<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Kelam Bali, Ribuan Orang Meninggal akibat Bencana Gunung Tambora hingga Cacar</title><description>Sedikitnya 25.000 nyawa penduduk Bali melayang terimbas erupsi atau letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/15/244/2939267/kisah-kelam-bali-ribuan-orang-meninggal-akibat-bencana-gunung-tambora-hingga-cacar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/12/15/244/2939267/kisah-kelam-bali-ribuan-orang-meninggal-akibat-bencana-gunung-tambora-hingga-cacar"/><item><title>Kisah Kelam Bali, Ribuan Orang Meninggal akibat Bencana Gunung Tambora hingga Cacar</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/15/244/2939267/kisah-kelam-bali-ribuan-orang-meninggal-akibat-bencana-gunung-tambora-hingga-cacar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/12/15/244/2939267/kisah-kelam-bali-ribuan-orang-meninggal-akibat-bencana-gunung-tambora-hingga-cacar</guid><pubDate>Jum'at 15 Desember 2023 12:14 WIB</pubDate><dc:creator>Solichan Arif</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/15/244/2939267/kisah-kelam-bali-ribuan-orang-meninggal-akibat-bencana-gunung-tambora-hingga-cacar-2zREXcE9xJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kisah kelam Bali, ribuan orang meninggal akibat Gunung Tambora meletus hingga penyakit cacar. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/15/244/2939267/kisah-kelam-bali-ribuan-orang-meninggal-akibat-bencana-gunung-tambora-hingga-cacar-2zREXcE9xJ.jpg</image><title>Kisah kelam Bali, ribuan orang meninggal akibat Gunung Tambora meletus hingga penyakit cacar. (Foto: Okezone)</title></images><description>


BALI - Bali dikenal sebagai Pulau Dewata memiliki keindahan alam yang memesona dan sekaligus tersohor di dunia itu ternyata pernah didera bencana alam yang bertubi-tubi.
Pada masa penjajahan kolonial Belanda, yakni selama abad XIX, Bali dihujani peristiwa bencana alam yang tidak henti-henti. Sedikitnya 25.000 nyawa penduduk Bali melayang terimbas erupsi atau letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ganjar Ungkap Baliho Kampanyenya di Copot dari Sumatera Sampai Bali

&amp;ldquo;Dari April sampai Juli 1815 Gunung Tambora di Pulau Tambora meletus, menewaskan lebih banyak orang daripada letusan Krakatau pada tahun 1883 yang lebih terkenal,&amp;rdquo; demikian dikutip dari buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008).
Letusan Tambora mengakibatkan 10 ribu nyawa melayang seketika. Kemudian sebanyak 38.000 orang diperkirakan mati akibat kelaparan yang menyusul letusan tersebut.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ketika Atikoh Ganjar Diminta Kembali Pimpin Pramuka Kwarda Jateng, Begini Reaksinya

Jumlah total korban jiwa akibat erupsi Tambora  di Sumbawa, Lombok dan Bali diperkirakan mencapai 117.000 orang.
Letusan Gunung Tambora juga merusak area pertanian di Bali. Tebal lapisan abu yang mencapai lebih dari 20 cm, mengakibatkan kerusakan parah pada lahan pertanian.
Pada saat yang sama, yakni tahun 1817 Bali dihantam wabah penyakit pes yang merusak pasokan makanan. Wabah pes disusul amukan wabah cacar yang dimulai pada tahun 1828.
Jumlah orang Bali yang tewas tewas dalam wabah cacar pada tahun 1871 mencapai 15.000-18.000 orang.
&amp;ldquo;Antara tahun 1850 dan 1888 muncul 7 kali wabah cacar, 5 kali wabah kolera, 4 kali pes, dan beberapa kali disentri&amp;rdquo;.
Musibah alam tidak berhenti disitu. Penderitaan penduduk Bali seolah dilengkapi dengan guncangan gempa bumi dahsyat pada tahun 1888. Namun perubahan positif terjadi pada beberapa tahun berikutnyaTimbunan abu Gunung Tambora mengubah kesuburan tanah di Bali menjadi lebih baik. Dalam dua dasawarsa, Bali yang di masa kolonial terkenal sebagai daerah pengekspor budak menjadi pengekspor hasil bumi.
Yakni terutama beras, kopi, nila dan daging babi. Pasar ekspor utama Bali pada masa kolonial Belanda itu adalah Singapura yang merupakan daerah jajahan Inggris.
Demikian cerita tentang Pulau Bali yang memiliki catatan sejarah bencana alam yang bertubi-tubi.</description><content:encoded>


BALI - Bali dikenal sebagai Pulau Dewata memiliki keindahan alam yang memesona dan sekaligus tersohor di dunia itu ternyata pernah didera bencana alam yang bertubi-tubi.
Pada masa penjajahan kolonial Belanda, yakni selama abad XIX, Bali dihujani peristiwa bencana alam yang tidak henti-henti. Sedikitnya 25.000 nyawa penduduk Bali melayang terimbas erupsi atau letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ganjar Ungkap Baliho Kampanyenya di Copot dari Sumatera Sampai Bali

&amp;ldquo;Dari April sampai Juli 1815 Gunung Tambora di Pulau Tambora meletus, menewaskan lebih banyak orang daripada letusan Krakatau pada tahun 1883 yang lebih terkenal,&amp;rdquo; demikian dikutip dari buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008).
Letusan Tambora mengakibatkan 10 ribu nyawa melayang seketika. Kemudian sebanyak 38.000 orang diperkirakan mati akibat kelaparan yang menyusul letusan tersebut.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ketika Atikoh Ganjar Diminta Kembali Pimpin Pramuka Kwarda Jateng, Begini Reaksinya

Jumlah total korban jiwa akibat erupsi Tambora  di Sumbawa, Lombok dan Bali diperkirakan mencapai 117.000 orang.
Letusan Gunung Tambora juga merusak area pertanian di Bali. Tebal lapisan abu yang mencapai lebih dari 20 cm, mengakibatkan kerusakan parah pada lahan pertanian.
Pada saat yang sama, yakni tahun 1817 Bali dihantam wabah penyakit pes yang merusak pasokan makanan. Wabah pes disusul amukan wabah cacar yang dimulai pada tahun 1828.
Jumlah orang Bali yang tewas tewas dalam wabah cacar pada tahun 1871 mencapai 15.000-18.000 orang.
&amp;ldquo;Antara tahun 1850 dan 1888 muncul 7 kali wabah cacar, 5 kali wabah kolera, 4 kali pes, dan beberapa kali disentri&amp;rdquo;.
Musibah alam tidak berhenti disitu. Penderitaan penduduk Bali seolah dilengkapi dengan guncangan gempa bumi dahsyat pada tahun 1888. Namun perubahan positif terjadi pada beberapa tahun berikutnyaTimbunan abu Gunung Tambora mengubah kesuburan tanah di Bali menjadi lebih baik. Dalam dua dasawarsa, Bali yang di masa kolonial terkenal sebagai daerah pengekspor budak menjadi pengekspor hasil bumi.
Yakni terutama beras, kopi, nila dan daging babi. Pasar ekspor utama Bali pada masa kolonial Belanda itu adalah Singapura yang merupakan daerah jajahan Inggris.
Demikian cerita tentang Pulau Bali yang memiliki catatan sejarah bencana alam yang bertubi-tubi.</content:encoded></item></channel></rss>
