<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jenderal Soedirman, Tak Gentar Melawan Belanda Meski dengan Satu Paru-Paru</title><description>Kisah heroik Jenderal Besar Soedirman yang gigih melawan Belanda dengan hanya satu paru-paru.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/01/24/337/2959490/jenderal-soedirman-tak-gentar-melawan-belanda-meski-dengan-satu-paru-paru</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/01/24/337/2959490/jenderal-soedirman-tak-gentar-melawan-belanda-meski-dengan-satu-paru-paru"/><item><title>Jenderal Soedirman, Tak Gentar Melawan Belanda Meski dengan Satu Paru-Paru</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/01/24/337/2959490/jenderal-soedirman-tak-gentar-melawan-belanda-meski-dengan-satu-paru-paru</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/01/24/337/2959490/jenderal-soedirman-tak-gentar-melawan-belanda-meski-dengan-satu-paru-paru</guid><pubDate>Rabu 24 Januari 2024 06:15 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/24/337/2959490/jenderal-soedirman-tak-gentar-melawan-belanda-meski-dengan-satu-paru-paru-tPqiXCxyJd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jenderal Soedirman ditandu saat berperang (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/24/337/2959490/jenderal-soedirman-tak-gentar-melawan-belanda-meski-dengan-satu-paru-paru-tPqiXCxyJd.jpg</image><title>Jenderal Soedirman ditandu saat berperang (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Kisah heroik Jenderal Besar Soedirman yang gigih melawan Belanda dengan hanya satu paru-paru dan mengidap tuberkulosis bukanlah sekadar dongeng.
Dilansir dari berbagai sumber, pahlawan nasional kelahiran Rembang, Purbalingga, pada 24 Januari 1916 ini benar-benar memperlihatkan semangat patriotisme yang luar biasa.
Dilahirkan dalam keluarga sederhana, Jenderal Soedirman pertama kali terlibat dalam dunia militer saat ditunjuk sebagai kader Pembela Tanah Air (PETA). Setelah PETA dibubarkan pada 18 Agustus 1945, Soedirman mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berkembang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

BACA JUGA:
Dharmawangsa Teguh, Raja Mataram yang Minim Tinggalkan Bukti Artefak Sejarah

Meski hidup dengan hanya satu paru-paru dan mengidap tuberkulosis, Soedirman berhasil memenangkan berbagai pertempuran, termasuk di Pertempuran Ambarawa pada 15 Desember 1945 melawan pasukan Inggris.&amp;nbsp;
Semangat heroiknya tidak pernah luntur, bahkan ketika ia harus berurusan dengan penyakit serius dan terbatasnya fungsi pernapasan. Hal ini terlihat saat Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II pada Desember 1946.

BACA JUGA:
Ganjar Ziarah Makam Bhatara Katong hingga Kiai Ageng Besari: Belajar dari Sejarah Agar Kita Bijaksana

Berita akan serangan Belanda di Yogyakarta, yang saat itu menjadi Ibukota RI, sampai kepada Soedirman. Meski dalam kondisi sakit, sang jenderal pergi ke istana untuk menerima perintah dari Presiden Soekarno.
Namun, Presiden Soekarno menyarankan agar Soedirman kembali pulang dan beristirahat mengingat kondisi kesehatannya. Namun, sang jenderal tidak mengindahkan saran tersebut dan memilih untuk melanjutkan perjuangan bersama pasukannya.

&amp;ldquo;Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah, dan saya akan meneruskan perjuangan gerilya dengan sekuat tenaga bersama seluruh prajurit,&amp;rdquo; ucap Jenderal Soedirman seperti dikutip.
Soedirman pun memulai perjalanan gerilya selama 7 bulan, di mana ia bersama pasukannya harus berada di hutan dan menyusup masuk dan keluar untuk menghindari pasukan Belanda.
Kisahnya tidak berhenti di situ. Dengan hanya satu paru-paru karena tuberkulosis, Soedirman kesulitan mendapatkan obat-obatan yang dibutuhkannya. Namun, semangat juangnya tetap tinggi, dan kadang-kadang ia harus dibantu oleh para prajuritnya.

BACA JUGA:
Pesan Liliana Tanoe ke UMKM yang Dapat Gerobak Perindo: Kalau Bersih Konsumen Bertambah

Perang gerilya berakhir pada tahun 1949, dan kesehatan Soedirman semakin memburuk. Pada 29 Januari 1950, ia akhirnya meninggal dunia pada usia 34 tahun. Meski wafat pada usia muda, warisan semangat dan patriotisme yang ditinggalkan oleh Soedirman tetap memotivasi generasi penerus bangsa.</description><content:encoded>JAKARTA - Kisah heroik Jenderal Besar Soedirman yang gigih melawan Belanda dengan hanya satu paru-paru dan mengidap tuberkulosis bukanlah sekadar dongeng.
Dilansir dari berbagai sumber, pahlawan nasional kelahiran Rembang, Purbalingga, pada 24 Januari 1916 ini benar-benar memperlihatkan semangat patriotisme yang luar biasa.
Dilahirkan dalam keluarga sederhana, Jenderal Soedirman pertama kali terlibat dalam dunia militer saat ditunjuk sebagai kader Pembela Tanah Air (PETA). Setelah PETA dibubarkan pada 18 Agustus 1945, Soedirman mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berkembang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

BACA JUGA:
Dharmawangsa Teguh, Raja Mataram yang Minim Tinggalkan Bukti Artefak Sejarah

Meski hidup dengan hanya satu paru-paru dan mengidap tuberkulosis, Soedirman berhasil memenangkan berbagai pertempuran, termasuk di Pertempuran Ambarawa pada 15 Desember 1945 melawan pasukan Inggris.&amp;nbsp;
Semangat heroiknya tidak pernah luntur, bahkan ketika ia harus berurusan dengan penyakit serius dan terbatasnya fungsi pernapasan. Hal ini terlihat saat Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II pada Desember 1946.

BACA JUGA:
Ganjar Ziarah Makam Bhatara Katong hingga Kiai Ageng Besari: Belajar dari Sejarah Agar Kita Bijaksana

Berita akan serangan Belanda di Yogyakarta, yang saat itu menjadi Ibukota RI, sampai kepada Soedirman. Meski dalam kondisi sakit, sang jenderal pergi ke istana untuk menerima perintah dari Presiden Soekarno.
Namun, Presiden Soekarno menyarankan agar Soedirman kembali pulang dan beristirahat mengingat kondisi kesehatannya. Namun, sang jenderal tidak mengindahkan saran tersebut dan memilih untuk melanjutkan perjuangan bersama pasukannya.

&amp;ldquo;Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah, dan saya akan meneruskan perjuangan gerilya dengan sekuat tenaga bersama seluruh prajurit,&amp;rdquo; ucap Jenderal Soedirman seperti dikutip.
Soedirman pun memulai perjalanan gerilya selama 7 bulan, di mana ia bersama pasukannya harus berada di hutan dan menyusup masuk dan keluar untuk menghindari pasukan Belanda.
Kisahnya tidak berhenti di situ. Dengan hanya satu paru-paru karena tuberkulosis, Soedirman kesulitan mendapatkan obat-obatan yang dibutuhkannya. Namun, semangat juangnya tetap tinggi, dan kadang-kadang ia harus dibantu oleh para prajuritnya.

BACA JUGA:
Pesan Liliana Tanoe ke UMKM yang Dapat Gerobak Perindo: Kalau Bersih Konsumen Bertambah

Perang gerilya berakhir pada tahun 1949, dan kesehatan Soedirman semakin memburuk. Pada 29 Januari 1950, ia akhirnya meninggal dunia pada usia 34 tahun. Meski wafat pada usia muda, warisan semangat dan patriotisme yang ditinggalkan oleh Soedirman tetap memotivasi generasi penerus bangsa.</content:encoded></item></channel></rss>
