<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Soroti Masalah Pendidikan, Alam Ganjar: Perlu Keseimbangan Kognitif dan Afektif</title><description>Alam menilai bahwa sistem pendidikan saat ini masih mengedepankan aspek kognitif yang menurutnya tidak cukup</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/01/609/2931021/soroti-masalah-pendidikan-alam-ganjar-perlu-keseimbangan-kognitif-dan-afektif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/12/01/609/2931021/soroti-masalah-pendidikan-alam-ganjar-perlu-keseimbangan-kognitif-dan-afektif"/><item><title>Soroti Masalah Pendidikan, Alam Ganjar: Perlu Keseimbangan Kognitif dan Afektif</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/01/609/2931021/soroti-masalah-pendidikan-alam-ganjar-perlu-keseimbangan-kognitif-dan-afektif</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/12/01/609/2931021/soroti-masalah-pendidikan-alam-ganjar-perlu-keseimbangan-kognitif-dan-afektif</guid><pubDate>Jum'at 01 Desember 2023 18:45 WIB</pubDate><dc:creator>Widya Michella</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/01/609/2931021/soroti-masalah-pendidikan-alam-ganjar-perlu-keseimbangan-kognitif-dan-afektif-JKqNVBWhy6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Alam Ganjar soroti masalah pendidikan nasional/Foto: Istimewa </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/01/609/2931021/soroti-masalah-pendidikan-alam-ganjar-perlu-keseimbangan-kognitif-dan-afektif-JKqNVBWhy6.jpg</image><title>Alam Ganjar soroti masalah pendidikan nasional/Foto: Istimewa </title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8wMS8xLzE3NDUyNi81L3g4cTRyYXQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

MAKASSAR - Dalam kunjungannya ke Sulawesi Selatan kali ini, Muhammad Zinedine Alam Ganjar diundang dalam kegiatan Bincang Massikola: Gerakan Pemuda Kota Makassar bersama relawan Makassar Siap Sekolah atau disingkat Massikola yang dihadiri oleh sejumlah pakar dan praktisi muda yang membahas soal dunia pendidikan.

Diskusi tersebut berlangsung interaktif, dimana banyak pertanyaan muncul dari ratusan audiens yang mengkuti acara tersebut di Bikin Bikin Creative Hub, Panakkukang, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (1/12/2023).

BACA JUGA:
Temui Milenial Makassar, Alam Ganjar Soroti Ketimpangan Pendidikan di Indonesia

Dalam Bincang Massikola tersebut, putra tunggal pasangan Ganjar Pranowo dan Siti Atikoh tersebut menilai bahwa sistem pendidikan saat ini masih mengedepankan aspek kognitif yang menurutnya tidak cukup. Pentingnya keseimbangan antara kognitif dan afektif.

&quot;Pendidikan saat masih banyak menekankan pada aspek kognitif, padahal, aspek kognitif saja enggak cukup. Perlu didampingi dengan aspek lainnya, seperti aspek afektif. Afektif sendiri berarti minat, sikap, konsep diri. Kedua kombinasi tersebut dibutuhkan dalam menjawab problem dunia nyata,&quot; ujar dia.

BACA JUGA:
Disparitas Pendidikan, Alam Ganjar: Tenaga Pengajar Perlu Disebar Lagi&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Alam pun mengungkapkan mayoritas kerjaan saat ini harus memenuhi persyaratan dasar. Selain itu, anak muda ditunut harus memiliki soft skill dan pengalaman melalui kegiatan positif sepert organisasi.

&quot;Kalau di kelas kita menerima informasi yang sama dengan teman lainnya, terus apa yang membedakannya? Tentunya soft skill yang membedakan kita dengan orang lain. Maka, penting banget memiliki soft skill di era saat ini,&quot; kata dia.

Disinggung soal jurusan saat menempuh perkuliahan, Alam pun tidak mempersoalkan apapun jurusan yang diambil, yang terpenting, menurut Alam bagaimana mahasiswa tersebut bisa berkontribusi untuk masyarakat setelah menempuh pendidikan.

&quot;Kalau jurusan ga sesuai tidak masalah, yang penting seberapa manfaat kita memberikan dampak dalam lingkungan masyarakat,&quot; kata dia.

Selain itu, soal ketimpangan pendidikan yang terjadi antara desa dan kota di Indonesia, Alam menyebutkan beberapa daerah masih memiliki gap pendidikan yang cukup jauh, hal tersebut menyebabkan pemerataan pertumbuhan sumber daya manusia yang tidak merata.



&quot;Hal tersebut menjadi salah satu masalah besar di Indonesia, karena pendidikan adalah hak asasi manusia, kebutuhan dasar yang berhak didapatkan oleh seluruh masyarakat Indonesia,&quot; ujar Alam.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Bertemu Ganjar, Uskup Agung Kupang Titip soal Pemerataan BBM dan SDM NTT



Oleh sebab itu, Alam bersama Founder Massikola dr Udin Malik berpendapat pentingnya dalam setiap keluarga memperoleh akses pendidikan yang layak sehingga bisa berdampak terhadap kemajuan sdm dan kesejahteraan masyarakat.



&quot;Dengan demikian, bagaimana negara seharusnya bisa menjamin akses pendidikan setiap masyarakat. Misalnya, dalam satu keluarga itu harus ada satu sarjana pertama agar efek dominonya bisa kemana-mana,&quot; kata Alam.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Temui Milenial Makassar, Alam Ganjar Soroti Ketimpangan Pendidikan di Indonesia



Alam pun berpesan untuk senantiasa bermanfaat dalam memberikan dampak positif terhadap masyarakat. &quot;Saat kita punya previllege, maka manfaatkan untuk berdampak untuk orang lain,&quot; pungkasnya.

</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8wMS8xLzE3NDUyNi81L3g4cTRyYXQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

MAKASSAR - Dalam kunjungannya ke Sulawesi Selatan kali ini, Muhammad Zinedine Alam Ganjar diundang dalam kegiatan Bincang Massikola: Gerakan Pemuda Kota Makassar bersama relawan Makassar Siap Sekolah atau disingkat Massikola yang dihadiri oleh sejumlah pakar dan praktisi muda yang membahas soal dunia pendidikan.

Diskusi tersebut berlangsung interaktif, dimana banyak pertanyaan muncul dari ratusan audiens yang mengkuti acara tersebut di Bikin Bikin Creative Hub, Panakkukang, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (1/12/2023).

BACA JUGA:
Temui Milenial Makassar, Alam Ganjar Soroti Ketimpangan Pendidikan di Indonesia

Dalam Bincang Massikola tersebut, putra tunggal pasangan Ganjar Pranowo dan Siti Atikoh tersebut menilai bahwa sistem pendidikan saat ini masih mengedepankan aspek kognitif yang menurutnya tidak cukup. Pentingnya keseimbangan antara kognitif dan afektif.

&quot;Pendidikan saat masih banyak menekankan pada aspek kognitif, padahal, aspek kognitif saja enggak cukup. Perlu didampingi dengan aspek lainnya, seperti aspek afektif. Afektif sendiri berarti minat, sikap, konsep diri. Kedua kombinasi tersebut dibutuhkan dalam menjawab problem dunia nyata,&quot; ujar dia.

BACA JUGA:
Disparitas Pendidikan, Alam Ganjar: Tenaga Pengajar Perlu Disebar Lagi&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Alam pun mengungkapkan mayoritas kerjaan saat ini harus memenuhi persyaratan dasar. Selain itu, anak muda ditunut harus memiliki soft skill dan pengalaman melalui kegiatan positif sepert organisasi.

&quot;Kalau di kelas kita menerima informasi yang sama dengan teman lainnya, terus apa yang membedakannya? Tentunya soft skill yang membedakan kita dengan orang lain. Maka, penting banget memiliki soft skill di era saat ini,&quot; kata dia.

Disinggung soal jurusan saat menempuh perkuliahan, Alam pun tidak mempersoalkan apapun jurusan yang diambil, yang terpenting, menurut Alam bagaimana mahasiswa tersebut bisa berkontribusi untuk masyarakat setelah menempuh pendidikan.

&quot;Kalau jurusan ga sesuai tidak masalah, yang penting seberapa manfaat kita memberikan dampak dalam lingkungan masyarakat,&quot; kata dia.

Selain itu, soal ketimpangan pendidikan yang terjadi antara desa dan kota di Indonesia, Alam menyebutkan beberapa daerah masih memiliki gap pendidikan yang cukup jauh, hal tersebut menyebabkan pemerataan pertumbuhan sumber daya manusia yang tidak merata.



&quot;Hal tersebut menjadi salah satu masalah besar di Indonesia, karena pendidikan adalah hak asasi manusia, kebutuhan dasar yang berhak didapatkan oleh seluruh masyarakat Indonesia,&quot; ujar Alam.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Bertemu Ganjar, Uskup Agung Kupang Titip soal Pemerataan BBM dan SDM NTT



Oleh sebab itu, Alam bersama Founder Massikola dr Udin Malik berpendapat pentingnya dalam setiap keluarga memperoleh akses pendidikan yang layak sehingga bisa berdampak terhadap kemajuan sdm dan kesejahteraan masyarakat.



&quot;Dengan demikian, bagaimana negara seharusnya bisa menjamin akses pendidikan setiap masyarakat. Misalnya, dalam satu keluarga itu harus ada satu sarjana pertama agar efek dominonya bisa kemana-mana,&quot; kata Alam.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Temui Milenial Makassar, Alam Ganjar Soroti Ketimpangan Pendidikan di Indonesia



Alam pun berpesan untuk senantiasa bermanfaat dalam memberikan dampak positif terhadap masyarakat. &quot;Saat kita punya previllege, maka manfaatkan untuk berdampak untuk orang lain,&quot; pungkasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
