<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menlu RI : Tantangan Dunia Semakin Besar, Perang Ukraina, Situasi di Gaza hingga Rivalitas Kekuatan</title><description>Menlu RI, Retno Marsudi, menyampaikan tantangan yang dihadapi dunia semakin besar dari tahun ke tahun.</description><link>https://news.okezone.com/read/2024/02/03/18/2964847/menlu-ri-tantangan-dunia-semakin-besar-perang-ukraina-situasi-di-gaza-hingga-rivalitas-kekuatan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2024/02/03/18/2964847/menlu-ri-tantangan-dunia-semakin-besar-perang-ukraina-situasi-di-gaza-hingga-rivalitas-kekuatan"/><item><title>Menlu RI : Tantangan Dunia Semakin Besar, Perang Ukraina, Situasi di Gaza hingga Rivalitas Kekuatan</title><link>https://news.okezone.com/read/2024/02/03/18/2964847/menlu-ri-tantangan-dunia-semakin-besar-perang-ukraina-situasi-di-gaza-hingga-rivalitas-kekuatan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2024/02/03/18/2964847/menlu-ri-tantangan-dunia-semakin-besar-perang-ukraina-situasi-di-gaza-hingga-rivalitas-kekuatan</guid><pubDate>Sabtu 03 Februari 2024 09:27 WIB</pubDate><dc:creator>Erha Aprili Ramadhoni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/03/18/2964847/menlu-ri-tantangan-dunia-semakin-besar-perang-ukraina-situasi-di-gaza-hingga-rivalitas-kekuatan-5BXA4Ek70e.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Menlu RI Retno Marsudi. (Kemlu)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/03/18/2964847/menlu-ri-tantangan-dunia-semakin-besar-perang-ukraina-situasi-di-gaza-hingga-rivalitas-kekuatan-5BXA4Ek70e.jpeg</image><title>Menlu RI Retno Marsudi. (Kemlu)</title></images><description>



BRUSSEL - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Marsudi, menyampaikan tantangan yang dihadapi dunia semakin besar dari tahun ke tahun. Tantangan itu mulai dari perang di Ukraina hingga situasi di Gaza, Palestina.




Retno menyampaikan hal itu dalam Pembukaan atau Plenary Opening Session pertemuan EU Indo-Pacific Ministerial Forum yang ke-3 di Brussel, Belgia, 2 Februari 2024.



&quot;Tantangan yang dihadapi dunia dari tahun ke tahun semakin besar, mulai dari perang di Ukraina, situasi Gaza, rivalitas kekuatan besar yang terus berlanjut, hingga kesenjangan kapasitas antar-negara,&quot; ujar Retno dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (3/2/2024).


Diketahui, forum ini diselenggarakan Uni Eropa sebagai platform dialog untuk membahas isu-isu di kawasan Indo-Pasifik serta upaya untuk meningkatkan kerja  sama.

Menlu menekankan, yang diperlukan dari forum ini adalah penguatan kolaborasi, kerja sama, dan kemitraan untuk memajukan kesejahteraan dan stabilitas di Indo-Pasifik.


&quot;Saya sampaikan kita tidak ingin melihat kawasan Indo-Pasifik menjadi medan  rivalitas. Yang kita inginkan adalah Indo-Pasifik sebagai pusat pertumbuhan,&quot; ujar Retno.


Itulah mengapa ASEAN di bawah keketuaan Indonesia tahun lalu, ia melanjutkan, menjadikan  kolaborasi di Indo-Pasifik sebagai prioritas, termasuk melalui penyelenggaraan ASEAN Indo-Pacific Forum (AIPF) dan memperkuat hubungan dengan Pacific Islands Forum (PIF) dan Indian Ocean Rim Association (IORA).







BACA JUGA:
Menlu RI Kritik Standar Ganda Barat Terhadap Penderitaan Bangsa Palestina








&quot;Saya menekankan bahwa kerja sama di Indo-Pasifik harus inklusif, konkret, dan berpegang teguh pada hukum internasional dan paradigma kolaborasi,&quot; tutur Retno.



Ia menyampaikan, prinsip-prinsip ini tertuang di AOIP sebagai panduan ASEAN dalam menavigasi dinamika di kawasan dan berinteraksi dengan mitranya dari luar kawasan.






BACA JUGA:
Dubes Israel Bicara di Debat Terbuka DK PBB, Menlu Retno Putuskan Walk Out







&quot;Saya juga sebutkan di AMM Retreat di Luang Prabang, Laos, yang  diselenggarakan 29 Januari lalu bahwa ASEAN sepakat untuk melanjutkan pengarusutamaan AOIP di semua mekanisme ASEAN. UE adalah mitra penting bagi Indonesia dan juga bagi ASEAN dalam mewujudkan Indo-Pasifik yang damai, stabil,  dan sejahtera,&quot; katanya.





Di akhir pernyataan, Retno menyampaikan, ASEAN dan UE harus berada di garda depan dalam menjaga konsistensi menghormati hukum internasional guna mencegah the mighty takes all. Hal ini termasuk di dalam isu Palestina di mana lebih dari 7 dekade bangsa Palestina terus menghadapi ketidakadilan.








BACA JUGA:
Kronologi Menlu Retno Walk Out dari Sidang Debat DK PBB













&quot;Saya menegaskan di dalam pernyataan bahwa Indonesia tidak akan tinggal diam dan akan terus membantu perjuangan bangsa Palestina mendapatkan haknya apa pun tantangan yang harus dihadapi dan saya menyerukan kepada UE untuk menggunakan nurani menghentikan kekejaman di Palestina,&quot; ujarnya.







Sebagai pendukung hukum internasional, kata Retno, Uni Eropa harus konsisten dalam isu Palestina karena konsistensi antara nilai dan perbuatan menunjukkan moralitas yang sesungguhnya.





</description><content:encoded>



BRUSSEL - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Marsudi, menyampaikan tantangan yang dihadapi dunia semakin besar dari tahun ke tahun. Tantangan itu mulai dari perang di Ukraina hingga situasi di Gaza, Palestina.




Retno menyampaikan hal itu dalam Pembukaan atau Plenary Opening Session pertemuan EU Indo-Pacific Ministerial Forum yang ke-3 di Brussel, Belgia, 2 Februari 2024.



&quot;Tantangan yang dihadapi dunia dari tahun ke tahun semakin besar, mulai dari perang di Ukraina, situasi Gaza, rivalitas kekuatan besar yang terus berlanjut, hingga kesenjangan kapasitas antar-negara,&quot; ujar Retno dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (3/2/2024).


Diketahui, forum ini diselenggarakan Uni Eropa sebagai platform dialog untuk membahas isu-isu di kawasan Indo-Pasifik serta upaya untuk meningkatkan kerja  sama.

Menlu menekankan, yang diperlukan dari forum ini adalah penguatan kolaborasi, kerja sama, dan kemitraan untuk memajukan kesejahteraan dan stabilitas di Indo-Pasifik.


&quot;Saya sampaikan kita tidak ingin melihat kawasan Indo-Pasifik menjadi medan  rivalitas. Yang kita inginkan adalah Indo-Pasifik sebagai pusat pertumbuhan,&quot; ujar Retno.


Itulah mengapa ASEAN di bawah keketuaan Indonesia tahun lalu, ia melanjutkan, menjadikan  kolaborasi di Indo-Pasifik sebagai prioritas, termasuk melalui penyelenggaraan ASEAN Indo-Pacific Forum (AIPF) dan memperkuat hubungan dengan Pacific Islands Forum (PIF) dan Indian Ocean Rim Association (IORA).







BACA JUGA:
Menlu RI Kritik Standar Ganda Barat Terhadap Penderitaan Bangsa Palestina








&quot;Saya menekankan bahwa kerja sama di Indo-Pasifik harus inklusif, konkret, dan berpegang teguh pada hukum internasional dan paradigma kolaborasi,&quot; tutur Retno.



Ia menyampaikan, prinsip-prinsip ini tertuang di AOIP sebagai panduan ASEAN dalam menavigasi dinamika di kawasan dan berinteraksi dengan mitranya dari luar kawasan.






BACA JUGA:
Dubes Israel Bicara di Debat Terbuka DK PBB, Menlu Retno Putuskan Walk Out







&quot;Saya juga sebutkan di AMM Retreat di Luang Prabang, Laos, yang  diselenggarakan 29 Januari lalu bahwa ASEAN sepakat untuk melanjutkan pengarusutamaan AOIP di semua mekanisme ASEAN. UE adalah mitra penting bagi Indonesia dan juga bagi ASEAN dalam mewujudkan Indo-Pasifik yang damai, stabil,  dan sejahtera,&quot; katanya.





Di akhir pernyataan, Retno menyampaikan, ASEAN dan UE harus berada di garda depan dalam menjaga konsistensi menghormati hukum internasional guna mencegah the mighty takes all. Hal ini termasuk di dalam isu Palestina di mana lebih dari 7 dekade bangsa Palestina terus menghadapi ketidakadilan.








BACA JUGA:
Kronologi Menlu Retno Walk Out dari Sidang Debat DK PBB













&quot;Saya menegaskan di dalam pernyataan bahwa Indonesia tidak akan tinggal diam dan akan terus membantu perjuangan bangsa Palestina mendapatkan haknya apa pun tantangan yang harus dihadapi dan saya menyerukan kepada UE untuk menggunakan nurani menghentikan kekejaman di Palestina,&quot; ujarnya.







Sebagai pendukung hukum internasional, kata Retno, Uni Eropa harus konsisten dalam isu Palestina karena konsistensi antara nilai dan perbuatan menunjukkan moralitas yang sesungguhnya.





</content:encoded></item></channel></rss>
