<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Banyak Disorot, Dubes Iran Sebut Kewajiban Berhijab di Negaranya Sesuai dengan Demokrasi</title><description>Dubes Boroujerdi mengatakan aturan wajib berhijab di Iran diputuskan melalui demokrasi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/16/18/2939971/banyak-disorot-dubes-iran-sebut-kewajiban-berhijab-di-negaranya-sesuai-dengan-demokrasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/12/16/18/2939971/banyak-disorot-dubes-iran-sebut-kewajiban-berhijab-di-negaranya-sesuai-dengan-demokrasi"/><item><title>Banyak Disorot, Dubes Iran Sebut Kewajiban Berhijab di Negaranya Sesuai dengan Demokrasi</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/16/18/2939971/banyak-disorot-dubes-iran-sebut-kewajiban-berhijab-di-negaranya-sesuai-dengan-demokrasi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/12/16/18/2939971/banyak-disorot-dubes-iran-sebut-kewajiban-berhijab-di-negaranya-sesuai-dengan-demokrasi</guid><pubDate>Sabtu 16 Desember 2023 16:03 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/16/18/2939971/banyak-disorot-dubes-iran-sebut-kewajiban-berhijab-di-negaranya-sesuai-dengan-dmeokrasi-EGbcLdZsbn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi. (Foto: Okezone TV)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/16/18/2939971/banyak-disorot-dubes-iran-sebut-kewajiban-berhijab-di-negaranya-sesuai-dengan-dmeokrasi-EGbcLdZsbn.jpg</image><title>Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi. (Foto: Okezone TV)</title></images><description>


JAKARTA &amp;ndash; Peraturan wajib hijab di Iran yang mendapat kritik dari negara-negara Barat telah sesuai dengan nilai-nilai demokrasi, kata Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi. Diplomat Iran itu mengatakan bahwa aturan hijab di negaranya adalah sebuah hal yang diputuskan melalui suara masyarakat.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Iran Tuding AS-Israel Susun Rencana Jahat dengan Menunggangi Kematian Mahsa Amini&amp;nbsp;

&amp;ldquo;Masyarakat Iran telah memberikan suara yang sah, suara yang tegas yaitu 99,2% melalui sebuah peran referendum dan melalui referendum tersebut telah menunjukkan keinginannya untuk menjalankan roda negaranya berdasarkan peraturan Islam dan negaranya didirikan atas peraturan Islam dimana hijab merupakan salah satu dari peraturan Islam yang berlaku,&amp;rdquo; kata Dubes Boroujerdi dalam Special Dialogue Okezone.
Karena inilah, Dubes Boroujerdi mengatakan bahwa pihak-pihak yang menyebut kewajiban berhijab bagi perempuan di Iran ini melanggar nilai-nilai demokrasi tidak memikirkan bahwa proses aturan ini diberlakukan adalah karena demokrasi.
&amp;ldquo;Ketika ada pihak yang menyuarakan masalah hijab dan menyuarakan bahwa perempuan harusnya di Iran tidak berhijab dan apabila berhijab melanggar nilai-nilai demokrasi, mereka tidak memikirkan bahwa demokrasi yang sebenarnya adalah apa yang masyarakat inginkan, dan dalam konteks ini masyarakat telah memberikan suaranya kepada hijab,&amp;rdquo; ujarnya.

BACA JUGA:
Selidiki Kematian Mahsa Amini, Iran Bentuk Tim Investigasi dan Pencari Fakta

Aturan wajib hijab di Iran menjadi sorotan setelah meninggalnya Mahsa Amini, seorang gadis yang ditahan polisi moral Iran karena tidak mengenakan hijab, pada September 2022. Menurut laporan media, Mahsa Amini meninggal setelah menerima penganiayaan oleh pihak berwenang Iran karena tidak mengenakan hijab.Dugaan ini dibantah oleh Teheran, yang mengatakan bahwa tidak ada kekerasan yang diterima Mahsa Amini, dan gadis itu meninggal dunia karena penyakit yang sebelumnya telah dialaminya.
&amp;ldquo;Dalam CCTV yang ada menunjukkan bahwa tidak ada kontak fisik atau pemukulan yang terjadi terhadap beliau (Mahsa Amini). Hasil dari visum oleh pihak kepolisian tidak menunjukkan bahwa adanya pemukulan terhadap almarhumah,&amp;rdquo; terang Dubes Boroujerdi.

BACA JUGA:
Tragedi Kematian Mahsa Amini, Protes Paling Parah di Iran dalam Sejarah, 35 Orang Meninggal

&amp;ldquo;Kesaksian dari pihak keluarga Mahsa Amini, mereka sampaikan bahwa terhadap riwayat operasi sakit lain oleh almarhumah Mahsa Amini dan juga hasil dari pencarian fakta oleh berbagai tim kedokteran yang ahli dan independen memperlihatkan dan melaporkan bahwa tidak ada pukulan yang terjadi terhadap Mahsa Amini,&amp;rdquo; tambahnya.
Kematian Mahsa Amini telah memicu protes dan demonstrasi besar-besaran di Iran yang menjadi sorotan dunia internasional.</description><content:encoded>


JAKARTA &amp;ndash; Peraturan wajib hijab di Iran yang mendapat kritik dari negara-negara Barat telah sesuai dengan nilai-nilai demokrasi, kata Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi. Diplomat Iran itu mengatakan bahwa aturan hijab di negaranya adalah sebuah hal yang diputuskan melalui suara masyarakat.

BACA JUGA:
&amp;nbsp;Iran Tuding AS-Israel Susun Rencana Jahat dengan Menunggangi Kematian Mahsa Amini&amp;nbsp;

&amp;ldquo;Masyarakat Iran telah memberikan suara yang sah, suara yang tegas yaitu 99,2% melalui sebuah peran referendum dan melalui referendum tersebut telah menunjukkan keinginannya untuk menjalankan roda negaranya berdasarkan peraturan Islam dan negaranya didirikan atas peraturan Islam dimana hijab merupakan salah satu dari peraturan Islam yang berlaku,&amp;rdquo; kata Dubes Boroujerdi dalam Special Dialogue Okezone.
Karena inilah, Dubes Boroujerdi mengatakan bahwa pihak-pihak yang menyebut kewajiban berhijab bagi perempuan di Iran ini melanggar nilai-nilai demokrasi tidak memikirkan bahwa proses aturan ini diberlakukan adalah karena demokrasi.
&amp;ldquo;Ketika ada pihak yang menyuarakan masalah hijab dan menyuarakan bahwa perempuan harusnya di Iran tidak berhijab dan apabila berhijab melanggar nilai-nilai demokrasi, mereka tidak memikirkan bahwa demokrasi yang sebenarnya adalah apa yang masyarakat inginkan, dan dalam konteks ini masyarakat telah memberikan suaranya kepada hijab,&amp;rdquo; ujarnya.

BACA JUGA:
Selidiki Kematian Mahsa Amini, Iran Bentuk Tim Investigasi dan Pencari Fakta

Aturan wajib hijab di Iran menjadi sorotan setelah meninggalnya Mahsa Amini, seorang gadis yang ditahan polisi moral Iran karena tidak mengenakan hijab, pada September 2022. Menurut laporan media, Mahsa Amini meninggal setelah menerima penganiayaan oleh pihak berwenang Iran karena tidak mengenakan hijab.Dugaan ini dibantah oleh Teheran, yang mengatakan bahwa tidak ada kekerasan yang diterima Mahsa Amini, dan gadis itu meninggal dunia karena penyakit yang sebelumnya telah dialaminya.
&amp;ldquo;Dalam CCTV yang ada menunjukkan bahwa tidak ada kontak fisik atau pemukulan yang terjadi terhadap beliau (Mahsa Amini). Hasil dari visum oleh pihak kepolisian tidak menunjukkan bahwa adanya pemukulan terhadap almarhumah,&amp;rdquo; terang Dubes Boroujerdi.

BACA JUGA:
Tragedi Kematian Mahsa Amini, Protes Paling Parah di Iran dalam Sejarah, 35 Orang Meninggal

&amp;ldquo;Kesaksian dari pihak keluarga Mahsa Amini, mereka sampaikan bahwa terhadap riwayat operasi sakit lain oleh almarhumah Mahsa Amini dan juga hasil dari pencarian fakta oleh berbagai tim kedokteran yang ahli dan independen memperlihatkan dan melaporkan bahwa tidak ada pukulan yang terjadi terhadap Mahsa Amini,&amp;rdquo; tambahnya.
Kematian Mahsa Amini telah memicu protes dan demonstrasi besar-besaran di Iran yang menjadi sorotan dunia internasional.</content:encoded></item></channel></rss>
