<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jimly Asshiddiqie : Indonesia Bentuknya Republik, Perilaku Politiknya seperti Kerajaan</title><description>Partai politik, ormas hingga pondok pesantren juga menerapkan politik dinasti.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/01/26/337/2960808/jimly-asshiddiqie-indonesia-bentuknya-republik-perilaku-politiknya-seperti-kerajaan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/01/26/337/2960808/jimly-asshiddiqie-indonesia-bentuknya-republik-perilaku-politiknya-seperti-kerajaan"/><item><title>Jimly Asshiddiqie : Indonesia Bentuknya Republik, Perilaku Politiknya seperti Kerajaan</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/01/26/337/2960808/jimly-asshiddiqie-indonesia-bentuknya-republik-perilaku-politiknya-seperti-kerajaan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/01/26/337/2960808/jimly-asshiddiqie-indonesia-bentuknya-republik-perilaku-politiknya-seperti-kerajaan</guid><pubDate>Jum'at 26 Januari 2024 12:14 WIB</pubDate><dc:creator>Riana Rizkia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/26/337/2960808/jimly-asshiddiqie-indonesia-bentuknya-republik-perilaku-politiknya-seperti-kerajaan-WnKR3z9b5T.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jimly Asshiddiqie (Foto: Okezone.com/Heru)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/26/337/2960808/jimly-asshiddiqie-indonesia-bentuknya-republik-perilaku-politiknya-seperti-kerajaan-WnKR3z9b5T.jpg</image><title>Jimly Asshiddiqie (Foto: Okezone.com/Heru)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8yNC8xLzE3NjQ4MS81L3g4cnFtcnM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie menilai bahwa perilaku politik masyarakat Indonesia belum  menggambarkan struktur pemerintahan republik. Justru masih terlihat monarki atau seperti kerajaan.

&quot;Sampai sekarang kalau kita evaluasi, apakah perilaku politik masyarakat Indonesia ini sudah republikanisme atau masih monarki? Masih feodal? Jawabnya menurut saya yang nomor dua itu, bentuknya republik, kelakuannya kerajaan,&quot; kata Jimly dalam kuliah kebangsaan yang disiarkan langsung melalui YouTube Mahkamah Konstitusi RI, Jumat (26/1/2024).

Jimly menegaskan, dirinya bukan menyalahkan pihak tertentu, namun hal tersebut merupakan fakta yang jelas tergambar di lapangan. Bahkan, menurut Jimly, hampir seluruh partai politik di Indonesia berbentuk dinasti.

&quot;Ya kan? Ini soal realitas, ini bukan salah benar tapi soal kenyataanya kayak begitu. Coba liat partai politik, ada gak parpol yang tidak dinasti? Semuanya,&quot; katanya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Muncul Gerakan Unfollow Akun Jokowi, Netizen Kecewa Presiden Memihak di Pilpres 2024

&quot;Cuma kalau udah menjelang pemilu ini saling tunjuk tunjuk, you dinasti tapi tangan yang paling banyak ke dia, dia juga dinasti sebetulnya,&quot; sambungnya.

Menurutnya, hal itu terjadi karena cara berpikir yang salah mengenai makna demokrasi, sehingga merusak struktur organisasi bernegara, termasuk organisasi politik.

&quot;Sampai ormas pun begitu, lebih gawat lagi kalau ponpes, itu kan kerajaan juga itu. Jadi kultur berorganisasi kita ini masih kerajaan,&quot; ucapnya.

Jimly menjelaskan, untuk membangun peradaban bangsa dalam jangka panjang, kebiasaan-kebiasaan yang salah itu harus diperbaiki. Bentuk-bentuk kerajaan juga harus dihilangkan.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pernyataan Jokowi soal Presiden Boleh Memihak di Pilpres Merusak Demokrasi

&quot;Kalau kita mau membangun peradaban bangsa untuk jangka panjang, mau ga mau kita harus melakukan modernisasi budaya politik dan modernisasi pelembagaan politik,&quot; katanya.

&quot;institusi bernegara berbangsa itu harus inklusif dan modern, dia tidak boleh mengikuti kebiasaan lama, kita harus membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa,&quot; sambungnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8yNC8xLzE3NjQ4MS81L3g4cnFtcnM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie menilai bahwa perilaku politik masyarakat Indonesia belum  menggambarkan struktur pemerintahan republik. Justru masih terlihat monarki atau seperti kerajaan.

&quot;Sampai sekarang kalau kita evaluasi, apakah perilaku politik masyarakat Indonesia ini sudah republikanisme atau masih monarki? Masih feodal? Jawabnya menurut saya yang nomor dua itu, bentuknya republik, kelakuannya kerajaan,&quot; kata Jimly dalam kuliah kebangsaan yang disiarkan langsung melalui YouTube Mahkamah Konstitusi RI, Jumat (26/1/2024).

Jimly menegaskan, dirinya bukan menyalahkan pihak tertentu, namun hal tersebut merupakan fakta yang jelas tergambar di lapangan. Bahkan, menurut Jimly, hampir seluruh partai politik di Indonesia berbentuk dinasti.

&quot;Ya kan? Ini soal realitas, ini bukan salah benar tapi soal kenyataanya kayak begitu. Coba liat partai politik, ada gak parpol yang tidak dinasti? Semuanya,&quot; katanya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Muncul Gerakan Unfollow Akun Jokowi, Netizen Kecewa Presiden Memihak di Pilpres 2024

&quot;Cuma kalau udah menjelang pemilu ini saling tunjuk tunjuk, you dinasti tapi tangan yang paling banyak ke dia, dia juga dinasti sebetulnya,&quot; sambungnya.

Menurutnya, hal itu terjadi karena cara berpikir yang salah mengenai makna demokrasi, sehingga merusak struktur organisasi bernegara, termasuk organisasi politik.

&quot;Sampai ormas pun begitu, lebih gawat lagi kalau ponpes, itu kan kerajaan juga itu. Jadi kultur berorganisasi kita ini masih kerajaan,&quot; ucapnya.

Jimly menjelaskan, untuk membangun peradaban bangsa dalam jangka panjang, kebiasaan-kebiasaan yang salah itu harus diperbaiki. Bentuk-bentuk kerajaan juga harus dihilangkan.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pernyataan Jokowi soal Presiden Boleh Memihak di Pilpres Merusak Demokrasi

&quot;Kalau kita mau membangun peradaban bangsa untuk jangka panjang, mau ga mau kita harus melakukan modernisasi budaya politik dan modernisasi pelembagaan politik,&quot; katanya.

&quot;institusi bernegara berbangsa itu harus inklusif dan modern, dia tidak boleh mengikuti kebiasaan lama, kita harus membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa,&quot; sambungnya.</content:encoded></item></channel></rss>
