<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Waspada! Gunung Merapi Masih Aktif, Ada Potensi Bahaya Guguran Lava</title><description>Hal ini memiliki potensi menghasilkan guguran lava dan awan panas, khususnya di sektor selatan-barat daya dan sektor tenggara.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/09/337/2935845/waspada-gunung-merapi-masih-aktif-ada-potensi-bahaya-guguran-lava</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/12/09/337/2935845/waspada-gunung-merapi-masih-aktif-ada-potensi-bahaya-guguran-lava"/><item><title>Waspada! Gunung Merapi Masih Aktif, Ada Potensi Bahaya Guguran Lava</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/09/337/2935845/waspada-gunung-merapi-masih-aktif-ada-potensi-bahaya-guguran-lava</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/12/09/337/2935845/waspada-gunung-merapi-masih-aktif-ada-potensi-bahaya-guguran-lava</guid><pubDate>Sabtu 09 Desember 2023 20:34 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/09/337/2935845/waspada-gunung-merapi-masih-aktif-ada-potensi-bahaya-guguran-lava-eef6ZAVxB9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gunung Merapi (Foto: Dok BNPB)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/09/337/2935845/waspada-gunung-merapi-masih-aktif-ada-potensi-bahaya-guguran-lava-eef6ZAVxB9.jpg</image><title>Gunung Merapi (Foto: Dok BNPB)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8wOS8xLzE3NDg4OS81L3g4cWRxbWQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat Gunung Merapi masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi, terutama dalam bentuk erupsi efusif.

Hal ini memiliki potensi menghasilkan guguran lava dan awan panas, khususnya di sektor selatan-barat daya dan sektor tenggara.

BACA JUGA:
Ternyata Ini Perbedaan Gunung Marapi dengan Gunung Merapi yang Sering Dikira Sama


Pada Jumat 8 Desember 2023, Gunung Merapi mengalami Awan Panas Guguran (APG) sekitar pukul 14.46 WIB, yang bersamaan dengan turunnya hujan. Kejadian ini menyebabkan hujan air berwarna kecoklatan di wilayah Desa Krinjing dan Desa Paten, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Wilayah lain yang terkena dampak termasuk Desa Stabelan, Desa Klakah, dan Desa Tlogolele di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.

BACA JUGA:
6 Fakta Pencarian Pendaki di Gunung Marapi Ditutup, Total 23 Orang Ditemukan Tewas




Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, mengatakan, dalam rentang waktu 1-7 Desember 2023, terdapat enam kejadian APG, dengan dua di antaranya mengarah ke selatan (hulu Kali Boyong) dan mencapai jarak luncur maksimal 1.300m, sementara empat lainnya mengarah ke barat daya (hulu Kali Krasak dan Bebeng) dengan jarak luncur maksimal 3.000m.

Selain itu, tercatat 192 kejadian guguran lava ke arah selatan dan barat daya. Suara guguran terdengar sebanyak empat kali dari Pos Kaliurang dan Babadan.

BACA JUGA:
Sandiaga Targetkan Raup Banyak Suara untuk Ganjar-Mahfud di Sumbar


BPPTKG juga mencatat adanya peningkatan aktivitas magmatik dengan tingginya intensitas kegempaan pada pekan pertama Desember 2023.

&quot;Gunung Merapi tercatat mengalami enam kali gempa APG, satu kali gempa Frekuensi Rendah (LF), 1.045 kali gempa guguran (RF), dan 17 kali gempa tektonik (TT),&quot; ujarnya.

Berkaca dari Kejadian Erupsi Gunung Marapi



Dengan kejadian erupsi di Gunung Marapi yang terjadi tiba-tiba dan menewaskan pendaki, BPPTKG menegaskan pentingnya keseriusan dalam upaya mitigasi kebencanaan gunung api. Meskipun teknologi dapat memantau aktivitas vulkanik, tidak ada yang dapat memprediksi erupsi dengan pasti.



Saat ini, status Gunung Merapi berada pada level III Siaga, sementara Gunung Marapi berstatus level II Waspada. Kedua gunung ini memiliki karakteristik vulkanik yang aktif, dan insiden di Gunung Marapi menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak terkait SOP dan mitigasi bencana pada gunung api dengan status tinggi.

BACA JUGA:
Lagu Kanjuruhan Menggebrak Panggung Rakyat Bongkar di GBK




Partisipasi semua pihak, termasuk pemerintah daerah, pengelola wisata, dan masyarakat, dianggap sangat krusial untuk meminimalkan risiko bencana tersebut.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8wOS8xLzE3NDg4OS81L3g4cWRxbWQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat Gunung Merapi masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi, terutama dalam bentuk erupsi efusif.

Hal ini memiliki potensi menghasilkan guguran lava dan awan panas, khususnya di sektor selatan-barat daya dan sektor tenggara.

BACA JUGA:
Ternyata Ini Perbedaan Gunung Marapi dengan Gunung Merapi yang Sering Dikira Sama


Pada Jumat 8 Desember 2023, Gunung Merapi mengalami Awan Panas Guguran (APG) sekitar pukul 14.46 WIB, yang bersamaan dengan turunnya hujan. Kejadian ini menyebabkan hujan air berwarna kecoklatan di wilayah Desa Krinjing dan Desa Paten, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Wilayah lain yang terkena dampak termasuk Desa Stabelan, Desa Klakah, dan Desa Tlogolele di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.

BACA JUGA:
6 Fakta Pencarian Pendaki di Gunung Marapi Ditutup, Total 23 Orang Ditemukan Tewas




Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, mengatakan, dalam rentang waktu 1-7 Desember 2023, terdapat enam kejadian APG, dengan dua di antaranya mengarah ke selatan (hulu Kali Boyong) dan mencapai jarak luncur maksimal 1.300m, sementara empat lainnya mengarah ke barat daya (hulu Kali Krasak dan Bebeng) dengan jarak luncur maksimal 3.000m.

Selain itu, tercatat 192 kejadian guguran lava ke arah selatan dan barat daya. Suara guguran terdengar sebanyak empat kali dari Pos Kaliurang dan Babadan.

BACA JUGA:
Sandiaga Targetkan Raup Banyak Suara untuk Ganjar-Mahfud di Sumbar


BPPTKG juga mencatat adanya peningkatan aktivitas magmatik dengan tingginya intensitas kegempaan pada pekan pertama Desember 2023.

&quot;Gunung Merapi tercatat mengalami enam kali gempa APG, satu kali gempa Frekuensi Rendah (LF), 1.045 kali gempa guguran (RF), dan 17 kali gempa tektonik (TT),&quot; ujarnya.

Berkaca dari Kejadian Erupsi Gunung Marapi



Dengan kejadian erupsi di Gunung Marapi yang terjadi tiba-tiba dan menewaskan pendaki, BPPTKG menegaskan pentingnya keseriusan dalam upaya mitigasi kebencanaan gunung api. Meskipun teknologi dapat memantau aktivitas vulkanik, tidak ada yang dapat memprediksi erupsi dengan pasti.



Saat ini, status Gunung Merapi berada pada level III Siaga, sementara Gunung Marapi berstatus level II Waspada. Kedua gunung ini memiliki karakteristik vulkanik yang aktif, dan insiden di Gunung Marapi menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak terkait SOP dan mitigasi bencana pada gunung api dengan status tinggi.

BACA JUGA:
Lagu Kanjuruhan Menggebrak Panggung Rakyat Bongkar di GBK




Partisipasi semua pihak, termasuk pemerintah daerah, pengelola wisata, dan masyarakat, dianggap sangat krusial untuk meminimalkan risiko bencana tersebut.</content:encoded></item></channel></rss>
