<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Serangan Balasan Kerajaan Sriwijaya Hancurkan Mataram, Raja Dharmawangsa Mati Terbunuh</title><description>Kerajaan itu dikisahkan merupakan salah satu sekutu Kerajaan Sriwijaya di Pulau Jawa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/06/337/2914909/serangan-balasan-kerajaan-sriwijaya-hancurkan-mataram-raja-dharmawangsa-mati-terbunuh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/11/06/337/2914909/serangan-balasan-kerajaan-sriwijaya-hancurkan-mataram-raja-dharmawangsa-mati-terbunuh"/><item><title>   Serangan Balasan Kerajaan Sriwijaya Hancurkan Mataram, Raja Dharmawangsa Mati Terbunuh</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/06/337/2914909/serangan-balasan-kerajaan-sriwijaya-hancurkan-mataram-raja-dharmawangsa-mati-terbunuh</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/11/06/337/2914909/serangan-balasan-kerajaan-sriwijaya-hancurkan-mataram-raja-dharmawangsa-mati-terbunuh</guid><pubDate>Senin 06 November 2023 07:00 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhrizal Fakhri </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/05/337/2914909/serangan-balasan-kerajaan-sriwijaya-hancurkan-mataram-raja-dharmawangsa-mati-terbunuh-2KKaLuZpmu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dok Istimewa/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/05/337/2914909/serangan-balasan-kerajaan-sriwijaya-hancurkan-mataram-raja-dharmawangsa-mati-terbunuh-2KKaLuZpmu.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dok Istimewa/Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8wNS82LzE3MzI1NC81L3g4cGQ1dnM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Serangan balasan Kerajaan Sriwijaya ke Mataram Kuno cukup berhasil dan melumpuhkan Kerajaan Mataram hingga mengakibatkan sang rajan, Dharmawangsa mati terbunuh bersama para pembesar kerajaan lainnya.
Serangan Sriwijaya di bawah kendali Raja Sri Cudamani Warmadewa ini tersusun rapi, juga tak lepas dari peran Raja Wurawari, yang merupakan raja dari Kerajaan Lwaram, yang kini berada di Blora, Jawa Tengah.
Kerajaan itu dikisahkan merupakan salah satu sekutu Kerajaan Sriwijaya di Pulau Jawa.

BACA JUGA:
Masakan Kurang Matang, Nata Harus Akhiri Perjalanan di Galeri MasterChef Indonesia Season 11&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Saat itu sang Raja Lwaram mendengar adanya pesta pernikahan sang anak raja Mataram Dharmawangsa di Istana Medang. Saat itulah Raja Lwaram ini menawarkan bantuan ke Kerajaan Sriwijaya untuk melakukan serangan balasan di kala Mataram tengah berpesta.

BACA JUGA:
Menjaga Warisan Nenek Moyang dengan Biosolar di Laut Jawa

Sebagaimana dikutip dari buku &quot;Sandyakala di Timur Jawa 1042 - 1527 M&quot; tulisan Prasetya Ramadhan, dikisahkan serangan ini menjadi balasan atas serangan yang dahulu pernah dilakukan ke Sriwijaya oleh Raja Medang. Raja Sriwijaya Sri Cudamani Warmadewa kemudian menyusun strategi cerdik mengatur serangan ke istana Medang.
Ia kemudian mengambil jalan lain, dengan menjalin persekutuan dengan Raja Wurawari dari Kerajaan Lwaram. Langkah itu dilakukan karena Sriwijaya menyadari pasti akan kalah jika berperang sendirian. Dengan persekutuan itu, maka dapat menghimpun kekuatan lebih besar.Penyerangan balasan terhadap Kerajaan Medang Mataram menuai keberhasilan. Bahkan Kerajaan Mataram era Medang mendapat malapetaka yang besar. Istananya habis dibakar oleh gabungan pasukan lawan Sriwijaya dan Lwaram.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ribuan Santri Ponpes Ar-Rahman Palembang Antusias Sambut Ganjar

Sementara para selir dan perempuan cantik di istana Medang dibawa lari ke Sriwijaya. Sebagian ada yang dibawa ke Kerajaan Lwaram untuk dihadiahkan kepada Raja Wurawari. Dengan demikian, lenyaplah pusat pemerintahan Kerajaan Medang, maka para raja yang semula tunduk kepada Raja Dharmawangsa berani memerdekakan diri.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Dendy Sulistyawan Tak Gentar Bersaing dengan Calon Striker Naturalisasi Timnas Indonesia

Mereka lebih senang berdiri membangun kerajaan sendiri dan pada terikat dengan kerajaan lain. Maka munculah kini sejumlah kerajaan kecil di daerah-daerah dekat ibu Kerajaan Medang, serta bekas wilayah kekuasaan Kerajaan Medang.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8wNS82LzE3MzI1NC81L3g4cGQ1dnM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Serangan balasan Kerajaan Sriwijaya ke Mataram Kuno cukup berhasil dan melumpuhkan Kerajaan Mataram hingga mengakibatkan sang rajan, Dharmawangsa mati terbunuh bersama para pembesar kerajaan lainnya.
Serangan Sriwijaya di bawah kendali Raja Sri Cudamani Warmadewa ini tersusun rapi, juga tak lepas dari peran Raja Wurawari, yang merupakan raja dari Kerajaan Lwaram, yang kini berada di Blora, Jawa Tengah.
Kerajaan itu dikisahkan merupakan salah satu sekutu Kerajaan Sriwijaya di Pulau Jawa.

BACA JUGA:
Masakan Kurang Matang, Nata Harus Akhiri Perjalanan di Galeri MasterChef Indonesia Season 11&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Saat itu sang Raja Lwaram mendengar adanya pesta pernikahan sang anak raja Mataram Dharmawangsa di Istana Medang. Saat itulah Raja Lwaram ini menawarkan bantuan ke Kerajaan Sriwijaya untuk melakukan serangan balasan di kala Mataram tengah berpesta.

BACA JUGA:
Menjaga Warisan Nenek Moyang dengan Biosolar di Laut Jawa

Sebagaimana dikutip dari buku &quot;Sandyakala di Timur Jawa 1042 - 1527 M&quot; tulisan Prasetya Ramadhan, dikisahkan serangan ini menjadi balasan atas serangan yang dahulu pernah dilakukan ke Sriwijaya oleh Raja Medang. Raja Sriwijaya Sri Cudamani Warmadewa kemudian menyusun strategi cerdik mengatur serangan ke istana Medang.
Ia kemudian mengambil jalan lain, dengan menjalin persekutuan dengan Raja Wurawari dari Kerajaan Lwaram. Langkah itu dilakukan karena Sriwijaya menyadari pasti akan kalah jika berperang sendirian. Dengan persekutuan itu, maka dapat menghimpun kekuatan lebih besar.Penyerangan balasan terhadap Kerajaan Medang Mataram menuai keberhasilan. Bahkan Kerajaan Mataram era Medang mendapat malapetaka yang besar. Istananya habis dibakar oleh gabungan pasukan lawan Sriwijaya dan Lwaram.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ribuan Santri Ponpes Ar-Rahman Palembang Antusias Sambut Ganjar

Sementara para selir dan perempuan cantik di istana Medang dibawa lari ke Sriwijaya. Sebagian ada yang dibawa ke Kerajaan Lwaram untuk dihadiahkan kepada Raja Wurawari. Dengan demikian, lenyaplah pusat pemerintahan Kerajaan Medang, maka para raja yang semula tunduk kepada Raja Dharmawangsa berani memerdekakan diri.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Dendy Sulistyawan Tak Gentar Bersaing dengan Calon Striker Naturalisasi Timnas Indonesia

Mereka lebih senang berdiri membangun kerajaan sendiri dan pada terikat dengan kerajaan lain. Maka munculah kini sejumlah kerajaan kecil di daerah-daerah dekat ibu Kerajaan Medang, serta bekas wilayah kekuasaan Kerajaan Medang.</content:encoded></item></channel></rss>
