<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ketika Anak Buah Berani Kritik Raja Majapahit Hayam Wuruk</title><description>Raja Majapahit Hayam Wuruk pernah dikritik anak buahnya yang merupakan pejabat agama Buddha di Kerajaan Majapahit</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/05/337/2914616/ketika-anak-buah-berani-kritik-raja-majapahit-hayam-wuruk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/11/05/337/2914616/ketika-anak-buah-berani-kritik-raja-majapahit-hayam-wuruk"/><item><title>Ketika Anak Buah Berani Kritik Raja Majapahit Hayam Wuruk</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/05/337/2914616/ketika-anak-buah-berani-kritik-raja-majapahit-hayam-wuruk</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/11/05/337/2914616/ketika-anak-buah-berani-kritik-raja-majapahit-hayam-wuruk</guid><pubDate>Minggu 05 November 2023 07:15 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/05/337/2914616/ketika-anak-buah-berani-kritik-raja-majapahit-hayam-wuruk-GJG6cjEmCT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Raja Hayam Wuruk (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/05/337/2914616/ketika-anak-buah-berani-kritik-raja-majapahit-hayam-wuruk-GJG6cjEmCT.jpg</image><title>Raja Hayam Wuruk (Foto: Istimewa)</title></images><description>KRITIKAN pedas pernah diterima oleh Raja Majapahit Hayam Wuruk dari anak buahnya yang merupakan pejabat agama Buddha di Kerajaan Majapahit Mpu Prapanca, yang juga dikenal sebagai pujangga.

Saat itu memang sosok Hayam Wuruk memerintah sebagai raja merupakan penganut Siwa. Hal ini disebut membuatnya kerap bertolakbelakang atau mendiskriminasi Buddha, kendati telah memprogramkan tiga keyakinan kepercayaan, yang disebut tripaksa.

Tak ayal, pendeta Buddha yang merupakan kepala pembesar urusan atau pejabat penting urusan Buddha Majapahit, bersurat pada Hayam Wuruk. Pendeta Buddha dibuat haru dan miris melihat kondisi bangunan bernuansa agama Buddha yang berbeda jauh kondisinya dengan Siwa.


BACA JUGA:
Suasana Massa Aksi Bela Palestina di Monas, Bersila dan Lantunkan Salawat Asyghil


Tak pelak ada sedikit rasa iri yang diungkapkan pendeta bernama Prapanca ini, sebagaimana dikisahkan pada buku &quot;Menuju Puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit&quot;, karya Prof. Slamet Muljana. Kemudian ia menulis surat dalam bentuk pujasastra kepada sang raja.

Konon isi permintaan ini hanya orang yang mempunyai bakat kepujanggaan besar yang dapat menguraikan maksudnya. Intinya isi surat tersebut berisi rasa iri hati Prapanca melihat pemeliharaan candi makam Siwa Kagenengan dan candi Buddha di sebelah selatan tempat tersebut.


BACA JUGA:
Aksi Bela Palestina Dihadiri Menag Gus Yaqut hingga Menlu Retno Marsudi


Digambarkan dalam bangunan Buddha tersebut terdapat sebuah makam terbengkalai sunyi, tembok dan pintunya bekas zaman kebuddhaan masih berdiri. Di dalamnya ada lantai, tetapi kakinya sebelah barat telah hilang, tinggal yang sebelah timur, hanya sanggar dan pemujaan yang masih utuh. Hal ini tentu bertolakbelakang dan menimbulkan pilih kasih di antara agama yang diakui saat itu.

Prapanca juga menyinggung hilangnya arca Aksobya dari candi Siwa - Buddha yang didirikan oleh Kertanegara. Pada candi itu terdapat dua arca, yakni arca Siwa dan paduka yang senang berziarah ke tempat suci. Dimana Prapanca yang merupakan pemuka agama Buddha, justru menyembah arca Siwa dengan khidmat.Ia mengadu ke Hayam Wuruk atas hilangnya arca Aksobya yang diduga dicuri oleh orang lain. Namun secara tersurat, Prapanca tak mau menuduh demikian, ia memilih untuk mengajukan protes secara halus mengenai hilangnya arca Aksobya tersebut.

Kebetulan sang raja merupakan penganut agama Siwa, saat itu pun agama Siwa dijadikan agama resmi negara. Rajanya juga memeluk agama Siwa dan berulang kali disebut Girinata. Sementara agama Buddha agak dikesampingkan.

Hilangnya arca Aksobya adalah suatu bukti adanya perasaan tidak senang dari pihak pemeluk agama Siwa kepada agama Buddha. Konon ada persaingan antara agama Buddha dan agama Siwa dalam Kerajaan Majapahit kendati Hayam Wuruk mempunyai program tripaksa.</description><content:encoded>KRITIKAN pedas pernah diterima oleh Raja Majapahit Hayam Wuruk dari anak buahnya yang merupakan pejabat agama Buddha di Kerajaan Majapahit Mpu Prapanca, yang juga dikenal sebagai pujangga.

Saat itu memang sosok Hayam Wuruk memerintah sebagai raja merupakan penganut Siwa. Hal ini disebut membuatnya kerap bertolakbelakang atau mendiskriminasi Buddha, kendati telah memprogramkan tiga keyakinan kepercayaan, yang disebut tripaksa.

Tak ayal, pendeta Buddha yang merupakan kepala pembesar urusan atau pejabat penting urusan Buddha Majapahit, bersurat pada Hayam Wuruk. Pendeta Buddha dibuat haru dan miris melihat kondisi bangunan bernuansa agama Buddha yang berbeda jauh kondisinya dengan Siwa.


BACA JUGA:
Suasana Massa Aksi Bela Palestina di Monas, Bersila dan Lantunkan Salawat Asyghil


Tak pelak ada sedikit rasa iri yang diungkapkan pendeta bernama Prapanca ini, sebagaimana dikisahkan pada buku &quot;Menuju Puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit&quot;, karya Prof. Slamet Muljana. Kemudian ia menulis surat dalam bentuk pujasastra kepada sang raja.

Konon isi permintaan ini hanya orang yang mempunyai bakat kepujanggaan besar yang dapat menguraikan maksudnya. Intinya isi surat tersebut berisi rasa iri hati Prapanca melihat pemeliharaan candi makam Siwa Kagenengan dan candi Buddha di sebelah selatan tempat tersebut.


BACA JUGA:
Aksi Bela Palestina Dihadiri Menag Gus Yaqut hingga Menlu Retno Marsudi


Digambarkan dalam bangunan Buddha tersebut terdapat sebuah makam terbengkalai sunyi, tembok dan pintunya bekas zaman kebuddhaan masih berdiri. Di dalamnya ada lantai, tetapi kakinya sebelah barat telah hilang, tinggal yang sebelah timur, hanya sanggar dan pemujaan yang masih utuh. Hal ini tentu bertolakbelakang dan menimbulkan pilih kasih di antara agama yang diakui saat itu.

Prapanca juga menyinggung hilangnya arca Aksobya dari candi Siwa - Buddha yang didirikan oleh Kertanegara. Pada candi itu terdapat dua arca, yakni arca Siwa dan paduka yang senang berziarah ke tempat suci. Dimana Prapanca yang merupakan pemuka agama Buddha, justru menyembah arca Siwa dengan khidmat.Ia mengadu ke Hayam Wuruk atas hilangnya arca Aksobya yang diduga dicuri oleh orang lain. Namun secara tersurat, Prapanca tak mau menuduh demikian, ia memilih untuk mengajukan protes secara halus mengenai hilangnya arca Aksobya tersebut.

Kebetulan sang raja merupakan penganut agama Siwa, saat itu pun agama Siwa dijadikan agama resmi negara. Rajanya juga memeluk agama Siwa dan berulang kali disebut Girinata. Sementara agama Buddha agak dikesampingkan.

Hilangnya arca Aksobya adalah suatu bukti adanya perasaan tidak senang dari pihak pemeluk agama Siwa kepada agama Buddha. Konon ada persaingan antara agama Buddha dan agama Siwa dalam Kerajaan Majapahit kendati Hayam Wuruk mempunyai program tripaksa.</content:encoded></item></channel></rss>
