<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Presiden Jerman Dibuat Menunggu Hampir 30 Menit di Pintu Pesawat Sebelum Disambut Pejabat Qatar</title><description>Media Jerman mempertanyakan apakan kejadian ini berhubungan dengan komentar Menlu Jerman yang mengkritik Qatar pada Oktober.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/01/18/2930630/presiden-jerman-dibuat-menunggu-hampir-30-menit-di-pintu-pesawat-sebelum-disambut-pejabat-qatar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/12/01/18/2930630/presiden-jerman-dibuat-menunggu-hampir-30-menit-di-pintu-pesawat-sebelum-disambut-pejabat-qatar"/><item><title>Presiden Jerman Dibuat Menunggu Hampir 30 Menit di Pintu Pesawat Sebelum Disambut Pejabat Qatar</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/01/18/2930630/presiden-jerman-dibuat-menunggu-hampir-30-menit-di-pintu-pesawat-sebelum-disambut-pejabat-qatar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/12/01/18/2930630/presiden-jerman-dibuat-menunggu-hampir-30-menit-di-pintu-pesawat-sebelum-disambut-pejabat-qatar</guid><pubDate>Jum'at 01 Desember 2023 10:29 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/01/18/2930630/presiden-jerman-dibuat-menunggu-hampir-30-menit-di-pintu-pesawat-sebelum-disambut-pejabat-qatar-dz4eHutRaD.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/01/18/2930630/presiden-jerman-dibuat-menunggu-hampir-30-menit-di-pintu-pesawat-sebelum-disambut-pejabat-qatar-dz4eHutRaD.JPG</image><title>Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier. (Foto: Reuters)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8yOC8xLzE3NDM2My81L3g4cTE2bXo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
BERLIN - Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier harus menunggu selama hampir 30 menit di pintu keluar penumpang pesawat di Doha dalam cuaca panas terik pada Rabu, (29/11/2023) sebelum Menteri Luar Negeri Qatar Soltan bin Saad Al-Muraikhi akhirnya tiba untuk menerimanya, media Jerman melaporkan.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Kanselir Jerman Kritik Pemukiman Israel di Tepi Barat&amp;nbsp;

Dilaporkan Deutsche Welle (DW), yang mendampingi delegasi Steinmeier, persiapan resmi untuk menyambut kedatangann sang presiden di Qatar tampaknya sudah matang. Karpet merah telah digelar dan jajar kehormatan telah siap, namun tidak ada pejabat yang menyambut presiden Jerman saat dia keluar dari pesawat.
Steinmeier terlihat berdiri, dengan tangan terlipat, di puncak tangga pesawat menunggu sambutan dari pejabat Qatar. Meski tertunda, pertemuan Steinmeier dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani kemudian berjalan sesuai jadwal, demikian dillaporkan DW.
Steinmeier, mantan menteri luar negeri Jerman, berada di Qatar untuk membahas upaya pembebasan sisa sandera Jerman yang ditahan oleh Hamas, menyusul serangan kelompok militan Palestina terhadap Israel pada 7 Oktober.
Beberapa warga negara Jerman termasuk di antara lebih dari 200 sandera yang disandera Hamas selama serangannya, yang menewaskan lebih dari 1.200 orang.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Jalin Kontak dengan Qatar dan Mesir, Hamas Ingin Perpanjang Gencatan Senjata di Gaza&amp;nbsp;

Diwartakan RT, Berlin telah berulang kali menyatakan bahwa mereka mendukung hak Israel untuk membela diri di tengah respons buruk mereka terhadap Gaza, yang telah merenggut lebih dari 16.000 nyawa warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan wilayah tersebut.
Dalam laporannya, DW menyebut bahwa &amp;ldquo;penghinaan yang terlihat pada Rabu&amp;rdquo; membuat beberapa orang bertanya-tanya apakah ini merupakan respons Qatar terhadap pernyataan Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock pada Oktober.
&amp;ldquo;Kami tidak menerima dukungan terhadap teror,&amp;rdquo; kata Baerbock kepada saluran ZDF saat itu, mengatakan bahwa negara-negara seperti Qatar &amp;ldquo;memiliki tanggung jawab khusus untuk mengakhiri terorisme ini.&amp;rdquo;

BACA JUGA:
Bagaimana Qatar Bisa Jadi Mediator Hamas-Israel, Bukan China atau Rusia?

Qatar menjadi tuan rumah kantor sayap politik Hamas. Kedekatannya dengan kelompok militan Palestina menjadikan Doha sebagai tokoh kunci dalam perundingan antara Israel dan Hamas mengenai pembebasan sandera.
Pada Selasa, (28/11/2023) Direktur CIA William Burns dan kepala dinas intelijen Mossad Israel, David Barnea, mengunjungi Qatar untuk mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani tentang perpanjangan gencatan senjata di Gaza, serta penyanderaan yang sedang berlangsung.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8yOC8xLzE3NDM2My81L3g4cTE2bXo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
BERLIN - Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier harus menunggu selama hampir 30 menit di pintu keluar penumpang pesawat di Doha dalam cuaca panas terik pada Rabu, (29/11/2023) sebelum Menteri Luar Negeri Qatar Soltan bin Saad Al-Muraikhi akhirnya tiba untuk menerimanya, media Jerman melaporkan.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Kanselir Jerman Kritik Pemukiman Israel di Tepi Barat&amp;nbsp;

Dilaporkan Deutsche Welle (DW), yang mendampingi delegasi Steinmeier, persiapan resmi untuk menyambut kedatangann sang presiden di Qatar tampaknya sudah matang. Karpet merah telah digelar dan jajar kehormatan telah siap, namun tidak ada pejabat yang menyambut presiden Jerman saat dia keluar dari pesawat.
Steinmeier terlihat berdiri, dengan tangan terlipat, di puncak tangga pesawat menunggu sambutan dari pejabat Qatar. Meski tertunda, pertemuan Steinmeier dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani kemudian berjalan sesuai jadwal, demikian dillaporkan DW.
Steinmeier, mantan menteri luar negeri Jerman, berada di Qatar untuk membahas upaya pembebasan sisa sandera Jerman yang ditahan oleh Hamas, menyusul serangan kelompok militan Palestina terhadap Israel pada 7 Oktober.
Beberapa warga negara Jerman termasuk di antara lebih dari 200 sandera yang disandera Hamas selama serangannya, yang menewaskan lebih dari 1.200 orang.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Jalin Kontak dengan Qatar dan Mesir, Hamas Ingin Perpanjang Gencatan Senjata di Gaza&amp;nbsp;

Diwartakan RT, Berlin telah berulang kali menyatakan bahwa mereka mendukung hak Israel untuk membela diri di tengah respons buruk mereka terhadap Gaza, yang telah merenggut lebih dari 16.000 nyawa warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan wilayah tersebut.
Dalam laporannya, DW menyebut bahwa &amp;ldquo;penghinaan yang terlihat pada Rabu&amp;rdquo; membuat beberapa orang bertanya-tanya apakah ini merupakan respons Qatar terhadap pernyataan Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock pada Oktober.
&amp;ldquo;Kami tidak menerima dukungan terhadap teror,&amp;rdquo; kata Baerbock kepada saluran ZDF saat itu, mengatakan bahwa negara-negara seperti Qatar &amp;ldquo;memiliki tanggung jawab khusus untuk mengakhiri terorisme ini.&amp;rdquo;

BACA JUGA:
Bagaimana Qatar Bisa Jadi Mediator Hamas-Israel, Bukan China atau Rusia?

Qatar menjadi tuan rumah kantor sayap politik Hamas. Kedekatannya dengan kelompok militan Palestina menjadikan Doha sebagai tokoh kunci dalam perundingan antara Israel dan Hamas mengenai pembebasan sandera.
Pada Selasa, (28/11/2023) Direktur CIA William Burns dan kepala dinas intelijen Mossad Israel, David Barnea, mengunjungi Qatar untuk mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani tentang perpanjangan gencatan senjata di Gaza, serta penyanderaan yang sedang berlangsung.</content:encoded></item></channel></rss>
