<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sejarah dan Asal Usul Gereja Immanuel Jakarta, Dulunya Tempat Petinggi Hindia Belanda</title><description>Sejarah dan asal-usul Gerjea Immanuel Jakarta, dulunya tempat petinggi Hindia Belanda.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/11/337/2936356/sejarah-dan-asal-usul-gereja-immanuel-jakarta-dulunya-tempat-petinggi-hindia-belanda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/12/11/337/2936356/sejarah-dan-asal-usul-gereja-immanuel-jakarta-dulunya-tempat-petinggi-hindia-belanda"/><item><title>Sejarah dan Asal Usul Gereja Immanuel Jakarta, Dulunya Tempat Petinggi Hindia Belanda</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/11/337/2936356/sejarah-dan-asal-usul-gereja-immanuel-jakarta-dulunya-tempat-petinggi-hindia-belanda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/12/11/337/2936356/sejarah-dan-asal-usul-gereja-immanuel-jakarta-dulunya-tempat-petinggi-hindia-belanda</guid><pubDate>Senin 11 Desember 2023 07:22 WIB</pubDate><dc:creator>Bertold Ananda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/11/337/2936356/sejarah-dan-asal-usul-gereja-immanuel-jakarta-dulunya-tempat-petinggi-hindia-belanda-lkKJgjEwLw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi asal usul gereja Immanuel (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/11/337/2936356/sejarah-dan-asal-usul-gereja-immanuel-jakarta-dulunya-tempat-petinggi-hindia-belanda-lkKJgjEwLw.jpg</image><title>Ilustrasi asal usul gereja Immanuel (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Sejarah dan asal-usul Gereja Immanuel Jakarta, dulunya tempat petinggi Hindia Belanda. Sebab gereja tua berumur 184 tahun ini menyimpan sejarah masa lampau yang panjang.

BACA JUGA:
Pastikan Kesiapan Gelaran Puncak Natal Nasional, Angela Kunjungi Gereja Bethany Nginden

Simak sejarah dan asal-usul Gerjea Immanuel Jakarta, dulunya tempat petinggi Hindia Belanda:
Pada awalnya, Gereja Immanuel Jakarta adalah bangunan yang terletak pada atas dasar kesepakatan antara umat Reformed dan umat Lutheran di Batavia.
Tepat ditahun 1834 bangunan tersebut didiirikkan untuk menghormati Raja Willem I, raja Belanda pada periode 1813-1840.  Lalu setelah bangunan tersebut usai dibuat maka  diberi nama sebagai bangunan Willemskerk.

BACA JUGA:
Serangan Israel Hantam Gereja Ortodoks di Gaza, Tewaskan Orang-Orang yang Berlindung

Saat itu gereja tersebut dibangun hanya untuk dihuni oleh para petinggi kolonial Hindia Belanda. Hal itu dikarenakan bahwa pada masa itu, Kota Batavia (Jakarta) sudah sangat padat dan sumpek sehingga para petinggi Belanda menginginkan  tempat tinggal yang sunyi, tenang dan tidak jauh dari kota Batavia.
Selaiu itu, Gereja Protestan bergaya klasisisme ini bercorak bundar di atas fondasi tiga meter. Bagian depannya menghadap ke Stasiun Gambir. Di bagian ini terlihat jelas serambi persegi empat dengan pilar-pilar paladian yang menopang balok mendatar.

Serambi-serambi di bagian utara dan selatan mengikuti bentuk bundar gereja dengan membentuk dua bundaran, yang mengelilingi ruang ibadah. &quot;Gereja ini memang cantik dan antiknya terlihat dari kubahnya. Sederhana, namun tampak megah,&quot; tutur Martha.
Lewat konstruksi kubah ini, sinar matahari dapat menerangi seluruh ruangan dengan merata. Menara bundar atau lantern yang pendek di atas kubah dihiasi plesteran bunga teratai dengan enam helai daun, simbol Mesir untuk dewi cahaya.
Di dalam gereja ini juga terdapat orgel kuno hasil buatan J. Datz, seorang warga Belanda. &quot;Sekitar tahun 1985, orgel ini dibongkar dan dibersihkan. Sampai sekarang masih berfungsi dengan baik. Indah sekali,&quot; pungkasnya.
Namun seiring berjalannya waktu tempat satu ini perlahan mulai dijadikan tempat ibadah umum umat Kristiani sekaligus menjadi bangunan cagar budaya. Hal itu sudah diresmikan  melalui keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 Tahun 1993 tanggal 29 Maret 1993 dan berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010.

</description><content:encoded>JAKARTA - Sejarah dan asal-usul Gereja Immanuel Jakarta, dulunya tempat petinggi Hindia Belanda. Sebab gereja tua berumur 184 tahun ini menyimpan sejarah masa lampau yang panjang.

BACA JUGA:
Pastikan Kesiapan Gelaran Puncak Natal Nasional, Angela Kunjungi Gereja Bethany Nginden

Simak sejarah dan asal-usul Gerjea Immanuel Jakarta, dulunya tempat petinggi Hindia Belanda:
Pada awalnya, Gereja Immanuel Jakarta adalah bangunan yang terletak pada atas dasar kesepakatan antara umat Reformed dan umat Lutheran di Batavia.
Tepat ditahun 1834 bangunan tersebut didiirikkan untuk menghormati Raja Willem I, raja Belanda pada periode 1813-1840.  Lalu setelah bangunan tersebut usai dibuat maka  diberi nama sebagai bangunan Willemskerk.

BACA JUGA:
Serangan Israel Hantam Gereja Ortodoks di Gaza, Tewaskan Orang-Orang yang Berlindung

Saat itu gereja tersebut dibangun hanya untuk dihuni oleh para petinggi kolonial Hindia Belanda. Hal itu dikarenakan bahwa pada masa itu, Kota Batavia (Jakarta) sudah sangat padat dan sumpek sehingga para petinggi Belanda menginginkan  tempat tinggal yang sunyi, tenang dan tidak jauh dari kota Batavia.
Selaiu itu, Gereja Protestan bergaya klasisisme ini bercorak bundar di atas fondasi tiga meter. Bagian depannya menghadap ke Stasiun Gambir. Di bagian ini terlihat jelas serambi persegi empat dengan pilar-pilar paladian yang menopang balok mendatar.

Serambi-serambi di bagian utara dan selatan mengikuti bentuk bundar gereja dengan membentuk dua bundaran, yang mengelilingi ruang ibadah. &quot;Gereja ini memang cantik dan antiknya terlihat dari kubahnya. Sederhana, namun tampak megah,&quot; tutur Martha.
Lewat konstruksi kubah ini, sinar matahari dapat menerangi seluruh ruangan dengan merata. Menara bundar atau lantern yang pendek di atas kubah dihiasi plesteran bunga teratai dengan enam helai daun, simbol Mesir untuk dewi cahaya.
Di dalam gereja ini juga terdapat orgel kuno hasil buatan J. Datz, seorang warga Belanda. &quot;Sekitar tahun 1985, orgel ini dibongkar dan dibersihkan. Sampai sekarang masih berfungsi dengan baik. Indah sekali,&quot; pungkasnya.
Namun seiring berjalannya waktu tempat satu ini perlahan mulai dijadikan tempat ibadah umum umat Kristiani sekaligus menjadi bangunan cagar budaya. Hal itu sudah diresmikan  melalui keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 Tahun 1993 tanggal 29 Maret 1993 dan berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010.

</content:encoded></item></channel></rss>
