<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dharmawangsa Teguh, Raja Mataram yang Minim Tinggalkan Bukti Artefak Sejarah</title><description>Selama 70 tahun setelah Mpu Sindok berkuasa konon hanya ada tiga prasasti yang ditemukan dari masa Dharmawangsa Teguh.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/01/22/337/2958389/dharmawangsa-teguh-raja-mataram-yang-minim-tinggalkan-bukti-artefak-sejarah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/01/22/337/2958389/dharmawangsa-teguh-raja-mataram-yang-minim-tinggalkan-bukti-artefak-sejarah"/><item><title>Dharmawangsa Teguh, Raja Mataram yang Minim Tinggalkan Bukti Artefak Sejarah</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/01/22/337/2958389/dharmawangsa-teguh-raja-mataram-yang-minim-tinggalkan-bukti-artefak-sejarah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/01/22/337/2958389/dharmawangsa-teguh-raja-mataram-yang-minim-tinggalkan-bukti-artefak-sejarah</guid><pubDate>Senin 22 Januari 2024 05:49 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/22/337/2958389/dharmawangsa-teguh-raja-mataram-yang-minim-tinggalkan-bukti-artefak-sejarah-wmaSk569Hr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto : Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/22/337/2958389/dharmawangsa-teguh-raja-mataram-yang-minim-tinggalkan-bukti-artefak-sejarah-wmaSk569Hr.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto : Istimewa)</title></images><description>KERAJAAN Mataram Kuno memasuki masa gelap dari sisi catatan sejarah di masa raja Dharmawangsa Teguh. Saat itu konon Mataram kuno telah berpindah ke ibu kota di Jawa Timur, selepas pemerintahan Raja Mpu Sindok.

Selama 70 tahun setelah Mpu Sindok berkuasa konon hanya ada tiga prasasti yang ditemukan dari masa Dharmawangsa Teguh. Ketiganya yakni Prasasti Hara-hara berangka tahun 888 Saka atau 966 M, Prasasti Kawambang Kulwan tahun 913 Saka atau 992 M, dan Prasasti Lucem tahun 934 Saka atau perkiraan antara 1012 - 1013 M.


BACA JUGA:
Misteri Kejayaan Kerajaan Malayu Usai Runtuhnya Sriwijaya dan Hubungan Akrab dengan Singasari


Prasasti Hara-Hara berisi keterangan tentang pemberian tanah sima oleh Pu Mano, yang telah diwarisinya dari nenek moyangnya, yang terletak di Desa Hara- Hara, di sebelah selatan perumahannya, kepada Mpungku di Susuk Pag&amp;#283;r dan Mpungku di Naira&amp;ntilde;jana yang bernama Mpu Buddhiwala, untuk digunakan sebagai tempat mendirikan bangunan suci (ku&amp;#539;i).

Sebagai sumber pembiayaan pemeliharaan dan biaya upacara di dalam bangunan suci tersebut, ditebuslah sawah yang terletak di sebelah selatannya seluas 3 tampah, yang telah digadai oleh Mpungku Susuk Pag&amp;#283;r dan Mpungku di Naira&amp;ntilde;jana, sebagaimana dikisahkan pada &quot;Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno&quot;.


BACA JUGA:
Erupsi Gunung Merapi Konon Pernah Hancurkan Kerajaan Mataram Kuno


Prasasti Kawambang Kulwan boleh dikatakan belum diterbitkan sebagaimana mestinya. Apa yang terdapat dalam transkripsi Brandes sebagian kecil permulaannya saja, itu pun hanya dibaca satu sisi, sedangkan prasasti ini ditulis melingkar.

Secara garis besar prasasti ini menggambarkan anugerah raja, berupa sima kepada Desa Kawambang Kulwan, agar Sang Pamgat Kanuruhan mendirikan suatu bangunan suci pemujaan dewa. Melihat angka tahunnya, prasasti ini berasal dari masa pemerintahan Dharmmawangsa Teguh.Sayang nama rajanya belum terbaca, yang ada ialah nama pejabat tinggi yang menerima hadiah, yaitu Pu Dharmmasanggr&amp;#257;mawikranta.

Suatu peristiwa unik yang diperingati dengan prasasti yang dipahat pada batu alam yang besar ialah perbaikan jalan oleh Samgat Lucem pu Ghek (atau L&amp;ouml;k), dan penanaman pohon beringin oleh Sang Apa&amp;ntilde;ji T&amp;#283;p&amp;#283;t.

Konon pohon beringin itu ditanam di tempat permulaan atau akhir jalan yang diperbaiki itu. Peristiwa ini diperingati dengan prasasti Luc&amp;#283;m yang ditulis dengan huruf kuadrat yang besar-besar.</description><content:encoded>KERAJAAN Mataram Kuno memasuki masa gelap dari sisi catatan sejarah di masa raja Dharmawangsa Teguh. Saat itu konon Mataram kuno telah berpindah ke ibu kota di Jawa Timur, selepas pemerintahan Raja Mpu Sindok.

Selama 70 tahun setelah Mpu Sindok berkuasa konon hanya ada tiga prasasti yang ditemukan dari masa Dharmawangsa Teguh. Ketiganya yakni Prasasti Hara-hara berangka tahun 888 Saka atau 966 M, Prasasti Kawambang Kulwan tahun 913 Saka atau 992 M, dan Prasasti Lucem tahun 934 Saka atau perkiraan antara 1012 - 1013 M.


BACA JUGA:
Misteri Kejayaan Kerajaan Malayu Usai Runtuhnya Sriwijaya dan Hubungan Akrab dengan Singasari


Prasasti Hara-Hara berisi keterangan tentang pemberian tanah sima oleh Pu Mano, yang telah diwarisinya dari nenek moyangnya, yang terletak di Desa Hara- Hara, di sebelah selatan perumahannya, kepada Mpungku di Susuk Pag&amp;#283;r dan Mpungku di Naira&amp;ntilde;jana yang bernama Mpu Buddhiwala, untuk digunakan sebagai tempat mendirikan bangunan suci (ku&amp;#539;i).

Sebagai sumber pembiayaan pemeliharaan dan biaya upacara di dalam bangunan suci tersebut, ditebuslah sawah yang terletak di sebelah selatannya seluas 3 tampah, yang telah digadai oleh Mpungku Susuk Pag&amp;#283;r dan Mpungku di Naira&amp;ntilde;jana, sebagaimana dikisahkan pada &quot;Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno&quot;.


BACA JUGA:
Erupsi Gunung Merapi Konon Pernah Hancurkan Kerajaan Mataram Kuno


Prasasti Kawambang Kulwan boleh dikatakan belum diterbitkan sebagaimana mestinya. Apa yang terdapat dalam transkripsi Brandes sebagian kecil permulaannya saja, itu pun hanya dibaca satu sisi, sedangkan prasasti ini ditulis melingkar.

Secara garis besar prasasti ini menggambarkan anugerah raja, berupa sima kepada Desa Kawambang Kulwan, agar Sang Pamgat Kanuruhan mendirikan suatu bangunan suci pemujaan dewa. Melihat angka tahunnya, prasasti ini berasal dari masa pemerintahan Dharmmawangsa Teguh.Sayang nama rajanya belum terbaca, yang ada ialah nama pejabat tinggi yang menerima hadiah, yaitu Pu Dharmmasanggr&amp;#257;mawikranta.

Suatu peristiwa unik yang diperingati dengan prasasti yang dipahat pada batu alam yang besar ialah perbaikan jalan oleh Samgat Lucem pu Ghek (atau L&amp;ouml;k), dan penanaman pohon beringin oleh Sang Apa&amp;ntilde;ji T&amp;#283;p&amp;#283;t.

Konon pohon beringin itu ditanam di tempat permulaan atau akhir jalan yang diperbaiki itu. Peristiwa ini diperingati dengan prasasti Luc&amp;#283;m yang ditulis dengan huruf kuadrat yang besar-besar.</content:encoded></item></channel></rss>
