<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Prajurit Kopassus Taklukan Gunung Everest, Nyaris Tewas Kehabisan Oksigen</title><description>Bagi anggota Kopassus, tugas adalah segalanya, dan Ekspedisi Everest menjadi tantangan luar biasa bagi 43 anggota tim.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/22/337/2943371/kisah-prajurit-kopassus-taklukan-gunung-everest-nyaris-tewas-kehabisan-oksigen</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/12/22/337/2943371/kisah-prajurit-kopassus-taklukan-gunung-everest-nyaris-tewas-kehabisan-oksigen"/><item><title>Kisah Prajurit Kopassus Taklukan Gunung Everest, Nyaris Tewas Kehabisan Oksigen</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/22/337/2943371/kisah-prajurit-kopassus-taklukan-gunung-everest-nyaris-tewas-kehabisan-oksigen</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/12/22/337/2943371/kisah-prajurit-kopassus-taklukan-gunung-everest-nyaris-tewas-kehabisan-oksigen</guid><pubDate>Sabtu 23 Desember 2023 07:30 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/22/337/2943371/kisah-prajurit-kopassus-taklukan-gunung-everest-nyaris-tewas-kehabisan-oksigen-zJCPzDhjIO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Prajurit Kopassus taklukan Gunung Everest (Foto: Tangkapan layar Youtube TNI AD)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/22/337/2943371/kisah-prajurit-kopassus-taklukan-gunung-everest-nyaris-tewas-kehabisan-oksigen-zJCPzDhjIO.jpg</image><title>Prajurit Kopassus taklukan Gunung Everest (Foto: Tangkapan layar Youtube TNI AD)</title></images><description>JAKARTA - Pada tahun 1997, sebuah kelompok prajurit dari Korps Baret Merah Kopassus berhasil mencapai puncak tertinggi dunia, Gunung Everest. Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, prajurit-prajurit seperti Pratu Asmujiono, Sersan Misirin, dan Lettu Iwan Setiawan membawa Bendera Merah Putih ke puncak tertinggi di dunia.
Sebagai seorang prajurit yang baru saja lulus dari pendidikan komando, Iwan Setiawan bergabung dengan Tim Nasional Ekspedisi Everest (TNEE) dalam rangka menyambut HUT ke-45 Kopassus. Bagi anggota Kopassus, tugas adalah segalanya, dan Ekspedisi Everest menjadi tantangan luar biasa bagi 43 anggota tim yang berasal dari berbagai organisasi.

&amp;ldquo;Saat itu saya belum tahu, apa itu Mount Everest. Bayangkan, naik gunung saja belum pernah, terutama gunung es,&amp;rdquo; ungkap Iwan mencerminkan ketidakpersiapannya menghadapi tantangan besar tersebut dilansir akun resmi Youtube TNI AD.

BACA JUGA:
Mayor Kopassus Duduk di Barisan Prabowo-Gibran, DPR Desak Panglima TNI Berikan Sanksi


Iwan, yang menjadi satu-satunya perwira Akmil yang memimpin tim, mengenang awal perjalanan yang sulit, terutama dalam menghadapi cuaca yang sangat ekstrem. Meskipun jatuh sakit karena suhu dingin yang luar biasa, semangat prajurit Iwan tetap tidak goyah.

Mendaki Everest bukan hanya tantangan fisik, tetapi juga mental. Dalam ekspedisi yang melibatkan suhu minus 50 derajat Celsius, Iwan dan timnya menghadapi berbagai kesulitan. Di ketinggian 8.500 meter, Iwan bahkan kehabisan oksigen dan mengalami momen yang sangat sulit.

&amp;ldquo;Bayangkan suhu minus 50 derajat Celcius. Sepanjang jalan banyak orang-orang meninggal,&amp;rdquo; ucapnya.

BACA JUGA:
10 Bulan Disandera KKB di Hutan Papua, Jenderal Kopassus Ini Ungkap Kondisi Pilot Susi Air

&amp;ldquo;Bayangkan, bagaimana bisa enggak orang hidup di ketinggian 8.500 (mdpl) dengan suhu minus 50. Saya kehabisan oksigen, tanpa matras, tanpa sleeping bag, antara hidup dan tidak,&amp;rdquo; imbuhnya.
Dengan doa kepada Tuhan untuk keselamatan dan keberhasilan menyelesaikan tugas, Iwan tetap kuat dengan membayangkan istrinya yang sedang hamil. Akhirnya, pada tahun 1997, Iwan Setiawan bersama dua rekannya berhasil menorehkan sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang mengibarkan Bendera Merah Putih di puncak Everest.

BACA JUGA:
Kisah LB Moerdani, Sosok Jenderal Kopassus yang Berani Ganggu Ketenangan Soeharto

Prestasi yang melelahkan namun penuh makna ini tidak hanya diakui oleh pemerintah Indonesia tetapi juga memberikan Iwan penghargaan dan bintang atas pencapaiannya. Sebagai ungkapan rasa syukur dan penghargaan atas keberhasilan dalam ekspedisi tersebut, Iwan memberi nama putranya Arya Everest Setiawan.
&amp;ldquo;Begitu kembali saya dijemput 20 jenderal waktu itu. Kita dipanggil presiden, mendapatkan penghargaan, diberi bintang. Saya disuruh sujud ke Tanah Suci. Saya bersyukur di situ bisa berhasil mengharumkan nama Indonesia dan bisa selamat kembali ke Indonesia dan bertemu istri,&amp;rdquo; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pada tahun 1997, sebuah kelompok prajurit dari Korps Baret Merah Kopassus berhasil mencapai puncak tertinggi dunia, Gunung Everest. Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, prajurit-prajurit seperti Pratu Asmujiono, Sersan Misirin, dan Lettu Iwan Setiawan membawa Bendera Merah Putih ke puncak tertinggi di dunia.
Sebagai seorang prajurit yang baru saja lulus dari pendidikan komando, Iwan Setiawan bergabung dengan Tim Nasional Ekspedisi Everest (TNEE) dalam rangka menyambut HUT ke-45 Kopassus. Bagi anggota Kopassus, tugas adalah segalanya, dan Ekspedisi Everest menjadi tantangan luar biasa bagi 43 anggota tim yang berasal dari berbagai organisasi.

&amp;ldquo;Saat itu saya belum tahu, apa itu Mount Everest. Bayangkan, naik gunung saja belum pernah, terutama gunung es,&amp;rdquo; ungkap Iwan mencerminkan ketidakpersiapannya menghadapi tantangan besar tersebut dilansir akun resmi Youtube TNI AD.

BACA JUGA:
Mayor Kopassus Duduk di Barisan Prabowo-Gibran, DPR Desak Panglima TNI Berikan Sanksi


Iwan, yang menjadi satu-satunya perwira Akmil yang memimpin tim, mengenang awal perjalanan yang sulit, terutama dalam menghadapi cuaca yang sangat ekstrem. Meskipun jatuh sakit karena suhu dingin yang luar biasa, semangat prajurit Iwan tetap tidak goyah.

Mendaki Everest bukan hanya tantangan fisik, tetapi juga mental. Dalam ekspedisi yang melibatkan suhu minus 50 derajat Celsius, Iwan dan timnya menghadapi berbagai kesulitan. Di ketinggian 8.500 meter, Iwan bahkan kehabisan oksigen dan mengalami momen yang sangat sulit.

&amp;ldquo;Bayangkan suhu minus 50 derajat Celcius. Sepanjang jalan banyak orang-orang meninggal,&amp;rdquo; ucapnya.

BACA JUGA:
10 Bulan Disandera KKB di Hutan Papua, Jenderal Kopassus Ini Ungkap Kondisi Pilot Susi Air

&amp;ldquo;Bayangkan, bagaimana bisa enggak orang hidup di ketinggian 8.500 (mdpl) dengan suhu minus 50. Saya kehabisan oksigen, tanpa matras, tanpa sleeping bag, antara hidup dan tidak,&amp;rdquo; imbuhnya.
Dengan doa kepada Tuhan untuk keselamatan dan keberhasilan menyelesaikan tugas, Iwan tetap kuat dengan membayangkan istrinya yang sedang hamil. Akhirnya, pada tahun 1997, Iwan Setiawan bersama dua rekannya berhasil menorehkan sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang mengibarkan Bendera Merah Putih di puncak Everest.

BACA JUGA:
Kisah LB Moerdani, Sosok Jenderal Kopassus yang Berani Ganggu Ketenangan Soeharto

Prestasi yang melelahkan namun penuh makna ini tidak hanya diakui oleh pemerintah Indonesia tetapi juga memberikan Iwan penghargaan dan bintang atas pencapaiannya. Sebagai ungkapan rasa syukur dan penghargaan atas keberhasilan dalam ekspedisi tersebut, Iwan memberi nama putranya Arya Everest Setiawan.
&amp;ldquo;Begitu kembali saya dijemput 20 jenderal waktu itu. Kita dipanggil presiden, mendapatkan penghargaan, diberi bintang. Saya disuruh sujud ke Tanah Suci. Saya bersyukur di situ bisa berhasil mengharumkan nama Indonesia dan bisa selamat kembali ke Indonesia dan bertemu istri,&amp;rdquo; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
