<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Kolonel Sentot, Perwira Kodam Siliwangi yang Tak Mempan Ditembak Pemberontak DI/TII</title><description>Kaswinah mengisahkan bahwa dia sudah ikut MA Sentot di Pemuda Pelopor sejak usia sekitar 18 tahun.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/09/337/2916754/kisah-kolonel-sentot-perwira-kodam-siliwangi-yang-tak-mempan-ditembak-pemberontak-di-tii</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/11/09/337/2916754/kisah-kolonel-sentot-perwira-kodam-siliwangi-yang-tak-mempan-ditembak-pemberontak-di-tii"/><item><title>Kisah Kolonel Sentot, Perwira Kodam Siliwangi yang Tak Mempan Ditembak Pemberontak DI/TII</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/09/337/2916754/kisah-kolonel-sentot-perwira-kodam-siliwangi-yang-tak-mempan-ditembak-pemberontak-di-tii</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/11/09/337/2916754/kisah-kolonel-sentot-perwira-kodam-siliwangi-yang-tak-mempan-ditembak-pemberontak-di-tii</guid><pubDate>Kamis 09 November 2023 06:13 WIB</pubDate><dc:creator>Nanda Aria</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/08/337/2916754/kisah-kolonel-sentot-perwira-kodam-siliwangi-yang-tak-mempan-ditembak-pemberontak-di-tii-m8BVZisprT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kolonel Sentot/Foto: Istimewa </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/08/337/2916754/kisah-kolonel-sentot-perwira-kodam-siliwangi-yang-tak-mempan-ditembak-pemberontak-di-tii-m8BVZisprT.jpg</image><title>Kolonel Sentot/Foto: Istimewa </title></images><description>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8wNy8xLzE3MzM0Mi81L3g4cGY2eXo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Sosok MA Sentot memiliki kisah yang menarik. Perwira Divisi Siliwangi (kini Kodam Siliwangi) ini pernah ditembak oleh pemberontak Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), namun tak mempan.

Peristiwa itu dikisahkan oleh Prada (Purn) Kaswinah. Kaswinah mengisahkan bahwa dia sudah ikut MA Sentot di Pemuda Pelopor sejak usia sekitar 18 tahun.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Alasan Palestina Mau Menampung Orang Yahudi yang Terusir dari Jerman dan Polandia Usai Perang Dunia I

Tokoh LVRI Kabupaten Indramayu itu juga terus ikut pemimpin &amp;ldquo;Pasukan Setan&amp;rdquo; Batalyon A Divisi IV Siliwangi hingga diberhentikan pada 1949.

Salah satu palagan pertempuran yang paling diingat Kaswinah adalah ketika Pasukan Setan bertempur dengan DI/TII pada 1949.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Afrika Selatan dan Chad Tarik Dubes dari Israel untuk Konsultasi Soal Perang Hamas-Israel

Dalam pertempuran dengan gerombolan DI, Kaswinah melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa komandan legendarisnya itu ternyata kebal peluru. Tidak hanya kebal ditembak jarak jauh, tapi juga jarak dekat.

&quot;Kalau perang, Pak Sentot di tengah-tengah. Kasih arahan maju (sisi) kanan, maju (sisi) kiri udah kayak main (sepak)bola saja. Kalau (MA Sentot) kena tembak enggak apa-apa. Kalau diberondong (senapan mesin ringan) Bren, malah pada jatuh pelurunya,&amp;rdquo; kenang Kaswinah saat berbincang dengan Okezone di medio 2020.

&amp;ldquo;Sementara kita anak buah yang lain tiarap, dia mah berdiri terus. Perintah maju sini, maju sana, kayak orang ngangon bebek. Boro-boro ditembak dari jauh, ditembak dekat dari jendela pakai Bren sama DI aja enggak apa-apa. Pelurunya pada ngampar di bawah dan cuma diketawain aja sama Pak Sentot,&amp;rdquo; tuturnya.







Setelah pengakuan kedaulatan Belanda terhadap RI pada 27 Desember 1949, Kaswinah diberhentikan. Bukan karena indisipliner atau dipecat tidak hormat, tapi Kaswinah diberhentikan oleh Sentot agar tetap bisa melindungi keluarganya di kampung.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Rakernas BKM, Jokowi Harap Rumah Ibadah Dapat Dikelola Profesional dan Bermaslahat bagi Umat


Tahun 1949 ketika sudah dianggap aman (tidak lagi perang dengan Belanda), saya dibilangin untuk tidak usah ikut tentara lagi. Dibilangin: &amp;lsquo;Kamu temenin bapak kamu jadi kepala desa&amp;rsquo;. Terus dikasih surat pemberhentian. Teman-teman yang lain dan masih pengin jadi tentara, dipindah ke Banten,&amp;rdquo; tandas Kaswinah.



MA. Sentot juga menolak diperlakukan istimewa saat masa tuanya. Pejuang sekaligus pahlawan Indramayu ini memilih hidup bersama rakyat di daerahnya. Saat wafat di Rumah Sakit Pertamina Cirebon pada 6 Oktober 2001, ia dimakamkan di TMP Cikutra, Kota Bandung, Jawa Barat.





</description><content:encoded>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8wNy8xLzE3MzM0Mi81L3g4cGY2eXo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Sosok MA Sentot memiliki kisah yang menarik. Perwira Divisi Siliwangi (kini Kodam Siliwangi) ini pernah ditembak oleh pemberontak Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), namun tak mempan.

Peristiwa itu dikisahkan oleh Prada (Purn) Kaswinah. Kaswinah mengisahkan bahwa dia sudah ikut MA Sentot di Pemuda Pelopor sejak usia sekitar 18 tahun.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Alasan Palestina Mau Menampung Orang Yahudi yang Terusir dari Jerman dan Polandia Usai Perang Dunia I

Tokoh LVRI Kabupaten Indramayu itu juga terus ikut pemimpin &amp;ldquo;Pasukan Setan&amp;rdquo; Batalyon A Divisi IV Siliwangi hingga diberhentikan pada 1949.

Salah satu palagan pertempuran yang paling diingat Kaswinah adalah ketika Pasukan Setan bertempur dengan DI/TII pada 1949.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Afrika Selatan dan Chad Tarik Dubes dari Israel untuk Konsultasi Soal Perang Hamas-Israel

Dalam pertempuran dengan gerombolan DI, Kaswinah melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa komandan legendarisnya itu ternyata kebal peluru. Tidak hanya kebal ditembak jarak jauh, tapi juga jarak dekat.

&quot;Kalau perang, Pak Sentot di tengah-tengah. Kasih arahan maju (sisi) kanan, maju (sisi) kiri udah kayak main (sepak)bola saja. Kalau (MA Sentot) kena tembak enggak apa-apa. Kalau diberondong (senapan mesin ringan) Bren, malah pada jatuh pelurunya,&amp;rdquo; kenang Kaswinah saat berbincang dengan Okezone di medio 2020.

&amp;ldquo;Sementara kita anak buah yang lain tiarap, dia mah berdiri terus. Perintah maju sini, maju sana, kayak orang ngangon bebek. Boro-boro ditembak dari jauh, ditembak dekat dari jendela pakai Bren sama DI aja enggak apa-apa. Pelurunya pada ngampar di bawah dan cuma diketawain aja sama Pak Sentot,&amp;rdquo; tuturnya.







Setelah pengakuan kedaulatan Belanda terhadap RI pada 27 Desember 1949, Kaswinah diberhentikan. Bukan karena indisipliner atau dipecat tidak hormat, tapi Kaswinah diberhentikan oleh Sentot agar tetap bisa melindungi keluarganya di kampung.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Rakernas BKM, Jokowi Harap Rumah Ibadah Dapat Dikelola Profesional dan Bermaslahat bagi Umat


Tahun 1949 ketika sudah dianggap aman (tidak lagi perang dengan Belanda), saya dibilangin untuk tidak usah ikut tentara lagi. Dibilangin: &amp;lsquo;Kamu temenin bapak kamu jadi kepala desa&amp;rsquo;. Terus dikasih surat pemberhentian. Teman-teman yang lain dan masih pengin jadi tentara, dipindah ke Banten,&amp;rdquo; tandas Kaswinah.



MA. Sentot juga menolak diperlakukan istimewa saat masa tuanya. Pejuang sekaligus pahlawan Indramayu ini memilih hidup bersama rakyat di daerahnya. Saat wafat di Rumah Sakit Pertamina Cirebon pada 6 Oktober 2001, ia dimakamkan di TMP Cikutra, Kota Bandung, Jawa Barat.





</content:encoded></item></channel></rss>
