<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Raja Jayabaya Bebaskan Rakyat Bayar Pajak karena Kesetiaannya</title><description>Jayabaya memegang peran sentral dalam mengangkat derajat kerajaan warisan Airlangga.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/02/02/337/2964220/kisah-raja-jayabaya-bebaskan-rakyat-bayar-pajak-karena-kesetiaannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/02/02/337/2964220/kisah-raja-jayabaya-bebaskan-rakyat-bayar-pajak-karena-kesetiaannya"/><item><title>Kisah Raja Jayabaya Bebaskan Rakyat Bayar Pajak karena Kesetiaannya</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/02/02/337/2964220/kisah-raja-jayabaya-bebaskan-rakyat-bayar-pajak-karena-kesetiaannya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/02/02/337/2964220/kisah-raja-jayabaya-bebaskan-rakyat-bayar-pajak-karena-kesetiaannya</guid><pubDate>Jum'at 02 Februari 2024 07:15 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/01/337/2964220/kisah-raja-jayabaya-bebaskan-rakyat-bayar-pajak-karena-kesetiaannya-SqS7cjxV6x.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Raja Jayabaya (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/01/337/2964220/kisah-raja-jayabaya-bebaskan-rakyat-bayar-pajak-karena-kesetiaannya-SqS7cjxV6x.jpg</image><title>Raja Jayabaya (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Kerajaan Kediri diidentikkan dengan figur Jayabaya, seorang raja terkemuka yang berhasil membawa kejayaan bagi kerajaan tersebut. Jayabaya memegang peran sentral dalam mengangkat derajat kerajaan warisan Airlangga.

Dari buku &quot;Tafsir Sejarah Negarakretagama&quot; karya Prof. Slamet Muljana, tampak kebijakan Jayabaya yang mencakup penetapan wilayah tertentu sebagai tanah perdikan.

BACA JUGA:
Ganjar Bakal Naikkan Anggaran Riset dan Inovasi&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Langkah ini diambil setelah konflik antara Kerajaan Panjalu dan Janggala, dua kerajaan yang sebelumnya diberikan kepada kedua anak Airlangga dari Kerajaan Mataram. Persaingan kekuasaan antara kedua kerajaan ini mengakibatkan peperangan, khususnya pada masa pemerintahan Jayabaya di Daha, pusat pemerintahan kerajaan.

Dalam periode tersebut, Prasasti Ngantang pada tanggal 7 September 1.135 mencerminkan kecintaan rakyat terhadap Jayabaya. Prasasti ini menggambarkan hubungan erat dengan pemberian tanah perdikan Ngantang kepada penduduk Desa Ngantang, yang sekarang berada di Kabupaten Malang.

BACA JUGA:
Sabet Korban Pakai Sajam, 4 Begal di Bojonggede Ditangkap Polisi


Warga Desa Ngantang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak selama Jayabaya berkuasa di Kerajaan Panjalu atau Kediri. Prasasti ini mencatat kesetiaan warga Ngantang kepada Jayabaya dalam menghadapi berbagai ancaman selama Janggala terpisah dari Panjalu.

Penting untuk mencatat motto di atas prasasti, &quot;Panjalu Jayati&quot; yang dapat diartikan sebagai kemenangan Panjalu atas Janggala pada masa itu, saat kedua kerajaan berkompetisi dan berusaha saling menghancurkan.

Prof. Sutjipto Wirjosuparto, seorang sastrawan dan sejarawan, menghubungkan Prasasti Ngantang dengan karya sastra Bharatayudha, terutama dalam konteks gelar &quot;Hemabhupati&quot;. Gelar ini dihubungkan dengan kemenangan Jayabaya dalam pertempuran melawan kakaknya, yang disebut Hemabhupati dalam Kakawin Bharatayudha.



Menurut Prof. Sutjipto Wirjosuparto, anugerah tanah perdikan Ngantang terkait dengan kemenangan Jayabaya melawan kakaknya, yang disebut Hemabhupati. Gelar ini memiliki unsur &quot;Hema&quot; yang berarti mas dalam bahasa Jawa, mirip dengan sebutan seperti kakang mas atau adimas.

BACA JUGA:
Ci Mehong Gelar Bazar Murah Minyak Goreng, Warga Kalideres Merasa Terbantu




Sebagai kakang mas, Hemabhupati adalah kakak Jayabaya. Meskipun melawan saudara tua dianggap dosa, Jayabaya kemudian melakukan ruwatan untuk menghindari konsekuensi buruk dari perbuatan tersebut.



Dengan demikian, Kakawin Bharatayudha dianggap sebagai sastra ruwat yang menggambarkan peristiwa tersebut secara mendalam.



</description><content:encoded>JAKARTA - Kerajaan Kediri diidentikkan dengan figur Jayabaya, seorang raja terkemuka yang berhasil membawa kejayaan bagi kerajaan tersebut. Jayabaya memegang peran sentral dalam mengangkat derajat kerajaan warisan Airlangga.

Dari buku &quot;Tafsir Sejarah Negarakretagama&quot; karya Prof. Slamet Muljana, tampak kebijakan Jayabaya yang mencakup penetapan wilayah tertentu sebagai tanah perdikan.

BACA JUGA:
Ganjar Bakal Naikkan Anggaran Riset dan Inovasi&amp;nbsp; &amp;nbsp;


Langkah ini diambil setelah konflik antara Kerajaan Panjalu dan Janggala, dua kerajaan yang sebelumnya diberikan kepada kedua anak Airlangga dari Kerajaan Mataram. Persaingan kekuasaan antara kedua kerajaan ini mengakibatkan peperangan, khususnya pada masa pemerintahan Jayabaya di Daha, pusat pemerintahan kerajaan.

Dalam periode tersebut, Prasasti Ngantang pada tanggal 7 September 1.135 mencerminkan kecintaan rakyat terhadap Jayabaya. Prasasti ini menggambarkan hubungan erat dengan pemberian tanah perdikan Ngantang kepada penduduk Desa Ngantang, yang sekarang berada di Kabupaten Malang.

BACA JUGA:
Sabet Korban Pakai Sajam, 4 Begal di Bojonggede Ditangkap Polisi


Warga Desa Ngantang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak selama Jayabaya berkuasa di Kerajaan Panjalu atau Kediri. Prasasti ini mencatat kesetiaan warga Ngantang kepada Jayabaya dalam menghadapi berbagai ancaman selama Janggala terpisah dari Panjalu.

Penting untuk mencatat motto di atas prasasti, &quot;Panjalu Jayati&quot; yang dapat diartikan sebagai kemenangan Panjalu atas Janggala pada masa itu, saat kedua kerajaan berkompetisi dan berusaha saling menghancurkan.

Prof. Sutjipto Wirjosuparto, seorang sastrawan dan sejarawan, menghubungkan Prasasti Ngantang dengan karya sastra Bharatayudha, terutama dalam konteks gelar &quot;Hemabhupati&quot;. Gelar ini dihubungkan dengan kemenangan Jayabaya dalam pertempuran melawan kakaknya, yang disebut Hemabhupati dalam Kakawin Bharatayudha.



Menurut Prof. Sutjipto Wirjosuparto, anugerah tanah perdikan Ngantang terkait dengan kemenangan Jayabaya melawan kakaknya, yang disebut Hemabhupati. Gelar ini memiliki unsur &quot;Hema&quot; yang berarti mas dalam bahasa Jawa, mirip dengan sebutan seperti kakang mas atau adimas.

BACA JUGA:
Ci Mehong Gelar Bazar Murah Minyak Goreng, Warga Kalideres Merasa Terbantu




Sebagai kakang mas, Hemabhupati adalah kakak Jayabaya. Meskipun melawan saudara tua dianggap dosa, Jayabaya kemudian melakukan ruwatan untuk menghindari konsekuensi buruk dari perbuatan tersebut.



Dengan demikian, Kakawin Bharatayudha dianggap sebagai sastra ruwat yang menggambarkan peristiwa tersebut secara mendalam.



</content:encoded></item></channel></rss>
