kapal.


Lolos dari kejaran kapal Belanda, kapal Habib ditabrak ombak besar. Semua perlengkapan di kapal hanyut bersama gelombang. Yang tersisa hanya alat penanak nasi dan beberapa liter beras yang berserakan.






BACA JUGA:
 Peristiwa 15 September: Wafatnya Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa&amp;nbsp; &amp;nbsp;










Selanjutnya, ombak lebih besar datang menghantam lebih keras sehingga kapal Habib terbalik. Dua ulama itu terseret ombak. Habib Hasan ditemukan warga dalam keadaan sudah meninggal. Sedangkan Habib Ali masih hidup.
Di samping keduanya, terdapat periuk dan sebuah dayung. Setelah Habib Hasan wafat, Habib Ali yang selamat menetap di daerah itu hingga beberapa lama kemudian melanjutkan perjalanan ke Pulau Sumbawa dan menetap selamanya di wilayah tersebut.





Di makam Habib Hasan ditancapkan dayung sebagai nisan yang lama kelamaan di sekitarnya tumbuh berkembang pohon Tanjung.



Sementara periuk yang tadinya berada di sisi makam terus bergeser ke tengah laut. Konon menurut warga, setiap 3-4 tahun periuk itu muncul di lautan dengan ukuran makin membesar.






BACA JUGA:
Habib Luthfi Minta Masyarakat Tak Terbelah karena Putusan MK: Ini Bukan Cuma soal Mas Gibran













Dari peristiwa itulah nama Tanjung Priok mulai dilekatkan di kawasan utara Jakarta ini. Singkat cerita, Belanda ingin membangun pelabuhan peti kemas di Tanjung Priok.





Belanda berencana memindahkan makam Mbah Priok yang awalnya berada di Pelabuhan Tanjung Priok ke wilayah pelabuhan peti kemas Koja Utara. Namun, rencana itu gagal lantaran ada makam keramat di sana.













</content:encoded></item></channel></rss>
