<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menengok Kampung Mati di Aceh Ditinggalkan Warganya Usai Bencana Tsunami</title><description>Pada 19 tahun lalu warganya mengungsi dan menetap di tepian bukit sekitar 4 kilometer dari perkampungan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/26/337/2944903/menengok-kampung-mati-di-aceh-ditinggalkan-warganya-usai-bencana-tsunami</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/12/26/337/2944903/menengok-kampung-mati-di-aceh-ditinggalkan-warganya-usai-bencana-tsunami"/><item><title>Menengok Kampung Mati di Aceh Ditinggalkan Warganya Usai Bencana Tsunami</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/12/26/337/2944903/menengok-kampung-mati-di-aceh-ditinggalkan-warganya-usai-bencana-tsunami</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/12/26/337/2944903/menengok-kampung-mati-di-aceh-ditinggalkan-warganya-usai-bencana-tsunami</guid><pubDate>Selasa 26 Desember 2023 07:00 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhrizal Fakhri </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/26/337/2944903/menengok-kampung-mati-di-aceh-ditinggalkan-warganya-usai-bencana-tsunami-EjPLDiDu9w.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Desa Latiung jadi kampung mati usai ditinggalkan warganya karena trauma tsunami (Foto: Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/26/337/2944903/menengok-kampung-mati-di-aceh-ditinggalkan-warganya-usai-bencana-tsunami-EjPLDiDu9w.jpg</image><title>Desa Latiung jadi kampung mati usai ditinggalkan warganya karena trauma tsunami (Foto: Dok Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8wMy8xLzE3NDU5NC81L3g4cTZpbDk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Desa Latiung, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simelue, Aceh, menjadi kampung tak berpenghuni setelah ditinggalkan warganya usai bencana alam gempa dan tsunami yang melanda di lokasi pada 26 Desember 2004 lalu.
Pada 19 tahun lalu warganya mengungsi dan menetap di tepian bukit sekitar 4 kilometer dari perkampungan. Bangun yang tersisa dikampung ini hanya bangunan mesjid tua dan rumah yang setengah rubuh, areal yang dulunya pemukiman warga, kini diselimuti semak belukar.
Sebuah papan nama Sekolah Negeri Latiung, berdiri kokoh, diselimuti belukar membuktikan perkampungan ini pernah dihuni warganya. Bekas dan sisa bangunan sekolah menimbulkan suasana mencekam, dinding-dindinganya berjamur diterpa hujan dan panas.

BACA JUGA:
19 Tahun Tsunami Aceh, Dokter Ini Kenang Kisah Pilu Pasien Meninggal Penuhi RS

&quot;Linon (gempa) terjadi sekitar diatas jam 11 malam, Selasa Desember 2004, saya waktu itu umur baru 12 tahun kelas 6 SD, rumah saya rubuh total dan kami sempat keluar dari rumah,&quot; ujar Yoyon Tasoma beberapa waktu lalu.
Saat kejadian Yoyon berlari keluar rumah, saat di luar rumah warga berteriak air laut surut, ia pun memilih berlari kebukit menjauh dari desa.

BACA JUGA:
Ancaman Tsunami Dahsyat, BMKG: Negara Kawasan Samudera Hindia Harus Perkuat Kolaborasi

Yoyon merasa sedih setiap melihat bekas desanya, dan memiliki keinginan untuk kembali dan menetap di sana, namun warga dan saudaranya, enggan pindah, trauma bencana alam dahsyat pada 19 tahun silam kembali terulang.Kini warga tinggal 4 kilometer dari kampung asal, dan memberi nama desa baru mereka sama seperti desa terdahulu, Desa Latiung.

Tragedi bencana linon dan smong beda hari dengan kejadian gempa dan tsunami di pesisir Aceh lainnya, didaratan pesisir Aceh tsunami dan gempa terjadi pada 26 Desember, sedangkan di Kepulauan Simeulue terjadi 28 Desember ditahun yang sama.

Diperkampungan Latiung baru kini ditinggali 79 Kepala Keluarga (KK), sebanyak 265 jiwa yang tecatat pada Desember 2019 lalu.

Di lokasi baru ini pula pemerunrah telah membangun fasilitas penunjang seperti sekolah, dan puskesmas. Masyarakat di sini berprofesi sebagai petani, pekebun dan nelayan.

</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8wMy8xLzE3NDU5NC81L3g4cTZpbDk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Desa Latiung, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simelue, Aceh, menjadi kampung tak berpenghuni setelah ditinggalkan warganya usai bencana alam gempa dan tsunami yang melanda di lokasi pada 26 Desember 2004 lalu.
Pada 19 tahun lalu warganya mengungsi dan menetap di tepian bukit sekitar 4 kilometer dari perkampungan. Bangun yang tersisa dikampung ini hanya bangunan mesjid tua dan rumah yang setengah rubuh, areal yang dulunya pemukiman warga, kini diselimuti semak belukar.
Sebuah papan nama Sekolah Negeri Latiung, berdiri kokoh, diselimuti belukar membuktikan perkampungan ini pernah dihuni warganya. Bekas dan sisa bangunan sekolah menimbulkan suasana mencekam, dinding-dindinganya berjamur diterpa hujan dan panas.

BACA JUGA:
19 Tahun Tsunami Aceh, Dokter Ini Kenang Kisah Pilu Pasien Meninggal Penuhi RS

&quot;Linon (gempa) terjadi sekitar diatas jam 11 malam, Selasa Desember 2004, saya waktu itu umur baru 12 tahun kelas 6 SD, rumah saya rubuh total dan kami sempat keluar dari rumah,&quot; ujar Yoyon Tasoma beberapa waktu lalu.
Saat kejadian Yoyon berlari keluar rumah, saat di luar rumah warga berteriak air laut surut, ia pun memilih berlari kebukit menjauh dari desa.

BACA JUGA:
Ancaman Tsunami Dahsyat, BMKG: Negara Kawasan Samudera Hindia Harus Perkuat Kolaborasi

Yoyon merasa sedih setiap melihat bekas desanya, dan memiliki keinginan untuk kembali dan menetap di sana, namun warga dan saudaranya, enggan pindah, trauma bencana alam dahsyat pada 19 tahun silam kembali terulang.Kini warga tinggal 4 kilometer dari kampung asal, dan memberi nama desa baru mereka sama seperti desa terdahulu, Desa Latiung.

Tragedi bencana linon dan smong beda hari dengan kejadian gempa dan tsunami di pesisir Aceh lainnya, didaratan pesisir Aceh tsunami dan gempa terjadi pada 26 Desember, sedangkan di Kepulauan Simeulue terjadi 28 Desember ditahun yang sama.

Diperkampungan Latiung baru kini ditinggali 79 Kepala Keluarga (KK), sebanyak 265 jiwa yang tecatat pada Desember 2019 lalu.

Di lokasi baru ini pula pemerunrah telah membangun fasilitas penunjang seperti sekolah, dan puskesmas. Masyarakat di sini berprofesi sebagai petani, pekebun dan nelayan.

</content:encoded></item></channel></rss>
