<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Ketika Jenderal Soedirman Naik Pesawat Pembom Dipiloti Eks Penerbang Jepang   </title><description>Pada tanggal 27 April 1946, Jenderal Soedirman dengan ditemani beberapa pejabat militer dan sipil di Malang</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/12/337/2918735/ketika-jenderal-soedirman-naik-pesawat-pembom-dipiloti-eks-penerbang-jepang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/11/12/337/2918735/ketika-jenderal-soedirman-naik-pesawat-pembom-dipiloti-eks-penerbang-jepang"/><item><title> Ketika Jenderal Soedirman Naik Pesawat Pembom Dipiloti Eks Penerbang Jepang   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/12/337/2918735/ketika-jenderal-soedirman-naik-pesawat-pembom-dipiloti-eks-penerbang-jepang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/11/12/337/2918735/ketika-jenderal-soedirman-naik-pesawat-pembom-dipiloti-eks-penerbang-jepang</guid><pubDate>Minggu 12 November 2023 06:01 WIB</pubDate><dc:creator>Awaludin</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/11/337/2918735/ketika-jenderal-soedirman-naik-pesawat-pembom-dipiloti-eks-penerbang-jepang-iOZgePuB41.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Dispenau</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/11/337/2918735/ketika-jenderal-soedirman-naik-pesawat-pembom-dipiloti-eks-penerbang-jepang-iOZgePuB41.jpg</image><title>Foto: Dispenau</title></images><description>

JENDERAL Soedirman menjadi panglima pertama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 12 November 1945 atau tepat 78 tahun silam. Ia pun menghabiskan masa jabatannya sebagai panglima tentara di bawah pimpinan Presiden Soekarno selama lima tahun.

Dikutip dari buku &amp;lsquo;Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H AS Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI&amp;rsquo; karya Haril M Andersen. Pada tanggal 27 April 1946, Jenderal Soedirman dengan ditemani beberapa pejabat militer dan sipil di Malang melakukan inspeksi pemulangan serdadu Jepang, sekaligus beliau mengunjungi Pangkalan Bugis.

Pangkalan ini berada di bawah naungan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Udara Malang pimpinan Lettu Imam Soepeno sebagai ketuanya dan Lettu Hanandjoeddin yang menjabat Komandan Pertahanan Teknik Udara, sekaligus kepala Hanggar I.

BACA JUGA:
Baru Keluar Rumah Sakit, Jenderal Soedirman Pimpin Perang Gerilya Meski Ditandu

Pangkalan ini sering terdengar capaian-capaian positifnya hingga ke telinga Jenderal Soedirman, lantaran tergolong sangat baik dalam merenovasi dan memperbaiki sejumlah alutsista udara peninggalan Jepang.

Soedirman memperhatikan hanggar yang terdapat sederetan pesawat-pesawat Cukiu dan Pesawat Pangeran Diponegoro I dan II. Saat melihatnya, Pak Dirman seketika berkeinginan menjajal salah satu pesawat itu.

Dia pun lalu memilih pesawat Pangeran Diponegoro I. Pesawat yang aslinya merupakan pesawat pembom ringan peninggalan Jepang jenis Shoki Ki-48.

BACA JUGA:
Ketika Perjanjian Roem Royen Ditandatangani Bung Karno, Membuat Tangis Jenderal Soedirman Pecah&amp;nbsp;

Pesawat dengan kecepatan maksimal 510 km/jam itu di masa Perang Pasifik, acap disalahartikan sebagai Pesawat Messerschmitt Me-109 milik Jerman karena miripnya. Ditambah lagi motor pesawatnya berlisensi Daimler DB-601A buatan Jerman

Penamaan Pesawat Pangeran Diponegoro I itu sendiri dicetuskan Lettu Imam Soepeno. Uji terbangnya sendiri setelah mengalami beberapa perbaikan, dilakukan seorang pilot (orang) Jepang yang sudah mengubah namanya jadi Atmo.



Atmo jadi satu dari beberapa pilot Jepang yang memilih bertahan di Indonesia pasca-Perang Dunia II. Mereka bersedia jadi pilot penguji pesawat dengan jaminan perlindungan (dari sekutu) dengan status penerbang Indonesia dari Panglima Divisi VII Surapati Jenderal Mayor Imam Soeja&amp;rsquo;i.



Soedirman bertanya, siapa yang sudah mengujicobakan pesawat tersebut.



&amp;ldquo;Siap Panglima Besar! Penerbang Atmo yang sudah mengujicobanya,&amp;rdquo; jawab Jenderal Mayor Imam Soeja&amp;rsquo;i.



&amp;ldquo;Kalau begitu, saya minta Atmo untuk menerbangkannya lagi. Saya mau coba naik pesawat ini,&amp;rdquo; timpal Jenderal Soedirman.



Saat dipanggil Atmo bersama teknisi Mochammad Usar sebagai pendamping, barulah Jenderal Soedirman tahu bahwa dia akan dipiloti eks penerbang Jepang. Kendati begitu, tak ada niatan Pak Dirman batal terbang dan tetap menaruh percaya pada sang pilot.



Pesawat itu pun take off atau lepas landas dengan lancar. Dari penuturan Atmo dan Usar selepas terbang, disebutkan bahwa Soedirman meminta pesawat berkeliling di atas Kota Banyuwangi, lalu ke langit Bali, setelah itu kembali ke Pangkalan Bugis.



Tidak lama kemudian, pesawat pun landing dengan mulus. Wajah-wajah tegang perwira lainnya yang menunggu di landasan, mencair setelah melihat kepuasan Pak Dirman setelah keluar dari pesawat.</description><content:encoded>

JENDERAL Soedirman menjadi panglima pertama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 12 November 1945 atau tepat 78 tahun silam. Ia pun menghabiskan masa jabatannya sebagai panglima tentara di bawah pimpinan Presiden Soekarno selama lima tahun.

Dikutip dari buku &amp;lsquo;Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H AS Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI&amp;rsquo; karya Haril M Andersen. Pada tanggal 27 April 1946, Jenderal Soedirman dengan ditemani beberapa pejabat militer dan sipil di Malang melakukan inspeksi pemulangan serdadu Jepang, sekaligus beliau mengunjungi Pangkalan Bugis.

Pangkalan ini berada di bawah naungan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Udara Malang pimpinan Lettu Imam Soepeno sebagai ketuanya dan Lettu Hanandjoeddin yang menjabat Komandan Pertahanan Teknik Udara, sekaligus kepala Hanggar I.

BACA JUGA:
Baru Keluar Rumah Sakit, Jenderal Soedirman Pimpin Perang Gerilya Meski Ditandu

Pangkalan ini sering terdengar capaian-capaian positifnya hingga ke telinga Jenderal Soedirman, lantaran tergolong sangat baik dalam merenovasi dan memperbaiki sejumlah alutsista udara peninggalan Jepang.

Soedirman memperhatikan hanggar yang terdapat sederetan pesawat-pesawat Cukiu dan Pesawat Pangeran Diponegoro I dan II. Saat melihatnya, Pak Dirman seketika berkeinginan menjajal salah satu pesawat itu.

Dia pun lalu memilih pesawat Pangeran Diponegoro I. Pesawat yang aslinya merupakan pesawat pembom ringan peninggalan Jepang jenis Shoki Ki-48.

BACA JUGA:
Ketika Perjanjian Roem Royen Ditandatangani Bung Karno, Membuat Tangis Jenderal Soedirman Pecah&amp;nbsp;

Pesawat dengan kecepatan maksimal 510 km/jam itu di masa Perang Pasifik, acap disalahartikan sebagai Pesawat Messerschmitt Me-109 milik Jerman karena miripnya. Ditambah lagi motor pesawatnya berlisensi Daimler DB-601A buatan Jerman

Penamaan Pesawat Pangeran Diponegoro I itu sendiri dicetuskan Lettu Imam Soepeno. Uji terbangnya sendiri setelah mengalami beberapa perbaikan, dilakukan seorang pilot (orang) Jepang yang sudah mengubah namanya jadi Atmo.



Atmo jadi satu dari beberapa pilot Jepang yang memilih bertahan di Indonesia pasca-Perang Dunia II. Mereka bersedia jadi pilot penguji pesawat dengan jaminan perlindungan (dari sekutu) dengan status penerbang Indonesia dari Panglima Divisi VII Surapati Jenderal Mayor Imam Soeja&amp;rsquo;i.



Soedirman bertanya, siapa yang sudah mengujicobakan pesawat tersebut.



&amp;ldquo;Siap Panglima Besar! Penerbang Atmo yang sudah mengujicobanya,&amp;rdquo; jawab Jenderal Mayor Imam Soeja&amp;rsquo;i.



&amp;ldquo;Kalau begitu, saya minta Atmo untuk menerbangkannya lagi. Saya mau coba naik pesawat ini,&amp;rdquo; timpal Jenderal Soedirman.



Saat dipanggil Atmo bersama teknisi Mochammad Usar sebagai pendamping, barulah Jenderal Soedirman tahu bahwa dia akan dipiloti eks penerbang Jepang. Kendati begitu, tak ada niatan Pak Dirman batal terbang dan tetap menaruh percaya pada sang pilot.



Pesawat itu pun take off atau lepas landas dengan lancar. Dari penuturan Atmo dan Usar selepas terbang, disebutkan bahwa Soedirman meminta pesawat berkeliling di atas Kota Banyuwangi, lalu ke langit Bali, setelah itu kembali ke Pangkalan Bugis.



Tidak lama kemudian, pesawat pun landing dengan mulus. Wajah-wajah tegang perwira lainnya yang menunggu di landasan, mencair setelah melihat kepuasan Pak Dirman setelah keluar dari pesawat.</content:encoded></item></channel></rss>
