<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kala DN Aidit Hendak Diekseskusi Mati: Jangan Tergesa-gesa, Saya Mau Pidato Dulu!   </title><description>Ketua Central Comitte Partai Komunis Indonesia (CC-PKI) itu dihukum mati di era Soeharto.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/23/337/2925450/kala-dn-aidit-hendak-diekseskusi-mati-jangan-tergesa-gesa-saya-mau-pidato-dulu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/11/23/337/2925450/kala-dn-aidit-hendak-diekseskusi-mati-jangan-tergesa-gesa-saya-mau-pidato-dulu"/><item><title>Kala DN Aidit Hendak Diekseskusi Mati: Jangan Tergesa-gesa, Saya Mau Pidato Dulu!   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/11/23/337/2925450/kala-dn-aidit-hendak-diekseskusi-mati-jangan-tergesa-gesa-saya-mau-pidato-dulu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/11/23/337/2925450/kala-dn-aidit-hendak-diekseskusi-mati-jangan-tergesa-gesa-saya-mau-pidato-dulu</guid><pubDate>Kamis 23 November 2023 04:06 WIB</pubDate><dc:creator>Qur'anul Hidayat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/22/337/2925450/kala-dn-aidit-hendak-diekseskusi-mati-jangan-tergesa-gesa-saya-mau-pidato-dulu-xsjY6VOYXl.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">DN Aidit. (Foto: Dok Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/22/337/2925450/kala-dn-aidit-hendak-diekseskusi-mati-jangan-tergesa-gesa-saya-mau-pidato-dulu-xsjY6VOYXl.jpeg</image><title>DN Aidit. (Foto: Dok Ist)</title></images><description>JAKARTA&amp;nbsp;&amp;ndash;&amp;nbsp; Dipa Nusantara (DN) Aidit adalah salah satu dalang dari tragedi pembantaian para jenderal 30 September 1965 (30SPKI). Ketua Central Comitte Partai Komunis Indonesia (CC-PKI) itu dihukum mati di era Soeharto.

Mengutip berbagai sumber, DN Aidit&amp;nbsp;sempat melarikan diri ke Yogyakarta setelah kudeta tersebut gagal. Namun dalam aksi kaburnya, Aidit ditangkap oleh pasukan Brigade Infantri IV Kostrad di kampung dekat Stasiun Solo Balapan.

Kabar yang beredar, tokoh PKI itu ditembak mati di dekat sumur tua menggunakan senjata AK-47 di tengah kebun pisang.

BACA JUGA:
Jejak DN Aidit, Gembong PKI yang Dieksekuti Mati

Saat hari penangkapannya itu, Aidit sempat menikmati kopi dan rokok. Bahkan, saat akan dibawa, Aidit sempat meminta membawa serta rokoknya.

&quot;Boleh ya rokok ini saya bawa,&quot; kata Aidit. Lalu, seorang tentara yang menangkapnya menjawab.
&quot;Bawa saja rokok itu. Nanti buat rokokan bersama Gatot Subroto,&quot; katanya menyiratkan bahwa Aidit akan segera menyusul Jenderal Gatot Subroto yang telah meninggal pada tahun 1962.
Setelah penangkapan, Aidit dibawa ke Loji Gandrung. Di sana, seorang tentara berpangkat mayor sempat mencoba mengambil alih penangkapan Aidit. Namun, upaya itu ditolak oleh Komandan Brigade Mayjen Yasir Hadibroto.

&amp;nbsp;Sesuai dengan perintah Jenderal Soeharto, Yasir kemudian memerintahkan anak buahnya, Mayor ST untuk mencari sumur tua tak berair. Di sumur kering itulah kelak hidup Aidit berakhir di hadapan regu tembak.

Saat akan dieksekusi, Aidit sempat mengingatkan para aparat militer bahwa dirinya adalah seorang Menko dalam Kabinet Dwikora.

BACA JUGA:
Pemikiran DN Aidit, Gembong PKI yang Dipengaruhi Mister Gendeng

&quot;Tahu kamu artinya apa seorang Menko? Seorang Wakil Ketua MPR Sementara kemari? Apa ini sumur? Untuk apa?&quot; katanya kepada Mayjen Yasir Hadibroto.

Namun gertakan Aidit kali ini tidak berpengaruh. Pertanyaan&amp;nbsp;DN Aidit&amp;nbsp;itu kemudian dijawab oleh Yasir.&quot;Saya mengerti pak, dan kalau bapak mau tahu sumur ini untuk apa? Ini buat bapak. Bapak tahu bukan kalau Pak Yani juga dimasukkan sumur seperti ini?&quot; kata Mayjen Yasir Hadibroto, kepada Aidit.



Sadar ajal semakin mendekat, Aidit kemudian meminta waktu untuk berpidato.

&quot;Jangan tergesa-gesa, saya mau pidato dulu,&quot; kata Aidit.



Di akhir pidatonya, Aidit lalu berteriak &quot;Hidup PKI!&quot;

Seruan itu menjadi seruan Aidit yang terakhir, sebab sejurus kemudian, peluru langsung menyusup ke balik daging-dagingnya.

</description><content:encoded>JAKARTA&amp;nbsp;&amp;ndash;&amp;nbsp; Dipa Nusantara (DN) Aidit adalah salah satu dalang dari tragedi pembantaian para jenderal 30 September 1965 (30SPKI). Ketua Central Comitte Partai Komunis Indonesia (CC-PKI) itu dihukum mati di era Soeharto.

Mengutip berbagai sumber, DN Aidit&amp;nbsp;sempat melarikan diri ke Yogyakarta setelah kudeta tersebut gagal. Namun dalam aksi kaburnya, Aidit ditangkap oleh pasukan Brigade Infantri IV Kostrad di kampung dekat Stasiun Solo Balapan.

Kabar yang beredar, tokoh PKI itu ditembak mati di dekat sumur tua menggunakan senjata AK-47 di tengah kebun pisang.

BACA JUGA:
Jejak DN Aidit, Gembong PKI yang Dieksekuti Mati

Saat hari penangkapannya itu, Aidit sempat menikmati kopi dan rokok. Bahkan, saat akan dibawa, Aidit sempat meminta membawa serta rokoknya.

&quot;Boleh ya rokok ini saya bawa,&quot; kata Aidit. Lalu, seorang tentara yang menangkapnya menjawab.
&quot;Bawa saja rokok itu. Nanti buat rokokan bersama Gatot Subroto,&quot; katanya menyiratkan bahwa Aidit akan segera menyusul Jenderal Gatot Subroto yang telah meninggal pada tahun 1962.
Setelah penangkapan, Aidit dibawa ke Loji Gandrung. Di sana, seorang tentara berpangkat mayor sempat mencoba mengambil alih penangkapan Aidit. Namun, upaya itu ditolak oleh Komandan Brigade Mayjen Yasir Hadibroto.

&amp;nbsp;Sesuai dengan perintah Jenderal Soeharto, Yasir kemudian memerintahkan anak buahnya, Mayor ST untuk mencari sumur tua tak berair. Di sumur kering itulah kelak hidup Aidit berakhir di hadapan regu tembak.

Saat akan dieksekusi, Aidit sempat mengingatkan para aparat militer bahwa dirinya adalah seorang Menko dalam Kabinet Dwikora.

BACA JUGA:
Pemikiran DN Aidit, Gembong PKI yang Dipengaruhi Mister Gendeng

&quot;Tahu kamu artinya apa seorang Menko? Seorang Wakil Ketua MPR Sementara kemari? Apa ini sumur? Untuk apa?&quot; katanya kepada Mayjen Yasir Hadibroto.

Namun gertakan Aidit kali ini tidak berpengaruh. Pertanyaan&amp;nbsp;DN Aidit&amp;nbsp;itu kemudian dijawab oleh Yasir.&quot;Saya mengerti pak, dan kalau bapak mau tahu sumur ini untuk apa? Ini buat bapak. Bapak tahu bukan kalau Pak Yani juga dimasukkan sumur seperti ini?&quot; kata Mayjen Yasir Hadibroto, kepada Aidit.



Sadar ajal semakin mendekat, Aidit kemudian meminta waktu untuk berpidato.

&quot;Jangan tergesa-gesa, saya mau pidato dulu,&quot; kata Aidit.



Di akhir pidatonya, Aidit lalu berteriak &quot;Hidup PKI!&quot;

Seruan itu menjadi seruan Aidit yang terakhir, sebab sejurus kemudian, peluru langsung menyusup ke balik daging-dagingnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
