<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tanggapi Survei CSIS, TPM Ganjar-Mahfud: Sampling Lemah 50% Responden Tak Nonton Debat Capres</title><description>Sekretaris Deputi YZ (Tim Pemenangan Muda) Tim Pemenangan Nasional Ganjar-Mahfud M.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/01/02/337/2948468/tanggapi-survei-csis-tpm-ganjar-mahfud-sampling-lemah-50-responden-tak-nonton-debat-capres</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/01/02/337/2948468/tanggapi-survei-csis-tpm-ganjar-mahfud-sampling-lemah-50-responden-tak-nonton-debat-capres"/><item><title>Tanggapi Survei CSIS, TPM Ganjar-Mahfud: Sampling Lemah 50% Responden Tak Nonton Debat Capres</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/01/02/337/2948468/tanggapi-survei-csis-tpm-ganjar-mahfud-sampling-lemah-50-responden-tak-nonton-debat-capres</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/01/02/337/2948468/tanggapi-survei-csis-tpm-ganjar-mahfud-sampling-lemah-50-responden-tak-nonton-debat-capres</guid><pubDate>Selasa 02 Januari 2024 16:38 WIB</pubDate><dc:creator>Khafid Mardiyansyah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/02/337/2948468/tanggapi-survei-csis-tpm-ganjar-mahfud-sampling-lemah-50-responden-tak-nonton-debat-capres-g60dDBfpDX.JPG" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/02/337/2948468/tanggapi-survei-csis-tpm-ganjar-mahfud-sampling-lemah-50-responden-tak-nonton-debat-capres-g60dDBfpDX.JPG</image><title></title></images><description>JAKARTA - Sekretaris Deputi YZ (Tim Pemenangan Muda) Tim Pemenangan Nasional Ganjar-Mahfud M.

Fitrah Wardiman menilai survei politik Centre for Strategic and International Studies (CSIS) lemah untuk dijadikan rujukan elektabilitas.

Pasalnya, 50 persen responden yang dilibatkan tidak menonton debat capres.

&amp;ldquo;Saya baca laporan mereka, dan disana disebutkan proporsi responden yang tidak menonton debat dalam survei tersebut sebesar 50,2%. Angka yang sangat tinggi. Lalu apa yang menjadi faktor responden memilih kandidat tertentu?,&amp;rdquo; jelasnya saat diwawancara (2/1/2023).


BACA JUGA:
Hasto: Program Kerakyatan Ganjar Atasi Kemiskinan Berbasis Pengalaman


Responden yang tidak menonton debat, menurut Fitrah Wardiman, dapat secara signifikan mempengaruhi hasil survei karena mungkin saja mereka tidak memiliki informasi yang cukup untuk membuat keputusan.

&amp;ldquo;Bukan salah, tapi lemah untuk dijadikan rujukan elektabilitas karena lemahnya korelasi antara responden dan kandidat. Apalagi mengabaikan questionnare apakah responden mengetahui visi-misi para kandidat capres-cawapres,&amp;rdquo; jelas Fitrah, yang juga aktivis sosial lulusan University of Sussex.

Selain itu, ia juga berpandangan bahwa tanpa informasi visi-misi dan responden yang tidak menonton debat, tidak ada dasar untuk memahami faktor-faktor apa yang mempengaruhi responden untuk memilih kandidat tertentu.

&amp;ldquo;Ini juga lantaran pemilihan sampel. Karena survei yang dilakukan dalam hitungan hari memang cenderung memilih responden yang mudah dijangkau,&amp;rdquo; terangnya lagi.

Disamping itu, ia juga menyoroti tingginya tingkat non-respon dalam survei CSIS. &amp;ldquo;Perlu dipahami, dalam setiap riset, non-respon ini dapat mendistorsi hasil survei dan penggunaan multistage random sampling ini ibarat sebuah keranjang yang dipenuhi beragam buah, lalu hanya dipilih buah apel,&amp;rdquo; terang Fitrah, yang juga pernah menjabat Kepala Biro Pers Media PPI Dunia 22/23.

Lebih jauh, ia justru menginginkan agar masyarakat perlu lebih hati-hati dan kritis dalam melihat dan menyikapi survei politik.


&amp;ldquo;Baca prosesnya, jangan cuman kesimpulannya. Dan yang terpenting selalu perhatikan margin of error. Jika angkanya diatas satu, ini berarti error-nya signifikan,&amp;rdquo; tutupnya.



Sekadar informasi. Sebagaimana diketahui sebelumnya, CSIS menerbitkan laporan elektabilitas pasangan Capres-Cawapres.



Dalam survei tersebut, pasangan Prabowo-Gibran 43,7%, kemudian Anis-Muhaimin 26,1%, dan Ganjar-Mahfud 19,4%.


Sementara itu, yang belum menentukan pilihan 6,4% dan tidak tahu 4,5%.

</description><content:encoded>JAKARTA - Sekretaris Deputi YZ (Tim Pemenangan Muda) Tim Pemenangan Nasional Ganjar-Mahfud M.

Fitrah Wardiman menilai survei politik Centre for Strategic and International Studies (CSIS) lemah untuk dijadikan rujukan elektabilitas.

Pasalnya, 50 persen responden yang dilibatkan tidak menonton debat capres.

&amp;ldquo;Saya baca laporan mereka, dan disana disebutkan proporsi responden yang tidak menonton debat dalam survei tersebut sebesar 50,2%. Angka yang sangat tinggi. Lalu apa yang menjadi faktor responden memilih kandidat tertentu?,&amp;rdquo; jelasnya saat diwawancara (2/1/2023).


BACA JUGA:
Hasto: Program Kerakyatan Ganjar Atasi Kemiskinan Berbasis Pengalaman


Responden yang tidak menonton debat, menurut Fitrah Wardiman, dapat secara signifikan mempengaruhi hasil survei karena mungkin saja mereka tidak memiliki informasi yang cukup untuk membuat keputusan.

&amp;ldquo;Bukan salah, tapi lemah untuk dijadikan rujukan elektabilitas karena lemahnya korelasi antara responden dan kandidat. Apalagi mengabaikan questionnare apakah responden mengetahui visi-misi para kandidat capres-cawapres,&amp;rdquo; jelas Fitrah, yang juga aktivis sosial lulusan University of Sussex.

Selain itu, ia juga berpandangan bahwa tanpa informasi visi-misi dan responden yang tidak menonton debat, tidak ada dasar untuk memahami faktor-faktor apa yang mempengaruhi responden untuk memilih kandidat tertentu.

&amp;ldquo;Ini juga lantaran pemilihan sampel. Karena survei yang dilakukan dalam hitungan hari memang cenderung memilih responden yang mudah dijangkau,&amp;rdquo; terangnya lagi.

Disamping itu, ia juga menyoroti tingginya tingkat non-respon dalam survei CSIS. &amp;ldquo;Perlu dipahami, dalam setiap riset, non-respon ini dapat mendistorsi hasil survei dan penggunaan multistage random sampling ini ibarat sebuah keranjang yang dipenuhi beragam buah, lalu hanya dipilih buah apel,&amp;rdquo; terang Fitrah, yang juga pernah menjabat Kepala Biro Pers Media PPI Dunia 22/23.

Lebih jauh, ia justru menginginkan agar masyarakat perlu lebih hati-hati dan kritis dalam melihat dan menyikapi survei politik.


&amp;ldquo;Baca prosesnya, jangan cuman kesimpulannya. Dan yang terpenting selalu perhatikan margin of error. Jika angkanya diatas satu, ini berarti error-nya signifikan,&amp;rdquo; tutupnya.



Sekadar informasi. Sebagaimana diketahui sebelumnya, CSIS menerbitkan laporan elektabilitas pasangan Capres-Cawapres.



Dalam survei tersebut, pasangan Prabowo-Gibran 43,7%, kemudian Anis-Muhaimin 26,1%, dan Ganjar-Mahfud 19,4%.


Sementara itu, yang belum menentukan pilihan 6,4% dan tidak tahu 4,5%.

</content:encoded></item></channel></rss>
