<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pemberontakan APRA, Kudeta Berdarah 'Ratu Adil' yang Mengguncang Bandung</title><description>Gerakan ini berada di bawah pimpinan tokoh militer Belanda, Raymond Pierre Westerling.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/01/23/337/2958818/pemberontakan-apra-kudeta-berdarah-ratu-adil-yang-mengguncang-bandung</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/01/23/337/2958818/pemberontakan-apra-kudeta-berdarah-ratu-adil-yang-mengguncang-bandung"/><item><title>Pemberontakan APRA, Kudeta Berdarah 'Ratu Adil' yang Mengguncang Bandung</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/01/23/337/2958818/pemberontakan-apra-kudeta-berdarah-ratu-adil-yang-mengguncang-bandung</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/01/23/337/2958818/pemberontakan-apra-kudeta-berdarah-ratu-adil-yang-mengguncang-bandung</guid><pubDate>Selasa 23 Januari 2024 06:15 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/22/337/2958818/pemberontakan-apra-kudeta-berdarah-ratu-adil-yang-mengguncang-bandung-eY3B3I3vvn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kudeta APRA di Bandung (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/22/337/2958818/pemberontakan-apra-kudeta-berdarah-ratu-adil-yang-mengguncang-bandung-eY3B3I3vvn.jpg</image><title>Kudeta APRA di Bandung (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Pemberontakan APRA mencatat sejarahnya dalam masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Gerakan ini berada di bawah pimpinan tokoh militer Belanda, Raymond Pierre Westerling.
Gerakan ini berawal dari mitologi ramalan Jayabaya dan dikenal sebagai Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), mencirikan pemimpin yang adil dan bijaksana bagi rakyatnya.

BACA JUGA:
Hary Tanoe Ajak Masyarakat Pilih Ganjar-Mahfud demi Percepatan Kesejahteraan&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;


Menukil sindonews, peristiwa ini terjadi di Bandung, pada 23 Januari 1950, reaksi terhadap rencana pembubaran negara bagian Belanda di RIS (Republik Indonesia Serikat) yang akan bersatu kembali dengan Republik Indonesia.

APRA menyatakan tujuannya untuk mempertahankan negara Pasundan dan melindungi aset ekonomi kolonial di wilayah tersebut. Raymond Pierre Westerling, mantan perwira Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL), memimpin pasukan mayoritas terdiri dari bekas prajuritnya, terutama dari Regiment Speciale Troepen (Pasukan Khusus).

BACA JUGA:
 Ganjar Tegaskan Program Internet Gratis Sangat Dinantikan Masyarakat&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Konflik bermula dari ketidaksetujuan APRA terhadap hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949 yang mencakup pembubaran Tentara KNIL dan penarikan pasukan Belanda dari Indonesia.

Kolaborasi APRA dengan Sultan Hamin II dari Pontianak, yang memiliki pandangan feodal, menjadi elemen penting dalam peristiwa ini. Kudeta pada Januari 1950 mencerminkan upaya APRA untuk mempertahankan negara feodal RIS, terutama setelah mayoritas negara bagian RIS berkeinginan untuk bergabung dengan Republik Indonesia.

Westerling mengirim ultimatum kepada pemerintah RIS pada 5 Januari 1950, menuntut pengakuan APRA sebagai tentara Pasundan dan menghargai otonomi negara-negara bagian, terutama Negara Pasundan.



Pemerintah RIS merespons dengan mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Westerling pada 10 Januari 1950 untuk mencegah potensi agresi. Akan tetapi, APRA mengejutkan dengan melakukan pembantaian anggota TNI di Kota Bandung dan berhasil menduduki Markas Staf Divisi Siliwangi.

BACA JUGA:
Sambut Ganjar Pranowo, Caleg Perindo Gunungkidul Bakal All Out Menangkan Ganjar-Mahfud&amp;nbsp; &amp;nbsp;




Upaya APRA untuk melanjutkan pemberontakan ke Jakarta berhasil digagalkan oleh pemerintah RIS, APRIS, dan dukungan rakyat sipil.



Pemerintah RIS berhasil menekan pimpinan tentara Belanda melalui perundingan dan operasi militer, memaksa Westerling untuk meninggalkan Bandung. Westerling melarikan diri ke Belanda setelah upayanya untuk melakukan kudeta tidak berhasil.

BACA JUGA:
 Ganjar Tegaskan Program Internet Gratis Sangat Dinantikan Masyarakat&amp;nbsp; &amp;nbsp;




Monumen Dwikora dan Trikora, yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi simbol perjuangan TNI selama masa pemerintahannya, mengenang peristiwa bersejarah di Bandung.

</description><content:encoded>JAKARTA - Pemberontakan APRA mencatat sejarahnya dalam masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Gerakan ini berada di bawah pimpinan tokoh militer Belanda, Raymond Pierre Westerling.
Gerakan ini berawal dari mitologi ramalan Jayabaya dan dikenal sebagai Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), mencirikan pemimpin yang adil dan bijaksana bagi rakyatnya.

BACA JUGA:
Hary Tanoe Ajak Masyarakat Pilih Ganjar-Mahfud demi Percepatan Kesejahteraan&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;


Menukil sindonews, peristiwa ini terjadi di Bandung, pada 23 Januari 1950, reaksi terhadap rencana pembubaran negara bagian Belanda di RIS (Republik Indonesia Serikat) yang akan bersatu kembali dengan Republik Indonesia.

APRA menyatakan tujuannya untuk mempertahankan negara Pasundan dan melindungi aset ekonomi kolonial di wilayah tersebut. Raymond Pierre Westerling, mantan perwira Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL), memimpin pasukan mayoritas terdiri dari bekas prajuritnya, terutama dari Regiment Speciale Troepen (Pasukan Khusus).

BACA JUGA:
 Ganjar Tegaskan Program Internet Gratis Sangat Dinantikan Masyarakat&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Konflik bermula dari ketidaksetujuan APRA terhadap hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949 yang mencakup pembubaran Tentara KNIL dan penarikan pasukan Belanda dari Indonesia.

Kolaborasi APRA dengan Sultan Hamin II dari Pontianak, yang memiliki pandangan feodal, menjadi elemen penting dalam peristiwa ini. Kudeta pada Januari 1950 mencerminkan upaya APRA untuk mempertahankan negara feodal RIS, terutama setelah mayoritas negara bagian RIS berkeinginan untuk bergabung dengan Republik Indonesia.

Westerling mengirim ultimatum kepada pemerintah RIS pada 5 Januari 1950, menuntut pengakuan APRA sebagai tentara Pasundan dan menghargai otonomi negara-negara bagian, terutama Negara Pasundan.



Pemerintah RIS merespons dengan mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Westerling pada 10 Januari 1950 untuk mencegah potensi agresi. Akan tetapi, APRA mengejutkan dengan melakukan pembantaian anggota TNI di Kota Bandung dan berhasil menduduki Markas Staf Divisi Siliwangi.

BACA JUGA:
Sambut Ganjar Pranowo, Caleg Perindo Gunungkidul Bakal All Out Menangkan Ganjar-Mahfud&amp;nbsp; &amp;nbsp;




Upaya APRA untuk melanjutkan pemberontakan ke Jakarta berhasil digagalkan oleh pemerintah RIS, APRIS, dan dukungan rakyat sipil.



Pemerintah RIS berhasil menekan pimpinan tentara Belanda melalui perundingan dan operasi militer, memaksa Westerling untuk meninggalkan Bandung. Westerling melarikan diri ke Belanda setelah upayanya untuk melakukan kudeta tidak berhasil.

BACA JUGA:
 Ganjar Tegaskan Program Internet Gratis Sangat Dinantikan Masyarakat&amp;nbsp; &amp;nbsp;




Monumen Dwikora dan Trikora, yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi simbol perjuangan TNI selama masa pemerintahannya, mengenang peristiwa bersejarah di Bandung.

</content:encoded></item></channel></rss>
