<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>5 Fakta Erupsi Gunung Merapi, Boyolali dan Magelang Hujan Abu</title><description>Gunung Merapi kembali erupsi pada Jumat, 1 Desember 2023, pukul 19.27 WIB.&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/03/337/2931502/5-fakta-erupsi-gunung-merapi-boyolali-dan-magelang-hujan-abu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/12/03/337/2931502/5-fakta-erupsi-gunung-merapi-boyolali-dan-magelang-hujan-abu"/><item><title>5 Fakta Erupsi Gunung Merapi, Boyolali dan Magelang Hujan Abu</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/03/337/2931502/5-fakta-erupsi-gunung-merapi-boyolali-dan-magelang-hujan-abu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/12/03/337/2931502/5-fakta-erupsi-gunung-merapi-boyolali-dan-magelang-hujan-abu</guid><pubDate>Minggu 03 Desember 2023 07:15 WIB</pubDate><dc:creator>Nanda Aria</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/02/337/2931502/5-fakta-erupsi-gunung-merapi-boyolali-dan-magelang-hujan-abu-1huF5WvoYd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gunung Merapi/Foto: Antara </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/02/337/2931502/5-fakta-erupsi-gunung-merapi-boyolali-dan-magelang-hujan-abu-1huF5WvoYd.jpg</image><title>Gunung Merapi/Foto: Antara </title></images><description>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8wMS8xLzE3NDU0MC81L3g4cTR5Ymo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Gunung Merapi kembali erupsi pada Jumat, 1 Desember 2023, pukul 19.27 WIB. Gunung yang terletak di Jawa Tengah ini mengeluarkan awan panas guguran (APG) dari puncaknya dengan jarak luncur mencapai 2.000 meter.

Atas kejadian itu, sejumlah wilayah di Jawa Tengah dihujani guguran abu vulkanik. Beriku fakta-faktanya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ganjar: Pemberantasan Korupsi Jadi Visi Misi Unggulan Kami

1. Kolom abu terbawa angin hingga Boyolali

Berdasarkan rekaman visual dari CCTV Jurang Jero milik BPPTKG-Badan Geologi memperlihatkan kolom abu vulkanik yang tinggi menyusul lava pijar dari kawah puncak Gunung Merapi. Kolom abu tersebut terbawa angin ke arah barat daya-barat-barat laut.

Relawan melaporkan hujan abu vulkanik dengan intensitas ringan terjadi di wilayah Desa Tlogolele, Desa Senden, Desa Suroteleng, Desa Jrakah, dan Desa Klakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Hujan abu vulkanik terjadi sesaat setelah Gunung Merapi melepaskan APG.BACA JUGA:

Model OIC Pakistan Conference 2023 Sukses Digelar, Hasilkan Sejumlah Rekomendasi soal Iklim

2. Desa Klakah diselimuti abu

Kepala Desa Klakah, Marwoto, mengonfirmasi, hampir semua dukuh di desa tersebut terdampak abu vulkanik dengan intensitas ringan, namun situasi masih terkendali dan aman.

&amp;ldquo;Iya benar. Hampir semua dukuh di Desa Klakah terdampak abu vulkanik Gunung Merapi, namun intensitasnya tipis,&amp;rdquo; kata Marwoto melalui sambungan telepon dari siaran pers BNPB, Sabtu (2/12/2023).

&amp;ldquo;Sejauh ini masih aman. Karena memang kalau APG-nya kan ke arah barat daya. Jadi tidak terdampak APG. Klakah hanya terkena abunya saja,&amp;rdquo; imbuh Marwoto.






3. Hujan abu juga terjadi di Magelang



Dampak dari APG Gunung Merapi juga terjadi di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dua desa di Kecamatan Sawangan, yaitu Desa Banyoroto dan Desa Wonolelo, merasakan dampak abu vulkanik, meskipun intensitasnya tipis dan tidak mengganggu aktivitas warga.


&amp;nbsp;BACA JUGA:

Blind Spot, Mobil Mewah Tabrak Truk di Tol dalam Kota, Pengemudi Tewas

BPBD Kabupaten Magelang memberikan respons cepat dengan mendistribusikan masker dan bersiaga di wilayah terdampak.



4. Peningkatan aktvitas vulkanik Gunung Merapi



Fenomena APG Gunung Merapi merupakan bagian dari rangkaian aktivitas vulkanik yang dimulai pada 11 Mei 2018 dan terus meningkat hingga November 2020. Sejak 5 November 2020, Gunung Merapi telah berstatus level III atau 'Siaga'.



BPPTKG memberikan rekomendasi kepada masyarakat agar tidak melakukan kegiatan di daerah potensi bahaya dan mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik serta mewaspadai bahaya lahar, terutama saat hujan di sekitar Gunung Merapi. Status aktivitas Gunung Merapi akan dievaluasi kembali jika terjadi perubahan signifikan dalam aktivitasnya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Blind Spot, Mobil Mewah Tabrak Truk di Tol dalam Kota, Pengemudi Tewas








5. Potensi guguran lava







BPPTKG kemudian merilis potensi bahaya berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.







Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.







Atas dasar itu, BPPTKG memberikan rekomendasi kepada masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. BPPTKG juga meminta masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.







Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.









</description><content:encoded>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8wMS8xLzE3NDU0MC81L3g4cTR5Ymo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Gunung Merapi kembali erupsi pada Jumat, 1 Desember 2023, pukul 19.27 WIB. Gunung yang terletak di Jawa Tengah ini mengeluarkan awan panas guguran (APG) dari puncaknya dengan jarak luncur mencapai 2.000 meter.

Atas kejadian itu, sejumlah wilayah di Jawa Tengah dihujani guguran abu vulkanik. Beriku fakta-faktanya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ganjar: Pemberantasan Korupsi Jadi Visi Misi Unggulan Kami

1. Kolom abu terbawa angin hingga Boyolali

Berdasarkan rekaman visual dari CCTV Jurang Jero milik BPPTKG-Badan Geologi memperlihatkan kolom abu vulkanik yang tinggi menyusul lava pijar dari kawah puncak Gunung Merapi. Kolom abu tersebut terbawa angin ke arah barat daya-barat-barat laut.

Relawan melaporkan hujan abu vulkanik dengan intensitas ringan terjadi di wilayah Desa Tlogolele, Desa Senden, Desa Suroteleng, Desa Jrakah, dan Desa Klakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Hujan abu vulkanik terjadi sesaat setelah Gunung Merapi melepaskan APG.BACA JUGA:

Model OIC Pakistan Conference 2023 Sukses Digelar, Hasilkan Sejumlah Rekomendasi soal Iklim

2. Desa Klakah diselimuti abu

Kepala Desa Klakah, Marwoto, mengonfirmasi, hampir semua dukuh di desa tersebut terdampak abu vulkanik dengan intensitas ringan, namun situasi masih terkendali dan aman.

&amp;ldquo;Iya benar. Hampir semua dukuh di Desa Klakah terdampak abu vulkanik Gunung Merapi, namun intensitasnya tipis,&amp;rdquo; kata Marwoto melalui sambungan telepon dari siaran pers BNPB, Sabtu (2/12/2023).

&amp;ldquo;Sejauh ini masih aman. Karena memang kalau APG-nya kan ke arah barat daya. Jadi tidak terdampak APG. Klakah hanya terkena abunya saja,&amp;rdquo; imbuh Marwoto.






3. Hujan abu juga terjadi di Magelang



Dampak dari APG Gunung Merapi juga terjadi di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dua desa di Kecamatan Sawangan, yaitu Desa Banyoroto dan Desa Wonolelo, merasakan dampak abu vulkanik, meskipun intensitasnya tipis dan tidak mengganggu aktivitas warga.


&amp;nbsp;BACA JUGA:

Blind Spot, Mobil Mewah Tabrak Truk di Tol dalam Kota, Pengemudi Tewas

BPBD Kabupaten Magelang memberikan respons cepat dengan mendistribusikan masker dan bersiaga di wilayah terdampak.



4. Peningkatan aktvitas vulkanik Gunung Merapi



Fenomena APG Gunung Merapi merupakan bagian dari rangkaian aktivitas vulkanik yang dimulai pada 11 Mei 2018 dan terus meningkat hingga November 2020. Sejak 5 November 2020, Gunung Merapi telah berstatus level III atau 'Siaga'.



BPPTKG memberikan rekomendasi kepada masyarakat agar tidak melakukan kegiatan di daerah potensi bahaya dan mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik serta mewaspadai bahaya lahar, terutama saat hujan di sekitar Gunung Merapi. Status aktivitas Gunung Merapi akan dievaluasi kembali jika terjadi perubahan signifikan dalam aktivitasnya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Blind Spot, Mobil Mewah Tabrak Truk di Tol dalam Kota, Pengemudi Tewas








5. Potensi guguran lava







BPPTKG kemudian merilis potensi bahaya berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.







Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.







Atas dasar itu, BPPTKG memberikan rekomendasi kepada masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. BPPTKG juga meminta masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.







Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.









</content:encoded></item></channel></rss>
