<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Momen Pangeran Diponegoro Menolak Ritual Adat Jawa Jelang Wafat Ayahnya</title><description>Konon sebelum meninggal dunia itu Sultan Hamengkubuwono III memang tengah sakit panas dingin.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/12/337/2918793/momen-pangeran-diponegoro-menolak-ritual-adat-jawa-jelang-wafat-ayahnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/11/12/337/2918793/momen-pangeran-diponegoro-menolak-ritual-adat-jawa-jelang-wafat-ayahnya"/><item><title>Momen Pangeran Diponegoro Menolak Ritual Adat Jawa Jelang Wafat Ayahnya</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/12/337/2918793/momen-pangeran-diponegoro-menolak-ritual-adat-jawa-jelang-wafat-ayahnya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/11/12/337/2918793/momen-pangeran-diponegoro-menolak-ritual-adat-jawa-jelang-wafat-ayahnya</guid><pubDate>Minggu 12 November 2023 06:30 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/12/337/2918793/momen-pangeran-diponegoro-menolak-ritual-adat-jawa-jelang-wafat-ayahnya-ZJZEvPMTHs.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pangeran Diponegoro (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/12/337/2918793/momen-pangeran-diponegoro-menolak-ritual-adat-jawa-jelang-wafat-ayahnya-ZJZEvPMTHs.jpg</image><title>Pangeran Diponegoro (Foto: Ist)</title></images><description>MALANG - Ayah Pangeran Diponegoro Sultan Hamengkubuwono III meninggal usai berkuasa di Keraton Yogyakarta selama 865 hari pada 3 November 1814. Konon sebelum meninggal dunia itu Sultan Hamengkubuwono III memang tengah sakit panas dingin.&amp;nbsp;
Hal itu berlangsung selama satu bulan sejak Oktober 1814. Konon di akhir masa kekuasaannya, Sultan Hamengkubuwono III tidak pernah menikmati kehidupan yang sehat betul. Apalagi, sejumlah persengkongkolan pada masa akhir kekuasaannya memperburuk kesehatan ayah Diponegoro itu.

BACA JUGA:
Kisah Pangeran Singasari yang Berhasil Ditangkap VOC Belanda Usai Kalah dengan Taktik Nasi Liwet&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Waktu demi waktu, sakit Sultan Yogya itu kian mencapai puncaknya. Peter Carey dalam bukunya &quot;Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro : 1785 - 1855&quot; menggambarkan suasana di sekeliling ranjang sakratul maut itu, ketika tabib meracik obat-obatan dan ulama terus-menerus berzikir.
Menariknya digambarkan bagaimana Pangeran Diponegoro tidak berkenan dengan salah satu ritual yang dilakukan ke tubuh Sultan Hamengkubuwono III sang ayahnya.

BACA JUGA:
 Iming-iming Jabatan, Cara Kolonial Belanda Meredam Kebangkitan Loyalis Pangeran Diponegoro&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Sultan Yogya itu yang sedang mengalami sakratul maut memang konon diberikan sejumlah ritual adat istiadat Jawa. Salah satu ritual yakni menjilati pusar Sultan, yang bertujuan untuk mempermudah keluarnya daya hidup. Diponegoro bergerak maju dan dengan tegas menutup tubuh ayahnya dengan selimut.
Sang pangeran membatalkan di tengah jalan ritual tersebut. Tindakan ini menunjukkan bahwa sekalipun ia penganut mistik Islam- lawa, Pangeran tidak setuju dengan beberapa aspek praktek adat istiadat kebatinan Jawa yang takhayul pada masa itu.

BACA JUGA:
Gempa Berkali-kali Guncang Maluku Tenggara Barat, Terbaru Berkekuatan M4,6

Saat fajar menyingsing tanggal 3 November setelah berkuasa persis 865 hari, Sultan Hamengku Buwono III wafat. Residen Inggris, Kapten Garnham segera memerintahkan tentara Sepoy untuk menjaga segel- segel dan gembok ruang-ruang kerajaan untuk mempersiapkan penguasa baru.
Dalam babadnya, Diponegoro banyak berbicara tentang hal ini, bahwa tak seorang pun di Yogya yang menduga Sultan wafat dalam usia begitu muda.</description><content:encoded>MALANG - Ayah Pangeran Diponegoro Sultan Hamengkubuwono III meninggal usai berkuasa di Keraton Yogyakarta selama 865 hari pada 3 November 1814. Konon sebelum meninggal dunia itu Sultan Hamengkubuwono III memang tengah sakit panas dingin.&amp;nbsp;
Hal itu berlangsung selama satu bulan sejak Oktober 1814. Konon di akhir masa kekuasaannya, Sultan Hamengkubuwono III tidak pernah menikmati kehidupan yang sehat betul. Apalagi, sejumlah persengkongkolan pada masa akhir kekuasaannya memperburuk kesehatan ayah Diponegoro itu.

BACA JUGA:
Kisah Pangeran Singasari yang Berhasil Ditangkap VOC Belanda Usai Kalah dengan Taktik Nasi Liwet&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Waktu demi waktu, sakit Sultan Yogya itu kian mencapai puncaknya. Peter Carey dalam bukunya &quot;Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro : 1785 - 1855&quot; menggambarkan suasana di sekeliling ranjang sakratul maut itu, ketika tabib meracik obat-obatan dan ulama terus-menerus berzikir.
Menariknya digambarkan bagaimana Pangeran Diponegoro tidak berkenan dengan salah satu ritual yang dilakukan ke tubuh Sultan Hamengkubuwono III sang ayahnya.

BACA JUGA:
 Iming-iming Jabatan, Cara Kolonial Belanda Meredam Kebangkitan Loyalis Pangeran Diponegoro&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Sultan Yogya itu yang sedang mengalami sakratul maut memang konon diberikan sejumlah ritual adat istiadat Jawa. Salah satu ritual yakni menjilati pusar Sultan, yang bertujuan untuk mempermudah keluarnya daya hidup. Diponegoro bergerak maju dan dengan tegas menutup tubuh ayahnya dengan selimut.
Sang pangeran membatalkan di tengah jalan ritual tersebut. Tindakan ini menunjukkan bahwa sekalipun ia penganut mistik Islam- lawa, Pangeran tidak setuju dengan beberapa aspek praktek adat istiadat kebatinan Jawa yang takhayul pada masa itu.

BACA JUGA:
Gempa Berkali-kali Guncang Maluku Tenggara Barat, Terbaru Berkekuatan M4,6

Saat fajar menyingsing tanggal 3 November setelah berkuasa persis 865 hari, Sultan Hamengku Buwono III wafat. Residen Inggris, Kapten Garnham segera memerintahkan tentara Sepoy untuk menjaga segel- segel dan gembok ruang-ruang kerajaan untuk mempersiapkan penguasa baru.
Dalam babadnya, Diponegoro banyak berbicara tentang hal ini, bahwa tak seorang pun di Yogya yang menduga Sultan wafat dalam usia begitu muda.</content:encoded></item></channel></rss>
