<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Waspada! Ini 3 Taktik Misinformasi yang Terjadi di Indonesia Jelang Pemilu</title><description>Penelitian dari Moonshot, perusahaan partner Google yang berfokus mengatasi masalah sosial terkait bahaya yang mengancam di internet.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/01/31/337/2963474/waspada-ini-3-taktik-misinformasi-yang-terjadi-di-indonesia-jelang-pemilu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/01/31/337/2963474/waspada-ini-3-taktik-misinformasi-yang-terjadi-di-indonesia-jelang-pemilu"/><item><title>Waspada! Ini 3 Taktik Misinformasi yang Terjadi di Indonesia Jelang Pemilu</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/01/31/337/2963474/waspada-ini-3-taktik-misinformasi-yang-terjadi-di-indonesia-jelang-pemilu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/01/31/337/2963474/waspada-ini-3-taktik-misinformasi-yang-terjadi-di-indonesia-jelang-pemilu</guid><pubDate>Rabu 31 Januari 2024 16:40 WIB</pubDate><dc:creator>Widi Agustian</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/31/337/2963474/waspada-ini-3-taktik-misinformasi-yang-terjadi-di-indonesia-jelang-pemilu-f0tpHh7XYY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Waspadai Misinformasi Jelang Pemilu 2024/Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/31/337/2963474/waspada-ini-3-taktik-misinformasi-yang-terjadi-di-indonesia-jelang-pemilu-f0tpHh7XYY.jpg</image><title>Waspadai Misinformasi Jelang Pemilu 2024/Foto: Okezone</title></images><description>
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8zMC8xLzE3NjY5OS81L3g4cndzamQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Penelitian dari Moonshot, perusahaan partner Google yang berfokus mengatasi masalah sosial terkait bahaya yang mengancam di internet, menunjukkan bahwa ada 3 taktik misinformasi yang umum terjadi di Indonesia, yakni merusak reputasi, memancing emosi, dan manipulasi gambar dan video.

Hal ini menjadi hal yang harus diantisipasi jelang pemilihan umum (Pemilu). Seiring dengan tema misinformasi yang saat ini mendominasi dan kerap bermunculan, taktik-taktik ini dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah dan proses demokrasi pada pemilu mendatang.


Link Download Aplikasi Sirekap Pemilu 2024 dan Cara Daftar Akun Sirekap Via Mobile 2024

Country Marketing Manager Google Indonesia Muriel Makarim mengungkapkan, pihaknya dan Jigsaw bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), Moonshot, Safer Internet Lab (SAIL), dan Cek Fakta, September lalu meluncurkan sebuah inisiatif edukasi prebunking yang disebut #RecheckSebelumKegocek untuk membantu masyarakat Indonesia lebih dapat mendeteksi misinformasi.




Inisiatif ini telah dilakukan dan berhasil menjangkau 57 juta masyarakat Indonesia, dimana 74% diantaranya adalah kelompok usia Gen Z dan Millennials.







&quot;Menariknya, Gen Z yang menonton video dari inisiatif ini dapat lebih mengenali manipulasi gambar dan video, dibandingkan oleh mereka yang tidak menonton,&quot; kata dia di kantornya, Rabu (31/1/2024).



 Kaops NCS Polri Sowan ke Gus Baha, Doakan Pemilu 2024 Berlangsung Aman dan Damai&amp;nbsp; &amp;nbsp;





Sementara itu, YouTube berkolaborasi dengan Think Policy dan What is Up Indonesia melalui kampanye #HitPause untuk mengingatkan masyarakat Indonesia tentang taktik-taktik yang harus dipahami untuk menghadapi misinformasi.

&amp;ldquo;Meningkatkan literasi digital dan memberdayakan masyarakat Indonesia dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengevaluasi informasi online merupakan bagian penting dalam mengatasi misinformasi,&amp;rdquo; ujar Muriel Makarim.



Google Trends menunjukkan bahwa setahun belakangan, masyarakat Indonesia semakin waspada terhadap misinformasi.












Muriel Makarim mengungkapkan, hal ini dapat dilihat dari minat pencarian masyarakat terhadap berita palsu dan pengecekan fakta kian meningkat.



&quot;Dari awal tahun lalu, (pencarian masyarakat terhadap berita palsu dan pengecekan fakta) hingga saat ini berada pada titik tertinggi dalam 10 tahun terakhir di Indonesia,&quot; kata dia.



Dia melanjutkan, pada September lalu kami mengumumkan sederet fitur juga inisiatif untuk terus melawan misinformasi terutama di masa pemilu, - bersama dengan mitra mitra seperti Komisi Pemilihuan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Kominfo, CekFakta, Mafindo, Bijak Memilih, Safer Internet Lab (SAIL), Think Policy dan banyak lainnya.



Tiga hal yang menjadi fokus Google, yakni menyajikan informasi yang dapat diandalkan di platform, membekali masyarakat dengan literasi media digital untuk menghindari misinformasi, dan memberdayakan mitra ekosistem agar siap menghadapi pemilu.



Dam memmberdayakan mitra ekosistem agar siap menghadapi pemilu termasuk melanjutkan kolaborasi dengan pakar industri dan ekosistem berita yang dilakukan melalui berbagai inisiatif untuk turut mencegah penyebaran misinformasi dan menciptakan konten yang bertanggung jawab.



Ada berbagai inisiatif yang dilaksanakan seperti dukungan berkelanjutan ke koalisi Cek Fakta, berbagai pelatihan ke para pemangku kepentingan seperti Advanced Protection Program, Safer Internet Lab dan penguatan YouTube Priority Flaggers.





Google.org juga berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama dengan MAFINDO dan berbagai mitra berupa hibah senilai USD2,5 juta untuk memperluas jangkauan program Tular Nalar ke seluruh penjuru Indonesia.

















Fokus utama program ini adalah menyediakan sarana dan membekali kaum muda dan kelompok yang rentan dan termarjinalkan, seperti lansia, dengan kemampuan yang diperlukan untuk mengidentifikasi informasi yang keliru, hoaks, dan ujaran kebencian&amp;mdash;untuk memastikan bahwa mereka dapat menjelajahi internet dengan aman, dengan tetap terhindar dari hoaks dan penipuan digital.
&quot;Dengan dukungan yang berkelanjutan dari Google.org, bersama dengan para mitra, kami berhasil menjangkau lebih dari 16,800 penerima manfaat; dimana mayoritas adalah perempuan dan kelompok usia 17 - 22 tahun,&amp;rdquo; ujar Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium MAFINDO


Terakhir, Safer Internet Lab di luncurkan dua tahun lalu bersama dengan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang bertujuan untuk secara sistematis melawan misinformasi dan disinformasi, melalui riset dan kerja sama dengan berbagai pihak yang berkepentingan.




Saat ini, informasi tersedia amat cepat dan masif dalam satu genggaman. Menghadapi Pemilu 2024, sebagai penyelenggara Pemilihan Umum, KPU menyadari dan memiliki komitmen untuk berusaha ikut meningkatkan partisipasi dan kualitas pemilih dengan memaksimalkan sarana dan channel yang tersedia dalam dunia maya.

&quot;Kami sangat mengapresiasi berbagai upaya dari Google dan YouTube untuk memastikan bahwa masyarakat Indonesia untuk mendapatkan akses informasi kredibel yang tepat waktu, khususnya kelompok usia muda yang mungkin baru memilih pertama kali di Februari mendatang,&quot; kata Sub Koordinator Informasi Publik dan Media Sosial Setjen KPU Reni Rinjani.



&amp;ldquo;Menciptakan lingkungan online yang aman&amp;mdash;terutama selama momen berisiko tinggi, seperti masa kampanye pemilu sampai pelantikan&amp;mdash;adalah tanggung jawab bersama. Sejalan dengan visi utama Bawaslu dalam melakukan pencegahan untuk mewujudkan Pemilu damai dan berintegritas,&quot;ujarnya.

&quot;Kami menghargai pendekatan komprehensif Google dan YouTube untuk memerangi misinformasi dan memastikan lingkungan online yang inklusif dan aman untuk seluruh lapisan masyarakat di Indonesia; khususnya mengedukasi untuk mengenali hoaks lewat inisiatif #RecheckSebelumKegocek ke kelompok usia muda, yang dimana adalah mayoritas pemilih di pemilu mendatang.&amp;rdquo; ujar Ronald Manoach, Tenaga Ahli Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Republik Indonesia.



</description><content:encoded>
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8zMC8xLzE3NjY5OS81L3g4cndzamQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Penelitian dari Moonshot, perusahaan partner Google yang berfokus mengatasi masalah sosial terkait bahaya yang mengancam di internet, menunjukkan bahwa ada 3 taktik misinformasi yang umum terjadi di Indonesia, yakni merusak reputasi, memancing emosi, dan manipulasi gambar dan video.

Hal ini menjadi hal yang harus diantisipasi jelang pemilihan umum (Pemilu). Seiring dengan tema misinformasi yang saat ini mendominasi dan kerap bermunculan, taktik-taktik ini dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah dan proses demokrasi pada pemilu mendatang.


Link Download Aplikasi Sirekap Pemilu 2024 dan Cara Daftar Akun Sirekap Via Mobile 2024

Country Marketing Manager Google Indonesia Muriel Makarim mengungkapkan, pihaknya dan Jigsaw bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), Moonshot, Safer Internet Lab (SAIL), dan Cek Fakta, September lalu meluncurkan sebuah inisiatif edukasi prebunking yang disebut #RecheckSebelumKegocek untuk membantu masyarakat Indonesia lebih dapat mendeteksi misinformasi.




Inisiatif ini telah dilakukan dan berhasil menjangkau 57 juta masyarakat Indonesia, dimana 74% diantaranya adalah kelompok usia Gen Z dan Millennials.







&quot;Menariknya, Gen Z yang menonton video dari inisiatif ini dapat lebih mengenali manipulasi gambar dan video, dibandingkan oleh mereka yang tidak menonton,&quot; kata dia di kantornya, Rabu (31/1/2024).



 Kaops NCS Polri Sowan ke Gus Baha, Doakan Pemilu 2024 Berlangsung Aman dan Damai&amp;nbsp; &amp;nbsp;





Sementara itu, YouTube berkolaborasi dengan Think Policy dan What is Up Indonesia melalui kampanye #HitPause untuk mengingatkan masyarakat Indonesia tentang taktik-taktik yang harus dipahami untuk menghadapi misinformasi.

&amp;ldquo;Meningkatkan literasi digital dan memberdayakan masyarakat Indonesia dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengevaluasi informasi online merupakan bagian penting dalam mengatasi misinformasi,&amp;rdquo; ujar Muriel Makarim.



Google Trends menunjukkan bahwa setahun belakangan, masyarakat Indonesia semakin waspada terhadap misinformasi.












Muriel Makarim mengungkapkan, hal ini dapat dilihat dari minat pencarian masyarakat terhadap berita palsu dan pengecekan fakta kian meningkat.



&quot;Dari awal tahun lalu, (pencarian masyarakat terhadap berita palsu dan pengecekan fakta) hingga saat ini berada pada titik tertinggi dalam 10 tahun terakhir di Indonesia,&quot; kata dia.



Dia melanjutkan, pada September lalu kami mengumumkan sederet fitur juga inisiatif untuk terus melawan misinformasi terutama di masa pemilu, - bersama dengan mitra mitra seperti Komisi Pemilihuan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Kominfo, CekFakta, Mafindo, Bijak Memilih, Safer Internet Lab (SAIL), Think Policy dan banyak lainnya.



Tiga hal yang menjadi fokus Google, yakni menyajikan informasi yang dapat diandalkan di platform, membekali masyarakat dengan literasi media digital untuk menghindari misinformasi, dan memberdayakan mitra ekosistem agar siap menghadapi pemilu.



Dam memmberdayakan mitra ekosistem agar siap menghadapi pemilu termasuk melanjutkan kolaborasi dengan pakar industri dan ekosistem berita yang dilakukan melalui berbagai inisiatif untuk turut mencegah penyebaran misinformasi dan menciptakan konten yang bertanggung jawab.



Ada berbagai inisiatif yang dilaksanakan seperti dukungan berkelanjutan ke koalisi Cek Fakta, berbagai pelatihan ke para pemangku kepentingan seperti Advanced Protection Program, Safer Internet Lab dan penguatan YouTube Priority Flaggers.





Google.org juga berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama dengan MAFINDO dan berbagai mitra berupa hibah senilai USD2,5 juta untuk memperluas jangkauan program Tular Nalar ke seluruh penjuru Indonesia.

















Fokus utama program ini adalah menyediakan sarana dan membekali kaum muda dan kelompok yang rentan dan termarjinalkan, seperti lansia, dengan kemampuan yang diperlukan untuk mengidentifikasi informasi yang keliru, hoaks, dan ujaran kebencian&amp;mdash;untuk memastikan bahwa mereka dapat menjelajahi internet dengan aman, dengan tetap terhindar dari hoaks dan penipuan digital.
&quot;Dengan dukungan yang berkelanjutan dari Google.org, bersama dengan para mitra, kami berhasil menjangkau lebih dari 16,800 penerima manfaat; dimana mayoritas adalah perempuan dan kelompok usia 17 - 22 tahun,&amp;rdquo; ujar Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium MAFINDO


Terakhir, Safer Internet Lab di luncurkan dua tahun lalu bersama dengan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang bertujuan untuk secara sistematis melawan misinformasi dan disinformasi, melalui riset dan kerja sama dengan berbagai pihak yang berkepentingan.




Saat ini, informasi tersedia amat cepat dan masif dalam satu genggaman. Menghadapi Pemilu 2024, sebagai penyelenggara Pemilihan Umum, KPU menyadari dan memiliki komitmen untuk berusaha ikut meningkatkan partisipasi dan kualitas pemilih dengan memaksimalkan sarana dan channel yang tersedia dalam dunia maya.

&quot;Kami sangat mengapresiasi berbagai upaya dari Google dan YouTube untuk memastikan bahwa masyarakat Indonesia untuk mendapatkan akses informasi kredibel yang tepat waktu, khususnya kelompok usia muda yang mungkin baru memilih pertama kali di Februari mendatang,&quot; kata Sub Koordinator Informasi Publik dan Media Sosial Setjen KPU Reni Rinjani.



&amp;ldquo;Menciptakan lingkungan online yang aman&amp;mdash;terutama selama momen berisiko tinggi, seperti masa kampanye pemilu sampai pelantikan&amp;mdash;adalah tanggung jawab bersama. Sejalan dengan visi utama Bawaslu dalam melakukan pencegahan untuk mewujudkan Pemilu damai dan berintegritas,&quot;ujarnya.

&quot;Kami menghargai pendekatan komprehensif Google dan YouTube untuk memerangi misinformasi dan memastikan lingkungan online yang inklusif dan aman untuk seluruh lapisan masyarakat di Indonesia; khususnya mengedukasi untuk mengenali hoaks lewat inisiatif #RecheckSebelumKegocek ke kelompok usia muda, yang dimana adalah mayoritas pemilih di pemilu mendatang.&amp;rdquo; ujar Ronald Manoach, Tenaga Ahli Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Republik Indonesia.



</content:encoded></item></channel></rss>
