<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kepala Intelijen Rusia Peringatkan AS: Konflik Ukraina Bisa Jadi Vietnam Kedua </title><description>Perang Vietnam yang berakhir pada 1975 berakhir dengan kekalahan memalukan bagi AS.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/08/18/2935089/kepala-intelijen-rusia-peringatkan-as-konflik-ukraina-bisa-jadi-vietnam-kedua</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/12/08/18/2935089/kepala-intelijen-rusia-peringatkan-as-konflik-ukraina-bisa-jadi-vietnam-kedua"/><item><title>Kepala Intelijen Rusia Peringatkan AS: Konflik Ukraina Bisa Jadi Vietnam Kedua </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/08/18/2935089/kepala-intelijen-rusia-peringatkan-as-konflik-ukraina-bisa-jadi-vietnam-kedua</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/12/08/18/2935089/kepala-intelijen-rusia-peringatkan-as-konflik-ukraina-bisa-jadi-vietnam-kedua</guid><pubDate>Jum'at 08 Desember 2023 14:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/08/18/2935089/kepala-intelijen-rusia-peringatkan-as-konflik-ukraina-bisa-jadi-vietnam-kedua-9iv5dX7v17.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kepala Badan Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) Sergei Nertshkin. (Foto: Reuters) </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/08/18/2935089/kepala-intelijen-rusia-peringatkan-as-konflik-ukraina-bisa-jadi-vietnam-kedua-9iv5dX7v17.jpg</image><title>Kepala Badan Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) Sergei Nertshkin. (Foto: Reuters) </title></images><description>MOSKOW - Kepala intelijen luar negeri Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan kepada Amerika Serikat (AS) pada Kamis, (7/12/2023) bahwa dukungan Barat terhadap Ukraina akan mengubah konflik tersebut menjadi &quot;Vietnam kedua&quot; yang menghantui Washington selama bertahun-tahun mendatang.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Pasukan Khusus Inggris Beroperasi Secara Rahasia dalam Perang Rusia-Ukraina&amp;nbsp;

Putin mengirim pasukan ke Ukraina awal tahun lalu, memicu perang yang telah menewaskan atau melukai ratusan ribu orang dan menyebabkan konfrontasi terbesar antara Rusia dan Barat dalam enam dekade.
Negara-negara Barat telah memberi Ukraina lebih dari USD246 miliar bantuan dan senjata, namun serangan balasan Ukraina gagal dan Rusia masih menguasai seperlima wilayah Ukraina.
&amp;ldquo;Ukraina akan berubah menjadi 'lubang hitam' yang menyerap lebih banyak sumber daya dan manusia,&amp;rdquo; kata Sergei Naryshkin, kepala Badan Intelijen Luar Negeri (SVR) Rusia, dalam sebuah artikel di jurnal milik SVR, &amp;ldquo;The Intelligence Operative&amp;rdquo;.
&amp;ldquo;Pada akhirnya, AS berisiko menciptakan &amp;lsquo;Vietnam kedua&amp;rsquo; bagi dirinya sendiri, dan setiap pemerintahan baru Amerika harus berusaha menghadapinya,&amp;rdquo; demikian dikatakan dalam laporan tersebut, sebagaimana dilansir Reuters.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Ukraina Ungkap Daftar Permintaan Senjata Baru ke AS, Termasuk Jet Tempur F-18 dan THAAD&amp;nbsp;

Presiden AS Joe Biden telah memperingatkan bahwa konfrontasi langsung NATO-Rusia dapat memicu Perang Dunia Ketiga dan berulang kali mengesampingkan pengiriman tentara Amerika ke Ukraina.
Perang Vietnam sebenarnya adalah konflik Perang Dingin Timur-Barat di mana Amerika Serikat berperang bersama pasukan Vietnam Selatan melawan negara utara yang didukung oleh kekuatan komunis Tiongkok dan Uni Soviet.
Perang tersebut, yang menewaskan beberapa juta orang, berakhir pada 1975 dengan kemenangan bagi Vietnam Utara dan kekalahan memalukan bagi Amerika Serikat, yang telah kehilangan lebih dari 58.000 pejuangnya dan mengobarkan gerakan anti-perang yang kuat di dalam negeri.

BACA JUGA:
Senat AS Gagal Loloskan RUU Bantuan untuk Ukraina dan Israel

Biden memohon kepada Partai Republik pada Rabu, (6/12/2023) untuk memberikan bantuan militer baru untuk Ukraina.
&amp;ldquo;Jika Putin mengambil alih Ukraina, dia tidak akan berhenti di situ,&amp;rdquo; kata Biden, memperkirakan Putin akan terus menyerang sekutu NATO tersebut.
Kemudian, Biden menambahkan, &quot;kita akan mendapatkan sesuatu yang tidak kita cari dan tidak kita miliki saat ini: pasukan Amerika melawan pasukan Rusia&quot;.</description><content:encoded>MOSKOW - Kepala intelijen luar negeri Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan kepada Amerika Serikat (AS) pada Kamis, (7/12/2023) bahwa dukungan Barat terhadap Ukraina akan mengubah konflik tersebut menjadi &quot;Vietnam kedua&quot; yang menghantui Washington selama bertahun-tahun mendatang.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Pasukan Khusus Inggris Beroperasi Secara Rahasia dalam Perang Rusia-Ukraina&amp;nbsp;

Putin mengirim pasukan ke Ukraina awal tahun lalu, memicu perang yang telah menewaskan atau melukai ratusan ribu orang dan menyebabkan konfrontasi terbesar antara Rusia dan Barat dalam enam dekade.
Negara-negara Barat telah memberi Ukraina lebih dari USD246 miliar bantuan dan senjata, namun serangan balasan Ukraina gagal dan Rusia masih menguasai seperlima wilayah Ukraina.
&amp;ldquo;Ukraina akan berubah menjadi 'lubang hitam' yang menyerap lebih banyak sumber daya dan manusia,&amp;rdquo; kata Sergei Naryshkin, kepala Badan Intelijen Luar Negeri (SVR) Rusia, dalam sebuah artikel di jurnal milik SVR, &amp;ldquo;The Intelligence Operative&amp;rdquo;.
&amp;ldquo;Pada akhirnya, AS berisiko menciptakan &amp;lsquo;Vietnam kedua&amp;rsquo; bagi dirinya sendiri, dan setiap pemerintahan baru Amerika harus berusaha menghadapinya,&amp;rdquo; demikian dikatakan dalam laporan tersebut, sebagaimana dilansir Reuters.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Ukraina Ungkap Daftar Permintaan Senjata Baru ke AS, Termasuk Jet Tempur F-18 dan THAAD&amp;nbsp;

Presiden AS Joe Biden telah memperingatkan bahwa konfrontasi langsung NATO-Rusia dapat memicu Perang Dunia Ketiga dan berulang kali mengesampingkan pengiriman tentara Amerika ke Ukraina.
Perang Vietnam sebenarnya adalah konflik Perang Dingin Timur-Barat di mana Amerika Serikat berperang bersama pasukan Vietnam Selatan melawan negara utara yang didukung oleh kekuatan komunis Tiongkok dan Uni Soviet.
Perang tersebut, yang menewaskan beberapa juta orang, berakhir pada 1975 dengan kemenangan bagi Vietnam Utara dan kekalahan memalukan bagi Amerika Serikat, yang telah kehilangan lebih dari 58.000 pejuangnya dan mengobarkan gerakan anti-perang yang kuat di dalam negeri.

BACA JUGA:
Senat AS Gagal Loloskan RUU Bantuan untuk Ukraina dan Israel

Biden memohon kepada Partai Republik pada Rabu, (6/12/2023) untuk memberikan bantuan militer baru untuk Ukraina.
&amp;ldquo;Jika Putin mengambil alih Ukraina, dia tidak akan berhenti di situ,&amp;rdquo; kata Biden, memperkirakan Putin akan terus menyerang sekutu NATO tersebut.
Kemudian, Biden menambahkan, &quot;kita akan mendapatkan sesuatu yang tidak kita cari dan tidak kita miliki saat ini: pasukan Amerika melawan pasukan Rusia&quot;.</content:encoded></item></channel></rss>
